#Mentari_Tak_Bersinar 3 Malam masih menangis ketika kubuka mata ini. Gelapnya meraung di bukit kesakitan yang paling senyap. Terlintas segala kronik jejak hidup lampau yang tak mudah terulang. Masih terasa basah air mata ini. Namun juga terasa kelam malam. Tidak, air mata itu telah menguap di lantai beku. Terisap oleh ribuan nyamuk pengisap darah di waktu yang tak biasa. Seperti saat ini. Wa Rabe, istri yang ingin berlari bebas itu kini datang bagai hantu dalam mimpi. Bahkan dalam angan yang ingin menjadi nyata. Masih tercium wangi rambutnya. Sisa-sisa pembaringan saat itu dan beberapa benang rambutnya yang hitam berminyak. Tidak. Ini hanya bau apek. Bau pengap kamar penuh jamur, bekas hujan tempo hari yang deras. Jendela dengan jeruji kecil itu telah menyerahkan kamar ini pada sinar rembulan yang kadang timbul tenggelam. Saat awan hitam menaungi sinarnya, kekasih hatiku datang menjelajah otak busuk ini. Ketika rembulan cantik itu tertawa terbahak yang kudapati hanya ini. ------Ke...