TRAGEDI MUJAIR Siang itu mendung mulai merajai kaki langit. Utara tempat tujuan dua orang pengendara sepeda motor telah menghitam. Langit seperti tak bersahabat. Sesekali angin menghantam dahan pepohonan di jalur dua itu. Tenda yang telah lama berdiri di depan perbatasan masih kokoh. Beberapa petugas masih berjaga di sana. "Empat orang mati kemarin," kata seorang petugas berseragam coklat pada pemuda yang terus menerus menembakkan senjata berpeluru laser pada pengendara yang lewat. "34 .., 35 ..," balas pemuda tersebut. Sebuah kendaraan baru saja lewat ketika itu. "Iya, semakin ke sini, semakin horor. Pembunuh hanya sebesar 400-500 mikro meter," kata pemuda itu seperti seorang ahli menembak sembari terus menembakkan senjata di tangannya. "Wah, bukankah senjata yang kamu pakai tidak bisa menangkap mereka? Atau bahkan membunuh mereka?" Seseorang yang berpakaian biru langit menimpali secara santai percakapan itu. Si pemuda tersenyum, "m...
RUMAH KONTRAKAN Rumahku istanaku. Sebaik-baiknya sebuah rumah adalah rumah sendiri. Meski rumah mewah tapi milik orang tiada guna. Mungkin itu maksud pameo tersebut. Begitulah yang dirasakan oleh Baharuddin, seseorang yang akrab dipanggil Uddin dengan dua huruf 'D' bukan satu huruf 'D'. Mengapa harus dua 'D' bukan satu? Alasannya sepele karena di ijasa h nya tertulis Baharuddin dobel huruf 'D'. Cukup sepele tapi ia merasakan itu hal yang sangat penting. Sama pentingnya dengan memotong kambing harus dua bukan satu ketika namanya diberikan oleh bapaknya. Rumah tempat tinggal Uddin saat ini cukup sederhana tapi sangat luas. Satu kamar tidur utama dan tiga kamar tidur lainnya tersebar ditiap ruang. Sebuah ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan dan dapur serta tiga kamar mandi. Bahkan masih ada teras yang berbentuk huruf L. Listrik dan air cukup lancar. Atap masih mampu menahan air ketika hujan. Namun Uddin masih merasa kurang pas dengan rumah yang seka...