TERSESAT (Mambuu) "Maaf pak! Numpang tanya, jalan menuju ke Mesjid Keraton ke mana ya?" Tanyaku pada salah seorang bapak yang berumur sekitar lima puluh tahunan. Saat itu ia sedang berdiri di pinggir jalan mengenakan sarung khas Buton, Bia itanu wolio. Matanya tajam menatap ujung rambut hingga ujung sepatu yang aku pakai. S enyum manis super mempesona selintas kulayangkan padanya sebagai tanda, 'Aku sudah jinak.' Mungkin bingung atau tidak tahu harus berbuat bagaimana, ia tiba-tiba berkata dengan bahasa yang lancar dan nyaris tak kumengerti. "*Toro torosu, iyaroa te dala pertigaan belo i wetaikai. Minaka Weitu toro torosu sampai Masigi Wajo. Ipertigaan masigi belo ikai osea dala kai. Aneindau tersesat yingko potibakea Masigina Wolio," ia berucap tanpa menghirup sesuap napas pun. Aku terperangah. Tertegun sendiri. Setelah sadar ia telah menghilang dari pandangan. Lalu smartphone di kantong ...