Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2017

PENJEBAKAN

PENJEBAKAN 'Sayangku, sebelum kujawab suratmu yang kemarin dan mengatakan kabarku saat ini, ada baiknya engkau membaca ceritaku kali ini. Setelah itu barulah dengan bijak engkau menilai aku-suamimu ini-seperti apa sekarang. Mungkin itu juga akan menjawab kabarku saat ini.' *** Begitulah paragraf pembuka sebuah surat yang sempat kubaca suatu ketika. Saat itu aku sedang duduk suntuk sendiri pada sebuah pos jaga, tanggal 28 Maret 2017. Ditemani dua buah cangkir besar bertelinga putih, di dalamnya terlihat kopi-susu berwarna cokelat. Saat itu hari raya Nyepi dan suasana begitu sepi. Kendaraan di jalanan meski ada beberapa, namun hanya menunjukkan wajah-wajah di dalamnya yang akan berlibur bukan untuk bekerja. Tanpa mereka berbicara sedikit pun, suasana saat itu seakan-akan meneriakkan kata 'hari libur' begitu nyaring dalam diam. Dalam pikiranku, ini hanya sepucuk surat biasa, sebuah surat seseorang kepada istrinya. Sehingga ada keengganan untuk melanjutkan ke paragraf s...

HAMIL

HAMIL "Hamil?" Begitulah kata pertama yang sempat terucap oleh seorang ibu pemilik kos-kosan. Pagi hari itu anak-anak kos yang kesemuanya remaja putri kembali heboh. Mereka dikagetkan oleh suara Riwi yang membahana di seluruh jagad raya rumah tersebut. "Hooeek ... hooeek ...!" Suara muntah dari kamar mandi seketika menggema ke mana-mana. Dan menghasilkan bisik-bisik. Jangan-jangan, jangan-jangan? Hingga induk semangnya yang berada tak jauh dari rumah kos-kosan itu mengangkat satu tema gelap di kepalanya. Hamil? Bagaimana Ibu Derajat, si induk semang, tidak berpendapat demikian. Kelakuan anak kosnya yang satu ini memang membuat orang jengkel sekaligus iri. Sebagai wanita muda, Riwi terkenal pembangkang. Tidak pernah mengikuti tata tertib di rumah bersama itu. Dan dandanannya terkadang membuat para lelaki menarik napas jika berpapasan dengannya. Pak Derajat, sebagai bapak kos, memang sudah meminta istrinya untuk mengusir Riwi sejak beberapa minggu terakhir ini....

SEBUAH UNDANGAN

SEBUAH UNDANGAN Hati siapa yang tak merasa gelisah jika sebuah undangan datang di akhir bulan. Hari ketika uang belanja berada di ujung tanduk. Waktu yang tak tepat untuk mengeluarkan uang demi mencukupi sebuah amplop undangan. Bagi ibu rumah tangga itu hal yang beresiko. Mengisi uang undangan atau berpuasa hingga gajian berikutnya. Itulah yang dialami oleh Neneng, istri Parjo, seorang pegawai negeri beranak lima. Sebuah pilihan yang tak mungkin ia pilih sambil menutup mata. "Dua ratus empat puluh lima ribu rupiah," ucapnya sembari mengeluarkan isi dompetnya hingga ke dasar-dasarnya. "Tiada lagi?" gumamnya seakan sesak di lubuk hati meraba pahitnya kenyataan itu. Dilihatnya lagi kalender bergambar calon bupati yang sedang mencalonkan diri. Ia tak peduli dengan gambar tersenyum penuh kemunafikan yang tergantung di atas sana. Pikirannya hanya terarah pada angka-angka almanak berwarna hitam dan merah. "Mmmm ... masih tiga hari lagi," ketusnya pada kertas...

TENTANG SEBUAH RASA

TENTANG SEBUAH RASA Dengan bahasa apa kujelaskan agar kau mengerti perasaan ini: 'Gelora yang datang bergelombang bagai ombak memukul ruang tubuhmu.' *** Pagi itu adalah hari yang cerah. Matahari seperti biasa di musim setelah penghujan. Jatuh lebih cerah di antara pepohonan Pucuk Merah. Burung-burung Kutilang berkejaran memburu serangga pertamanya lebih awal. Di depan halaman yang berjejer pohon-pohon itu adalah jalanan padat beraspal dengan kaki-kaki mungil. Berseragam putih birunya. Mereka lebih segar dari rerumputan berembun. Atau lebih riang dari nyanyian burung bagi pepohonan. Dan aku hanya dapat memantau dari balik jendela kaca kamar ini. Dengan masih memegang alat cukur di tangan kanan dan sesekali memandang mereka, juga wajah di sana-cermin persegi yang di baliknya kau mampu menyimpan segala macam barang. Mulai obat sakit kepala, obat luka, busa cukur, alat mandi. Apapun yang kau butuhkan secara cepat. Sepasang mata tajam dengan bulu-bulu halus tampak tenang, be...

LUMPUHKANLAH INGATANKU

LUMPUHKANLAH INGATANKU Dua puluh empat bulan, sembilan puluh enam minggu, tujuh ratus tiga puluh hari dan tujuh belas ribu lima ratus dua puluh jam lelaki itu kini berada kota ini. Wajahnya nampak sangar dengan bulu-bulu panjang yang tumbuh di sekitar pipi, di atas bibir dan dagunya. Apalagi rambut yang tumbuh lebat di atas kepalanya. Kini memanjang dan tak terurus. Pakaian kumal, robek di sana-sini. Tanpa alas kaki, dan bahkan tak jarang mempertontonkan bagian tubuh yang tak seharusnya. Namun ia tidak peduli. Ia lebih tidak peduli lagi dengan teriakan anak-anak atau orang-orang yang berpapasan dengannya. "Orang gila ... orang gila ...!" kalimat itu selalu saja ia dapati dengan lemparan batu atau bentakan kasar. Beberapa yang lainnya kadang mengusir seenaknya,"Hei, pergi kau, pura-pura gila ya? Mau mencuri?" tuduh mereka. Tapi lagi-lagi ia diam, hanya berpindah tempat tanpa pernah merasa sakit hati. Hanya matanya memandang waspada sebagaimana hewan mengatur ja...

PENCURI

PENCURI . "Pencuri!" Ketika kata itu disebut kau langsung tancap gas. Lari tunggang langgang tiada henti. Napasmu memburu dag-dig-dug tak karuan. Kaki kecil nan lincah seketika melesat bak pelari Olympiade yang mempertahankan juara bertahan dari musim ke musim. Tubuh mungilmu menerobos kerumunan massa. Mencoba mengecoh para pemburu yang berlari kebingungan. Satu dua tiga pemburu terus mengejar. Lama-kelamaan suara ribut bergemuruh di Pasar Panjang siang itu. "Hei, jangan lari! Pencuri! Pencuri! Tangkap dia!" Suara itu semakin santer kaudengar. Pasar yang terletak di pusat Kota Kendari itu kembali rusuh. Riuh oleh suara-suara. Bunyi kendaraan dengan klakson serta teriakan penjual dan pembeli menyatu bagai koor abadi. Semua mulai berkoar-koar, penjual kain teriak pencuri kain, penjual ikan teriak pencuri ikan dan semua penjual serentak tersulut. Seperti api di musim kemarau. Sementara kauberlari menyusuri jalan sempit dalam gang, melintasi jalan-jalan tikus, pa...

SUZAN

SUZAN Akhirnya kebenaran terungkap juga. "Suzan" Suzan dengan huruf "Z" bukan "S" dan itu tertera pada sebuket bunga mawar berwarna merah maron. Itu seminggu yang lalu. Kemarin sebuah paket berisi gaun malam. Berwarna hitam berkilap, bercorak kulit ular dan tentu saja akan menampakkan bahu yang putih jika ia memakainya. Dan hari ini satu set berlian akan menghiasi lehernya yang jenjang. Semua hadiah itu beralamat pada sebuah gedung berlantai tiga puluh empat. Yang tak lain adalah sebuah gedung rumah sakit tertinggi di kota itu, Guy Hospital. Tempat saya bertemu pertama kali ia di sana. Namanya Suzan dan ia seorang perawat. Kali ini pertama kali kuajak berkencan di The Ivy restoran. Hati jadi tidak menentu sejak suaranya kudengar dari ujung telepon sore tadi. "Oh, tuan Charles," katanya santai, "apakah ini tidak berlebihan?" "Tidak. Tentu saja itu berlebihan, jika itu bukan Anda, Nona," ucapku mencoba menenangkan. ...

SI BUDI KECIL

Cerita di bawah ini hanya karangan belaka jika ada persamaan kata, nama, tempat, itu perlu diselidiki siapa tahu itu benar adanya 😀😀😀 #readandcomment SI BUDI KECIL (Segepok uang buat ibu) Dua puluh delapan ribu lima ratus lima puluh rupiah. Dipenggangnya erat, sedikit basah oleh keringat. Hasil dari jualan tisu hari ini, terdiri dari; dua lembar uang sepuluh ribuan, satu lembar uang lima ribuan, dua lembar uang seribuan, dan tiga buah recehan lima ratusan, serta sebentuk uang logam lima puluh rupiah. Itu semua uang ditangannya. Seperti tak habis-habisnya menghitung. Rasa tidak puas mengalir bagai keringat yang jatuh di dahi. Wajah hitam dengan bibir pecah-pecah itu kembali mengulang kegiatan yang sama. Dan hasilnya tetap. Dua puluh delapan ribu lima ratus lima puluh rupiah. Uang yang tak seberapa itu tentu tak mampu menebus obat ibunya yang kini terbaring pasrah di rumah pesakitan. Matanya kini jalang ke jalanan yang riuh oleh kendaraan. Tak a...