EMILY
"Emily...!"
Suara Jaka memenuhi ruangan kantor berlantai dua di pusat kota Kendari. Matanya terpanah pada kaca jendela bening yang tembus langsung ke jalan raya. Jalan itu tepat membagi dua jantung kota. Dengan jalur lalu lintas yang padat di jam-jam sibuk siang hari itu.
"Emily... Emily...," kali ini badannya yang separuh keluar jendela condong ke depan. Dan sebagian lagi masih berada di dalam gedung.
Suara Jaka masih menggema hingga ke luar jalanan. Gaungnya menembus kepadatan rimba raya kota Madya. Siang itu dipenuhi oleh musim panas yang tak tentu di bulan Februari. Hingga suaranya terpantul bagai angin kering memekakkan telinga.
Seketika karyawan lain terperanjat. Mencari asal suara yang kini mulai mengganggu. Di sana Jaka sudah menaiki jendela rendah. Lalu meletakkan kedua kakinya di atas teras tambahkan. Teras ini tentu tak diperuntukkan untuk orang umum, hanya digunakan sekali-kali oleh Office Boy sebagai tempat memasang lampu atau etalase iklan di kantor tersebut.
Semua mata terpana pada sosok lelaki jangkung di luar bangunan. Hampir semua karyawan swasta di gedung itu berhenti beraktivitas. Semua bertanya-tanya ada apa?
Sementara pria di luar sana tak menyadari kelakuannya kini sudah mengundang pemerhati yang tak sedikit. Sebab orang-orang yang berlalu lalang di bawah sana juga mulai menengok ke arah sumber suara. Sesosok lelaki yang setengah berdiri di atas teras gedung tingkat dua sebuah kantor swasta.
"Emilyyy... berhenti!"
Tangan Jaka mulai menjangkau udara kosong di bawahnya. Berusaha menghentikan seseorang yang bernama Emily? Entahlah semua mendengar seperti nama seorang wanita.
"Emily?"
Semua yang mendengar kata itu serta merta mengarahkan pandangannya ke jalur jalan dua arah yang ramai di bawah sana. Dan tak tampak seorang pun di sana yang diyakini sebagai Emily. Jalanan masih ramai dengan kendaraan pribadi, bus dan truk serta motor yang berebut badan jalan. Apakah ada Emily di salah satu kendaraan di sana? Entahlah.
Beberapa orang berinisiatif ikut turun ke teras yang sama dengan Jaka. Namun sebelum sampai di tempat Jaka berpijak kembali suara jeritan Jaka meraung sejadi-jadinya.
"Emily... tidaaak...!"
Diusapkannya kedua belah tangan yang basah oleh keringat ke wajahnya, seraya tak percaya akan sesuatu telah terjadi dengan sangat fatal. Wajahnya kaku. Tampak pucat dan menyesal. Seakan tubuh Jaka melemas seketika.
"Hei, kau...! tetaplah di sana jangan bergerak!" sebuah suara dari depan kaca di atas gedung tingkat dua.
Dari suaranya nampak cemas kalau-kalau Jaka akan melompat ke bawah gedung, tepat di jalanan yang padat merayap tersebut.
Dengan hati-hati dua orang pemuda mendekati. Jaka tetap bergeming lemas. Suaranya telah habis karena histeris. Dan tanpa penghalang yang berarti mereka telah berada di sisi Jaka. Memegang kedua bahu Jaka, agar ia tidak mengambil keputusan yang akan membuat semua orang menyesali tindakan konyol tersebut, jika itu terjadi.
"Hei, apa yang kau lakukan di sini?"
Tegur salah seorang yang ternyata cukup mengenal si Jaka.
Jaka tetap diam.
Tangannya yang berkeringat oleh peluh bergerak pelan menunjuk ke bawah. Kedua orang yang sangat penasaran itupun secara spontan menengok.
"...."
"Apa?"
"Itu, Emily!" balas Jaka tak acuh.
Kedua pemuda yang bingung saling pandang.
"Ah, sudahlah kalian tidak mengerti," suara itu berasal dari seorang Jaka yang tampak berbeda. Ia berkata seakan tidak terjadi apa-apa. Berbalik begitu saja dan berjalan pelan ke arah tempat ia keluar sebelumnya.
Sementara dua pemuda itu kembali saling pandang. Mempertemukan kedua alis gelap mereka dengan lipatan jidat yang semakin mengkerut.
Tanpa aba-aba Jaka sudah kembali ke gedung melalui kaca jendela berbibir rendah tersebut. Meninggalkan dua orang di luar sana.
Dengan rasa penasaran yang sama sekali lagi kedua pemuda itu kembali melihat ke arah bawah, di jalan sana. Dan seketika berteriak histeris.
"Emily ...!"
-TAMAT-
IBNU NAFISAH
Kendari, 09 Februari 2017
Komentar
Posting Komentar