Langsung ke konten utama

SALAH KARTINI?!

SALAH KARTINI!?

.

"Ini pasti salah Kartini!"

Umpat mas Pram ketika membaca koran lokal di tangannya. Sambil menunjuk-nunjuk gemas ke arah huruf bercetak tebal di sana.

"GONJANG-GANJING RUMAH TANGGA ARTIS ..."

Menjadi kalimat pembuka di halaman pertama disarapan paginya. Mas Pram yang biasa dipanggil demikian kali ini tampak serius. Membaca kalimat-kalimat yang dipoles oleh kuli tinta tersebut.

Sebentar kemudian diteguknya secangkir kopi pahit. Lalu mencomot gorengan tempe di atas piring kecil.

"Benarkan, ini pasti salah si Kartini itu," lagi-lagi kalimat itu keluar seirama deretan huruf di surat kabar yang kini sudah beralih ke halaman belakang.

"Loh, Kartini sopo Mas?"

Kali ini Sri si penjajah makanan yang sedari tadi terdiam mulai penasaran dengan si Kartini yang disebut-sebut oleh mas Pram.

Tapi yang ditanya hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan bola mata masih terpaku di lembaran kertas berhuruf kecil-kecil itu.

"Dasar, Kartini .., Kartiniii .., maksud kamu baik, tapi begini ini jadinya!"

Bukannya menjawab pertanyaan Sri, mas Pram hanya bergumam kecil. Seolah makin serius dengan pikirannya sendiri. Sri semakin dibuat penasaran. Dan kali ini keki berat. Ia tidak digubris.

"Ceweknya mas Pram ya!?"

Wajah cemberut Sri nampak keras dari seberang meja jualannya. Bibirnya seketika dikerucutkan ke depan. Menanti ekspresi balik dari yang ditanya. Namun, sama sekali tidak berpengaruh. Wajah mas Pram tampak berkerut seperti semula. Menyatakan ia tidak merespon atau tidak tahu-menahu atas apa yang sedang dialami Sri.

Darah Sri yang tadinya hangat-hangat kuku kini meningkat suhunya. Sebentar lagi titik didih akan mendekati seratus derajat celsius.

Dalam hitungan detik saja suhu di warung Sri Astuti itu kini berada di atas ambang batas normal. Langkah kaki yang bergegas, napas yang tertahan, dengan denyut jantung yang tak terkendali kini sudah berada di depan target. Sri siap menggebrak.

"Praaak ..."

Mas Pram sontak berlonjak di kursi kayunya. Kaget. Surat kabar yang sedang asyik dibacanya kini telah kusut di tangan Sri. Sementara tangannya sendiri hanya memegang udara kosong.

Wajah bingung campur kaget bertemu dengan wajah cemburu bercampur sangar.

"..."

Sri masih menatap sadis.

"..."

Mas Pram melotot sengit.

"Sopo itu, Kartini-Kartinian, hah?"

"..."

Mas Pram masih bingung. Mengingat kembali semua kesalahan yang pernah ia lakukan. Tapi tidak berhasil. Dunia masih berbunyi "tiiittt ..," di dalam kepalanya yang beku.

Lalu Sri mengangkat tinggi-tinggi kertas di tangannya dan menunjuknya dengan tidak sabaran. Seketika suara tawa khas mas Pram bergema riang.

"Hahahaha ..."

Kali ini Sri dibuat bingung dan semakin penasaran.

"Ih, dasar lelaki hidung belang!"

Batin Sri memprotes.

"Oh, Kartini!"

"Oh, Kartini," ulang Sri dengan suara yang dibuat-buat, "iyo, jawab, Kartini itu sopo?"

"Yaa, Kartini itu lo Sri, ..!"

"Iyo sopo?"

Gulungan kertas yang telah diremas kini berubah fungsi menjadi alat pemukul. Bersiap-siap di atas udara. Posisi siap menyerang, meski itu lalat sekalipun.

"Nganue, Kartini itu ..,"

"Praaak!"

Kali ini bunyi kertas gulung yang menampar bahu kiri.

"Iya Kartini sopo?"

"Kartiniii ..," suara mas Pram menahan laju pukulan yang kedua, "itu loh, habis gelap terbitlah terang."

Dengan buru-buru ia tambahkan lanjutan kalimat yang sempat teringat di kepalanya.

Sri agak ragu. Campuran antara bingung dengan curiga. Bingungnya apa hubungan koran dengan Kartini? Atau apa ini sekadar siasat licik mas Pram? Pikirannya sekarang butuh penjelasan. Jika memang alasannya masuk akal berarti memang benar itu suatu kebingungan yang harus dijelaskan. Tapi jika terbukti penjelasannya mengada-ada, berarti pendapat kedua lebih masuk akal. Ada sesuatu dengan si Kartini ini.

"Ini loh," sambil meraih gulungan kertas yang kini sudah terpilin kusut di tangan Sri.

"Kamu baca ini," ditunjuknya judul besar di halaman depan itu setelah berhasil menyetrikanya dengan kedua belah tangannya.

"Lantas!?"

Masih tampak bingung dan waspada, Sri berucap ketus.

"Hee," semburat senyum kembali terukir di wajah mas Pram, mencari kalimat sederhana di otaknya.

"Kamu baca toh, artis-artis jaman sekarang sudah pada ribut masalah perceraian ..."

"Trus ..,"

"Bukan cuman artis, siapapun kini!"

" ..."

"Mau artis bukan artis, pns, karyawati, wanita karier, siapapun yang namanya wanita itu sekarang sudah berani minta cerai."

"Lah, kalau suaminya mata keranjang kayak mas Pram, pantas wanita-wanita itu minta cerai," wajah cemberut sudah mulai berkurang namun Sri masih waspada.

"Bukan masalah lelakinya yang mas mau bahas tapi soal si Kartini ini loh."

"Wanita jaman sekarang mudah berkata cerai karena salah kaprah dengan isu gender yang dibawa oleh Kartini itu."

"Para wanita berlomba-lomba mengejar pendidikan, wes, nga popo, jadi wanita karier tiada masalah. Tapi, itu diluar rumah. Kalau sudah menyangkut keluarga, lah wanita itu ibu dari anak-anaknya, istri dari suami-suaminya. Kalau di dalam keluarga masih mau membicarakan kesamaan gender. Ini sudah salah. Lah wong kepala keluarganya sudah jelas, kok mau ikut-ikutan jadi kepala keluarga, piye to?!"

"Ujung-ujungnya, minta cerai, karena tanpa suami pun mereka bisa hidup dengan mandiri. Mau jadi single parents katanya. Bla ... Bla ... Bla .., dan seterusnya dan seterusnya."

Mas Pram berceloteh dengan semangat mengemukakan pendapatnya. Tapi Sri masih bingung.

"Lah, kok yang salah jadi si Kartini?" Sri malah balik tanya. Kali ini bertanya dari pikirannya yang memang belum bisa terima penjelasan mas Pram.

"Ya iya. Coba Kartini tidak mati muda, mungkin akan lahir isu penjelasan tentang gender itu, tapi karena diumur dua puluh lima tahun sudah meninggal, ya, jadinya seperti sekarang ini. Calon suami sendiri kok, malah, digebukin pakai kertas koran."

Kalimat terakhir itu terdengar hanya gumaman belaka dari bibir mas Pram. Dengan terus mengamati Sri sang gadis ayu yang mulai tenang.

Sementara itu, Sri, karena malas meladeni mas Pram dengan segala omongannya, akhirnya menyerah. Meninggalkan lirikan di ujung matanya yang tajam. Kemudian berlalu tanpa peduli dengan si Kartini itu lagi.

-TAMAT-

IBNU NAFISAH
Kendari, 09 Februari 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#15

Aku mendengar alunan lagu seruling bambu Suaranya merdupilu Ingatan akan kampung halaman serasa nyata Namun tak tergapai Sangat dekat ditelinga namun tak terasa Begitu bergetar didada namun hampa belaka Oo siapakah gerangan Dikau Yang bagai angin surgawi bermain dalam alunan jiwa Yang datang dan pergi menisik alunan indahnya Nadanada merdu itu kini bangkitkan cintaku Kadang resah tak beralasan Jua rindu yang tak terbendung Oo siapakah gerangan Dikau Kurasa Engkau pemilik Cinta dalam merdunya alunan lagu Memanggilku kembali ke rimba CintaNya Namun kita takkan bersama dalam dunia yang berbeda Karena aku hanyalah seruling bambu Yang kan selalu mencari dalam diriku alunan merdu cintaMu Dalam tiaptiap bait sabdaMu (#15, 09 April 2014)

#19

Jika Rumi mengatakan "Kita hanyalah seruling bambu yang bercerai dari rumpunNya" Maka aku berkata" aku hanyalah sebilah bambu yang tak berlubang" Yang tak berbunyi saat angin melaluinya Yang meski mendengar lagu namun tak mampu menari ke khadiratNya, walau itu nyanyian surgawi Tak mampu memainkan melodi indahNya, meski penciptaNya menulisnya dengan tinta emas Namun jika aku sebilah bambu yang ingin kembali ke rumpunNya, yah itulah aku meski kadang menari dan bernyanyi cuman dalam pikiran melalui selentingan gerakan sahaja agar bisa kembali kerumpun amalannNya. (#19, 17 April 2014)

Kebersihan Sebagian Dari Iman?

Hari lebaran telah tiba, semua bersuka cita menyambutnya. Ketika matahari belum benar-benar naik di langit ketika itu umat muslim memadati daerah yang telah ditentukan untuk melaksanakan shalat ied. Jalan-jalan lenggang, hanya dipadati pejalan kaki dan sesekali mobil dan motor pribadi. Saf-Saf dibuat ditempat tertentu, di sekitar mesjid, tanah lapang bahkan Jalan-jalan protokol yang dikhususkan sebagai tempat salat. Saf-Saf tersebut seketika saja merubah wajah jalan atau tanah lapang menjadi garis garis sejajar menghadap mimbar dadakan yang tiba-tiba berdiri secara ajaib sudah ada sejak malam atau subuh hari di hari yang fitri ini. Kaki-kaki penuh kebahagiaan pun berjalan menuju Saf-Saf yang bermimbar ajaib, mengisi deretan panjang yang telah disediakan. Ketika mentari mulai bersinar terang salat pun berlalu di akhiri khotbah dari para pengkhotbah yang entah berapa lembar kertas yang telah disediakan guna mengisi acara sesi terakhir dari salat ied tersebut. Dan matahari yang mula...