PENJEBAKAN
'Sayangku, sebelum kujawab suratmu yang kemarin dan mengatakan kabarku saat ini, ada baiknya engkau membaca ceritaku kali ini. Setelah itu barulah dengan bijak engkau menilai aku-suamimu ini-seperti apa sekarang. Mungkin itu juga akan menjawab kabarku saat ini.'
***
Begitulah paragraf pembuka sebuah surat yang sempat kubaca suatu ketika. Saat itu aku sedang duduk suntuk sendiri pada sebuah pos jaga, tanggal 28 Maret 2017. Ditemani dua buah cangkir besar bertelinga putih, di dalamnya terlihat kopi-susu berwarna cokelat. Saat itu hari raya Nyepi dan suasana begitu sepi. Kendaraan di jalanan meski ada beberapa, namun hanya menunjukkan wajah-wajah di dalamnya yang akan berlibur bukan untuk bekerja. Tanpa mereka berbicara sedikit pun, suasana saat itu seakan-akan meneriakkan kata 'hari libur' begitu nyaring dalam diam.
Dalam pikiranku, ini hanya sepucuk surat biasa, sebuah surat seseorang kepada istrinya. Sehingga ada keengganan untuk melanjutkan ke paragraf selanjutnya. Tapi setelah lelah menunggu di pagi hari yang membosankan, akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan membacanya. Meski itu sebagai pelarian saja dari hari yang suntuk ini. Dan sedikit memberi penyangkalan pada diri sendiri bahwa tidak mengapa membaca surat orang yang orangnya sendiri tidak jelas di mana dan lagi pula, 'surat ini sudah akan dibuang,' pikirku. Karena dari amplop dan isinya nampak begitu kusut. Jadi tidak masalah membaca surat tersebut.
Maka, mata yang bosan itu kembali mengeja kata perkata dalam tiap hurufnya.
***
'Seperti yang engkau ketahui sayang, bagaimana pekerjaan dan karakterku sebelumnya. Kini aku kembali merenungkan kata-katamu tempo hari. Dan itu membuatku semakin rindu dan sayang padamu. Karena ternyata hanya kamulah satu-satunya orang yang mengerti dan sayang padaku. Sehingga engkau pula yang bisa mengingatkan aku saat itu. Tapi semua sudah terjadi. Tinggallah aku dengan segala hasil dari keputusan atas diriku ini.
'Saat itu hari yang buruk dan beberapa bulan sebelumnya merupakan bulan yang sepi. Tidak ada pelaku kejahatan di depan hidung yang bisa ku-endus, kutangkap dengan senyum bangga. Atau bisa kupamerkan kepada atasan yang berujung pujian. Serta laporan bulanan pun terpenuhi sebagai jawaban dari kata 'bekerja' yang tentunya sudah dianggarkan dari DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran). Bulan-bulan itu begitu sepi-sunyi. Apakah mereka-para biang kejahatan itu-mulai lihai bagai tikus kota yang pandai membaca situasi, atau aku telah menjadi kucing ompong karena telah berumur, segala indera penciuman menjadi terbatas.
'Terlepas dari itu semua, suatu ketika datang seorang teman lama yang mengenal aku sebagaimana dirimu, tapi bedanya ia tidak mencintaiku sedalam engkau mencintaiku. Dari sini, cobalah menerka sifat orang tersebut. Karena aku sendiri bingung harus memasukkan ia pada kriteria apa? Jenius, pandai, luar biasa atau ... licik? Demi Tuhan aku tak bisa membedakan keempat kata itu saat ini. Mungkin engkau akan tahu orang macam apa ia ini.
'Seperti yang kukatakan padamu aku sedang kosong. Jadi hari berlalu begitu lama, jam-jam santai begitu memuakkan. Tak ada apa-apa yang bisa dikerjakan. Jadi, menunggu merupakan perkejaan yang sangat melelahkan. Saat itulah, Roy, datang dengan keceriaan sebagaimana biasanya.
'"Suntuk sekali kau rupanya," tegurnya sambil mencari-cari kursi yang nyaman dihadapanku, "Lagi santai kau, ya?"
'"Oh, Pak Roy, seperti yang terlihat. Hari yang panjang buat seorang lelaki agresif," balasku sambil menunjukkan kursi yang tepat buatnya di seberang meja. Namun, dengan santai ia menarik sedekat mungkin dengan kursiku dan meletakkan tas cokelat di atas meja di hadapannya, sehingga kami duduk bersebelahan sebagaimana dua sahabat lama yang saling merindu dan melepas lelah dari permainan dunia.
'"Hari yang sepi, masyarakat kini damai, situasi tenteram dan tertib. Sepertinya petugas seperti kami ini ada baiknya juga berlibur. Mengunjungi anak-istri di seberang sana untuk beberapa waktu. Tapi, itu tidak terjadi, seperti yang Anda lihat, kawan, aku di sini duduk-duduk dengan bosannya, hahahaha ...." Kataku padanya saat itu, dan dia pun tersenyum dan tertawa sebagaimana aku menikmati hari itu.
'"Bagaimana kabar bisnis akhir-akhir ini? Nampaknya situasi yang tenang ini gejolak ekonomi pun semakin membaik. Atau persaingan menuntut waktu yang tak biasa sehingga baru kali ini bisa mampir kemari." Ucapku santai seperti biasa padanya.
'"Setengahnya itu sangat benar dan setengah tidak begitu," kali ini wajahnya mencoba bermain teka-teki dan dibuatnya aku mengerutkan dahi.
'"Maksudnya, bagaimana?" kejarku pada pernyataan yang menggantung itu.
'"Seperti yang terdengar, bisnis dalam keadaan baik. Tapi, kehidupan selalu saja tidak semulus sebagimana mestinya. Ada beberapa hal yang membuatku kadang tak habis pikir dibuatnya."
Sedikit jeda di sana seakan meminta ijin padaku dan aku mengangguk dan berucap, "Silahkan, aku punya waktu untuk mendengarkannya," sambil mencoba menerka-nerka kabar baru apa lagi yang ia ingin sampaikan padaku.
'Dengan santai ia katakan sebuah cerita ini padaku; "Sebagaimana yang kau ketahui, aku adalah pengusaha yang selalu bepergian ke mana-mana dan memiliki usaha di mana-mana. Sebagai orang yang sering berpindah tempat, banyak sekali wanita yang sering datang dan pergi di kehidupanku. Namun kali ini sungguh berbeda. Ia seorang yang telah bersuami dan memiliki anak."
'"Wah, itu sungguh buruk kurasa," balasku seketika, "Itu tidak benar, jika sekedar ingin meminta pendapat, aku sarankan untuk mencari wanita yang lain. Banyak wanita seperti itu, kawan, tinggal bayar dan melanjutkan kembali perjalanan ke daerah lain tanpa masalah."
'Begitulah kusarankan padanya, tapi cintanya sudah seperti lebah pada mawar, atau pada hujan pada tanah. Tak terpisahkan. Sebagaimana ia katakan padaku, "Inilah cinta pertamaku, dari sekian cinta yang pernah kujalani. Dan seperti yang kau katakan kawan, itu tidak benar. Jadi aku dilema. Tapi, hahahaha .... Sudahlah itu soal lain. Kau tahukan aku seorang pengusaha, apa pun bisa diusahakan. Hahahaha ...." Tawanya kembali menggema dan aku pun ikut terbawa suasana hatinya.
'"Tapi yang satu ini sungguh membuatku kepikiran." Katanya lagi, "Sebuah kasus aneh hingga sekarang tak bisa tidak untuk tidak dipikirkan. Ada seorang supir taksi yang kini ditangkap oleh petugas dengan dalih bandar sabu. Bukti berupa paket sabu di tangan dan ia tak bisa menghindar, lalu operasi tangkap tangan pun terjadi."
'Aku hanya tersenyum saat mendengar cerita yang berikutnya itu. Lalu aku katakan, "Yang membuatmu kepikiran di bagian mana? Bukti serta pelaku sudah ada, apa yang salah?" tanyaku balik sekadar menguji seberapa dalam informasi yang ia peroleh.
'"Memang betul demikian, tapi sang supir tidak mengetahui isi paket, ia hanya membantu seorang penumpang yang karena sakit minta diantar ke rumah sakit. Lalu memberi sebuah alamat yang dituju paket itu kepada supirnya. Bukankah ini aneh? Seseorang yang tidak tahu apa-apa jadi tersangka penjual narkoba?"
'"Apa yang tidak mungkin di jaman ini, Kawan? Segalanya bisa saja terjadi. Seorang mahasiswi, ibu rumah tangga, atau bahkan anak-anak sudah menjadi hal biasa dalam kedok kasus narkoba. Apa lagi barang yang nyata seperti itu!" ucapku padanya yang hanya dibalas dengan bibir mengkerut sambil menggoyangkan kepalanya yang licin mengkilap. Seketika aku teringat pada tokoh dalam novel, Hercule Poirot, berkepala botak dan berbentuk bulat telur. Dalam sel-sel kelabunya menguraikan sesuatu. Tapi, aku tak tahu apa isi kepala itu.'
'"Bagaimana kalau dia di sana sebagai korban? Bukankah itu juga sudah biasa di jaman sekarang mengecoh seseorang agar tampak bersalah itu cukup mudah, 'kan?" kalimatnya kali ini terdengar cukup percaya diri dengan bola mata bersinar saat mengatakan kata 'mengecoh'.
'"Ok baiklah kita sepakat dia dikecoh, atau lebih tepatnya dijebak oleh seseorang. Tapi apakah ada bukti yang mendukung pernyataan tersebut?" kulihat ia menggeleng pelan, "Ok, tidak ada bukti dia dijebak, lalu siapa yang akan dia curigai sebagai penjebak tersebut? Orang yang menyuruh tentunya, tetapi dapatkah dia tunjukkan orang itu?" kembali kutanyakan sebuah pertanyaan dan Roy tetap memutar lehernya ke kiri lalu ke kanan secara perlahan dan masih menatapku penuh percaya diri.
"Oh, ayolah kawan! Hentikan perkara itu dan terimalah kenyataan bahwa hidup sedang berproses. Kadang kenyataan tidak pernah sesuai dengan harapan kita. Tapi, begitulah akhirnya mau tidak mau semua terus berjalan tanpa pernah sesuai dengan kata hati," jelasku, namun bola matanya masih mencari jalan di kepalanya.
'"Ok, baiklah begini," katanya seakan mengubah situasi di kepalanya, "Supir itu mengatakan ia beberapa kali memang telah mengantar paket dengan orang yang berbeda. Tapi sialnya hari itu ia sangat curiga pada penitip paket dan dia yakin ini sudah direncanakan sejak awal. Akhirnya seperti yang kau tahu ia terjebak dengan paket itu. Dan ia yakin mengenal kedua orang itu-pengirim dan penangkap-mereka memiliki ciri-ciri yang hampir sama, tapi secara keseluruhan dari tampilan luar mereka sangat jauh berbeda. Bagaimana menurutmu soal itu?"
'"Jadi, maksudmu, ia dijebak oleh seorang oknum dari pihak keamanan? Begitu?" dahiku sedikit berkerut saat itu dan ada senyuman puas di wajahnya
'"Yah, begitulah menurut si supir. Dan seperti yang kau katakan tak ada bukti di antara kedua orang itu, dan itu hanya prasangkanya saja. Tapi, ia yakin seratus persen. Apakah menurutmu ini bukannya tidak mungkin, Kawan?" Roy kembali bertanya seakan dewa kemenangan ada dipihaknya.
'Saat itu tak ada yang mampu kukatakan padanya, dan aku hanya mengangkat tangan tanda menyerah, tak ingin membantah kata-katanya. Lalu kukatakan, "Kalau masalah itu saya tidak bisa bicara apa-apa, Kawan. Masalahnya ini tak segampang cerita di atas meja. Ini kejadian di lapangan dan kita tak berada di sana," hanya itu kalimat yang bisa kukatakan dan ia kembali menggoyangkan kepala bulat telurnya yang mengkilap, apa itu tanda bahwa ia mengerti atau yang lainnya aku tak tahu.
'Setelah beberapa saat berbasa-basi, akhirnya kawan kita itu minta diri dan keluar ruangan. Sudah begitulah seorang pebisnis datang dan pergi tanpa pernah kita kira, pikirku.
'Setelah belakang ekornya telah menghilang sekejap hatiku kembali tenang. Dan kesenangan menyelimuti jiwaku, aku tersenyum sendiri saat itu. Dalam kemenangan kuberucap pada diri sendiri, "Maaf kawan, aku tak bisa mengatakan semuanya padamu apa lagi mengakui itu adalah kelakuan yang telah sering kulakukan. Aku tak tahu bagaimana jadinya jika ia tahu akulah yang melakukan penjebakan sialan itu. Kalau ia tahu aku pastikan kepalanya bertambah mengkilap karena keringat, ha-ha-ha ...." Tawaku penuh kemenangan memenuhi seluruh penjuru ruangan.
'Begitulah sayang, tak ada yang mampu kukatakan padanya, apa lagi mengakui itu di hadapannya, bahwa itu adalah kelakuan yang telah sering kulakukan. Jika suasana sepi seperti ini, para bajingan itu bermain cantik dan laporan kejahatan membutuhkan tumbal segera. Jalan terbaik sementara ya, mencari kaki tangan mereka dan menjebaknya. Seperti yang engkau katakan sayang, karakter inilah yang tak baik dariku, aku tahu engkau benar. Tapi saat itu aku tak pernah peduli padamu. Hingga aku sadari saat itu sudah terlambat.
'Tiba-tiba bayangnya memasuki ruangan sepi itu, "Maaf sekali lagi, betapa pikunnya kawanmu ini hingga melupakan tas kecil ini," katanya sambil mengambil tas cokelat yang aku sendiri tak pernah menyadari keberadaannya di sana. Aku tersenyum, dan berkata, "Itu sudah biasa terjadi." Kemudian menghilang lagi sebagaimana ia masuk tadi.
'Sampai di situ, aku aman. Namun, beberapa jam kemudian situasi berubah. Waktu begitu cepat berubah sayang. Hingga membuat aku tak bisa berpikir jelas lagi. Sebab, sebuah bukti telah ia dapatkan dari sebuah rekaman siang ini. Yang ia letakkan di dalam tas cokelat itu. Dan aku mengakui segalanya di sana. Akhirnya engkau benar sayang, aku kini mendapatkan buah dari pohon yang aku tanam. Si supir keluar dengan bebas dan aku mendapat tindakan disiplin, hampir terjadi pemecatan yang tak pernah aku inginkan.
'Sampai di sini dulu surat ini, maaf kepanjangan, semoga ini mengobati rasa rindumu padaku. Dan mungkin juga itu menjawab kabar terakhir yang ingin engkau dengar dariku. Peluk cium buat anak kita di sana. Sayangmu, Rabinka Tagor.'
***
Surat itu kembali kugenggam di telapak tangan. Aku tak tahu mengapa nama saya ada di surat itu. Rasa kebencian seketika menghantui. Namun, tidak ada alasan untuk marah pada surat-surat tersebut.
"Ah, Pak Rabin, mengapa setiap saat mesti bapak membaca surat-surat itu?" sebuah suara kini datang menghampiri, "Pak Rabin, sudahlah singkirkan surat-surat itu. Dengan membacanya istri bapak tidak akan kembali lagi. Lelaki yang bernama Roy itu memang biadab, beraninya merebut istri orang, apa lagi dia istri sahabatnya sendiri!" sambil membereskan kertas-kertas itu dan membuangnya di tempat sampah, ia duduk di sampingku. Menatap kendaraan di jalanan yang kini hanya terlihat satu-satu di sana.
Dalam diam aku berusaha mengingat kembali kepedihan yang lama terkubur. Mencoba menghadirkan kenangan itu tetapi, hanya sesak di dada yang membuat mata menjadi pedih. Dan dunia terus berjalan, dengan kenyataan yang harus bisa diterima.
Selebihnya kami hanya duduk berdua dalam diam. Berjaga.
TAMAT.
IBNU NAFISAH
Kendari, 29 Maret 2017
Komentar
Posting Komentar