Langsung ke konten utama

SEBUAH UNDANGAN

SEBUAH UNDANGAN

Hati siapa yang tak merasa gelisah jika sebuah undangan datang di akhir bulan. Hari ketika uang belanja berada di ujung tanduk. Waktu yang tak tepat untuk mengeluarkan uang demi mencukupi sebuah amplop undangan. Bagi ibu rumah tangga itu hal yang beresiko. Mengisi uang undangan atau berpuasa hingga gajian berikutnya. Itulah yang dialami oleh Neneng, istri Parjo, seorang pegawai negeri beranak lima. Sebuah pilihan yang tak mungkin ia pilih sambil menutup mata.

"Dua ratus empat puluh lima ribu rupiah," ucapnya sembari mengeluarkan isi dompetnya hingga ke dasar-dasarnya.

"Tiada lagi?" gumamnya seakan sesak di lubuk hati meraba pahitnya kenyataan itu.

Dilihatnya lagi kalender bergambar calon bupati yang sedang mencalonkan diri. Ia tak peduli dengan gambar tersenyum penuh kemunafikan yang tergantung di atas sana. Pikirannya hanya terarah pada angka-angka almanak berwarna hitam dan merah.

"Mmmm ... masih tiga hari lagi," ketusnya pada kertas tebal di tembok rumahnya yang bercat hijau toska itu.

Yang berarti dua ratus empat puluh lima ribu untuk tiga hari makan. Itu hitungan yang pas. Tidak lebih dan tidak kurang.

"Hari pertama bisa makan sambal goreng tempe dan tahu ditambah sayur tumis kangkung. Beberapa potong ikan kering. Hari kedua sayur asem, goreng kering ikan teri, dan perkedel jagung. Hari ketiga, hari terakhir enaknya masak pare santan dan pindang ikan cakalang," begitu Neneng menulisnya di sebuah kertas karton bekas mie instan.

Jika ia masih hidup seorang diri, tentu saja uang belanja tersebut digunakan untuk isi undangan. Sedangkan untuk makan ia bisa ke rumah orang tuanya. Seperti ketika masih sekolah dulu. Orang tuanya selalu menjadi tempat pelarian terakhir. Mulai dari uang jajan, uang sekolah bahkan masalah percintaan. Meskipun tidak secara terang-terangan ia mengatakan semuanya pada mereka. Tapi, orang tua adalah stasiun terakhir baginya.

Kini hanya Parjo sang suami pengganti keluh kesahnya. Tapi, mengaduh pada Parjo berarti mencari masalah. Bukankah dua lelaki itu-Parjo dan Samaun-bagai air dan api tak pernah akur satu sama lain karena persaingan asmara.

"Waduh, jadi bingung," kembali ia mendesah sendiri.

Undangan itu masih tergeletak di atas meja dengan setengah terbuka. Tertera di sana sebuah nama yang tak asing baginya 'Walimatul Ursy putra-putri kami Samida dan Samaun, Sabtu, 25 Februari 2017, di kediaman kami.' Nama kedua mempelai itu sungguh berarti baginya. Di satu sisi Samida adalah teman masa SMU dan Samaun adalah seorang mantan yang sungguh merepotkan di masa-masa gejolak remajanya.

Dahulu sewaktu masa sekolah mereka sempat mengikat janji sehidup semati. Namun apa boleh buat manusia hanya mampu merencanakan dengan siapa akan menikah, tapi Tuhanlah yang menentukan dengan siapa seseorang menikah.

Terlepas dari segala kejadian dan kenangan, ia harus hadir bukan karena kedua nama tersebut adalah masa lalunya. Namun, lebih kepada sebuah aksi untuk menunjukkan rasa. Suatu ego yang ia pendam, peram sekian lama. Bahwa meski ia tidak hidup bersama lelaki itu, Neneng mau menunjukkan ia bisa hidup bahagia. Mungkin lebih bahagia daripada orang lain pikirkan.

Tetapi sekedar hadir saja tidak cukup. Neneng harus menunjukkan suatu kebahagiaan bukan hanya yang nampak seperti keserasian sebuah keluarga. Tapi, juga isi sebuah amplop yang mendukung kesan kebahagiaan tersebut. 'Bukankah uang sudah menjadi ukuran sebuah kebahagiaan?' Meski itu tidak selamanya benar tapi begitulah Neneng menakar kebahagiaan dalam masyarakat.

***

Hari itu pun akhirnya tiba. Dan seperti yang Neneng risaukan, tidak ada isi amplop di sana. Undangan yang seharusnya berisi beberapa lembar uang merah Soekarno-Hatta, belum nampak terselip. Padahal ia sudah menyindir secara halus pada suaminya tentang kegundahan yang ia rasakan.

"Mas, sudah baca undangan Samida dan Samaun? Itu yang di atas meja," tegurnya pada Parjo beberapa hari yang lalu.

"Iya sudah," balas Parjo dengan ekspresi datar.

"Mas, mau pergi?"

"Iya, tentu. Samida dan Samaun, bukankah mereka teman kita juga?"

"Tapi, ini 'kan akhir bulan, mana cukup mengisi amplop undangan," dengan wajah kusut Neneng mulai merajuk.

"Oh, masalah itu gampang, serahkan padaku," kata Parjo enteng seperti mengerti betul apa yang istrinya keluhkan. Parjo membaca dari raut wajah Neneng, bahwa istrinya tersebut tidak ingin diremehkan oleh Samaun, mantan kekasih istrinya tersebut. Dengan senyum misteri tertahan di ujung bibir membiarkan Neneng cemas tanpa jawaban yang pasti. Dan Neneng tak berani bertanya atau membantah lagi. Neneng berpikir, ia hanyalah seorang istri, jika sang suami sudah ambil kendali, maka serahkan semuanya padanya, si nahkoda sesungguhnya.

Maka, di sore hari tanggal 25 Februari itu Parjo meminta Neneng segera mempersiapkan kelima anak mereka. Menyuruh memandikan lalu memakaikan pakaian yang pantas untuk sebuah pesta.

"Anak-anak ikut serta, Mas?" Neneng heran tidak biasanya Mas Parjo membawa kelima orang anaknya dalam acara pesta.

"Iyalah, ini bagian dari surprise," cuma itu kata Parjo yang dibalas wajah penuh tanda tanya sang istri. Meski demikian Neneng segera mempersiapkan kelima anak mereka. Dalam waktu yang cukup lumayan lama, setelah melalui beberapa kejar-mengejar, tangisan si kecil, serta diselingi canda tawa kakak-kakaknya yang ceria, persiapan pun kelar.

Akhirnya jam tujuh tepat keluarga besar itu sudah berada di tempat diberlangsungkannya resepsi pernikahan. Parjo dengan blazer hitam penuh gaya didampingi oleh Neneng bergaun merah maron. Dan juga anak-anak mereka begitu cerianya memakai setelan jas imut bagi yang lelaki dan bagi yang perempuan memakai gaun ala putri-putri di negeri dongeng. Mereka masing-masing membawa sebuket bunga di tangannya yang kecil. Mereka sungguh manis. Seketika rombongan keluarga itu menjadi perhatian para tamu undangan.

Di atas pelaminan anak-anak tersebut dibantu oleh ibu-bapaknya untuk bersalaman, memberi buket mawar dan diakhiri foto bersama. Tak lupa Parjo memasukkan sebuah amplop bertuliskan namanya, 'Parjo dan Nyonya,' pada sebuah kotak di samping tangga pelaminan.

Setelah tiba di rumah, Neneng akhirnya tak bisa menahan rasa penasarannya.

"Mas, dapat dari mana uang untuk mengisi amplop undangan?"

Sambil membuka kancing bajunya, Parjo menjawab sama datarnya dengan hari kemarin, "Bukan uang kok, isinya."

"Lah, lantas apa?" Neneng semakin penasaran.

"Hanya sebuah foto."

"Foto?"

"Iya, foto keluarga kita, ada saya, kamu kelima anak kita yang sedang tertawa gembira memakai setelan seperti di acara pesta tadi. Di baliknya ada sejumput doa yang sangat baik : 'Buat sahabat kami Samida  dan Samaun, Selamat menempuh hidup baru, semoga jadi keluarga yang saqinah, mawaddah, warrohmah, mendapatkan keturunan yang sholeh serta sholeha, diberikan rejeki yang berkah dan melimpah, serta selalu di dalam lindungan serta kasih sayang Allah SWT.'" Ucap Parjo diikuti dengan wajah keheranan istrinya.

"Bukankah sebuah doa yang iklas lebih baik daripada segepok emas-permata yang akhirnya membawa pada kesombongan dan sikap berlebih-lebihan?" Parjo menambahkan beberapa kata penutup di depan wajah istrinya dan kemudian meninggalkannya untuk mencari kenyamanan di atas ranjang. Sedangkan Neneng, tidak bisa memutuskan apakah harus lega atau kaget atas pernyataan suaminya tersebut.

Dalam kebingungan tiba-tiba Neneng tersenyum sendiri. Selama ini meskipun hidup pas-pasan tapi, tak pernah ada kata susah di hatinya. Parjo dan kelima orang anaknya merupakan kebahagiaan yang tak terbantahkan. Kebahagiaan sesungguhnya. Kebahagiaan itulah yang selama ini yang ia rasakan. Kebahagiaan yang tak mungkin dirasakan oleh orang lain atau digantikan oleh nilai mata uang atau bahkan emas-permata. Satu pemikiran kini merubah pandangannya selama ini. 'Uang bisa membeli segalanya, namun tak selamanya bisa membeli kebahagiaan. Uang bukan ukuran kebahagiaan. Dan doa iklas yang dijabah oleh Allah lebih baik daripada beberapa lembar uang yang terpaksa dikeluarkan demi sebuah ego di hati.'

TAMAT.

IBNU NAFISAH
Kendari, 24 Maret 2017



Komentar

Postingan populer dari blog ini

#15

Aku mendengar alunan lagu seruling bambu Suaranya merdupilu Ingatan akan kampung halaman serasa nyata Namun tak tergapai Sangat dekat ditelinga namun tak terasa Begitu bergetar didada namun hampa belaka Oo siapakah gerangan Dikau Yang bagai angin surgawi bermain dalam alunan jiwa Yang datang dan pergi menisik alunan indahnya Nadanada merdu itu kini bangkitkan cintaku Kadang resah tak beralasan Jua rindu yang tak terbendung Oo siapakah gerangan Dikau Kurasa Engkau pemilik Cinta dalam merdunya alunan lagu Memanggilku kembali ke rimba CintaNya Namun kita takkan bersama dalam dunia yang berbeda Karena aku hanyalah seruling bambu Yang kan selalu mencari dalam diriku alunan merdu cintaMu Dalam tiaptiap bait sabdaMu (#15, 09 April 2014)

#19

Jika Rumi mengatakan "Kita hanyalah seruling bambu yang bercerai dari rumpunNya" Maka aku berkata" aku hanyalah sebilah bambu yang tak berlubang" Yang tak berbunyi saat angin melaluinya Yang meski mendengar lagu namun tak mampu menari ke khadiratNya, walau itu nyanyian surgawi Tak mampu memainkan melodi indahNya, meski penciptaNya menulisnya dengan tinta emas Namun jika aku sebilah bambu yang ingin kembali ke rumpunNya, yah itulah aku meski kadang menari dan bernyanyi cuman dalam pikiran melalui selentingan gerakan sahaja agar bisa kembali kerumpun amalannNya. (#19, 17 April 2014)

Kebersihan Sebagian Dari Iman?

Hari lebaran telah tiba, semua bersuka cita menyambutnya. Ketika matahari belum benar-benar naik di langit ketika itu umat muslim memadati daerah yang telah ditentukan untuk melaksanakan shalat ied. Jalan-jalan lenggang, hanya dipadati pejalan kaki dan sesekali mobil dan motor pribadi. Saf-Saf dibuat ditempat tertentu, di sekitar mesjid, tanah lapang bahkan Jalan-jalan protokol yang dikhususkan sebagai tempat salat. Saf-Saf tersebut seketika saja merubah wajah jalan atau tanah lapang menjadi garis garis sejajar menghadap mimbar dadakan yang tiba-tiba berdiri secara ajaib sudah ada sejak malam atau subuh hari di hari yang fitri ini. Kaki-kaki penuh kebahagiaan pun berjalan menuju Saf-Saf yang bermimbar ajaib, mengisi deretan panjang yang telah disediakan. Ketika mentari mulai bersinar terang salat pun berlalu di akhiri khotbah dari para pengkhotbah yang entah berapa lembar kertas yang telah disediakan guna mengisi acara sesi terakhir dari salat ied tersebut. Dan matahari yang mula...