Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2015

TERSESAT

TERSESAT (Mambuu)    "Maaf pak! Numpang tanya, jalan menuju ke Mesjid Keraton ke mana ya?"    Tanyaku pada salah seorang bapak yang berumur sekitar lima puluh tahunan. Saat itu ia sedang berdiri di pinggir jalan mengenakan sarung khas Buton, Bia itanu wolio.    Matanya tajam menatap ujung rambut hingga ujung sepatu yang aku pakai. S enyum manis super mempesona selintas kulayangkan padanya sebagai tanda, 'Aku sudah jinak.'    Mungkin bingung atau tidak tahu harus berbuat bagaimana, ia tiba-tiba berkata dengan bahasa yang lancar dan nyaris tak kumengerti.    "*Toro torosu, iyaroa te dala pertigaan belo i wetaikai. Minaka Weitu toro torosu sampai Masigi Wajo. Ipertigaan masigi belo ikai osea dala kai. Aneindau tersesat yingko potibakea Masigina Wolio," ia berucap tanpa menghirup sesuap napas pun.    Aku terperangah. Tertegun sendiri. Setelah sadar ia telah menghilang dari pandangan.    Lalu smartphone di kantong ...

AKHIRNYA JOMBLO

#Serial_Bujang_Lapuk AKHIRNYA JOMBLO    Ketika Nafisah putus dari pacarnya, dunia serasa gonjang-ganjing dan langit segenap kelap-kelip. Mereka yang dahulunya mengontrak kini pada punya rumah pribadi. Hah? Apa hubungannya? Hehehe. Ya iyalah masa iya dong. Kala itu, masa pacaran hal yang sangat mengasyikkan sehingga selalu ada perumpamaan, 'dunia bagai milik berdua, yang lain cuma ngontrak.' Jadi ketika Nafisah putus banyak yang 'ngasih' selamat. "Syukurin." Hehehe.    Tapi tidak dengan Neneng. Sang gadis enam puluhan itu selalu mendukung sang Cucung semata wayangnya.    "Hei ... heiiiii ..., Bujang Bango, 'asam di gunung, garam di laut bertemunya di belanga.' Cung, tak perlu sedihlah kau. Kalo jodoh takkan ke mana. Tak usah wajah kau dijelek-jelekin pula," tegur nenek pada cucu satu-satunya itu.    "Dijelek-jelekin gimana, wajah ini memang sudah begini. Ini sudah turunan pastinya," kata Nafisah tambah jengkel sambil ngelirik si...

SANG RAJA SOMBONG

   "Tidak ada yang lebih hebat dari aku di hutan ini," kata gajah dengan jemawa.    Semut yang mendengar langsung menantang gajah," jika memang begitu saya tantang kamu adu keberanian. Aturannya siapa yang kalah dalam melewati sungai itu, maka dialah yang akan pergi dari hutan ini."    Sungai yang dimaksud si semut adalah sungai terdalam dan penuh dengan buaya yang sangat kelaparan.    "Itu kecil, saya terima tantanganmu," kata gajah semakin lupa diri.    Perlombaan pun dimulai. Seluruh penghuni hutan menjadi saksi. Semut dengan bantuan seluruh koloninya menghayutkan daun kering. Dan tiba di seberang dengan selamat.    Sementara gajah yang mengandalkan tubuh besarnya akhirnya tenggelam disantap oleh buaya. *** Ibnu Nafisah Kendari, 11 November 2015 ------------------------ Pesan Moral : 1. Kesombongan pada akhirnya akan membinasakan 2. Jangan pernah memandang sebelah mata orang yang lemah atau memiliki kekurangan ...

KHITBAH MUSIM KEMARAU

KHITBAH MUSIM KEMARAU    Di bawah pohon jati itu daun meranggas. Di bawah pohon jati itu pula Zahra hatinya merandu.    Kibaran hijab besarnya bergelombang ditiup angin kemarau. Disandarkan pula resahnya di batang pohon itu. Hatinya gamang, centang perenang tak karuan.  Seirama daun gugur berputar terbawa aroma rumput musim panas.    "Ra, Nak Azzam itu gagah, baik, sudah punya kerja pula," terngiang ucapan uminya suatu ketika, " apa lagi yang kau cari?"    Pertanyaan itu yang selalu menghantui hati Zahra. Bagai bayang-bayang ranting yang bergoyang ditarik angin sendu.    "Mi, Zahra ingin seorang yang bisa ngimamin," balas Zahra, "bukan sekedar baik dan punya kerja."    "Husst, seorang suami sudah tentu jadi imam dari seorang istri. Itu sudah aturannya."    "Tapi Zahra tidak ingin seperti Mba Nafisah yang akhirnya nikah tapi tak bahagia," suara lirih Zahra ketika menyebut nama kakaknya, "demi kesena...