Langsung ke konten utama

#21

Dalam lelap tidurku, Engkau seharusnya mampu menidurkanku sepanjang hidupku, tapi itu tak Kau lakukan
Dalam jalan ku berkendara, Kau mampu saja mencabut nyawaku, tapi itupun tak Kau lakukan
Atau sebilah pisau tibatiba melayang menghujam jantungku
Ataw bahkan sebuah peluru bersarang tepat di kepala yang selama ini mencariMu, namun semuanya tak Kau lakukan
Mungkin belum waktunya, lalu kau beri aku kesempatan hidup buat menemukanMu di suatu tempat di labirin jiwaku
Hingga suatu saat nanti, jika aku terpanggil kembali di sisiMu
Aku kembali di rumpun bambuMu dengan lagu seruling indah yang biasa ku dengar entah dimana atau kapan aku tak tahu
Mungkin saja saat kita masih bersama sebelum Kau tiupkan aku dalam seruling bambu yang tak berlubang ini.
Inipun kutulis dalam lagu yang tak biasa
Saat aku ingin menemukanMu
Namun aku dipenuhi sayap keraguan tentang mereka yang meragukanMu
Dalam keraguan itu kucoba menghentakkan dinding di antara kita agar mereka tak buta sertiku namun juga punya cahayaMu dimatanya
Tapi itu buatku semakin meragu
Meskiku mendengar nyanyiMu, suaraMu hanyalah gema yang memantul dalam sungaisungai jiwaku
Yang semakin ku kejar semakin hilang dalam labirin jasadku
Semakin ku dengar
Aku semakin haus dalam padang pencaharianku mengikuti jejakMu di atas pasir yang kian samar
Yang semakin tersadar
Kita begitu dekat, namun tak tersentuh oleh apapun yang kupikirkan
Begitu nyata pula begitu gaib
Terlalu indah, akupun menangis krn aku tak mampu memandangMu
Engkau segalanya, namun aku hanya dapat berpikir sebahagian sahaja
Yaa Allah, Engkau begitu bijaksana, hingga aku terlalu sombong tuk menemukanMu dengan senyatanyata tanpa pernah berfikir aku hanyalah debu di angkasa luasMu.
(#21, 17 April 2014

Komentar