Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

PERBINCANGAN MALAM 3

#Mentari_Tak_Bersinar 3 Malam masih menangis ketika kubuka mata ini. Gelapnya meraung di bukit kesakitan yang paling senyap. Terlintas segala kronik jejak hidup lampau yang tak mudah terulang. Masih terasa basah air mata ini. Namun juga terasa kelam malam. Tidak, air mata itu telah menguap di lantai beku. Terisap oleh ribuan nyamuk pengisap darah di waktu yang tak biasa. Seperti saat ini. Wa Rabe, istri yang ingin berlari bebas itu kini datang bagai hantu dalam mimpi. Bahkan dalam angan yang ingin menjadi nyata. Masih tercium wangi rambutnya. Sisa-sisa pembaringan saat itu dan beberapa benang rambutnya yang hitam berminyak. Tidak. Ini hanya bau apek. Bau pengap kamar penuh jamur, bekas hujan tempo hari yang deras. Jendela dengan jeruji kecil itu telah menyerahkan kamar ini pada sinar rembulan yang kadang timbul tenggelam. Saat awan hitam menaungi sinarnya, kekasih hatiku datang menjelajah otak busuk ini. Ketika rembulan cantik itu tertawa terbahak yang kudapati hanya ini. ------Ke...

PERBINCANGAN MALAM 2

#Mentari_Tak_Bersinar 2 Kejadian itu sepertinya baru terjadi semalam. Karena perihnya masih meradang hingga kini. Kau akhirnya membuat pilihan buat kita. Menjadi langit tanpa batas dan aku mentari tak bersinar. Mencoba berjuang melepaskan diri dari belenggu khayal yang tak kumengerti. Bahkan alasan maya menjadikan diri terdakwa sesalah-salahnya. Kau meminta kebebasan atas penjara yang dulu engkau sendiri rela masuk tanpa paksaan. Tanpa prasangka. Suka rela. Atas dasar apa, aku tidak pikir saat itu. Cintakah? Atau kenyamanan yang berakhir, 'ini tidak seperti dugaanku', dalam benakmu ujungnya. Masih saja luka ini menganga. Seperti seorang pengidap penyakit gula. Tak mengijinkan sebuah luka tertutup rapat, bahkan mungkin saja jadi pencetus awal munculnya belatung yang entah dari mana datangnya. Di malam sepi-kaku. Angin berhembus beku. Kulit yang melekat ini seperti merana diterpa sang bayu. Sebagai mana rumah kosong nan sunyi. Tiada perabot dan juga hening. Ini sudah hampi...

NAMANYA ANAK-ANAK

"Pergi kencing Oom!" Loh! Anak itu menatap bola mataku dan aku tepat menemukan titik hitam di sana.   Ada apa? Pernyataan itu belum sempat terproses dalam otakku. Hal itu terjadi ketika kedua sandal jepitku baru saja menginjakkan dirinya di depan masjid. Sepeda motor pun baru diparkir di sisi bangunan berkuba itu. Dari halaman suara qamat berkumandang tanpa alat pembesar suara. Gaungnya jernih, semakin membuat kedua kaki ini terseret masuk ke dalam. Di saat semua jamaah mulai merapatkan barisan saf, dua orang anak begitu saja menanggalkan sepeda BMX tuanya di depan pagar geser. Secara spontan kutatap matanya yang lugu. Tanpa takut dan ragu ia balik menatap. Wah, tatapannya menusuk hingga ke hati. Umur mereka mungkin saja seperlima dari umurku dan ia berucap santai seperti menyapa teman karib ketika hendak keluar dari ruang kelasnya. Lalu dengan sangat tiba-tiba kalimat itu begitu saja terucap. "Pergi kencing, Oom!" "...?!" 'Hei itukan pagar bambu...

PERBINCANGAN MALAM 1

#Mentari_tak_bersinar "Aku ingin menjadi langit", katamu suatu malam, "Bebas tanpa batas." "Aku akan menjadi matahari di sana," jawabku yang terbaring di sampingnya. "Tidak," ucapnya, kutatap wajah itu namun ia tak membalas, sisi wajahnya tegas menerawang ke langit-langit, "tidak, aku hanya ingin jadi langit malam tanpa matahari!" "Baiklah. Bagaimana dengan esok paginya?" Tawarku pada wanita yang telah memberikan aku satu anak. Rasa-rasanya ini akan jadi malam yang dingin beku, pikirku. "Tiada esok hari. Karena malam itu terjadi sepanjang bulan, sepanjang tahun, biarkan langit itu bersama bintang kecil yang akan timbul tenggelam dibentangannya." "Apakah ini pilihanmu? Karangan jiwamu yang pekat?" "Tidak. Itu pilihanmu, kau telah membuat malam ini secara sadar atau tidak, kau telah menghilangkan matahari itu sendiri." "Maka maafkanlah aku, ..." "Terlambat. Sudah terlambat!...

#day7

#ARTmazing #days #writingchallenge #swc11 #Backtochildhood #day7 I am #ARTmazing Ini hari terakhir! Setelah #backtochildhood selama seminggu ini, semangat PICT (positive, inspirative, creative dan transformative) apa yang telah bekerja dalam hidup Anda? Dan bagaimana Anda membiarkan semangat itu tetap bekerja? *** Apa yang harus kukatakan pada kalian kali ini. Lihatlah diri ini sekali lagi berwajah dan berpenampilan  selayaknya seorang dewasa berusia tiga puluh lima tahun. Berkumis tipis, sorot mata tajam di bawah alis tebal dan hitam. Bibir seakan segan mengumbar senyum. Raut muka keras dengan rahang agak kencang  di tiap sudutnya. Jika kulangkahkan kaki menuju kantor dengan tegap, orang-orang telah mengenali siapa itu. Ya, Supadmo Wiranata, pekerja keras, tiada kenal waktu dalam berusaha, berani jujur meski mengundang bahaya. Namun, mereka tidak mengenal siapa sebenarnya Padmo ini mereka hanya mengenal sisi luar saja. Perawakan yang tidak terlalu tinggi dan terkesan k...

#day6

#ARTmazing #days #writingchallenge #wc11 #Backtochildhood #day6  This is me. Setelah apa yang dilakukan 5 hari terakhir ini, siapakah aku yang sekarang? Ambilah foto yang menyimbolkan diri Anda melalui gadget Anda (no googling, please). Pastikan simbol tersebut benar-benar menunjukkan "ini aku". *** Anak lelaki berumur lima tahun itu masih terkurung dalam jiwaku. Kadang tangisnya terdengar bagai hujan purba. Menempel pada dinding, lantai, atap rumahku, bahkan pada pikiran. Terkadang tawanya terbawa angin. Memeluk tubuh hingga gigil menggigit. Mencoba keluar menyuarakan kegamangan hati. Teriakan-teriakan pilu di keheningan malam di dunia yang entah di mana. Sesekali kudengar suaranya bernyanyi parau di halaman rumah sepi, seorang diri. Ketika kudekati hanya kudapati diri berdiri sendiri. Ia adalah misteri sekaligus cerita yang tak mudah dibuktikan. Keberadaannya menghantui otakku. Kedatangannya membuat bawah sadar merinding. Karena dia menjelma nyata dalam mimpi. Berka...

#day5

#ARTmazing #days #writingchallenge #swc11 #Backtochildhood #day5 Share it! Mention / tag 5 orang dan bagikan ide Anda. Tanyakan pendapatnya, dan ajaklah mereka berkontribusi melakukan hal yang sederhana untuk beraksi membangun dunia yang lebih PICT (positive, Inspirative, Creative and Transformative) *** Meja makan semati tugu. Tiada suara dari dua orang penghuni rumahnya. Mereka  berdua masing-masing berpikir. Apakah sebuah kejujuran dibutuhkan dalam rumah tangga yang telah berjalan lima tahun atau itu hanya sebagai simbolik saja. Diucapkan di bibir. Didengarkan pada lidah. Hanya sekadar menyenangkan sang pendengarnya saja. Sementara hutan yang mereka diami telah terbakar sekam di bagian lembah. Kepulan asap di puncak gunung dianggap sebagai kabut belaka. Inikah yang dimaksudkan kejujuran itu. Oh, sungguh dua orang dewasa, mereka sekali lagi berpikir di luar batas otak rata-rata. Mencoba berjalan di sungai yang diyakini tenang namun tak jua mengindahkan riak-riak bahaya di ...

#day4

#ARTmazing #days #writingchallenge #swc11 #Backtochildhood #day4 Time to Go KAPAN Anda mau memulai ide yang sudah anda rencanakan? *** Menjadi dewasa di usia masih kanak-kanak memang tidak mudah. Menjadi anak-anak pun ketika dewasa sama repotnya. Kedewasaan adalah suatu hal yang perlu. Namun, menjadi dewasa saat ini merupakan suatu tantangan. Karena seorang dewasa akan selalu berpikir melebihi otaknya, cenderung mengambil keuntungan lebih yang tidak semestinya. Siang itu, anak yang masih berdiam diri dalam jiwaku pulang dengan rasa plong di dada. Masih banyak tempat bermain lain pikirnya. Kehilangan taman bahkan teman bermain bukan suatu hal yang menyakitkan. Karena di mana dan kapan pun anak-anak bisa bermain. Meskipun mereka terkadang bermain dengan teman khayalan. It's Ok. Hidup terus berjalan. Malam dan siang akan terus berganti. Tentu saja kenikmatan masa kecil takkan pernah tergantikan. "Hari ini Papa telah memulainya, Ma!" Kataku pada sang istri yang sed...

#day3

#ARTmazing #days #writingchallenge #swc11 #Backtochildhood #day3 Risks Dalam perjalanan mewujudkan ide Anda, kira-kira resiko seperti apa saja yang mungkin terjadi dan bagaimana Anda menyikapi resiko tersebut? *** Baru kali ini pikiran terasa ringan. Mengatakan apa yang sebenarnya sungguh penuh tantangan, keberanian, dan tekad yang kuat. Di luar itu semua rasa plong selalu menyertai setelahnya. Seperti pagi ini, anak berumur lima tahun itu kini bisa berjalan dengan penuh semangat. Dikejarnya ribuan merpati di jalan itu. Diciuminya aneka warna bunga. Diserapnya udara pagi, mentari di hati dengan senyuman menawan. Pusat perkantoran hanya terletak beberapa kilometer. Sebuah bis siap mengantarnya ke tempat tujuan. Inilah awal pagi yang tak biasa dalam hidupnya, dihirupnya seluas sepuas ia mau. Jarum pendek dan panjang di dinding kompak menunjuk angka tujuh saat kaki-kaki menginjakkan solnya di lantai kantor. Gedung perkantoran berlantai lima itu begitu megah. Bersekat penuh ruang...

#day2

#ARTmazing #days #writingchallenge #swc11 #Backtochildhood #day2 Active Learning Pembelajaran seperti apakah yang Anda butuhkan untuk mencapai ide yang sudah Anda rencanakan kemarin? *** Anak berumur lima tahun di dalam diriku kini mulai mengucek-ngucek kedua belah matanya. Menarik-narik badannya yang kurus penuh tulang. Setelah mandi dan sisiran ia langkahkan pula kaki-kaki kecilnya menuju meja makan. Sarapan telah siap. Sebuah telur dadar dan dua helai roti bakar mengapitnya. Segelas susu langsung meminta diri dihabiskan lebih dulu. Namun, roti bakar mencegahnya. "Habiskan kami dulu," kata roti bakar,  "tidak lihatkah pengorbanan tubuh kami setelah dibakar dan digoreng pagi ini, kami berkorban demi kamu!" "Apa saya kurang berkorban demi kamu?"  Kali ini susu tak mau kalah, "sepagi ini aku sudah disiram dengan air panas dan itu pun demi kau!" "Pergi!" Kataku pada mereka, pada khayalan yang tiba-tiba datang menerpa pikiran. Ap...

#day1

#day1 Apa yang harus kulakukan untuk mengubah dunia agar lebih baik? Saya adalah seorang dewasa berumur tiga puluh lima tahun. Menjadi dewasa tidaklah gampang. Menjadi dewasa berarti berada dalam penjara nyata yang tak pernah di sadari oleh orang dewasa itu sendiri. Bayangkan saja harus berpura-pura sepanjang hidupnya. Tertawa, menangis, bertingkah laku bahkan untuk berbuat sebuah kebaikan harus melakukan suatu kebodohan terlebih dahulu. Dan jika ditanya apa yang harus kulakukan untuk mengubah dunia menjadi lebih baik? Tentu saja saya ingin menjadi anak-anak berumur lima tahun yang baru mengenal dunia. Menjadi polos, tanpa prasangka, menganggap segalanya baik, tiada batasan dan persepsi yang akan membuat hidup semakin sempit dan sumpek. Apa yang akan kulakukan adalah menjunjung kejujuran dan keluguan sebagai suatu hal yang baik. Hidup sepenuhnya adalah bermain dan bermain. Peliknya hidup tak pernah terasa meski itu berada di depan hidung mereka. Melihat dunia dari mata anak-anak ...

11 DESEMBER

11 Desember Loteng, 13 Desember 2009 Hujan gerimis terus berjejer di ujung atap. Tirai itu masih tertutup, sama seperti hari-hari yang lalu. Inilah tempat tinggalku yang sekarang Loteng Remang berjendela dan bertirai rapat. Deretan buku yang ingin kubaca serta koran-koran lusuh bertumpuk di atas meja belajar bercat kuning. Kedua saudara serta orang tuaku yang cenderung sedih, tidak pernah lagi menengok aku di sini, mungkin sesekali saat menjemur pakaian dan terkadang melirik ke arahku, tapi hanya sebatas menyebut nama lalu berlalu dengan sedih. Aku pun cukup nyaman di sini, menghindari kesedihan serta kebisingan yang aneh di bawah sana. Tak ada yang aneh pada diriku, tp mereka terkesan aneh pada diriku. Siang hari mereka tampak berbisik-bisik, tanpa ada orang yang nyata dan saat malam tiba mereka kembali ramai, dengan penampakan yang jelas. Namun, mereka tak pernah menggubris aku di sini ataupun sekedar mengajak makan bersama. Tapi itu bukan hal yang penting lagi buatku, semua tera...

CERITA SEORANG GADIS?

   Akhirnya sampai juga di depan rumah orang tua, tempat segala rasa berawal. Tempat segala jiwa bermukim yang merupakan rahim terakhir di kehidupanku. Malam itu dengan kemeja serta sarung seadanya sedari masjid di bawa juga diri ini menggunakan motor butut milik mereka. Meski sudah bekerja dan berkeluarga namun tetap untuk sebuah kendaraan yang bernama motor belum mampu pula dimiliki secara pribadi.    Lampu kendaraan itu bersinar gemas pada jalan gelap beraspal malam itu. Waktu berbuka sudahlah tiba, segelas air sebagai pembatal puasa telah pula menghapus dahaga. Tinggal sejumput nasi saja yang belum masuk memenuhi ruang-ruang usus besar itu.    Tepat di depan rumah yang saya kenal sebagai rumah yang dituju, telah terparkir sebuah sepeda motor matic. Dengan seorang gadis jika memang bisa disebut gadis. Maafkan saya yang tak tahu menahu tentangnya karena kesibukan dan waktu hanya untuk pekerjaan saja.    Beberapa saat kemudian, ...  ...

PERJUANGAN HEROIK DI TANAH KABAENA

PERJUANGAN HEROIK DI TANAH KABAENA "Aaarrgghhkkk ...!"    Sebuah pekikan tertahan di ujung bibir. Wajah berpeluh keringat menahan sakit. Saat peluru panas bersarang di dada.    Agen Polisi Tingkat Dua Prasetyo Wijoyo Kusumo meradang. Hujan peluru beberapa saat telah berhasil menumbangkan tubuhnya yang tegap. Ia tertembak dan sebuah luka menganga. Meneteskan darah segar.    Dalam usahanya menarik napas, dunianya kini hanya fatamorgana. Dentuman gema masih samar terdengar. Teriakan dan khayalan berganti berkelebat.    "Tiaraaaap ...!"    Masih terngiang teriakan Danru Saing sedetik sebelum tertembak. Namun sudah terlambat. Kali ini tubuh itu kini benar-benar ambruk. Menghantam tanah kering. Darah membanjiri seragam loreng Mobrig KNILnya.    "Mas Pras, hati-hati ya!"    Suara terakhir dari istri tercinta masih berkelebat. Berganti dengan perih, sakit serta jeritan di medan perang yang tak kenal ampun.  ...

GARA-GARA BANG IPUL

GARA-GARA BANG IPUL    Hari itu Marissa galau berat. Remaja yang kini beranjak dua puluh tahunan itu menjadi bahan gunjingan ibu-ibu sekomplek. Nama Marissa tiba-tiba mencuat, seiring Bang Ipul tak lagi berada di salah satu stasiun TV nasional. Loh? Hubungan apa gerangan antara Marissa dan Bang Ipul? Inilah yang membuat sel-sel kecil dalam otak kelabuku bertanya-tanya.    Untuk mencari tahu kebenaran kabar yang tidak jelas di mana titik apinya, sementara asap sudah mulai merebak. Akhirnya saya putuskan untuk mengorek, mengais dan menelusuri kejadian yang sebenarnya.    Setelah mondar-mandir kayak bajaj bangkotan beberapa kali di komplek akhirnya berita demi berita terkuak sedikit demi sedikit.    Siang itu sama seperti hari yang biasanya. Komplek lenggang sekaligus  lengang. Ibu-ibu yang biasanya istirahat kali ini waspada satu (baca: waspada tingkat tinggi). Seumpama pihak kepolisian siaga dalam menghadapi teroris. Maka mereka mengendap-...

PENGAKUAN KORBAN MALPRAKTEK

PENGAKUAN KORBAN MALPRAKTEK    Siang itu si Astra, seorang pegawai kantoran di salah satu instansi pemerintah merasa paling sibuk dan sakit sedunia. Pagi-pagi buta ia telah meninggalkan rumah. Melepaskan diri dari belai hangat selimut hidupnya, istri tercintanya. Demi mengendarai tunggangan liarnya, istri keduanya. Si H*nda butut warisan satu-satu dari bapaknya. Tak penting menyebut umur pakai benda itu. Mendengar pengakuan orang tua Astra kita sudah bisa tebak berapa lama kendaraan itu ada.    "Tra, bapa tidak bisa memberi apa-apa buat kamu. Hanya inilah yang bapa punya," kata bapak sambil menunjuk dengan dagu pada seonggok besi tua.    Astra cuma bisa tersenyum saat itu, "terima kasih Pak. Tapi berapa sih, umur motor ini?" tanyanya kemudian.    "Lebih tua darimu, dia itu kakak kamu!"    Si anak cuma tertawa menelan lelucon lelaki tua itu.    Setelah lelah berkeliling di beberapa instansi demi sebuah urusan pekerjaan. Ki...