Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2020

RUMAH KONTRAKAN

RUMAH KONTRAKAN Rumahku istanaku. Sebaik-baiknya sebuah rumah adalah rumah sendiri. Meski rumah mewah tapi milik orang tiada guna. Mungkin itu maksud pameo tersebut. Begitulah yang dirasakan oleh Baharuddin, seseorang yang akrab dipanggil Uddin dengan dua huruf 'D' bukan satu huruf 'D'. Mengapa harus dua 'D' bukan satu? Alasannya sepele karena di ijasa h nya tertulis Baharuddin dobel huruf 'D'. Cukup sepele tapi ia merasakan itu hal yang sangat penting. Sama pentingnya dengan memotong kambing harus dua bukan satu ketika namanya diberikan oleh bapaknya. Rumah tempat tinggal Uddin saat ini cukup sederhana tapi sangat luas. Satu kamar tidur utama dan tiga kamar tidur lainnya tersebar ditiap ruang. Sebuah ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan dan dapur serta tiga kamar mandi. Bahkan masih ada teras yang berbentuk huruf L. Listrik dan air cukup lancar. Atap masih mampu menahan air ketika hujan. Namun Uddin masih merasa kurang pas dengan rumah yang seka...

KABAR DUKA YANG KEDUA

KABAR DUKA YANG KEDUA "Bagiku mas Pri sudah meninggal sejak beberapa bulan kemarin!" Suara sumbang Rara terdengar serak juga halus. Dingin. "..." "Saat berita duka itu menyeret namamu ..!" Suaranya seketika hilang. Air matanya masih mengalir. Tapi senyuman itu masih mengambang seperti pertama kali ia menikah. *** Rumah yang bertingkat tiga dengan halaman seluas lapangan sepakbola itu tiba-tiba membuat dada Rila sesak. Ia tahu kemana jalan pikiran Rara, kakaknya.  Situasi ini seakan membuatnya bingung. Awalnya ia berharap akan melihat seorang wanita gila di dalam istananya yang megah. Karena kehilangan sang suami tercinta. Tapi kenyataannya terbalik 180 derajat. Kini ia wanita yang satu-satunya dibuat tak bisa berkata-kata. "Bukankah aku sudah memberikan engkau contoh nyata saat itu?" Suara Rara terdengar berat namun masih menatapnya melalui cermin di depannya. Memperhatikan tiap gerakan Rila dengan seksama. "Kau seperti melupakan apa yang te...

SEBUAH KABAR DUKA

SEBUAH KABAR DUKA Akhirnya kabar yang tak mengembirakan datang pagi itu di salah satu kawasan perumahan elit. Sebuah pesan singkat yang telah lama ditunggu oleh pemilik rumah sejak berhari-hari. "Kami mengucapkan belasungkawa atas kepergian bapak Priyanto. Kami, tim dokter senior telah berusaha semampunya, tapi Allah Subhana wa taala berkeh endak lain." Begitulah setidaknya yang terbaca dalam layar gadget. Saat itu pula Rila berlari di atas karpet lembut buatan Persia, seperti tak ingin terdengar bunyi kakinya. Langkahnya sangat lembut. Bahkan ia tak ingin membalas pesan tersebut. Karena memang pesan itu bukan untuk dibalas apalagi di saat-saat seperti itu. Kakinya tahu kemana ia akan melangkah. Seseorang yang lain lebih pantas mengetahui hal itu. Bahkan lebih pantas berduka dan menangis meraung-raung sejadi-jadinya. Bila mungkin ia pantas menangis dan meneriakkan kesedihannya pada deru hujan biar tak ada yang pertanyakan rasa sedihnya. Namun ia tiba-tiba ragu. Kakinya ...