Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2017

EMILY

EMILY "Emily...!" Suara Jaka memenuhi ruangan kantor berlantai dua di pusat kota Kendari. Matanya terpanah pada kaca jendela bening yang tembus langsung ke jalan raya. Jalan itu tepat membagi dua jantung kota. Dengan jalur lalu lintas yang padat di jam-jam sibuk siang hari itu. "Emily... Emily...," kali ini badannya yang separuh keluar jendela condong ke depan. Dan sebagian lagi masih berada di dalam gedung. Suara Jaka masih menggema hingga ke luar jalanan. Gaungnya menembus kepadatan rimba raya kota Madya. Siang itu dipenuhi oleh musim panas yang tak tentu di bulan Februari. Hingga suaranya terpantul bagai angin kering memekakkan telinga. Seketika karyawan lain terperanjat. Mencari asal suara yang kini mulai mengganggu. Di sana Jaka sudah menaiki jendela rendah. Lalu meletakkan kedua kakinya di atas teras tambahkan. Teras ini tentu tak diperuntukkan untuk orang umum, hanya digunakan sekali-kali oleh Office Boy sebagai tempat memasang lampu atau etalase iklan d...

SALAH KARTINI?!

SALAH KARTINI!? . "Ini pasti salah Kartini!" Umpat mas Pram ketika membaca koran lokal di tangannya. Sambil menunjuk-nunjuk gemas ke arah huruf bercetak tebal di sana. "GONJANG-GANJING RUMAH TANGGA ARTIS ..." Menjadi kalimat pembuka di halaman pertama disarapan paginya. Mas Pram yang biasa dipanggil demikian kali ini tampak serius. Membaca kalimat-kalimat yang dipoles oleh kuli tinta tersebut. Sebentar kemudian diteguknya secangkir kopi pahit. Lalu mencomot gorengan tempe di atas piring kecil. "Benarkan, ini pasti salah si Kartini itu," lagi-lagi kalimat itu keluar seirama deretan huruf di surat kabar yang kini sudah beralih ke halaman belakang. "Loh, Kartini sopo Mas?" Kali ini Sri si penjajah makanan yang sedari tadi terdiam mulai penasaran dengan si Kartini yang disebut-sebut oleh mas Pram. Tapi yang ditanya hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan bola mata masih terpaku di lembaran kertas berhuruf kecil-kecil itu. "Dasar, Kar...