Langsung ke konten utama

PENCURI

PENCURI
.

"Pencuri!"

Ketika kata itu disebut kau langsung tancap gas. Lari tunggang langgang tiada henti. Napasmu memburu dag-dig-dug tak karuan. Kaki kecil nan lincah seketika melesat bak pelari Olympiade yang mempertahankan juara bertahan dari musim ke musim.

Tubuh mungilmu menerobos kerumunan massa. Mencoba mengecoh para pemburu yang berlari kebingungan. Satu dua tiga pemburu terus mengejar. Lama-kelamaan suara ribut bergemuruh di Pasar Panjang siang itu.

"Hei, jangan lari! Pencuri! Pencuri! Tangkap dia!"

Suara itu semakin santer kaudengar. Pasar yang terletak di pusat Kota Kendari itu kembali rusuh. Riuh oleh suara-suara. Bunyi kendaraan dengan klakson serta teriakan penjual dan pembeli menyatu bagai koor abadi. Semua mulai berkoar-koar, penjual kain teriak pencuri kain, penjual ikan teriak pencuri ikan dan semua penjual serentak tersulut. Seperti api di musim kemarau.

Sementara kauberlari menyusuri jalan sempit dalam gang, melintasi jalan-jalan tikus, pagar dan juga halaman orang.

"Eh, buset! Anak setan! Tanaman gua," kau mendengar makian seorang entah di mana.

Tapi kau tanpa membalikkan badan sedikit pun untuk meminta maaf atau sekedar mengumbar wajah bersalah terus melaju entah ke mana.

Dan kau melihat pemburu yang mulai tersebar kini semakin nekat. Bukan hanya jemuran orang mereka tarik, rumah-rumah pun digeledah.

"Woi, lagi mandi," kau pun sempat mendengar teriakan histeris seorang bapak di rumahnya ketika salah seorang pemburu menggeledah sebuah kamar mandi.

Pemburu semakin beringas karena hampir kehilangan jejak. Sekelebat kau melihat mereka sibuk menanyai orang-orang satu-persatu.

"Bubar-bubar ... ada razia!" seorang pemuda gondrong tiba-tiba teriak memperingati sekelompok pemuda lain yang sedang asyik bermain kartu di salah satu teras rumah. Ketika kaki-kaki kecilmu melintas di sana.

Alhasil semua berhamburan dalam waktu sekejap. Mereka berpikir benar-benar terjadi razia perjudian. Kau sempat melihat botol-botol alkohol, kartu-kartu, bahkan barang bukti berupa beberapa lembar uang kertas masih berceceran di lantai. Tapi, kau hanya tersenyum nakal.

Di sudut ekor matamu para pemburu tidak ada yang peduli sama sekali pada penjudi sialan itu. Kau sudah membuat mereka naik pitam. Ini bukan yang pertama kali, namun sudah sekian kalinya. Kau bersama rombongan gengmu telah berhasil membobol warung-warung, mencungkil lemari-lemari, melinggis pintu-pintu dan itu 100% sukses.

Kau bahkan mendengar orang-orang berdecak marah berkata, "Tiada yang luput dari si Tangan Panjang keparat itu!"

Pernah suatu ketika kautertangkap massa. Tentu saja kau jadi bulan-bulanan warga. Bahkan kau sempat dirajam dengan benda tajam. Hingga pihak berwajib harus menungguimu di selasar Rumah Sakit Bahteramas selama luka-luka tersebut dijahit dan sembuh.

Tapi itu bukan sebuah halangan. Atau menjadi sebuah ketakutan besar bagimu. Karena kejadian itu kaulakukan lagi tanpa jerah.

Kali ini pun demikian, dalam otakmu yang kecil, insting untuk menyelamatkan diri dari kejaran terus menggaung. Berhenti berarti mati. Meski napas tinggal satu-satu, namun kaki terus bertambah kencang kaukayuh.

Kau jangan sampai jatuh atau semua berakhir dalam sekejap.

Sebentar lagi ada sebuah belokan ke kanan, menaiki tujuh buah anak tangga semen berbatu lalu melipir di rumah papan milik tetangga. Berbelok ke kanan lagi menyusuri gang sempit dan sebuah lompatan pagar belakang rumah bapakmu, nah, di sanalah tempat persembunyianmu kali ini.

Namun, demi mencapai belokan ke kanan pertama itu kau harus melewati kerumunan orang di warung Pak Rusli. Itu bukan hal yang sukar menurutmu. Manusia yang berlari di belakangmulah yang utama. Mereka harus dikecohkan di jalan sempit nan berbelok-belok dan sepi.

Akhirnya pemetaan yang saksama diotakmu, yang telah direncanakan dengan matang kautuntaskan sepenuhnya. Dan di sinilah kauberada. Di belakang lemari kayu yang sebagian termakan rayap. Tersembunyi dari mata dan telinga massa pengejar. Gelap dan sesak. Tapi cukup aman menurutmu.

Dadamu naik turun sangat kencang. Napas yang tersengal-sengal secara berangsur-angsur kaupadamkan. Hingga berasa keringat kini bagai getah panas menetes di sekujur tubuh kumalmu.

Seiring denyut jantung mulai berdetak normal. Suara-suara aneh penuh ingaun birahi kini memenuhi liang telingamu yang mungil. Suara itu makin lama semakin menggairahkan. Seiring benturan-benturan kasar di atas ranjang kayu. Suara kayu berderit, menjerit-jerit oleh kegiatan aneh di balik dinding tempatmu berdiri.

Kau hanya bisa menebak-nebak sesuatu di kepalamu yang mungil. Tapi tidak ada waktu untuk memastikan kebenaran tersebut.

Tiba-tiba suara pintu depan rumahmu digedor dari luar. Awalnya cuma satu kali. Dua kali. Tiga kali. Keempat kalinya dengan bunyi gebrakan. Suara pintu menghantam dinding kayu. Sekejap kaumengira gempa terdengar hingga pintu dapur pun ikut bergetar. Bukan. Itu bukan getaran tapi pendobrakan serupa sama terjadi juga di arah belakang rumahmu.

Langkah kaki dan juga hentakkan. Kini kaudengar semakin nyata.

Detak jantungmu kembali meningkat. Sementara suara erangan birahi di kamar sebelah terhenti dengan kesal. Rasa gelisah dan suara orang tergesa-gesa terbaca olehmu dari balik bilik dinding kayu itu.

"Ada apa kalian semua ini!" suara kesal bapakmu menembus sekat hingga mencapai gendang telingamu.

"Angkat tangan!"

Suara seseorang membentak bapakmu.

"Bapak kami tangkap dengan tuduhan kepemilikan narkoba, sekaligus pemerkosaan anak di bawah umur. Silahkan berpakaian dan ikut kami ke kantor!"

"Iya, iya, Pak!"

Suara bapakmu terdengar gugup. Dan beberapa menit kemudian kaumendengar suara-suara di sana keluar bagai guntur, sama seperti ketika mereka datang.

Itu semua terjadi di depan telingamu yang mungil di mana tubuh kecilmu terselip di balik lemari.

Tubuhmu tiba-tiba lemas. Dalam hati kaumenjerit sedih tapi tak kuasa melinangkan air mata. Seketika saja situasi berubah di luar dugaan. Sekujur tubuh kini terasa lelah. Ingin rasanya berbaring saja di atas ranjang. Sambil menangis karena ditinggalkan orang-orang yang kausayangi. Mamakmu entah di mana. Mungkin sudah menikah dan berak anak lagi. Bapakmu? Ia hanya lelaki yang memikirkan dirinya sendiri.

***

Hari itu kau dengan dua orang anak lainnya berada di sebuah tanah lapang. Dari jauh kau dan temanmu nampak sebagaimana anak-anak seusiamu. Anak-anak yang ingin menghabiskan siangnya dengan bermain bola?

"Iwang, hari ini ada operasi. Seperti biasa kaugelandang terakhir."

Kaumenatap dengan serius wajah seorang anak yang sedang berbicara denganmu. Badannya agak besar dan tinggi dibandingkan dengan tubuhmu dan temanmu yang lain. Kau menahan tawa melihat gayanya yang mirip pimpinan geng di film-film Hollywood.

"Ipong, kau kedua sekaligus pemantauan. Beri tanda jika aman. Dan aku sendiri tangan pertama. Setelah barang itu telah berpindah dari tangan ke tangan semua menyebar. Titik kumpul tempat biasa."

Kaumemperhatikan dengan saksama ketika si ketua geng memberikan perintah. Dan kalian berdua langsung mengiyakan. Dan rapat bubar begitu saja. Lapangan kembali kosong. Tinggal sebuah bola plastik kesepian di sana yang kautinggalkan.

Sesuai rencana siang itu, setelah kaumenerima barang yang dimaksud. Dan berlari sekencang-kencangnya. Kaki-kaki kecilmu bagai kijang di antara ilalang.

"Pencuri!"

Masih kaudengar kalimat itu kembali mengudara di langit siang. Namun kau tidak peduli. Kaumelihat banyak pemburu kebingungan dan salah arah. Tapi satu dua orang pemburu lainnya masih sempat melihatmu ketika menghilang di tikungan.

Warung Pak Rusli tepat di depan ketika kauberlari. Kaumelihat mereka yang masih berkumpul di sana. Dan ....

"Sial!" katamu saat mereka membuat pagar manusia. Padahal setelah warung itu kau akan menghilang tanpa jejak. Dan akhirnya kautertangkap dengan barang bukti di tangan. Kaudipukuli oleh massa. Wajahmu hancur tak berbentuk.

"Sudah, sudah, bawa saja anak nakal ini ke kantor polisi!" masih sempat kaumendengar usul salah seorang yang kini melerai massa yang mulai hilang akal.

"Untuk apa dimasukkan sel, lusa juga anak ini bebas dan mulai mencuri lagi," kau masih terkapar saat yang lain protes tidak setuju.

"Iya, saya kenal bapaknya ia pengedar narkoba di kampung ini. Tau apa kata bapaknya? 'Jika kalian dapat anak itu mencuri, kalian boleh menghajarnya, tapi ingat sisakan nyawanya', itu kata bapaknya," seorang lelaki berbadan pendek juga mulai berkomentar ketika kaudengar nama bapakmu disebut-sebut.

"Tapi anak ini akan mati jika kalian ...." Sebelum sempat kata-kata itu selesai sebuah tusukan pisau telah menancap di perutmu.

"Jleb!"

***

"Aaaargh ...!"

Suaramu kembali memenuhi udara kamar yang dingin. Jendela kamar itu terbuka dan sinar bulan masuk menerangi lantai yang pucat di sana.

Kauterbangun dari mimpi dengan keringat bercucuran, napas memburu kencang, seperti pelari kelelahan. Di atas ranjang kayu itu kaumeraba-raba. Mencari ingatan terakhir di mana kauberada. Semua tampak gelap tapi begitu sangat kaukenal.

Lemari kayu tempat persembunyianmu siang tadi, dinding kayu yang mengeluarkan suara birahi dari baliknya. Semuanya kaukenali dengan baik.

Akhirnya kaudapati dirimu di kamar gelap dalam keadaan hampa dan lapar. Hanya air mata yang tak kelihatan di sana. Tapi rasanya begitu hangat terasa.

***

"Ah, cerita ini terlalu klise," kata lelaki itu pada sebuah naskah yang sedang ia pegang.

"Aku butuh sesuatu yang lain dari sekadar kata 'kemiskinan'," ucapnya lagi. Lalu membuang naskah tersebut pada sebuah tong plastik di dekat kakinya.

TAMAT.

IBNU NAFISAH
Kendari, 13 Maret 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#15

Aku mendengar alunan lagu seruling bambu Suaranya merdupilu Ingatan akan kampung halaman serasa nyata Namun tak tergapai Sangat dekat ditelinga namun tak terasa Begitu bergetar didada namun hampa belaka Oo siapakah gerangan Dikau Yang bagai angin surgawi bermain dalam alunan jiwa Yang datang dan pergi menisik alunan indahnya Nadanada merdu itu kini bangkitkan cintaku Kadang resah tak beralasan Jua rindu yang tak terbendung Oo siapakah gerangan Dikau Kurasa Engkau pemilik Cinta dalam merdunya alunan lagu Memanggilku kembali ke rimba CintaNya Namun kita takkan bersama dalam dunia yang berbeda Karena aku hanyalah seruling bambu Yang kan selalu mencari dalam diriku alunan merdu cintaMu Dalam tiaptiap bait sabdaMu (#15, 09 April 2014)

#19

Jika Rumi mengatakan "Kita hanyalah seruling bambu yang bercerai dari rumpunNya" Maka aku berkata" aku hanyalah sebilah bambu yang tak berlubang" Yang tak berbunyi saat angin melaluinya Yang meski mendengar lagu namun tak mampu menari ke khadiratNya, walau itu nyanyian surgawi Tak mampu memainkan melodi indahNya, meski penciptaNya menulisnya dengan tinta emas Namun jika aku sebilah bambu yang ingin kembali ke rumpunNya, yah itulah aku meski kadang menari dan bernyanyi cuman dalam pikiran melalui selentingan gerakan sahaja agar bisa kembali kerumpun amalannNya. (#19, 17 April 2014)

Kebersihan Sebagian Dari Iman?

Hari lebaran telah tiba, semua bersuka cita menyambutnya. Ketika matahari belum benar-benar naik di langit ketika itu umat muslim memadati daerah yang telah ditentukan untuk melaksanakan shalat ied. Jalan-jalan lenggang, hanya dipadati pejalan kaki dan sesekali mobil dan motor pribadi. Saf-Saf dibuat ditempat tertentu, di sekitar mesjid, tanah lapang bahkan Jalan-jalan protokol yang dikhususkan sebagai tempat salat. Saf-Saf tersebut seketika saja merubah wajah jalan atau tanah lapang menjadi garis garis sejajar menghadap mimbar dadakan yang tiba-tiba berdiri secara ajaib sudah ada sejak malam atau subuh hari di hari yang fitri ini. Kaki-kaki penuh kebahagiaan pun berjalan menuju Saf-Saf yang bermimbar ajaib, mengisi deretan panjang yang telah disediakan. Ketika mentari mulai bersinar terang salat pun berlalu di akhiri khotbah dari para pengkhotbah yang entah berapa lembar kertas yang telah disediakan guna mengisi acara sesi terakhir dari salat ied tersebut. Dan matahari yang mula...