Langsung ke konten utama

RUMAH KONTRAKAN

RUMAH KONTRAKAN

Rumahku istanaku. Sebaik-baiknya sebuah rumah adalah rumah sendiri. Meski rumah mewah tapi milik orang tiada guna. Mungkin itu maksud pameo tersebut.

Begitulah yang dirasakan oleh Baharuddin, seseorang yang akrab dipanggil Uddin dengan dua huruf 'D' bukan satu huruf 'D'. Mengapa harus dua 'D' bukan satu? Alasannya sepele karena di ijasahnya tertulis Baharuddin dobel huruf 'D'. Cukup sepele tapi ia merasakan itu hal yang sangat penting. Sama pentingnya dengan memotong kambing harus dua bukan satu ketika namanya diberikan oleh bapaknya.

Rumah tempat tinggal Uddin saat ini cukup sederhana tapi sangat luas. Satu kamar tidur utama dan tiga kamar tidur lainnya tersebar ditiap ruang. Sebuah ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan dan dapur serta tiga kamar mandi. Bahkan masih ada teras yang berbentuk huruf L. Listrik dan air cukup lancar. Atap masih mampu menahan air ketika hujan.

Namun Uddin masih merasa kurang pas dengan rumah yang sekarang. Karena rumah itu adalah rumah orang tuanya. Hidup berbagi dengan saudara lainnya sementara ia sudah memiliki keluarga sendiri.

Hingga suatu hari ia dapati dirinya berdiri di depan pagar sebuah rumah.

"DIKONTRAKKAN, HUBUNGI 081245810009"

Tulisannya cukup besar hingga bisa terbaca dari pinggir jalan. Uddin sungguh tertarik dengan rumah itu. Selain berada di jalur jalan yang mudah diakses oleh kendaraan roda empat. Rumah itu cukup luas dilihat dari luar.

Rasa penasaran untuk melihat ke dalam rumah membuat ia nekad membuka pagar. Pagar itu telah lama tak tersentuh tangan manusia. Warnanya merah kecoklatan. Membuat telapak tangannya yang keras mencengkeram nampak kotor oleh karat.

Pagar terkuak dengan sedikit dorongan keras. Beberapa rumput merambat seakan bersikukuh tetap menempel pada tiang-tiang besinya. Sebagian daun bunga berwarna ungu sobek terseret besi.

Semakin masuk ke halaman baru terasa jika rumah itu sudah lama ditinggal penghuninya. Karena beberapa tanaman rambat tumbuh subur. Bahkan rumput gajah rimbun di sudut halaman.

Uddin menaksir rumah ini mungkin sudah belasan tahun tak lagi dilihat oleh yang empunya. Karena melihat yang terpampang di depan tembok rumah itu sudah berlumut dan berdebu. Tapi huruf-hurufnya cukup jelas terbaca dari jalanan.

Dengan hati-hati ia mengintip ke dalam jendela. Tidak kelihatan apapun. Spontan kedua telapak tangannya yang sebelah kanan terkena noda karat dan kiri membentuk corong disisi kedua matanya. Sialnya ia tetap menatap kegelapan yang kelam. Hal itu hanya membuat kedua lengannya berdebu. Kedua matanya pun kelilipan terkena kotoran di kaca jendela. Entah kotoran cecak atau burung di sana.

Otomatis Udin mengucek matanya dengan hati-hati, takut noda karat ikut masuk ke matanya. Di saat ia sedang berusaha membersihkan kedua matanya. Ketika itu seseorang menghentikan kegiatannya. Tiba-tiba badannya didorong keras menghadap tembok lalu kedua tangannya ditarik keras ke belakang.

Kejadian itu begitu cepat. Secepat itu pula mulutnya terlakban. Begitu pula dengan kedua tangannya. Badannya sudah ambruk ke lantai teras yang berdebu.

Uddin tak kuasa untuk membela diri. Seketika dunianya gelap. Ia tak tahu apa yang terjadi dan kenapa ia bisa diperlakukan seperti itu. Dalam kebingungan dan ketidakjelasan yang panjang ia hanya coba mengingat apa kesalahannya di rumah itu. Tapi tetap nihil. Tubuhnya sudah diringkus dengan kasar ke lantai mobil pickup warna hitam.

***

"Tenang, Anda aman di sini!"
Suara itu seakan menyadarkan Uddin dari hantaman keras di perutnya ketika ia berontak untuk kesekian kalinya.

"Anda tak perlu melawan, jika Anda tidak bersikap seperti tadi, mungkin Anda tidak akan merasakan sakit seperti ini!"

"Saya minta Anda melihat foto-foto ini!" Kata lelaki berjiket hitam di depannya sambil menyodorkan tiga lembar wajah yang hampir ia kenali. Samar-samar seperti ia kenali tapi beberapa bengkak di pipi dan mata orang difoto itu seakan mereka tak lagi ia kenali.

"Kenal dengan mereka?" Lelaki itu kembali bertanya

"..."

Udin menatap balik ke penanya sambil manggut sekali lalu terhenti seketika. Ragu-ragu.

"Kenal tidaaaak!?" Suara lelaki itu cukup keras hingga  Udin kaget bersandar di sandaran kursinya.

"I .., iiya, pak kenal," akhir bibirnya pun mengiyakan. Meski hatinya masih mengira-ngira apa benar itu orang yang dimaksud.

"Mereka semua sudah kami tangkap. Jadi sekarang Anda ngaku, ke mana Anda jual barang-barang hasil curian itu?"

Sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Pertama Uddin tidak merasa mencuri barang. Kedua apa hubungan dia dengan orang yang mereka tangkap.

"Saya curi apa pak?" Takut-takut ia bertanya pada lelaki yang sudah mulai muak dengan pertanyaan di balas pertanyaan.

"Mmm .., jadi masih mau berpura-pura, ya!?"

"Buk .., buk ..,!"

Kali ini kepalan tangan bersarang di ulu hati Uddin. Lalu suaranya hilang dalam sekejap. Sakit itu memang tak berbunyi. Sesak seketika menghentikan napasnya beberapa detik. Detik berikutnya ia sudah mulai  menarik napas satu-satu.

"Jadi bagaimana Anda sudah ingat?"

"..."

Kali ini Uddin harus berhati-hati menjawab. Sebuah jawaban yang salah menyebabkan ia meradang tanpa ampun.

"Ok, mungkin Anda bisa mengingat setelah besok pagi. Yah, tak masalah. Bawa orang ini masuk ke dalam," kata lelaki itu pada seseorang yang sejak tadi berdiri di ambang pintu.

Tubuhnya yang sejak beberapa jam telah dihujani oleh pukulan seakan tak mampu untuk tegak. Dalam keadaan bungkuk ia setengah ditarik kasar ke kamar gelap.

Setelah ia terkunci dari luar hawa dingin langsung berebut pada punggungnya. Beberapa saat ia ingin mencoba menikmati gelap itu. Ada sedikit kenyamanan di sana.

Dalam pikirannya ia terbayang seprai bersih dan empuk di rumahnya. Sungguh kali ini ia merindukan rumah. Ia ingin tidur diselimuti kehangatan rumah bapaknya. Di bangunkan oleh tawa jahil anak-anaknya. Atau bahkan ia ingin sekali mendengar keributan pagi saat semua orang tiba-tiba ramai. Sementara ia masih terlelap dalam selimut hangat. Ia ingin. Tapi napas normal membuatnya kembali sadar kegelapan yang kelam.

***

Udin terbangun ketika pagi belum datang sempurna. Masih kelabu di cakrawala, tapi sebentar lagi muncul semburat jingga di sudut Timur.

Matanya yang baru terbangun mengira-ngira di mana ia sekarang. Tubuhnya dingin. Terasa pening di kepala. Seperti benda tumpul telah memecahkan batok kepalanya.

Setelah semenit berlalu Udin membuka kedua matanya dengan kaget. Tubuhnya terbaring di depan teras rumah kontrakan yang kemarin. Sebuah genteng pecah dua di dekat kepalanya. Sebuah lagi di atas perutnya. Matanya langsung menembus atap yang bocor. Dua buah genteng hilang di sana.

Darah kering-kental melengket di puncak kepalanya. Kedua tangannya memegang kepala yang tak lagi mengeluarkan darah. Sambil berdiri dalam pening ia mengira-ngira apa yang terjadi.

Masih dalam keadaan bingung ia keluar pagar yang masih tertutup rapat. Perlu kekuatan penuh untuk membukanya. Seketika karat menjadi noda di tangan kanannya.

Ia pulang dalam kebingungan yang aneh.

***

Tak jauh dari rumah itu terdengar suara berbisik.

"Kita salah orang bos, dia Uddin!" Kata salah seorang di sana.

"Lah, itu Udin kan?" Seseorang kembali menimpali.

"Bukan bos, kita mencari Udin dengan satu huruf 'D'!" Balas orang pertama.

"Tapi wajahnya mirip," sambung orang kedua.

"Iya, tapi dia Uddin dengan dua huruf 'D' bukan Udin dengan satu huruf 'D'!"

"..!?"

Sepi.
***

Kendari, 21 Mei 2020
d4nosaurus

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#15

Aku mendengar alunan lagu seruling bambu Suaranya merdupilu Ingatan akan kampung halaman serasa nyata Namun tak tergapai Sangat dekat ditelinga namun tak terasa Begitu bergetar didada namun hampa belaka Oo siapakah gerangan Dikau Yang bagai angin surgawi bermain dalam alunan jiwa Yang datang dan pergi menisik alunan indahnya Nadanada merdu itu kini bangkitkan cintaku Kadang resah tak beralasan Jua rindu yang tak terbendung Oo siapakah gerangan Dikau Kurasa Engkau pemilik Cinta dalam merdunya alunan lagu Memanggilku kembali ke rimba CintaNya Namun kita takkan bersama dalam dunia yang berbeda Karena aku hanyalah seruling bambu Yang kan selalu mencari dalam diriku alunan merdu cintaMu Dalam tiaptiap bait sabdaMu (#15, 09 April 2014)

#19

Jika Rumi mengatakan "Kita hanyalah seruling bambu yang bercerai dari rumpunNya" Maka aku berkata" aku hanyalah sebilah bambu yang tak berlubang" Yang tak berbunyi saat angin melaluinya Yang meski mendengar lagu namun tak mampu menari ke khadiratNya, walau itu nyanyian surgawi Tak mampu memainkan melodi indahNya, meski penciptaNya menulisnya dengan tinta emas Namun jika aku sebilah bambu yang ingin kembali ke rumpunNya, yah itulah aku meski kadang menari dan bernyanyi cuman dalam pikiran melalui selentingan gerakan sahaja agar bisa kembali kerumpun amalannNya. (#19, 17 April 2014)

Kebersihan Sebagian Dari Iman?

Hari lebaran telah tiba, semua bersuka cita menyambutnya. Ketika matahari belum benar-benar naik di langit ketika itu umat muslim memadati daerah yang telah ditentukan untuk melaksanakan shalat ied. Jalan-jalan lenggang, hanya dipadati pejalan kaki dan sesekali mobil dan motor pribadi. Saf-Saf dibuat ditempat tertentu, di sekitar mesjid, tanah lapang bahkan Jalan-jalan protokol yang dikhususkan sebagai tempat salat. Saf-Saf tersebut seketika saja merubah wajah jalan atau tanah lapang menjadi garis garis sejajar menghadap mimbar dadakan yang tiba-tiba berdiri secara ajaib sudah ada sejak malam atau subuh hari di hari yang fitri ini. Kaki-kaki penuh kebahagiaan pun berjalan menuju Saf-Saf yang bermimbar ajaib, mengisi deretan panjang yang telah disediakan. Ketika mentari mulai bersinar terang salat pun berlalu di akhiri khotbah dari para pengkhotbah yang entah berapa lembar kertas yang telah disediakan guna mengisi acara sesi terakhir dari salat ied tersebut. Dan matahari yang mula...