NASIOPA
Kenangan itu seperti hantu yang datang di otak manusia. Tak nampak secara kasat mata namun akan melukai secara halus orang yang terserang olehnya. Kita bisa bilang, "tak apa-apa," nyatanya hantu itu melewati ruang-ruang waktu dari hidup seseorang. Hingga suatu saat dilipatan waktu yang tak tentu ia memberikan pukulan terakhirnya. Seseorang akan bersuka cita, berduka atau bahkan terluka olehnya.
Begitulah yang dialami seorang lelaki sepertiku, waktu telah membuat diriku jatuh bangun untuk merasakan perih, duka, cinta dan haru-biru di satu waktu yang sama.
Di usiaku yang tak muda lagi nampaklah aku, seorang lelaki meneteskan air mata saat sedang makan siang di dapur rumahku yang tak seberapa megah. Hanya meja pendek dan beralaskan karpet merah bermotif garis dan kotak.
Tak ada yang istimewa memang untuk seorang wanita ketika menangis. Karena itulah sifat alamiahnya. Namun akan berbeda dengan seorang lelaki seperti diriku. Menangis berarti itu suatu hal yang luar biasa. Karena menangis berarti menunjukkan kelemahan, jauh dari ciri khas lelaki pada umumnya. Jika seorang lelaki menangis itu berarti ia tak mampu berbuat banyak lagi tentang sesuatu hal. Hanya tangislah yang mampu mengobati jiwa yang rapuh. Tapi tangis kali ini sungguh berbeda bagiku.
Menu makan siang saat itu sangat sederhana meski kami mampu untuk lebih dari itu. Ikan pindang dimasak kuning, nasi putih hangat dan sebuah sayur pepaya yang telah direbus. Tentu saja dengan sepiring kecil kuah ikan bercampur cabe merah garam dan terasi. Namun karena itulah aku dibuatnya bersedih siang itu. Bukan karena tak mampu membeli makanan yang lebih lezat. Bukan. Sebab sekali aku mengangkat hape dan menunggu sepuluh atau lima belas menit kemudian, seorang ojek online akan datang mengantar makanan sesuai pesanan.
Tapi sekali lagi aku katakan aku tak menginginkan hal lain, selain makanan yang dihadapanku saat itu. Yah, hanya sayur nasiopa. Tidak yang lain. Tidak pula makanan luar seperti steak, daging lembut yang berbalut bumbu barbeque dan dipanggang dengan bara sedang atau sate ayam yang biasa jadi primadona tenda biru di ujung lorong rumahku.
Hari itu di kantor yang lengang, siang merayap bagai pencuri. Mengambil waktu secara diam-diam hingga seketika saja ia hadir dengan perkasa di depan wajahku. Waktu bersantap telah tiba. Tak ada waktu lagi untuk bersantai. Saat itu juga aku langsung pulang. Lupakan makan siang di kantor.
Siang itu bukan hanya tak berselera dengan menu nasi ayam bakar atau ayam goreng di warung di depan kantor. Tapi lebih dari itu, aku sangat merindukan makanan rumah.
Beberapa hari yang lalu aku dan Habibati, istriku terlibat perbincangan seputar makanan. Bukannya karena Habibati sedang mengidam hingga beberapa daftar menu memenuhi di lantai dapur kami. Bukan Karena itu. Sebab sejak anak pertama lahir, kami sudah sepakat untuk memprogram kembali setelah anak kami telah berumur dua tahun. Kesibukan kami berdualah yang menjadi penyebabnya.
"Jangan-jangan Habibati sedang ngidam?" Candaku saat kami di dapur seperti biasanya.
Wajah Habibati nampak berubah serius, "ngidam? Ah, tidak ngidam kok. Ingat, kitakan sudah sepakat tentang ini. Setelah dua tahun baru kita pikirkan itu. Lagi!" Balasnya dengan penuh penekanan.
"Hahaha, serius amat, itu lihat daftar makanan panjang begitu buat apa? Kalau bukan karena ngidam, atau mau bagi-bagi sedekah ya?"
Siang itu aku sengaja menjahili Habibati yang hobi ngotak-ngatik hape melihat resep kreatif. Dengan bahan seadanya bisa buat makanan yang cukup menggiurkan leher bagi pecinta kuliner.
Namun melihat daftar makanan berbagai nama dan bahan yang dicatatnya membuat hatiku agak sedikit resah. Terlintas lemak yang akan memenuhi tubuhku. Karena menurutku, berat badanku sudah mencapai target berat proporsional di bulan lalu. Namun bulan ini terjadi ledakan lemak yang cukup memperihatinkan. Hobi baru istriku kini mulai mengancam kestabilan berat badan yang ideal.
Bisa saja aku tak memakan hidangan yang telah ia buat dengan penuh semangat di dapur tercintanya. Tapi hatiku tak rela jika akan menolak makanan buatannya, bukankah itu menolak rezeki tanda tak bersyukur? Dan apalagi Habibati akhirnya mengetahui bahwa aku tak memakan masakannya, terlebih dikarenakan masalah lemak tubuh. Hal bertolak belakang dengan pendapatnya. Karena menurutnya, tubuhku terlalu kurus jadi perlu beberapa kilo lagi agar bisa ideal di matanya.
Oleh karena itu aku tak ingin merusak hatinya yang sedang bersemangat memasak di sela-sela waktunya menjaga anak kami yang masih balita.
Dan lagi menurutku wanita adalah makhluk yang paling kaca daripada benda apapun di dunia ini. Sekali retak maka hal itu akan susah dibenarkan kembali. Begitu juga Habibati, istriku, wajahnya akan tak bersemangat beberapa hari kedepannya. Walau akan membaik ia akan menyimpannya pada memori di otaknya. "Sang suami tak akan memakan makanan buatan istrinya karena takut kegemukan". Wah itu suatu topik yang akan viral beberapa saat lamanya.
"Tidak untuk apa-apa kok, Habibati hanya ingin makan sesuatu aja. Simpelkan?" Balasnya ketika itu.
"Coba lihat ini, makan apa sih adeknya hubbiy ini?"
Tiba-tiba ia menunjukkan sebuah foto hasil upload di grup keluarga yang ada di handphonenya. Sebuah pepaya rebus tanpa dikupas lengkap dengan sambal terasinya.
Aku terdiam namun kenangan itu datang kembali. Sekelebat aku sudah ke masa silam.
"Hubbiy .., hubbiy?" Panggilannya langsung ke wajahku yang hilang beberapa saat karena terdiam.
"Oh, iya kenapa sayang?" Aku tersentak kaget, ternyata rohku sudah berpindah dunia kembali ke dunia nyata.
"Ini apa?" Sambil ulang menunjukkan gambar di handphonenya.
"Nasiopa!"
"Apah?"
"Itu pepaya rebus!"
"Oh!"
"Dulu sekali itu adalah makanan yang cukup nikmat. Lebih nikmat dari apapun. Mama hobi masak sayur itu. Mungkin kemiskinanlah penyebab segalanya. Di lidah orang miskin seperti kami itu suatu hal yang cukup istimewa."
"Tak ada uang untuk membeli ikan atau beras untuk makan sehari-hari, untuk berpakaian pantas pun itu tak mungkin. Mama sering menggunakan sarung yang sudah ditambal kain beberapa kali dengan warna yang berbeda dengan corak sarungnya. Kerudungnya sudah berubah warna karena seringnya di cuci dan terkena panasnya tungku dapur."
"Saat itu kami hanya tinggal di rumah beratap rumbia berdinding gamaca dan bertiang bambu. Rumah kami rumah panggung yang akan bergoyang saat hujan berangin."
"Namun semua keterbatasan saat itu tak membuat mama bersedih. Kadang berpuasa adalah obat dari segalanya. Hingga pernah suatu ketika kami sudah tak makan apa-apa. Tak ada yang bisa dimasak. Beberapa tanaman di halaman tak bisa untuk dipanen karena rusak oleh hama atau kemarau. Mama tiba-tiba memanggil kami ke bagian belakang, dekat perapian, demi untuk mengisi perut yang sudah kosong dua hari berturut-turut.
""Ini, makanlah," katanya pada kami berdua. Sebuah piring dengan sebuah pepaya rebus yang masih berkulit. Sebuah piring lagi untuk sambel terasi dan sedikit air garam."
""Mama sudah makan?" Tanyaku pada mama yang masih tersenyum meski kutahu itulah senyuman dibuat-buat agar kami mau makan."
""Mama hari ini puasa, nak!" Katanya, namun kutahu ia tidak makan karena memang sudah tidak ada makanan sama sekali."
""Tapi mama'kan juga belum makan?" Kata adikku yang hanya beda beberapa tahun denganku."
""Iya, karena mama puasa, nak!" Katanya lagi dengan masih tersenyum seakan itu adalah pertanyaan yang lucu baginya."
""Makanlah, agar kalian tidak kelaparan!" Balasnya lagi."
"Saat itu kami hanya berpandangan dengan ragu, mencubit sedikit pepaya rebus ternikmat yang pernah dibuat chef dunia. Dua kali cubit, tiga kali dan seterusnya, pepaya itu habis begitu saja tanpa kata."
"Kami tahu kami bisa membahagiakan mama dengan mengabiskan masakannya. Dengan tak banyak mengeluh akan masakannya. Penghargaan kami pada mama adalah apabila makanan yang dihidangkan habis tanpa mengeluhkan rasanya. Dengan demikian kami sudah lebih dari cukup menghargai beliau."
"Kami melihat mama tersenyum melihat kami makan dengan lahap dan iapun meneteskan air matanya. Aku tak tahu apakah itu air mata bahagia atau kesedihan. Namun ia tersenyum hingga gigi depannya nampak dari cela bibirnya."
"Hari-hari seperti itu sangat sering terjadi bahkan sudah menjadi rutinitas yang biasa bagi kami. Kami memang miskin saat itu tapi kami tak pernah menunjukkan kepada siapapun. Bahkan jika seorang tamu atau keluarga jauh datang untuk bertamu, maka merekalah yang akan menyantap nasiopa buatan mama. Kami akan menunggu sisa atau mungkin jika ada daun hijau lain yang bisa direbus sebagai pengganjal perut kecil kami."
Tiba-tiba air mata istriku jatuh membasahi karpet. Ia memang tak mengenal aku di masa lalu sebelumnya. Air mata itu mungkin kekagetannya atas kemiskinan yang pernah aku alami atau mungkin karena malu. Karena selama ini ia hanya berfoya-foya meski dengan membuat makanan yang banyak namun ia tak pernah memberikan sedekah kepada tetangga rumah yang membutuhkan.
"Besok pulanglah makan siang di rumah!" Kata Habibati sambil mengusap air matanya.
"Kenapa?" Tanyaku sambil menghapus sedikit cairan bening di pipinya.
"Aku ingin makan nasiopa," ia tersenyum seakan sudah terbayang rasa nikmat di lidahnya.
"Serius? Jadi makanan ini tidak jadi?" Sambil menunjuk catatan panjang di karpet.
"Pulanglah makan siang di rumah, itu bisa kapan saja," kata Habibati dengan wajah ceria ketika itu.
Begitulah, akhirnya aku sampai di rumah dengan perut yang ingin diisi oleh nasi dan sayur tersebut. Ketika tiba di rumah aku langsung masuk ke dapur.
Namun hatiku bergetar ketika kulihat sosok yang lama kukenal sedang berdiri menghadap kompor gas.
"Sayang, tepat sekali datangnya, makanan sudah hampir siap," suara Habibati terdengar ceria di sampingku.
"Mama datang tadi pagi, Habibati minta diajarkan cara membuat nasiopa kesanangan hubbiy!" Kalimat istriku kali ini serasa tak terdengar jelas.
Tiba-tiba aku sudah tenggelam dalam pelukan mama. Rumah yang kami tinggali bersama Habibati seketika berubah menjadi rumah panggung jaman dulu. Lengkap dengan dinding gamaca dan atap rumbianya.
Kenangan itu kembali datang bagai air bah yang tak mampu menahan gelombang keharuan. Kami makan siang dalam diam. Juga air mata yang meleleh bukan karena tak ada makanan namun karena hantu masa lalu akan menggoda kami yang pernah merasakan hal yang menyayat di masa silam. Dalam keadaan serba kekurangan kami masih tahu artinya bersyukur dan ikhlas.
Untuk alasan itulah aku menangis demi masa yang lalu, demi rasa syukur yang tak terhingga.
Aku kembali menangis.
***
Kendari, 29 April 2020
d4nosaurus
Komentar
Posting Komentar