Langsung ke konten utama

HAMIL

HAMIL

"Hamil?"

Begitulah kata pertama yang sempat terucap oleh seorang ibu pemilik kos-kosan.

Pagi hari itu anak-anak kos yang kesemuanya remaja putri kembali heboh. Mereka dikagetkan oleh suara Riwi yang membahana di seluruh jagad raya rumah tersebut.

"Hooeek ... hooeek ...!"

Suara muntah dari kamar mandi seketika menggema ke mana-mana. Dan menghasilkan bisik-bisik. Jangan-jangan, jangan-jangan? Hingga induk semangnya yang berada tak jauh dari rumah kos-kosan itu mengangkat satu tema gelap di kepalanya. Hamil?

Bagaimana Ibu Derajat, si induk semang, tidak berpendapat demikian. Kelakuan anak kosnya yang satu ini memang membuat orang jengkel sekaligus iri. Sebagai wanita muda, Riwi terkenal pembangkang. Tidak pernah mengikuti tata tertib di rumah bersama itu. Dan dandanannya terkadang membuat para lelaki menarik napas jika berpapasan dengannya.

Pak Derajat, sebagai bapak kos, memang sudah meminta istrinya untuk mengusir Riwi sejak beberapa minggu terakhir ini. Karena takut pandangan orang. Namun sang istri bersikeras bertahan dengan alasan belum ada argumen yang tepat. Apa lagi orang tua Riwi sudah menitipkan anak semata wayangnya tersebut kepada Bu Derajat, hingga tak tega mengusirnya begitu saja.  Meskipun ia sendiri kadang malu dengan komentar orang sekitar.

"Waduh, Bu ... Bu, apa tidak punya celana panjang apa, kok celana pendek gitu dipake keluar rumah," bisik penjual sayur ketika si Riwi dengan cueknya memakai kutang dan celana gemas mengendarai sepeda motornya. Sementara mata sewot Bu Derajat hanya melotot marah pada jakun si penjual sayur yang naik turun karena menelan ludah.

Dan pagi ini Riwi yang menjadi buah bibir itu telah membuat Bu Derajat naik pitam. Mengapa tidak, asrama putri yang dikelola selama sepuluh tahun kini tercoreng citranya. 'Kos Mesum' orang akan berpikir demikian nantinya.

Dengan amarah yang membara sang Induk semang mendatangi sang anak kos. Hanya memakai daster dan gulungan rambut yang sebagian hampir jatuh ia melabrak kamar Riwi.

"Jadi siapa bapak anak ini!"

Bagai disambar halilintar, Riwi hanya terdiam dengan linangan air mata. Tidak ada suara muntah lagi atau jeritan kepedihan. Wajah cantiknya kini pucat. Tubuh seksinya tertutup selimut tebal di ranjang.

"Jika kamu tidak bisa membawa laki-laki itu kemari, keluar dari tempat ini!"  hardik sang pemilik rumah.

"Siapaaa ...?" sekali lagi teriakan kemarahan yang membahana bagai nyala api.

Dengan cegukkan yang tertahan Riwi menguatkan dirinya menyebut sebuah nama ....

"De ... ra ... jat ...!"

IBNU NAFISAH
Kendari, 21 Maret 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#15

Aku mendengar alunan lagu seruling bambu Suaranya merdupilu Ingatan akan kampung halaman serasa nyata Namun tak tergapai Sangat dekat ditelinga namun tak terasa Begitu bergetar didada namun hampa belaka Oo siapakah gerangan Dikau Yang bagai angin surgawi bermain dalam alunan jiwa Yang datang dan pergi menisik alunan indahnya Nadanada merdu itu kini bangkitkan cintaku Kadang resah tak beralasan Jua rindu yang tak terbendung Oo siapakah gerangan Dikau Kurasa Engkau pemilik Cinta dalam merdunya alunan lagu Memanggilku kembali ke rimba CintaNya Namun kita takkan bersama dalam dunia yang berbeda Karena aku hanyalah seruling bambu Yang kan selalu mencari dalam diriku alunan merdu cintaMu Dalam tiaptiap bait sabdaMu (#15, 09 April 2014)

#19

Jika Rumi mengatakan "Kita hanyalah seruling bambu yang bercerai dari rumpunNya" Maka aku berkata" aku hanyalah sebilah bambu yang tak berlubang" Yang tak berbunyi saat angin melaluinya Yang meski mendengar lagu namun tak mampu menari ke khadiratNya, walau itu nyanyian surgawi Tak mampu memainkan melodi indahNya, meski penciptaNya menulisnya dengan tinta emas Namun jika aku sebilah bambu yang ingin kembali ke rumpunNya, yah itulah aku meski kadang menari dan bernyanyi cuman dalam pikiran melalui selentingan gerakan sahaja agar bisa kembali kerumpun amalannNya. (#19, 17 April 2014)

Kebersihan Sebagian Dari Iman?

Hari lebaran telah tiba, semua bersuka cita menyambutnya. Ketika matahari belum benar-benar naik di langit ketika itu umat muslim memadati daerah yang telah ditentukan untuk melaksanakan shalat ied. Jalan-jalan lenggang, hanya dipadati pejalan kaki dan sesekali mobil dan motor pribadi. Saf-Saf dibuat ditempat tertentu, di sekitar mesjid, tanah lapang bahkan Jalan-jalan protokol yang dikhususkan sebagai tempat salat. Saf-Saf tersebut seketika saja merubah wajah jalan atau tanah lapang menjadi garis garis sejajar menghadap mimbar dadakan yang tiba-tiba berdiri secara ajaib sudah ada sejak malam atau subuh hari di hari yang fitri ini. Kaki-kaki penuh kebahagiaan pun berjalan menuju Saf-Saf yang bermimbar ajaib, mengisi deretan panjang yang telah disediakan. Ketika mentari mulai bersinar terang salat pun berlalu di akhiri khotbah dari para pengkhotbah yang entah berapa lembar kertas yang telah disediakan guna mengisi acara sesi terakhir dari salat ied tersebut. Dan matahari yang mula...