Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2016

PERBINCANGAN MALAM 3

#Mentari_Tak_Bersinar 3 Malam masih menangis ketika kubuka mata ini. Gelapnya meraung di bukit kesakitan yang paling senyap. Terlintas segala kronik jejak hidup lampau yang tak mudah terulang. Masih terasa basah air mata ini. Namun juga terasa kelam malam. Tidak, air mata itu telah menguap di lantai beku. Terisap oleh ribuan nyamuk pengisap darah di waktu yang tak biasa. Seperti saat ini. Wa Rabe, istri yang ingin berlari bebas itu kini datang bagai hantu dalam mimpi. Bahkan dalam angan yang ingin menjadi nyata. Masih tercium wangi rambutnya. Sisa-sisa pembaringan saat itu dan beberapa benang rambutnya yang hitam berminyak. Tidak. Ini hanya bau apek. Bau pengap kamar penuh jamur, bekas hujan tempo hari yang deras. Jendela dengan jeruji kecil itu telah menyerahkan kamar ini pada sinar rembulan yang kadang timbul tenggelam. Saat awan hitam menaungi sinarnya, kekasih hatiku datang menjelajah otak busuk ini. Ketika rembulan cantik itu tertawa terbahak yang kudapati hanya ini. ------Ke...

PERBINCANGAN MALAM 2

#Mentari_Tak_Bersinar 2 Kejadian itu sepertinya baru terjadi semalam. Karena perihnya masih meradang hingga kini. Kau akhirnya membuat pilihan buat kita. Menjadi langit tanpa batas dan aku mentari tak bersinar. Mencoba berjuang melepaskan diri dari belenggu khayal yang tak kumengerti. Bahkan alasan maya menjadikan diri terdakwa sesalah-salahnya. Kau meminta kebebasan atas penjara yang dulu engkau sendiri rela masuk tanpa paksaan. Tanpa prasangka. Suka rela. Atas dasar apa, aku tidak pikir saat itu. Cintakah? Atau kenyamanan yang berakhir, 'ini tidak seperti dugaanku', dalam benakmu ujungnya. Masih saja luka ini menganga. Seperti seorang pengidap penyakit gula. Tak mengijinkan sebuah luka tertutup rapat, bahkan mungkin saja jadi pencetus awal munculnya belatung yang entah dari mana datangnya. Di malam sepi-kaku. Angin berhembus beku. Kulit yang melekat ini seperti merana diterpa sang bayu. Sebagai mana rumah kosong nan sunyi. Tiada perabot dan juga hening. Ini sudah hampi...

NAMANYA ANAK-ANAK

"Pergi kencing Oom!" Loh! Anak itu menatap bola mataku dan aku tepat menemukan titik hitam di sana.   Ada apa? Pernyataan itu belum sempat terproses dalam otakku. Hal itu terjadi ketika kedua sandal jepitku baru saja menginjakkan dirinya di depan masjid. Sepeda motor pun baru diparkir di sisi bangunan berkuba itu. Dari halaman suara qamat berkumandang tanpa alat pembesar suara. Gaungnya jernih, semakin membuat kedua kaki ini terseret masuk ke dalam. Di saat semua jamaah mulai merapatkan barisan saf, dua orang anak begitu saja menanggalkan sepeda BMX tuanya di depan pagar geser. Secara spontan kutatap matanya yang lugu. Tanpa takut dan ragu ia balik menatap. Wah, tatapannya menusuk hingga ke hati. Umur mereka mungkin saja seperlima dari umurku dan ia berucap santai seperti menyapa teman karib ketika hendak keluar dari ruang kelasnya. Lalu dengan sangat tiba-tiba kalimat itu begitu saja terucap. "Pergi kencing, Oom!" "...?!" 'Hei itukan pagar bambu...

PERBINCANGAN MALAM 1

#Mentari_tak_bersinar "Aku ingin menjadi langit", katamu suatu malam, "Bebas tanpa batas." "Aku akan menjadi matahari di sana," jawabku yang terbaring di sampingnya. "Tidak," ucapnya, kutatap wajah itu namun ia tak membalas, sisi wajahnya tegas menerawang ke langit-langit, "tidak, aku hanya ingin jadi langit malam tanpa matahari!" "Baiklah. Bagaimana dengan esok paginya?" Tawarku pada wanita yang telah memberikan aku satu anak. Rasa-rasanya ini akan jadi malam yang dingin beku, pikirku. "Tiada esok hari. Karena malam itu terjadi sepanjang bulan, sepanjang tahun, biarkan langit itu bersama bintang kecil yang akan timbul tenggelam dibentangannya." "Apakah ini pilihanmu? Karangan jiwamu yang pekat?" "Tidak. Itu pilihanmu, kau telah membuat malam ini secara sadar atau tidak, kau telah menghilangkan matahari itu sendiri." "Maka maafkanlah aku, ..." "Terlambat. Sudah terlambat!...