PAK TUA
Hari tua memang sesuatu yang sungguh misteri. Kita tahu dan bisa prediksi kapan waktu itu tiba. Tapi yang tidak kita ketahui akan bagaimana hari tua itu menyentuh seseorang. Sama misterinya dengan pertanyaan akankah hari tua itu menyapa di saat waktunya tiba? Sebab seorang yang berumur muda belum tentu merasakan hari tuanya. Itu sama menyedihkan jika hari tua telah tiba namun digunakan untuk sesuatu yang sia-sia.
Ada seorang Tua yang kadang bagai hantu melewati hari-harinya seorang diri. Hidup sepi sendiri. Tak banyak yang tahu mengapa hidupnya jadi sebatang kara. Bagai pohon tua tak berdaun. Hanya menunggu angin kencang ia akan roboh ke tanah.
Tubuhnya yang keriput dan rambutnya yang memutih. Ia berjalan dari rumahnya ke masjid. Ia tidak hendak ke masjid untuk salat , ia hanya menumpang mandi di kamar mandi masjid. Aku tahu karena beberapa kali berpapasan dengannya ketika pulang dari bekerja.
Pagi ini pun aku berpapasan dengan pak tua itu. Sebuah handuk tersampir di pundaknya yang reot. Bahunya sudah agak membungkuk namun ia nampak kokoh. Dadanya yang mungkin dulunya bidang kini menyisakan kulit keriput dan tulang.
Ia berjalan tertatih tapi tetap kelihatan kuat, sambil memegang timba yang dari atasnya nampak sabun dan sikat gigi mencuat.
Rumahnya hanya tiga puluh meter dari masjid. Kayu persegi berukuran tiga kali dua meter dan atap-dinding seng bekas. Dari rumah kecil itulah ia berjalan menuju ke masjid. Tapi bukan untuk salat. Bukan untuk salat.
Beberapa kali Pak Tua kadang terlihat duduk-duduk di pos ojek atau berada di pinggir pasar sambil mendorong gerobak sayur dan buah. Mungkin saja ia sedang mencari nafkah di sana.
Sejak pertama kali melihatnya pikiranku jadi bertanya-tanya ada apa dengan pak tua itu? Apa jadinya dengan masa tuaku? Apakah aku bisa sampai ke masa itu?
Kendaraan motor yang aku gunakan melaju lancar di jalan protokol. Sepanjang jalan nampak lampu-lampu jalan bagai tangkai pohon berbuah, berdiri beku di sana. Otakku tak habis pikir tentang Pak Tua yang berjalan ringkih dengan badan kurus kering.
Ketuaan adalah hal biasa dan lumrah tapi kesendirian? Itu hal yang sangat mengerikan yang pernah terlintas dalam benakku. Siapa yang akan berduka atas kematian kita. Mengatur prosesi pemakaman atau siapa yang akan bertanya pada kita, "bapak sakit apa?" Atau mungkin bertanya, " bapak sudah makan belum?"
Tak bisa dibayangkan jika kematian datang di saat lelap menidurkan kita selamanya. Tubuh kurus kering itu hanya diam membeku di pagi harinya dan pagi-pagi selanjutnya. Aroma mayat seketika memenuhi udara. Pos ojek yang hanya berjarak dua puluh meter dari rumah kecil itu seketika terkaget-kaget.
"Bau apa ini, heh?" Kata tukang ojek pertama sambil hidungnya bergerak mencari-cari sumber bau.
"Lagak lu, kayak kagak tau aja, itu bau comberan," kata ojek kedua sambil menunjuk aliran air di pinggir pos ojek.
"Alaaah, hidung lu, sama bobroknya, ini bau tikus mati," ojek ketiga menimpali.
"Diam-diam semua, pada tidak ngerti juga ya, aku kasi tau ya, bau ini berasal dari mulut kalian masing-masing. Kalian lagi puasa kan? Makanya baunya kayak mayat hidup!" Tukang ojek keempat mungkin mengomentari demikian.
"Iya betul-betul ini kayak bau ..., mayat!" Ojek pertama tiba-tiba tersentak, memandang rumah berdinding seng bekas namun belum mengakui kemungkinan tersebut.
Mereka mungkin curiga kearah sana, tapi mereka takut apa yang ada dipikiran jadi kenyataan.
Kemungkinan itu bisa saja terjadi pada Pak Tua itu. Hidup kesepian dan kematian yang terasingkan. Betapa sedihnya kisah Pak Tua jika hal itu benar-benar terjadi.
Sebuah pesan dari ponsel di kantong celanaku tiba-tiba berbunyi. Saat itu aku telah sampai di meja kantor, bersiap-siap mengetik sesuatu di layar monitor. Aku membuka dan membacanya.
"Apa mesti ibu yang naik ke atap?"
Setelah membaca pesan kulihat jendela gerimis kecil telah turun di sana. Di ujungnya gumpalan awan hitam bergulung hebat.
Aku langsung teringat air yang merembes di kamar tidur ketika hujan turun. Kupastikan ia sedang marah besar di sana, di balik awan itu.
Karena pertanyaan yang berbentuk pernyataan pada kotak masuk sudah mewakili hal itu. Aku tahu istriku kembali mengomel sendiri di balik tembok rumahku. Ia tidak membutuhkan jawaban, ia hanya butuh sebuah tindakan. Sebuah jawaban yang salah akan berlanjut ke permasalahan berikutnya. Lalu ke masalah yang lain. Terus masalah yang lainnya. Dari atap bocor bisa sampai masalah keluarga. Bisa saja ia akhirnya berkata-kata mengenai hal yang tak ingin aku dengar. Hingga memicu perang dunia ketiga. Aku tak ingin itu terjadi.
"Iya sayang, ambilkan lap!"
Kalimatnya pendek dan cukup menjawab atap bocor. Aku sudah mengenali tabiat istriku. Jika dijawab, "iya sayang, besok ayah perbaiki!" Otomatis mengundang kalimat yang lain.
Ia akan jawab, "besok-besok .., hari ini hujan, besok, rumah sudah kebanjiran!"
Atau, "besok-besok .., dari kemarin kalimat itu juga ibu dengar, tapi realisasi noooollll besar!" Buntutnya akan panjang dan tak pernah selesaikan.
Aku sayang pada istriku. Bukan takut pada istriku. Aku bisa saja membalas membentak dan memaki balik kepadanya. Tapi bukan itu tujuan aku berumah tangga.
Suami adalah surga istri. Ia bisa masuk dari pintu mana saja yang ia sukai. Kelak aku ingin ia bersamaku di surga. Karena aku pemimpin dalam keluarga, maka selayaknya aku bisa membentuk istriku menjadi orang yang soleha. Orang yang tahu menghargai suaminya sekaligus mendengarkan kata-kata suaminya. Meski seringkali itu tidak terjadi. Namun di sinilah tantangan besar bagi sang suami apakah ia mampu membawa istrinya ke surga atau ke neraka.
Hingga suatu ketika saat itu tengah malam. Istriku tak bisa tidur karena lapar. Ia terbangun dari ranjang dan meminta hal yang tak bisa aku penuhi sejak beberapa tahun terakhir. Bukan rumah mewah atau uang milyaran rupiah tapi hanya sebungkus mie instan. Yah, mie instan yang dijual di warung dengan harga beberapa rupiah saja.
Bukannya aku tak ingin keluar rumah di jam-jam ketika semua orang terlelap dalam tidur. Tapi aku punya pengalaman pahit dengan si mie instan tersebut. Ia telah membuat sebuah penyakit dalam tubuhku dan aku tak ingin apa yang aku alami, dialami pula olehnya. Bukankah seorang pemuda yang mencintai kekasihnya tak akan mau dengan suka rela memberikan racun sebagai santap malam sang kinasih?
Sebenarnya istriku adalah orang yang sabar dan penurut. Itu terbukti ketika ia sedang hamil anak pertama kami. Pernah suatu malam yang hampir sama ia mengidamkan semangkuk mie hangat, lengkap dengan telur rebus dan bawang goreng. Tentu saja itu tak pernah terkabul. Air matanya menganak sungai di pipinya yang putih. Tak ada kata yang keluar. Cuma tetesan bening membasahi bajunya. Aku katakan apa yang telah kualami dengan mie instan itu dan aku katakan itu bukan makanan yang sehat untuk janin kami, saat itu ia bisa mengerti. Alhasil akulah yang kena marah oleh kedua orang tuaku karena telah menyiksa istri yang sedang mengidam.
"Syukur-syukur istri kamu itu mau makan, coba bayangkan kalau ia sudah mogok makan, bisa-bisa diinfus selama masa ngidam!" Geram mamaku saat itu.
Tapi rasa cintakulah yang membuat aku berani berbuat demikian.
Tapi malam berikutnya ia sangat marah, karena menurutnya selama ini ia tidak diperhatikan, tidak diayomi dan tidak-tidak yang lainnya. Intinya ia sedang demo sama suaminya karena banyak masalah dan mie instan hanya pemicu kecilnya. Hingga malam itu tragedi mie instan terulang kembali seperti pertama kali mengidam.
"Mau kemana ?" Katanya saat melihat aku bergegas mengambil kunci motor.
"Beli martabak!"
Jawabku ketika dudukku telah lekat di jok motor. Dengan sigap ia menarik anak kunci dari lubangnya. Ia tahu jika aku marah maka aku akan keluar rumah untuk menghindari tauran antar kampung yang akan segera terjadi. Tapi jam segini keluar rumah itu sangat bahaya pikir istriku.
Namun amarah masih di dada dan jika tidak dilampiaskan sebentar lagi akan terjadi banjir bandang dan itu aku tak mau. Tubuku keluar pergi meninggalkan motor, istri dan rumah dengan ranjang yang hangat tanpa berkata-kata lagi.
Tak bisa kemana-mana tanpa motor. Tapi aku kuatkan diri bahwa sebelum amarah ini hilang aku takkan pulang. Akupun berjalan dalam gelap mengikuti setiap tekanan yang memenuhi dada. Tanpa terasa kaki ini telah sampai di penjual sate di depan lorong.
Tentu saja aku juga melewati masjid dan rumah pak tua itu. Tapi ini malam telah mencapai pagi, sebentar lagi, tepatnya sekitar 11.30, embun akan turun dan bulan menyalak di langit.
Setelah berbincang-bincang sejenak dengan penjual sate yang mengeluh karena omzet satenya turun drastis akibat wabah covid ini. Aku akhirnya lupa kalau sudah pernah marah. Dengan enteng dua porsi sate ayam itu kutenteng pulang menuju rumah.
Malam itu berhasil diredam dengan sate hangat. Kami makan berdua setelahnya ia meminta maaf dan itu selalu terjadi ketika kami marah ia selalu minta maaf padaku. Aku sungguh bangga padanya karena mau mengakui kekurangannya. Lalu setelannya kami kembali tertidur dengan hati yang damai.
Tentu engkau bilang aku hanya takut pada istriku. Itu bisa saja terjadi jika pernikahan itu tidak di dasarkan pada agama yang baik. Pastikan pernikahan itu atas dasar cinta karena Allah, in syaa Allah semua ada jalan keluarnya. Jika anda masih mengatakan hal yang sebaliknya besar kemungkinan pernikahan itu bukan atas dasar cinta karena Allah tapi mungkin nafsu semata.
Setelah membalas pesan dari istriku. Ia tak balas balik. Aku pun melanjutkan pekerjaan hari itu.
Sore itu lagi-lagi aku berpapasan dengan Pak Tua yang sedang viral di mataku. Tubuhnya masih sama kemarin begitu pula rambut yang putih. Dalam pikiranku yang aneh, seketika berkelebat bayangan jika malam itu aku mengadu urat leher pada istriku. Lalu perang dunia ketiga benar-benar terjadi. Ia akan pulang ke orang tuanya dan aku menjalani hidup sebatang kara tanpa kasih sayang.
Mungkin beberapa tahun kemudian aku tak lagi kuat seperti sekarang. Ketika aku matipun tak ada lagi istriku di surga. Dimakamkan oleh udara beku di ranjang yang berulat. Hingga di suatu saat tetangga mulai bertanya-tanya tentang duda tua yang ditinggal anak istrinya itu.
Apa mungkin mereka masih sempat memperdebatkan bau apa yang keluar dari rumahku yang sepi?
Atau mereka tak ingin membayangkan kebenaran yang sempat terlintas di otaknya masing-masing. Seribu satu kemungkinan dapat saja terjadi.
Motor itu seketika saja melesat meninggalkan Pak Tua dengan timba di tangan dan handuknya di pundak. Aku pulang menuju rumah memperbaiki atap yang bocor.
Kendari, 26 April 2020
d4nosaurus
Komentar
Posting Komentar