Cerita di bawah ini hanya karangan belaka jika ada persamaan kata, nama, tempat, itu perlu diselidiki siapa tahu itu benar adanya 😀😀😀
#readandcomment
SI BUDI KECIL
(Segepok uang buat ibu)
Dua puluh delapan ribu lima ratus lima puluh rupiah. Dipenggangnya erat, sedikit basah oleh keringat. Hasil dari jualan tisu hari ini, terdiri dari; dua lembar uang sepuluh ribuan, satu lembar uang lima ribuan, dua lembar uang seribuan, dan tiga buah recehan lima ratusan, serta sebentuk uang logam lima puluh rupiah.
Itu semua uang ditangannya.
Seperti tak habis-habisnya menghitung. Rasa tidak puas mengalir bagai keringat yang jatuh di dahi. Wajah hitam dengan bibir pecah-pecah itu kembali mengulang kegiatan yang sama. Dan hasilnya tetap. Dua puluh delapan ribu lima ratus lima puluh rupiah.
Uang yang tak seberapa itu tentu tak mampu menebus obat ibunya yang kini terbaring pasrah di rumah pesakitan. Matanya kini jalang ke jalanan yang riuh oleh kendaraan. Tak ada tangis mampu mengobati pilu di ujung hati. Dan dunia seakan tertawa dikeramain sepi hati yang hambar.
Ribuan kata makian yang tak sempat ia lontarkan. Jutaan kekesalan mengendap bagai lumpur di dasar hati. Tapi itu pun tidak merubah kenyataan. Ibu Budi masih saja sakit. Ia hanya mampu mengamini pernyataan bahwa 'sakit itu mahal' baik si miskin maupun si kaya. Perbedaannya hanya satu. Si kaya akan mendatangi rumah sakit yang mampu menghilangkan rasa sakit. Lalu si miskin didatangi rasa sakit itu terus-menerus.
***
"Bud, jaga rumah!"
Cuma itu kata Sri, pagi tadi. Ia tahu ke mana kakaknya akan pergi. Namun ia tetap diam. Kedua kakak beradik yang kini hidup piatu itu sudah sangat dewasa mengenai masalah hidup.
Ia tahu kakaknya akan berusaha mengeluarkan ibu mereka dari rasa sakit. Ia pun berpikir yang sama meskipun dengan cara yang berbeda.
Semalam pak RT sempat menyinggung masalah ibu. Serta tetek bengek mengenai jaminan kesehatan yang sekarang lagi santer didengung-dengungkan oleh orang banyak. Apalagi orang melarat seperti mereka. Mungkin ke sanalah kakaknya mengarah ke tempat pengurusan jaminan itu.
Namun, setelah beberapa jam berlalu. Terdengar suara tangis tertahan dari kamar yang hanya berbatas tripleks bolong. Dari bantal kumal kesayangan Sri. Bantal bekas karung terigu yang di dalamnya berisi kain perca, saban hari dipungut oleh ibunya, ketika itu ia masih sehat. Dan menjadi satu-satunya buah tangan terindah di hari ulang tahunnya, kini merembes air mata.
***
"Sri, Bapak minta maaf ... BPJS ibumu sudah jadi ...," kalimat itu tertahan dari lidah pak Usman, ketua RT daerah itu, "tapi ... kartu ini tidak mampu membayar semua tagihan rumah sakit ibumu," sambil menyerahkan sebuah kartu ditangannya.
"Maksudnya bagaimana ya, Pak!" tatapan kepedihan seolah-olah menampar wajah pak Usman. "Apa kartu ini tidak berguna?" ucap Sri bingung.
"Bukan begitu Sri," kebingungan yang sama tiba-tiba melanda otak lelaki paruh baya itu yang selama ini sudah menjadi bapak yang sesungguhnya buat Sri dan Budi.
"Apa orang miskin kayak kami tak pantas dibiayai oleh negara?" luapan emosi begitu saja meluncur bagai air di pancuran atap rumahnya yang selalu bocor jika hujan turun.
"Bukan ... bukan begitu ...!"
"Jadi yang benar bagaimana, Pak!"
"Dengar dulu. Ibu kamu teridentifikasi HIV. Dan BPJS punya aturan sendiri. Penyakit ini salah satu yang tidak dilindungi oleh kartu ini. Kamu mengerti?"
"Iya, Sri ngerti. Tapi yang tidak Sri ngerti, kenapa ini terjadi pada Sri ...."
Sebagaimana lahar panas tertahan di perigi matanya. Seberapa pun kuatnya ia menggigit bibir, toh itu sia-sia belaka. Tetes hangat itu kini menentukan takdirnya. Terjebak antara hidung dan bibir Sri yang perawan, akhirnya basah jua oleh kecewa. Kecewa itu. Kecewa yang sama terpampang di wajah pak Usman.
***
Budi tak tahu-menahu kejadian yang baru saja terjadi pada Sri hingga tangisnya tak urung terhenti. Namun satu yang pasti. Apapun itu Sri telah gagal mewujudkan harapan mereka. Mengeluarkan ibu dari belenggu pesakitan.
Kaki kecil tak beralas itu secara diam-diam menjauh dari bantal bersarung kain terigu- berisi perca tak terpakai. Menjauh dari gubuk itu, jika bisa disebut demikian. Sebab rumah itu tak bedanya kandang bebek. Hanya saja bukan bebek yang ada di sana tapi manusia yang hidup layaknya bebek.
Jam-jam sibuk seperti ini adalah jam-jam sekolah. Namun sebagaimana orang miskin lagi melarat pada umumnya, itu bukan soal. Sekolah menurut mereka hanya dimiliki oleh mereka yang punya hidup. Dan Budi merasa hidup ini telah pergi bersama ayahnya ke liang lahat di dunia antah berantah.
Ibu sebagai tulang punggung keluarga, kini terbaring tak berdaya. Budi tak mengerti pekerjaan ibu sebenarnya. Mereka hanya mengetahui kalau kawasan Dolly tempat mereka dulu berasal kini telah di gusur. Dengan bermodal sebuah tas besar penuh pakaian kembali merantau di kota Kendari yang katanya mulai berkembang.
Kawasan seperti Dolly memang tidak ada. Namun tempat mirip seperti itu sedang menjamur di daerah ini. Sebagaimana kota-kota berkembang lainnya. Budi tak tahu-menahu tentang ini semua. Ia hanya tahu mereka menempati kos berukuran 3x4 meter persegi. Dan ibu bekerja di 9**(sensor) tepat berada di pusat kota.
***
Kaki kecil itu terus berjalan tanpa arah. Tanpa tujuan. Di otaknya yang kecil hanya berpikir sederhana. Segepok uang buat ibu. Yang lain tidak.
Hingga tibalah ia diperempatan. Di mana lampu hijau kuning dan merah bertukar panasnya mentari.
"Budi? Kamu Budi kan?"
Terdengar suara parau bagai angin purba meniup di antara lalu lintas jalan.
"Kakek?!" seketika suara Budi menghentakkan bumi. Perasaan senang sekaligus kaget memenuhi puncak ubun-ubunnya, kini mulai memerah gerah.
Tampak di sudut itu duduk seorang tua dengan agungnya bak seorang pertapa. Rambut panjang hitam dengan lembar-lembar putih penuhi kepalanya. Kerutan alami di wajahnya bagai ukiran di candi-candi, menatapnya bergeming. Hanya senyum dengan gigi hitam itu membuat Budi selalu terpesona. Wajah angker sekaligus menyejukkan.
Berlembar-lembar kitab di tangan seperti orang suci baru turun dari gua ribuan tahun. Membuat Budi seolah mendapat pencerahan. Inilah malaikat, pikir Budi dalam hati.
"Kakek, sedang apa? Ini Koran? Tisu--Kaki?" Budi bertanya dalam bingung.
"Iya Kakek, menjual koran. Dan kamu? Jam segini? Tidak sekolah? Ibu kamu, Sri?" si kakek hanya menjelaskan sekedarnya tanpa mempedulikan kakinya yang buntung dan kembali bertanya pula.
"...."
Budi terdiam. Ingin rasanya menumpahkan segala sedih di dada. Namun situasi tak mengijinkan. Dan Ia tahu kehidupan sudah banyak mengajarkan untuk tidak terlalu cengeng pada ini semua.
"Tidak sekolah lagi, Kek," suara berikutnya membuat lidah Budi keluh, "dan Ibu ... Sri ada di rumah."
Hanya itu kalimat terucap. Namun mata Budi bercerita banyak kepedihan. Dan kakek dapat sinyal itu. Didekapnya sang cucu penuh syukur. Bagai darah terpercik kini kembali ke dalam aliran nadinya yang rapuh.
Semua punya masalah. Termasuk kakek ini. Meski berkaki buntung namun hidup harus terus berjalan. Jika mau makan harus kerja. Dan di sinilah ia bekerja sebagai penjual koran.
Kehidupan benar-benar telah menjadi misteri bagi sang kakek dan si cucu. Lalu kehidupan pula mempertemukan mereka. Bagai dua buah aliran sungai yang bertemu di lautan. Dan ke sanalah nasib bermuara.
Sejak kedatangan Budi dan keluarga ke Kendari. Baru kali ini ia bertemu ayah dari ibunya itu. Program transmigrasi membuat ia hijrah ke daerah ini. Namun sebuah kecelakaan membuat ia lumpuh. Sebelah kaki sudah hilang. Hanya sebatang kayu sebagai penyangga.
Keharuan itu terbingkai dalam alunan kendaraan yang kadang berhenti kadang bergerak lancar. Air mata kebahagiaan akhirnya terbagi pula oleh debu jalanan. Di sinilah semua terurai. Segala cerita kepedihan seolah-olah terbebas di dasar hati. Meski itu tidak mengubah kenyataan. Ibu tetap saja sakit.
***
"Ayolah, anak manis. Singkirkan wajah sedih itu." Suara malaikat dalam titisan sang dewa kembali mengagetkan Budi.
"Kakek, ini masih kurang. Hanya dua puluh delapan ribu lima ratus lima puluh rupiah di sini."
Sambil menunjukkan tangan berisi uang, ia mengeluh kecewa.
"Dasar anak-anak. Seberapa pun uang yang kau kumpulkan dari tisu-tisu itu, kau tidak akan mampu. Kau tahu?"
Kalimat itu cukup membuat Budi terbengong sendiri.
"Lalu? Saya harus bagaimana?"
"Ingat, Kakek, bukan orang tua miskin seperti pikiran picikmu itu. Sebidang sawah dan sepetak tanah di daerah trans cukup kiranya."
"Malaikatku," batin Budi berbisik lirih.
Ribuan kalimat syukur tak mampu menandingi kata yang telah lama hilang dalam dadanya. Dan kata itu adalah-bahagia.
***
Rumah sakit. Halaman ramai seperti biasa. Orang-orang berlalu lalang. Tembok putih dan juga kamar-kamar pasien. Semua tampak begitu membahagiakan. Entah mengapa Budi merasakannya kali ini. Ia berlari di sepanjang selasar. Ia tahu Sri ada di sana. Dan kabar bahagia ini pasti membuat Sri senang.
Mengapa tidak. Kejutan berturut-turut akan ia sampaikan pada Sri, tentang biaya pengobatan, kakeknya yang tiba-tiba datang bagai malaikat. Kejutan. Ya, dua buah kejutan sekaligus. Setidaknya itulah pikiran Budi.
Nampak pak RT dan beberapa tetangga sedang berbincang di sana. Lalu Sri keluar dari kamar itu. Seketika tatapan kakak beradik itu saling beradu.
"Sri ... Kakek, saya, uang, itu...," hanya itu yang keluar dari mulut Budi. Kebahagiaan begitu sampai puncaknya, tak ada kata yang dapat merangkaikan semua kata dalam hatinya.
Dan sebuah dekapan erat begitu mencekik. Sekejap kemudian Sri sudah menangis di bahu adiknya.
Budi terdiam.
Semenit kemudian tubuh ibunya telah berada di dalam mobil ambulans.
Menunggu dalam diam.
TAMAT.
IBNU NAFISAH
Kendari, 27 Februari 2017
Komentar
Posting Komentar