Angin bagiku bagai pelukan si gadis binal
Merinding senti demi senti jejak tubuh yang nakal
Ku biarkan gigil menancapkan taringnya dikulit yang bersih
Menjalari segenap raga dengan jilatan terkasih
Hampir-hampir nafas beku oleh nafsu malam
Detak jantung menderu kencang oleh terpaan dingin
Memburu dalam sesak nikmat angin
Lihatlah ku lupa sadar, oleh gelora hawa yang semakin kalap
Hingga teriak menembus gelap
Di udara beterbangan segenap nafas
Embun putih berlabuh layaknya kapas
Lalu hilang hampa entah kemana
Meninggalkan cinta jejaka pertama
Wahai deru angin yang kini berseliweran
Menebas desing bulu kembaran
Lumatkanlah raga ini di bawah denyut nafsumu
Namun sisakan pula nikmat hangat birahimu
Hingga malam esok kita ulangi lagi percintaan kita yang ganas
Antara angin yang binal dan jasad yang melintas
Agar kita abadi dalam nikmat cinta
Abadi akan gelora malam yang tercipta
Antara yang terbang
Yang kini mengembang
Antara angin beku
Yang kini merengkuh
Mengejang ranjang gulita
Merejang angin derita
Komentar
Posting Komentar