Langsung ke konten utama

Menguak Kesabaran

Mungkin harus sabar
Seperti awan hitam yang berangsur hilang diusir cuaca cerah

Seperti bunga mangga hingga berubah jadi buah

Atau mungkin lambaian nyiur di atas sana menunggu buah daunnya berjatuhan satu satu

Dan mungkin sesabar lantai yang rindu di sapu oleh debu yang kian nebal

Namun tak ada kalah sabar bunga lidah mertua yang tegak berdiri di atas bejana gersang
Ia hanya diam beku dan kaku hingga hujan datang menyiram kemarau

Tak ada sesabar rumah ini ditungguinya pula sang pemilik tanpa pernah berkeluh
Meski sepi membanjiri ruang, hening bagai kubur dan gelap penuh misteri

Sesabar apa pula rumput yang kini subur di pot menunggu tangan-tangan gemas mencabutnya

Atau selang air yang meringkuk lemas menunggu untuk dialiri dingin di tubuhnya

Kesabaran macam apa pula yang ini merasuki mesin air hingga kini tak memancarkan air segar

Aku meraba-raba jenis kesabaran yang bersanding dalam teras ini

Semuanya masih sabar menanti sesuatu dan akupun bertanya apakah aku bisa bersabar
Menanti waktu yang tak pernah jelas bergerak
Sesekali detik bergerak hanya mampu menggerakkan menit yang entah kapan jam itu ikut bergerak

Ingin ku pelajari kesabaran langit yang tiap saat berganti wajah
Agar seirama denyut iklim yang pas akan bumi yang berbeda akalnya

Ingin sesabar angin yang iramanya berganti menderu sesuai lambaian daun dan ranting

Atau cahaya yang selalu pasang surut dari timur ke barat tanpa suatu detik pun berkata "aku letih"

Kesabaran macam apa ini yang terus menerus berjalan di relnya dan tak pernah menyerah pada lelah dan kepayahan

Aku menatap batu dan tanah dan berpikir tentang kesabarannya yang tak mudah, dipijak keluh kesah
Hingga mereka memeluknya pun masih tetap ngeluh

Ah, mungkin sabar itu hanya ada dalam dunia dongeng
Karena sekarang pun mereka hanya berkata sabar
Tapi dibentaknya waktu, ditendangnya resah bahkan bersanding amarah kian membuncah

Sampai kini kesabaran hanya sebagai misteri yang belum mampu terkuak

Karena gua kesabaran sangat panjang dan berkelok, sesekali persimpangan menjadi jawaban ambigu

Arus sungai sabar pun deras dan berujung jurang, kadang kala berakhir dipusaran yang dalam

Hari inipun ku coba berjalan dalam hutan kesabaran dan hasilnya aku tersesat dalam rimba belantara

Suatu waktu kurenangi laut kesabaran dan lagi-lagi tenggelam hingga dasarnya

Coba katakan pada ku kesabaran macam apalagi yang harus terlalui tanpa pernah buatku hilang arah di tengahnya

Jika jawaban itu cukup membuka selubung magis dari kesabaran mungkin kau lah orang yang mampu bersanding pada rembulan dan matahari yang selalu berkata "kami takkan letih dalam bersabar"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebersihan Sebagian Dari Iman?

Hari lebaran telah tiba, semua bersuka cita menyambutnya. Ketika matahari belum benar-benar naik di langit ketika itu umat muslim memadati daerah yang telah ditentukan untuk melaksanakan shalat ied. Jalan-jalan lenggang, hanya dipadati pejalan kaki dan sesekali mobil dan motor pribadi. Saf-Saf dibuat ditempat tertentu, di sekitar mesjid, tanah lapang bahkan Jalan-jalan protokol yang dikhususkan sebagai tempat salat. Saf-Saf tersebut seketika saja merubah wajah jalan atau tanah lapang menjadi garis garis sejajar menghadap mimbar dadakan yang tiba-tiba berdiri secara ajaib sudah ada sejak malam atau subuh hari di hari yang fitri ini. Kaki-kaki penuh kebahagiaan pun berjalan menuju Saf-Saf yang bermimbar ajaib, mengisi deretan panjang yang telah disediakan. Ketika mentari mulai bersinar terang salat pun berlalu di akhiri khotbah dari para pengkhotbah yang entah berapa lembar kertas yang telah disediakan guna mengisi acara sesi terakhir dari salat ied tersebut. Dan matahari yang mula...

#15

Aku mendengar alunan lagu seruling bambu Suaranya merdupilu Ingatan akan kampung halaman serasa nyata Namun tak tergapai Sangat dekat ditelinga namun tak terasa Begitu bergetar didada namun hampa belaka Oo siapakah gerangan Dikau Yang bagai angin surgawi bermain dalam alunan jiwa Yang datang dan pergi menisik alunan indahnya Nadanada merdu itu kini bangkitkan cintaku Kadang resah tak beralasan Jua rindu yang tak terbendung Oo siapakah gerangan Dikau Kurasa Engkau pemilik Cinta dalam merdunya alunan lagu Memanggilku kembali ke rimba CintaNya Namun kita takkan bersama dalam dunia yang berbeda Karena aku hanyalah seruling bambu Yang kan selalu mencari dalam diriku alunan merdu cintaMu Dalam tiaptiap bait sabdaMu (#15, 09 April 2014)

#21

Dalam lelap tidurku, Engkau seharusnya mampu menidurkanku sepanjang hidupku, tapi itu tak Kau lakukan Dalam jalan ku berkendara, Kau mampu saja mencabut nyawaku, tapi itupun tak Kau lakukan Atau sebilah pisau tibatiba melayang menghujam jantungku Ataw bahkan sebuah peluru bersarang tepat di kepala yang selama ini mencariMu, namun semuanya tak Kau lakukan Mungkin belum waktunya, lalu kau beri aku k esempatan hidup buat menemukanMu di suatu tempat di labirin jiwaku Hingga suatu saat nanti, jika aku terpanggil kembali di sisiMu Aku kembali di rumpun bambuMu dengan lagu seruling indah yang biasa ku dengar entah dimana atau kapan aku tak tahu Mungkin saja saat kita masih bersama sebelum Kau tiupkan aku dalam seruling bambu yang tak berlubang ini. Inipun kutulis dalam lagu yang tak biasa Saat aku ingin menemukanMu Namun aku dipenuhi sayap keraguan tentang mereka yang meragukanMu Dalam keraguan itu kucoba menghentakkan dinding di antara kita agar mereka tak buta sertiku namun jug...