EMILY "Emily...!" Suara Jaka memenuhi ruangan kantor berlantai dua di pusat kota Kendari. Matanya terpanah pada kaca jendela bening yang tembus langsung ke jalan raya. Jalan itu tepat membagi dua jantung kota. Dengan jalur lalu lintas yang padat di jam-jam sibuk siang hari itu. "Emily... Emily...," kali ini badannya yang separuh keluar jendela condong ke depan. Dan sebagian lagi masih berada di dalam gedung. Suara Jaka masih menggema hingga ke luar jalanan. Gaungnya menembus kepadatan rimba raya kota Madya. Siang itu dipenuhi oleh musim panas yang tak tentu di bulan Februari. Hingga suaranya terpantul bagai angin kering memekakkan telinga. Seketika karyawan lain terperanjat. Mencari asal suara yang kini mulai mengganggu. Di sana Jaka sudah menaiki jendela rendah. Lalu meletakkan kedua kakinya di atas teras tambahkan. Teras ini tentu tak diperuntukkan untuk orang umum, hanya digunakan sekali-kali oleh Office Boy sebagai tempat memasang lampu atau etalase iklan d...