Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

TERSESAT

TERSESAT (Mambuu)    "Maaf pak! Numpang tanya, jalan menuju ke Mesjid Keraton ke mana ya?"    Tanyaku pada salah seorang bapak yang berumur sekitar lima puluh tahunan. Saat itu ia sedang berdiri di pinggir jalan mengenakan sarung khas Buton, Bia itanu wolio.    Matanya tajam menatap ujung rambut hingga ujung sepatu yang aku pakai. S enyum manis super mempesona selintas kulayangkan padanya sebagai tanda, 'Aku sudah jinak.'    Mungkin bingung atau tidak tahu harus berbuat bagaimana, ia tiba-tiba berkata dengan bahasa yang lancar dan nyaris tak kumengerti.    "*Toro torosu, iyaroa te dala pertigaan belo i wetaikai. Minaka Weitu toro torosu sampai Masigi Wajo. Ipertigaan masigi belo ikai osea dala kai. Aneindau tersesat yingko potibakea Masigina Wolio," ia berucap tanpa menghirup sesuap napas pun.    Aku terperangah. Tertegun sendiri. Setelah sadar ia telah menghilang dari pandangan.    Lalu smartphone di kantong ...

AKHIRNYA JOMBLO

#Serial_Bujang_Lapuk AKHIRNYA JOMBLO    Ketika Nafisah putus dari pacarnya, dunia serasa gonjang-ganjing dan langit segenap kelap-kelip. Mereka yang dahulunya mengontrak kini pada punya rumah pribadi. Hah? Apa hubungannya? Hehehe. Ya iyalah masa iya dong. Kala itu, masa pacaran hal yang sangat mengasyikkan sehingga selalu ada perumpamaan, 'dunia bagai milik berdua, yang lain cuma ngontrak.' Jadi ketika Nafisah putus banyak yang 'ngasih' selamat. "Syukurin." Hehehe.    Tapi tidak dengan Neneng. Sang gadis enam puluhan itu selalu mendukung sang Cucung semata wayangnya.    "Hei ... heiiiii ..., Bujang Bango, 'asam di gunung, garam di laut bertemunya di belanga.' Cung, tak perlu sedihlah kau. Kalo jodoh takkan ke mana. Tak usah wajah kau dijelek-jelekin pula," tegur nenek pada cucu satu-satunya itu.    "Dijelek-jelekin gimana, wajah ini memang sudah begini. Ini sudah turunan pastinya," kata Nafisah tambah jengkel sambil ngelirik si...

SANG RAJA SOMBONG

   "Tidak ada yang lebih hebat dari aku di hutan ini," kata gajah dengan jemawa.    Semut yang mendengar langsung menantang gajah," jika memang begitu saya tantang kamu adu keberanian. Aturannya siapa yang kalah dalam melewati sungai itu, maka dialah yang akan pergi dari hutan ini."    Sungai yang dimaksud si semut adalah sungai terdalam dan penuh dengan buaya yang sangat kelaparan.    "Itu kecil, saya terima tantanganmu," kata gajah semakin lupa diri.    Perlombaan pun dimulai. Seluruh penghuni hutan menjadi saksi. Semut dengan bantuan seluruh koloninya menghayutkan daun kering. Dan tiba di seberang dengan selamat.    Sementara gajah yang mengandalkan tubuh besarnya akhirnya tenggelam disantap oleh buaya. *** Ibnu Nafisah Kendari, 11 November 2015 ------------------------ Pesan Moral : 1. Kesombongan pada akhirnya akan membinasakan 2. Jangan pernah memandang sebelah mata orang yang lemah atau memiliki kekurangan ...

KHITBAH MUSIM KEMARAU

KHITBAH MUSIM KEMARAU    Di bawah pohon jati itu daun meranggas. Di bawah pohon jati itu pula Zahra hatinya merandu.    Kibaran hijab besarnya bergelombang ditiup angin kemarau. Disandarkan pula resahnya di batang pohon itu. Hatinya gamang, centang perenang tak karuan.  Seirama daun gugur berputar terbawa aroma rumput musim panas.    "Ra, Nak Azzam itu gagah, baik, sudah punya kerja pula," terngiang ucapan uminya suatu ketika, " apa lagi yang kau cari?"    Pertanyaan itu yang selalu menghantui hati Zahra. Bagai bayang-bayang ranting yang bergoyang ditarik angin sendu.    "Mi, Zahra ingin seorang yang bisa ngimamin," balas Zahra, "bukan sekedar baik dan punya kerja."    "Husst, seorang suami sudah tentu jadi imam dari seorang istri. Itu sudah aturannya."    "Tapi Zahra tidak ingin seperti Mba Nafisah yang akhirnya nikah tapi tak bahagia," suara lirih Zahra ketika menyebut nama kakaknya, "demi kesena...

RENCANA YANG SEMPURNA

RENCANA YANG SEMPURNA "Katakan sayang, kau masih mencintaiku," ucap David di malam itu.    Clara hanya diam dan membeku, suara David terdengar seperti hantu. Gaun merah hadiah dari David, membalut tubuhnya yang seksi. Semakin membuat dirinya menonjol di antara bagian ruang yang remang.    Malam ini adalah malam peringatan satu tahun kebersamaan Clara dan David. Sekaligus malam yang tak terlupakan buat Clara.    Makan malam itu pun belum sepenuhnya tuntas. Sebotol champagne masih setengah isi di atas meja. Dan lilin berbentuk trisula masih berdiri anggun di tengah-tengah menu makan malam- sepiring steak dan potongan besar kalkun panggang.    "Clara sayang," David berbicara seakan berbisik, "apapun yang telah terjadi malam ini, aku...," sedikit menahan pedih di dada, "tetap, mencintai, mu."    Kalimat ini tetap membuat Clara bungkam. Nafasnya seakan desahan yang bergema di ruang yang senyap. Ada ketakutan dan rasa puas di sana. ...

KABAR HARI INI

KABAR HARI INI    Hari ini terbangun dengan kepala masih tertinggal di selimut.    Tubuh seakan terbang menuju kantor.    Tangan pun masih menikmati keyboard di ruang kerja.    Jangan tanya kaki kemana, Ia masih berlari-lari pagi di Taman Kota.    Yang tak bisa ku raba adalah hati, kemana ia sekarang. Setelah kutengok dirimu, tahulah kemana hatiku berada. Ia di sana. Terbelah menjadi serpihan belaka.    Jangan tanya kenapa? Karena pikiran kini sedang berada di dalam buku tebal itu.    Berpikir menyatukan lagi bagian tubuh yang telah pisah dan hancur.    Sementara jiwa menghabiskan waktunya yang luang di masjid dekat rumah.    Ironis bukan? Tapi, itulah PR hari ini. Besok? Maaf, aku tak akan jawab hari ini. Mungkin lain kali ketika semua jadi utuh kemudian. .    Hei, lihatlah kepala yang tertimbun oleh gundukan selimut. Ia kembali sadar kini.    Siapapun yang terbangu...

CINTA SEMU ALINA

Revisi ****** CINTA SEMU ALINA    "Kamu ... kamu ... dan kamuuuuu ...!"    Sebuah suara melintasi rel kereta api. Dan ...    Braaaakkk!!! Suara yang menyusul akibat gilasan kereta api terdengar sangat menyayat.    "Tidaaaaaaakkkkkk!!!" teriak Alina seketika.                                  ***    Tiga kata itu membuat Alina terkejut, seakan jiwanya meloncat keluar ruang dadanya. Tidak ada kata yang cukup mengungkapkan apa yang sedang terjadi. Atau menggambarkan perasaan yang sedang berkecamuk di sana.    Tubuhnya seakan mati rasa. Berdiri mematung mencerna kejadian demi kejadian yang telah terjadi dengan kenyataan di hadapannya. Belum bisa menangkap kenyataan yang seketika bagai film ber...

RIVAL YANG TAK SEIMBANG

RIVAL YANG TAK SEIMBANG    "Liat dia," Cindy menunjuk diriku dengan ujung hidungnya yang mancung, "apakah dia pantas menjadi rival kita?"    Jana hanya menoleh sambil tersenyum menghina. Lalu buru-buru tak peduli dengan memalingkan wajahnya yang putih bah porselen.    Keduanya kemudian berlalu di depanku dengan anggun. Mereka seumpama putri raja jaman dulu. Hidup bergelimang kebahagiaan dengan para centhi dan batur di sekelilingnya.    Cindy, si gadis manis berambut sebahu. Keturunan arab-padang yang selalu memukau siapa saja. Ke manapun jadi pusat perhatian para kaum adam. Sedangkan Jana, seorang dara Menado berkolaborasi dengan darah biru priyayi Yogya. Gadis putih yang berparas ayu.    Sedangkan aku, tak perlu kujelaskan riwayat singkat diri. Apa dan mengapa hingga mereka berdua sangat tidak senang padaku. Ya, aku bukan siapa-siapa, tidak menarik, tidak cantik, dan sebagainya dan sebagainya. Namun, mereka masih menganggap aku 'ri...

SI BACO SANG ABUNAWAS

SI BACO SANG ABUNAWAS (Sebuah kisah dari Sulawesi)    "Daeng kenapa cotomu yang kemarin lebih enak, daripada coto yang sekarang?" tanya Baco yang merasa aneh dengan rasa coto yang ia pesan.    Sementara Daeng yang ditanya sedang sibuk mengurus pelanggan, sekenanya saja menjawab, "Baco, lain bagaimana? Nah, itu coto yang kemarin yang kau makan!"    Seketika Baco muntah-muntah di atas meja.    "Waduh, Daeng ini, jual coto basi-kah?" Baco bertanya jijik sambil menjulurkan lidahnya.    "Nah, sembarangannya dah bilang ini anak satu," Daeng merasa tersinggung atas ulah Baco. "Itu coto, dagingnya ji yang sama kemarin. Tapi baru dibikin tadi pagi. Jadi jangan ko banyak alasan. Bayar cepat dan ko pergi," amarah Daeng semakin memuncak.    Baco yang melihat Daeng sudah naik darah tidak kurang akal. Lantas si Baco mulai menjilat lagi, "Daeng, jangan dulu ko marah-marah, saya cuma tes ko saja. Katanya orang-orang, kalo Daeng marah se...

WIRO INGIN MENJADI SANDAL

WIRO INGIN MENJADI SANDAL (Mengulik kisah lain dari kehidupan Wiro) "Maaa ..., Maaa ..., Wiro ingin jadi sandal!," teriak Wiro pada suatu malam yang hening.    Suaranya membangunkan mama yang sedang tidur. Terbangun kaget, gelagapan, turun dari tempat tidur dan berlari ke kamar sang anak. Wiro mengigau sudah tiga malam berturut-turut. Dan kali ini membuat mama penasaran.    Kalimat 'ingin jadi sandal' itu membuat mama bingung. Dan setiap bangun di pagi hari mama selalu ingin memuaskan rasa penasarannya dengan bertanya pada sang anak, namun tetap saja bingung.    "Wiro sayang, kamu mimpi apa lagi semalam?" tanya mama pagi harinya.    Anak kesayangan satu-satunya itupun hanya balas memandang wajah mama. Diam.    "Wiro, semalam ngigau lagi ' kan?" mama masih berusaha bertanya, namun yang ditanya hanya bengong.    "Loh, kok ditanya Mama hanya diam. Ayo, anak Mama tidak boleh nakal. Kalo Wiro ditanya harus jawab ya?" dengan ...

BIODATA PENULIS

BIODATA PENULIS    Menjadi seorang penulis adalah cita-cita dari seorang Ibnu Nafisah. Pria yang hobi membaca dan menulis ini lahir di Kendari, 11 Desember 1981.    Mahasiswa yang lulus pada tahun 2006 di fakultas Ekonomi ini, kini bekerja pada Kesatuan Sat Brimob Polda Sultra. Dan masih sibuk dengan dunia kesusastraan, melalui puisi dan cerpen. Hamparan ke depan agar suatu waktu bisa menerbitkan antologi puisi atau bahkan cerpen.    Kritik dan saran bisa dialamatkan ke email : d4nosaurus@gmail.com. Atau melalui akun facebook Ibnu Nafisah, nope: 0812 4581 0007. Atau bisa langsung ke alamat : Jl. Anawai, kompleks Residen Anawai No. C4, Wua-wua, Kendari, Sultra, 93117.

ISTRI YANG TAK MAU DIMADU

"Ma, coba tebak. Gimana cara mengetahui madu itu asli atau palsu?" tanya pak Kus, suatu hari pada istrinya.    "Hahaha...," sekejap saja tawa istrinya bergema.    Pak Kus yang kini heran sendiri, terus bertanya-tanya dalam pikirannya. Apakah istrinya sudah sinting atau memang pertanyaannya yang salah?      "Loh, kok Mama tertawa ?"    "Kamu tu Pa, pertanyaan ini sudah pernah Mama dengar," si mama kembali tertawa, "hahaha...," lalu ia lanjutkan kalimatnya di sela tawa yang tak ingin terhenti, "kalo mau membuktikan asli atau palsu bawa aja kemari," jawab mama.    "Mama tau membedakannya?"    "Itu mah, keciiil," sambil menjentikan jari kelingking dan jempolnya di ujung hidung suaminya.    "Jawabnya gampang, kalo Papa bawa kemari dan Mama marah-marah, itu berarti asli. Tapi, kalo Mama cuma diam-diam saja itu palsu, hahaha...," kata istri pak Kus lalu menyambung tertawanya yang sempat tertunda....

REVOLUSI MENTAL?

Bagian mana yang perlu diubah dan bagian mana yang telah diubah? Apakah sistem atau tabiat orang perorangnya? Orang Indonesia sangat pandai mengupgrade satu kata menjadi kata baru yang bisa diterima, tapi rasanya tetap sama. Seperti jika hari lebaran tiba, toples bermacam rupa dengan kue beragam bentuk dan warna, namun semuanya berjudul kue kering yang terbuat dari tepung dan mentega. Di kantor-kantor banyak dielu-elukan isu revolusi mental. Dan tetap banyak pula penyimpangan yang terlihat. Meski tak mau disebut korupsi, namun tetap saja mengambil sesuatu yang bukan haknya atas nama ini dan itu. Berurusan dengan birokrasi hari gini jangan kaget. Jika tak punya jaringan dan kantong yang tebal jangan harap urusan bisa beres tepat waktu. Cuma jadi bola tenis mantul dari meja ke meja dan akhirnya nambrak tembok. Sepertinya kemajuan zaman telah berhasil mendidik orang-orang malas menjadi lebih pandai dan hidup nyaman. Jika malas masuk kantor atau terlambat karena antar anak-istri, cukup...

TRAGEDI BAMBANG

Suara handphone yang berdering beberapa detik membuyarkan konsentrasi pada layar monitor. Kulirik sejenak alat komunikasi di sana, nama "Sujoko" tertera di layar minta segera di angkat. "Ya, hallo, waalaikum salam, iya napa Ko", sapaku pada teman selorong di ujung sana. "Sudah dengar belum bro, Bambang masuk rumah sakit semalam", kata Joko "Oh ya? Sakit apa emangnya, kemarin masih ada keliaran di lorong!" "Iya, baru semalam masuk" "Rs mana Ko, biar ntar saya jenguk" "Coba cek Puskesmas Anawai, ruang perawatan" "Sip, makasih infonya", balasku ".......", sambungan terputus.                              ### Istirahat makan siang kusempatkan datang di Puskesmas yang terdekat dari Kantor. Puskesmas Lepo-Lepo menyambutku di halamannya yang luas. Keadaan di sana sepi nan lenggang. Jika kita menatap langit hanya ada beberapa burung di sana dan bun...

Kemerdekaan Yang Ada Di Kepala Mu

Banyak kata yang berterbangan seiring hari kemerdekaan RI ke-70, terdengar ironis-miris. Terkadang menyayat, mengiris sembilu, hingga tak kuasa menahan desak-sesak. Kata-kata itu bagai anak panah, kecil tapi runcing-gemerincing di rasa. Mengusik nestapa jauh dari asa masa depan. Namun kemerdekaan bagaimanakah sebenarnya tercoreng di kepalamu yang besarnya hanya beberapa centimeter itu. Apakah kemerdekaan menurut suami yang sering dijajah oleh istri mudahnya. Apakah sama kemerdekaan yang dituntut oleh anak-anaknya yang diberlakukan jam malam. Kemerdekaan apa pula yang telah dirancang oleh para pemimpin kita. Hingga sebagian besar harta kekayaan negara dijajah oleh mereka yang lebih cerdik. Yaa, kalian benar kita baru merdeka sepersekian persen yang ditandai dengan proklamasi. Dan selebihnya kita hidup dalam jajahan Orang-orang tertentu di negara ini. Anak-anak terlantar di pinggir jalan, segala jenis gepeng, janda-janda tua, kaum papa dan sebagainya yang sampai kini masih saja di ...

Sesuatu Yang Berhubungan Dengan Uang

Sudah jadi hal yang biasa jika pekerjaan kita selesai tepat waktu. Dan sdh hal yang biasa kalo di setiap kerjaan ada uang pelicin. Yaaa, mirip-mirip oli, biar mesin lancar jalannya. Yang tidak biasa hal ini kini menjadi semacam keharusan. Sudah jadi budaya yang tak terbantahkan. Hukum adat suatu kantor. Jika tidak diberi pelicin jangan harap pekerjaan selesai, atau selesai tidak tepat waktu. Sekarang dibagian mana yang salah dari sistem ini. Apakah pemberi atau penerima. Kita runut dari awal. Pertama; si calon pemberi karena telah dibantu sebagai tanda terima kasih, maka ia memberi salam tempel. Jelas ini sudah salah dari awal, kita garis bawahi membiasakan hal yang dianggap benar tapi salah (itu gratifikasi). Kedua, si calon penerima, karena sudah membantu merasa punya hak, maka ia terima dengan senang hati. Dan ini juga salah, karena tugasnya memang demikian, menciptakan harapan di sana. Sampai di sini kita lihat, sdh ada dua kesalahan. Namun, kasus di atas layaknya hubungan di lu...

Menguak Kesabaran

Mungkin harus sabar Seperti awan hitam yang berangsur hilang diusir cuaca cerah Seperti bunga mangga hingga berubah jadi buah Atau mungkin lambaian nyiur di atas sana menunggu buah daunnya berjatuhan satu satu Dan mungkin sesabar lantai yang rindu di sapu oleh debu yang kian nebal Namun tak ada kalah sabar bunga lidah mertua yang tegak berdiri di atas bejana gersang Ia hanya diam beku dan kaku hingga hujan datang menyiram kemarau Tak ada sesabar rumah ini ditungguinya pula sang pemilik tanpa pernah berkeluh Meski sepi membanjiri ruang, hening bagai kubur dan gelap penuh misteri Sesabar apa pula rumput yang kini subur di pot menunggu tangan-tangan gemas mencabutnya Atau selang air yang meringkuk lemas menunggu untuk dialiri dingin di tubuhnya Kesabaran macam apa pula yang ini merasuki mesin air hingga kini tak memancarkan air segar Aku meraba-raba jenis kesabaran yang bersanding dalam teras ini Semuanya masih sabar menanti sesuatu dan akupun bertanya apakah aku bisa bersaba...

Gelisah (jiwa petualang)

Bagi jiwa gelisah Rindu akan kedamaian jalan panjang Hari ini kita tuntaskan Segenap daya dan rasa Pada Dia Yang Maha Berpetualang Bagi jiwa berontak Kembali meniti jejak kaki yang dulu lama pergi Kini menantang balik pada wajah kita yang tertidur Bagi rasa yang tak mungkin terpuaskan Datang bagai angin sepoi meniup semangat jua belum padam Mendorong badan maju ke depan ke harapan panjang dan meletihkan Namun itu yang kita nanti, kita susuri jejaknya Hingga apa yang tercari ditemukan pada gunung-gunung terjal, sungai yang tak berujung, hutan penuh sesat, laut yang tak kunjung berubah, bahkan hati yang tak terukur puasnya Bagi jiwa dahaga segeralah berkemas pada gelas-gelas bergegas Agar kenyang cinta pada bumi yang sejak dulu kita pijak Agar sadar diri kita bukan apa-apa dibawah terik tatapanNya Kita hanyalah inai-inai bertebaran Menunggu kiamat hari ini dengan kaki dan tangan yang berpijak pada bumi seraya beribadah pada Dia Yang Maha Tinggi Bergegas, berkemas, seman...

Gelisah

Burung dara terbang ditingkap Mata berusaha menangkap Bebas tanpa noda nyelinap Mengepak di ujung sayap Dosa menggunung Dada pun sesak Ketika di kaki gunung Rindu mendesak Kembali menatap diri Di sini puncak Kesalahan berdiri Tatap gemercak Raung kan serpi Merayap gemeletak Oh burung darah Terasa hampa Terbang  kembara Terhimpit dosa Bawalah serta Bila sayap Jiwa resah Mengepak Langit biru di sana Bulu halus mengangkasa Gelisah terbang Dada terkembang Penuh sesak Dosa mendesak

Pengendara Malam

Angin bagiku bagai pelukan si gadis binal Merinding senti demi senti jejak tubuh yang nakal Ku biarkan gigil menancapkan taringnya dikulit yang bersih Menjalari segenap raga dengan jilatan terkasih Hampir-hampir nafas beku oleh nafsu malam Detak jantung menderu kencang oleh terpaan dingin Memburu dalam sesak nikmat angin Lihatlah ku lupa sadar, oleh gelora hawa yang semakin kalap Hingga teriak menembus gelap Di udara beterbangan segenap nafas Embun putih berlabuh layaknya kapas Lalu hilang hampa entah kemana Meninggalkan cinta jejaka pertama Wahai deru angin yang kini berseliweran Menebas desing bulu kembaran Lumatkanlah raga ini di bawah denyut nafsumu Namun sisakan pula nikmat hangat birahimu Hingga malam esok kita ulangi lagi percintaan kita yang ganas Antara angin yang binal dan jasad yang melintas Agar kita abadi dalam nikmat cinta Abadi akan gelora malam yang tercipta Antara yang terbang Yang kini mengembang Antara angin beku Yang kini merengkuh Mengejang...

Kebersihan Sebagian Dari Iman?

Hari lebaran telah tiba, semua bersuka cita menyambutnya. Ketika matahari belum benar-benar naik di langit ketika itu umat muslim memadati daerah yang telah ditentukan untuk melaksanakan shalat ied. Jalan-jalan lenggang, hanya dipadati pejalan kaki dan sesekali mobil dan motor pribadi. Saf-Saf dibuat ditempat tertentu, di sekitar mesjid, tanah lapang bahkan Jalan-jalan protokol yang dikhususkan sebagai tempat salat. Saf-Saf tersebut seketika saja merubah wajah jalan atau tanah lapang menjadi garis garis sejajar menghadap mimbar dadakan yang tiba-tiba berdiri secara ajaib sudah ada sejak malam atau subuh hari di hari yang fitri ini. Kaki-kaki penuh kebahagiaan pun berjalan menuju Saf-Saf yang bermimbar ajaib, mengisi deretan panjang yang telah disediakan. Ketika mentari mulai bersinar terang salat pun berlalu di akhiri khotbah dari para pengkhotbah yang entah berapa lembar kertas yang telah disediakan guna mengisi acara sesi terakhir dari salat ied tersebut. Dan matahari yang mula...

Maling Imut dan Unyu-Unyu

Mudik lebaran ? Ini tips dari Cak Lontong, usahakan rumah terkunci dan diri anda berada di luar rumah, bawa pakaian seperlunya karena ini judulnya mudik bukan minggat, bawa barang bawaan yang tdk merepotkan di perjalanan, seperti kulkas, kursi, meja, itu tidak penting, jangan menerima air atau makanan dari orang asing selama di perjalanan, bila perlu minta mentahnya saja, dan yang menggunakan pesawat dan kapal laut jangan sekali-sekali turun di tengah jalan dan yang terakhir dan yang paling penting jika anda mudik pastikan anda memiliki kampung halaman. Hahaha, tips yang segar dan lucu. Namun kelucuan itu akan segera sirna jika anda pulang dari mudik dan mendapatkan rumah dalam keadaan kosong, semua telah di jarah oleh tangan-tangan jahil. Beberapa bulan ini keadaan di Kota Kendari seakan mengalami kisah misteri yang terus berseri. Pencurian di beberapa rumah yang berpenghuni maupun yang tidak berpenghuni, yang tertidur ataupun yang meninggalkan rumah untuk kerja. Jadi ingat kata-k...