Langsung ke konten utama

Kebersihan Sebagian Dari Iman?

Hari lebaran telah tiba, semua bersuka cita menyambutnya. Ketika matahari belum benar-benar naik di langit ketika itu umat muslim memadati daerah yang telah ditentukan untuk melaksanakan shalat ied.

Jalan-jalan lenggang, hanya dipadati pejalan kaki dan sesekali mobil dan motor pribadi.

Saf-Saf dibuat ditempat tertentu, di sekitar mesjid, tanah lapang bahkan Jalan-jalan protokol yang dikhususkan sebagai tempat salat.
Saf-Saf tersebut seketika saja merubah wajah jalan atau tanah lapang menjadi garis garis sejajar menghadap mimbar dadakan yang tiba-tiba berdiri secara ajaib sudah ada sejak malam atau subuh hari di hari yang fitri ini.

Kaki-kaki penuh kebahagiaan pun berjalan menuju Saf-Saf yang bermimbar ajaib, mengisi deretan panjang yang telah disediakan.
Ketika mentari mulai bersinar terang salat pun berlalu di akhiri khotbah dari para pengkhotbah yang entah berapa lembar kertas yang telah disediakan guna mengisi acara sesi terakhir dari salat ied tersebut.

Dan matahari yang mulai menyengat seakan mengantar iringan jamaah pulang ke rumah masing-masing 'tuk saling memaafkan.

Suasana di lapangan atau Jalan-jalan protokol bekas melaksanakan shalat ied kembali sepi hanya koran bekas yang tertinggal meramaikan tempat-tempat tersebut.

Saf-Saf dengan koran bekas bertebaran, menjadi sampah yang secara ajaib pula menghiasi lapangan kosong.
Bagai acara akbar telah berlangsung dan tiba-tiba pengunjung hilang dari keramaian.
Sampah di mana-mana, kemana semua orang yang membawa koran-koran itu, lupakah mereka akan koran-koran itu?
Apakah koran-koran itu beban yang akan memberatkan kendaraan mereka atau memberatkan tangan mereka?

Hari besar dan suci dikotori dengan koran bekas, suatu kontradiksi yang terjadi tiap tahun.
Kesadaran harusnya timbul dari tiap-tiap muslim bukannya cuek dengan lingkungan, bukankah kebersihan bagian dari iman, iman yang bersih harusnya bisa diaplikasikan melalui tindakan yang baik pula.

Menurut pandangan sy sesama muslim, kebiasaan yang baik seperti berwudhu sebelum salat atau menjaga najis dari pakaian dan lingkungan saat beribadah harusnya dpt mengubah pandangan kita tentang kebersihan, jika kebiasaan dalam ibadah dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari berarti dampak/manfaat ibadahnya secara nyata sudah dpt terlihat. Sehingga ibadah bukan sekadar ritual badaniah namun sudah menjadi jiwa kita sebagai muslim.

Dengan menjaga kebersihan berarti kita telah mencitrakan diri sebagai pribadi yang taat pada Allah Swt, karena dengan demikian akan mencerminkan ketaatan kita saat melaksanakan shalat atau beribadah secara khafah kepada Tuhan, Raja Manusia.

Sehingga pelajaran hari ini bisa dievaluasi agar ke depan masalah sampah tidak menjadi suatu masalah yang dianggap sebelah mata lagi. Semoga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#15

Aku mendengar alunan lagu seruling bambu Suaranya merdupilu Ingatan akan kampung halaman serasa nyata Namun tak tergapai Sangat dekat ditelinga namun tak terasa Begitu bergetar didada namun hampa belaka Oo siapakah gerangan Dikau Yang bagai angin surgawi bermain dalam alunan jiwa Yang datang dan pergi menisik alunan indahnya Nadanada merdu itu kini bangkitkan cintaku Kadang resah tak beralasan Jua rindu yang tak terbendung Oo siapakah gerangan Dikau Kurasa Engkau pemilik Cinta dalam merdunya alunan lagu Memanggilku kembali ke rimba CintaNya Namun kita takkan bersama dalam dunia yang berbeda Karena aku hanyalah seruling bambu Yang kan selalu mencari dalam diriku alunan merdu cintaMu Dalam tiaptiap bait sabdaMu (#15, 09 April 2014)

#19

Jika Rumi mengatakan "Kita hanyalah seruling bambu yang bercerai dari rumpunNya" Maka aku berkata" aku hanyalah sebilah bambu yang tak berlubang" Yang tak berbunyi saat angin melaluinya Yang meski mendengar lagu namun tak mampu menari ke khadiratNya, walau itu nyanyian surgawi Tak mampu memainkan melodi indahNya, meski penciptaNya menulisnya dengan tinta emas Namun jika aku sebilah bambu yang ingin kembali ke rumpunNya, yah itulah aku meski kadang menari dan bernyanyi cuman dalam pikiran melalui selentingan gerakan sahaja agar bisa kembali kerumpun amalannNya. (#19, 17 April 2014)