Langsung ke konten utama

PERBINCANGAN MALAM 3

#Mentari_Tak_Bersinar 3

Malam masih menangis ketika kubuka mata ini. Gelapnya meraung di bukit kesakitan yang paling senyap.

Terlintas segala kronik jejak hidup lampau yang tak mudah terulang. Masih terasa basah air mata ini. Namun juga terasa kelam malam. Tidak, air mata itu telah menguap di lantai beku. Terisap oleh ribuan nyamuk pengisap darah di waktu yang tak biasa. Seperti saat ini.

Wa Rabe, istri yang ingin berlari bebas itu kini datang bagai hantu dalam mimpi. Bahkan dalam angan yang ingin menjadi nyata.

Masih tercium wangi rambutnya. Sisa-sisa pembaringan saat itu dan beberapa benang rambutnya yang hitam berminyak. Tidak. Ini hanya bau apek. Bau pengap kamar penuh jamur, bekas hujan tempo hari yang deras.

Jendela dengan jeruji kecil itu telah menyerahkan kamar ini pada sinar rembulan yang kadang timbul tenggelam. Saat awan hitam menaungi sinarnya, kekasih hatiku datang menjelajah otak busuk ini. Ketika rembulan cantik itu tertawa terbahak yang kudapati hanya ini. ------Kehampaan.

Hingga malam merupakan sejarah kelam hidupku yang paling dalam. Penuh misteri juga kegetiran tiran.

Masih teringat dengan jelas kalimat pisah yang teramat di luar dugaan. Engkau dengan tanpa hati. Sesuka bibir ranum itu telah berucap seindah pantai mengukir pasir. Tanpa aba-aba dan dosa ingin menjadi langit yang bebas lepas. Ombak yang bergelombang lari ke samudra dengan hanya menyisakan buih-buih putih di garis pantai.

Sebelumnya hanya sebuah teka-teki buatku. Tapi kini nampak seperti balok puzzle terakhir yang siap diletakkan di tempatnya. Kau dengan kegelisahan malam buta.

Saat itu di malam tanggal 07 Oktober 1965. Bicaramu seakan tak punya arti ketika kata pisah begitu saja terlontar. Tanpa sadar telah menjadi prasasti abadi antara kau dan aku.

"Biarkan aku menjadi langit itu," pintamu, "tanpa secercah mentari pun di sana."

"Kau yakin?"

"Sangat! Biarkan bintang kecil ini hidup tanpa sinar mentari yang membakar. Biarkan dia dengan hidupnya yang bebas."

"Apakah karena mentari itu hanya kuli partai yang tiada harganya hingga kau campakkan begitu saja?"

"..."

"Atau kau telaaa..!"

Kalimat itu terputus begitu saja. Suara ketukan, atau lebih tepatnya suara gebrakan keras menghantam pintu. Daun pintu terjengkang ke dalam. Bersamaan dengan itu bunyi suara laras terendam semakin santer terdengar. 'Malam ini bakal terjadi,' batinku tiba-tiba menyadari sesuatu.

Sepasang jiwa tersengat kaget. Serta merta dua badan seranjang kini berdiri menerjang. Bayanganku terlebih dahulu mencapai ruang tamu dan mereka telah berdiri bagai benteng beku yang tak mudah dilewati. Memagari sebuah lubang yang dulunya sebuah daun pintu berdiri kokoh di sana.

Seragam hijau lengkap dengan senjata menghadang.

"Benar ini rumah La Baruta?"

Salah seorang berwajah keras bertanya seolah-olah di rumahnya sendiri.

"Iya, betul. Saya La Baruta, dan mau apa ka..," belum sempat sebuah pertanyaan dilepaskan segenggam pukulan jatuh dengan sempurna di rahang. Aku terkapar seketika. Lemas tak berdaya.

Ketika tersadar rumah sudah berubah jadi gudang. Lemari terburai memuntahkan isinya. Pakaian dan buku-buku bagai bulu angsa di udara. Di antara kertas yang berhamburan tampaklah tubuhku tengkurap dengan darah berceceran di lantai.

Sayup-sayup terdengar tangisan bayi di kejauhan. Sementara suara tangis pilu meronta di kamar begitu menyayat.

"Apa yang kau lakukan pada istriku??!," kalimat itu tiba-tiba saja keluar dari mulut berbusa darah.

Menyadari aku tersadar dari pingsan yang singkat, salah seorang bertangan kasar menarik baju kaos berwarna merah darah yang kini berbau amis.

Ia menyandarkan kepala pening itu ke dinding, kamar yang di sebelahnya tak ingin kupastikan adaapa dengan Wa Rabe, kekasih hatiku mengamuk paksa. Di atas ranjang terdengar derit jerit beringas.

Inikah neraka itu. Tak berdayaan yang seketika menghinggapi. Harga kelaki-lakianku meronta-ronta. Namun tetap tak berdaya.

"Kemana dokumen itu, katakan!"
Kepala itu semakin ditekan ke tembok.

"Di mana dokumen senjata dari cina itu?"

"Saya tidak tahu!"

Satu hantaman keras ke sisi tembok telah memancarkan cairan segar dari pelipis. Entah berapa tangan dan kaki telah mengusik tubuh naas ini. Dari sela-sela suara napas memburu lelaki keparat dan kaki indah istriku semakin menggelinjang di dalam kamar, dunia kini berputar berbayang tujuh rupa.

Kembali tubuh kini merinding ketakutan. Kedinginan membangunkan kesadaran akan mimpi yang selalu menghantui. Inilah neraka sebenarnya. Kepedihan dalam ketidakberdayaan. Ketidakadilan yang terus menggema dari dasar jurang. Mencoba menggapai, meraih melalui jilatan tebing kenistaan.

Mataku membelalak menatap langit-langit gelap. Tak ada sinar di jeruji itu kali ini. Hanya kerlip bintang kecil bermain mata di sana.

Bau sumpek dan jerit nestapa semakin menggema dalam ruang hampa. Dadaku sesak. Pipiku menghangat. Namun bibir tetap saja berucap jangan sedih.

Jangan sedih! Karena kesedihan adalah penjara yang nyata. Sedangkan kesepian adalah jeruji besinya. Lalu derita hanya tikar tua penuh kutu di dasarnya.

Maka menangislah, jika itu membuatmu bebas, puas. Kekasih hatiku.

Tapi, jangan sedih!
Batinku meraung dalam gelap.

IBNU NAFISAH
Kendari, 24 Agustus 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

msh yg dl

dan tibalah dpersimpangan antara rindu terkoyak jua mati rasa pdmu bila lampu menghijau pastikan tergilas waktu hilang nyawa djalanmu slamatkan aku dlm arus tak pasti apakah kembalikan waktu atw terhapus dlm sejarah (masih yg dulu, 16 feb 2012)

Kita dan (*)

Kini kita bersantai di bawah biduk bintang Senyummu menunjuk ke langit Sedang aku bersandar di batu beku Anganmu menerawang hingga batas cakrawala Aku masih merabaraba sandaran batu Telunjukmu menarinari di bintang terang Dan aku lagilagi mengeluh sandaran batu ini "Aku ingin terbang ke bintang" katamu saat itu "......" Aku terperanjat segores luka membujur di punggung Akupun heran sampai kini kita masih sj bersantai di bawah biduk bintang Dengan cahaya bintang di matamu serta keluhan malam yang takkan pernah pudar. (Kita dan *, 2 Maret 2014)

Hut brimob

Adakah brimob dhatimu? Saat sgala tugas terhampar-membentang Adakah brimob dhatimu? Saat sgala cacian brurai-bercecer Adakah brimob dhatimu? Dikala darah dan keringat adalah taruhannya Masih adakah brimob dihatimu? Jika nyawa hanyalah hal kecil buat bumi pertiwi Adakah brimob dhatimu? Adakah brimob dhatimu? Adakah brimob dhatimu? YAA SLALU ADA...!!! (Dzikril Hakiim, HUT BRIMOB KE-67, 14 Nov 2012)