Langsung ke konten utama

#19

Jika Rumi mengatakan "Kita hanyalah seruling bambu yang bercerai dari rumpunNya"
Maka aku berkata" aku hanyalah sebilah bambu yang tak berlubang"
Yang tak berbunyi saat angin melaluinya
Yang meski mendengar lagu namun tak mampu menari ke khadiratNya, walau itu nyanyian surgawi
Tak mampu memainkan melodi indahNya, meski penciptaNya menulisnya dengan tinta emas
Namun jika aku sebilah bambu yang ingin kembali ke rumpunNya, yah itulah aku meski kadang menari dan bernyanyi cuman dalam pikiran melalui selentingan gerakan sahaja agar bisa kembali kerumpun amalannNya.
(#19, 17 April 2014)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

msh yg dl

dan tibalah dpersimpangan antara rindu terkoyak jua mati rasa pdmu bila lampu menghijau pastikan tergilas waktu hilang nyawa djalanmu slamatkan aku dlm arus tak pasti apakah kembalikan waktu atw terhapus dlm sejarah (masih yg dulu, 16 feb 2012)

Kita dan (*)

Kini kita bersantai di bawah biduk bintang Senyummu menunjuk ke langit Sedang aku bersandar di batu beku Anganmu menerawang hingga batas cakrawala Aku masih merabaraba sandaran batu Telunjukmu menarinari di bintang terang Dan aku lagilagi mengeluh sandaran batu ini "Aku ingin terbang ke bintang" katamu saat itu "......" Aku terperanjat segores luka membujur di punggung Akupun heran sampai kini kita masih sj bersantai di bawah biduk bintang Dengan cahaya bintang di matamu serta keluhan malam yang takkan pernah pudar. (Kita dan *, 2 Maret 2014)

Hut brimob

Adakah brimob dhatimu? Saat sgala tugas terhampar-membentang Adakah brimob dhatimu? Saat sgala cacian brurai-bercecer Adakah brimob dhatimu? Dikala darah dan keringat adalah taruhannya Masih adakah brimob dihatimu? Jika nyawa hanyalah hal kecil buat bumi pertiwi Adakah brimob dhatimu? Adakah brimob dhatimu? Adakah brimob dhatimu? YAA SLALU ADA...!!! (Dzikril Hakiim, HUT BRIMOB KE-67, 14 Nov 2012)