Langsung ke konten utama

PERBINCANGAN MALAM 1

#Mentari_tak_bersinar

"Aku ingin menjadi langit", katamu suatu malam, "Bebas tanpa batas."

"Aku akan menjadi matahari di sana," jawabku yang terbaring di sampingnya.

"Tidak," ucapnya, kutatap wajah itu namun ia tak membalas, sisi wajahnya tegas menerawang ke langit-langit, "tidak, aku hanya ingin jadi langit malam tanpa matahari!"

"Baiklah. Bagaimana dengan esok paginya?"

Tawarku pada wanita yang telah memberikan aku satu anak. Rasa-rasanya ini akan jadi malam yang dingin beku, pikirku.

"Tiada esok hari. Karena malam itu terjadi sepanjang bulan, sepanjang tahun, biarkan langit itu bersama bintang kecil yang akan timbul tenggelam dibentangannya."

"Apakah ini pilihanmu? Karangan jiwamu yang pekat?"

"Tidak. Itu pilihanmu, kau telah membuat malam ini secara sadar atau tidak, kau telah menghilangkan matahari itu sendiri."

"Maka maafkanlah aku, ..."

"Terlambat. Sudah terlambat!"

"..."

Lalu malan pun beranjak. Langit di kejauhan terasa dingin tanpa bulan. Tanpa setitik cahaya bintang menerangi. Udara pun mencubit kulit. Aku meringis menahan tangis. Menjadi sebuah mentari tanpa sesuatu pun sinar terpancar. Malam melenggang pelan dan aku semakin membakar diri.

IBNU NAFISAH
Kendari, 02 Agustus 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

msh yg dl

dan tibalah dpersimpangan antara rindu terkoyak jua mati rasa pdmu bila lampu menghijau pastikan tergilas waktu hilang nyawa djalanmu slamatkan aku dlm arus tak pasti apakah kembalikan waktu atw terhapus dlm sejarah (masih yg dulu, 16 feb 2012)

Kita dan (*)

Kini kita bersantai di bawah biduk bintang Senyummu menunjuk ke langit Sedang aku bersandar di batu beku Anganmu menerawang hingga batas cakrawala Aku masih merabaraba sandaran batu Telunjukmu menarinari di bintang terang Dan aku lagilagi mengeluh sandaran batu ini "Aku ingin terbang ke bintang" katamu saat itu "......" Aku terperanjat segores luka membujur di punggung Akupun heran sampai kini kita masih sj bersantai di bawah biduk bintang Dengan cahaya bintang di matamu serta keluhan malam yang takkan pernah pudar. (Kita dan *, 2 Maret 2014)

Hut brimob

Adakah brimob dhatimu? Saat sgala tugas terhampar-membentang Adakah brimob dhatimu? Saat sgala cacian brurai-bercecer Adakah brimob dhatimu? Dikala darah dan keringat adalah taruhannya Masih adakah brimob dihatimu? Jika nyawa hanyalah hal kecil buat bumi pertiwi Adakah brimob dhatimu? Adakah brimob dhatimu? Adakah brimob dhatimu? YAA SLALU ADA...!!! (Dzikril Hakiim, HUT BRIMOB KE-67, 14 Nov 2012)