#Mentari_tak_bersinar
"Aku ingin menjadi langit", katamu suatu malam, "Bebas tanpa batas."
"Aku akan menjadi matahari di sana," jawabku yang terbaring di sampingnya.
"Tidak," ucapnya, kutatap wajah itu namun ia tak membalas, sisi wajahnya tegas menerawang ke langit-langit, "tidak, aku hanya ingin jadi langit malam tanpa matahari!"
"Baiklah. Bagaimana dengan esok paginya?"
Tawarku pada wanita yang telah memberikan aku satu anak. Rasa-rasanya ini akan jadi malam yang dingin beku, pikirku.
"Tiada esok hari. Karena malam itu terjadi sepanjang bulan, sepanjang tahun, biarkan langit itu bersama bintang kecil yang akan timbul tenggelam dibentangannya."
"Apakah ini pilihanmu? Karangan jiwamu yang pekat?"
"Tidak. Itu pilihanmu, kau telah membuat malam ini secara sadar atau tidak, kau telah menghilangkan matahari itu sendiri."
"Maka maafkanlah aku, ..."
"Terlambat. Sudah terlambat!"
"..."
Lalu malan pun beranjak. Langit di kejauhan terasa dingin tanpa bulan. Tanpa setitik cahaya bintang menerangi. Udara pun mencubit kulit. Aku meringis menahan tangis. Menjadi sebuah mentari tanpa sesuatu pun sinar terpancar. Malam melenggang pelan dan aku semakin membakar diri.
IBNU NAFISAH
Kendari, 02 Agustus 2016
Komentar
Posting Komentar