KHITBAH MUSIM KEMARAU
Di bawah pohon jati itu daun meranggas. Di bawah pohon jati itu pula Zahra hatinya merandu.
Kibaran hijab besarnya bergelombang ditiup angin kemarau. Disandarkan pula resahnya di batang pohon itu. Hatinya gamang, centang perenang tak karuan. Seirama daun gugur berputar terbawa aroma rumput musim panas.
"Ra, Nak Azzam itu gagah, baik, sudah punya kerja pula," terngiang ucapan uminya suatu ketika, " apa lagi yang kau cari?"
Pertanyaan itu yang selalu menghantui hati Zahra. Bagai bayang-bayang ranting yang bergoyang ditarik angin sendu.
"Mi, Zahra ingin seorang yang bisa ngimamin," balas Zahra, "bukan sekedar baik dan punya kerja."
"Husst, seorang suami sudah tentu jadi imam dari seorang istri. Itu sudah aturannya."
"Tapi Zahra tidak ingin seperti Mba Nafisah yang akhirnya nikah tapi tak bahagia," suara lirih Zahra ketika menyebut nama kakaknya, "demi kesenangan dunia dan segalanya."
"Kamu ya, susah dikasih tahu. Dengar ya, umur seusia kamu ini, sudah sepantasnya nikah. Bukan lagi main sana-sini."
"Zahra tu ngerti maksud Umi, tapi biarlah masalah yang satu ini, Zahra yang nentuin sendiri."
Siang itu bukit jati semakin kering. Batang dan ranting hanyalah rindu terpendam. Mereka pandai menyembunyikan cintanya pada hujan. Seperti wanita yang kini gelisah akan seseorang yang entah di mana.
Tak ada yang tahu kapan musim berganti, begitu pula apa yang ada dalam hati terkecil Zahra.
Tanpa ia sadari hatinya telah merasa nyaman dengan seseorang. Seorang lelaki yang sederhana tapi kaya dalam spiritual. Anehnya ia hanya melihatnya dari selembar foto. Mengenalnya dari bibir teman pengajian. Tentang seseorang yang bernama Ahmad. Dan itu sudah cukup buatnya.
"Ra, kita harus nerima kedatangan Nak Azzam besok," kembali umi berucap dilain kesempatan, "keluarganya sudah menelfon umi. Besok orang tua Nak Azzam dipastikan hadir. Jadi siapkanlah dirimu untuk besok, Nak."
"Jawaban Zahra masih sama Mi," ucap anak bungsu dari tiga bersaudara itu.
"Zahra sudah putuskan. Tidak ingin menikah hanya untuk kesenangan dunia belaka apalagi hanya jabatan semata."
"Umi mengerti kegelisahan kamu, Nak," ucap sang Umi, "tapi kenali dulu sebelum memutusnya, karena ada pepatah 'tak kenal maka tak sayang.' Jadi nasehat Umi, berpikir dulu sebelum ambil keputusan."
"Siapkan hatimu, jika memang berat, masih ada jalan untuk taaruf terlebih dahulu," ucap Umi seraya menenangkan jiwa Zahra yang gelisah.
***
Waktu yang tak dinantikan itu pun akhirnya tiba. Zahra dengan hatinya yang gelisah menunggu waktu yang tak nyaman di dalam kamar.
Waktu yang tak dinantikan itu pun akhirnya tiba. Zahra dengan hatinya yang gelisah menunggu waktu yang tak nyaman di dalam kamar.
Ketika itu suara ramai di luar bergemuruh. Sayup-sayup terdengar salam.
"Assalamu alaikum"
"Waalaikum salam," terdengar balasan dari dalam rumah.
Hati Zahra semakin bergejolak. Memikirkan bagaimana cara untuk menolak lamaran tersebut.
Selang beberapa saat kemudian, tibalah waktu yang menegangkan.
"Ra, keluar sebentar nak," suara halus umi menyadarkannya dari lamunan.
Dengan hijab hijau lumutnya, Zahra berjalan menuju ruang tamu. Ia tak mampu menunjukkan wajah pada semua tamu yang hadir. Pikirannya berusaha merangkai kata-kata. Kata penolakkan.
"Perkenalkan inilah Siti Zahra, anak kami," kata buya Zahra membuyarkan pikiran anaknya yang kini diam seribu bahasa.
Zahra yang diperkenalkan pun memberanikan diri meluruskan wajahnya. Dan dalam sekejab seraut wajah yang tak asing melayang di otaknya. Namun siapa?
Siapa lelaki ini? Senyuman bersahaja, dengan penampilan sederhana.
"Zahra. Inilah yang bernama Nak, Azzam," kata buya
"Assalamu alaikum, Zahra!"
Lelaki yang bernama Azzam itu pun mengucap salam perkenalan. Dan Zahra masih menebak siapa gerangan lelaki yang bernama Azzam ini.
"Perkenalkan nama saya Ahmad Azzam," ucap Azzam kemudian dengan sopan.
Seketika jantung Zahra berdetak tak karuan. Sekarang iya ingat siapa lelaki yang berada di hadapannya ini. Dia adalah Ahmad, yang selama ini, ia hanya menatapnya lewat selembar foto. Dan kini ia berada tepat di depan Ahmad alias Azzam. Hanya berjarak tiga meter darinya.
Sungguh sesuatu yang luar biasa. Penantian panjang di bukit jati kini telah sampai akhirnya. Tunas-tunas cintanya telah tumbuh kembali. Daun-daun yang tadinya meranggas, seketika kembali melekat pada ranting inangnya.
"Waalaikum salam, Mas Azzam," balas wanita yang seketika dimabok asmara itu.
Ibu Zahra pun langsung tersenyum ketika membaca wajah sang anak yang bersemu merah itu. Karena yakin kini putrinya telah mendapatkan apa yang diinginkannya. Seorang imam bagi seorang istri.
Dan tidak menunggu lama hingga musim hujan tiba. Pernikahan sederhana itu terselenggara beberapa hari kemudian. Di bawah ranting jati dan angin musim panas, Azzam mengucap ijab kabul dihadapan saksi dan penghulu.
Ibnu Nafisah
Kendari, 03 November 2015
Kendari, 03 November 2015
Komentar
Posting Komentar