Bagi jiwa gelisah
Rindu akan kedamaian jalan panjang
Hari ini kita tuntaskan
Segenap daya dan rasa
Pada Dia Yang Maha Berpetualang
Bagi jiwa berontak
Kembali meniti jejak kaki yang dulu lama pergi
Kini menantang balik pada wajah kita yang tertidur
Bagi rasa yang tak mungkin terpuaskan
Datang bagai angin sepoi meniup semangat jua belum padam
Mendorong badan maju ke depan ke harapan panjang dan meletihkan
Namun itu yang kita nanti, kita susuri jejaknya
Hingga apa yang tercari ditemukan pada gunung-gunung terjal, sungai yang tak berujung, hutan penuh sesat, laut yang tak kunjung berubah, bahkan hati yang tak terukur puasnya
Bagi jiwa dahaga segeralah berkemas pada gelas-gelas bergegas
Agar kenyang cinta pada bumi yang sejak dulu kita pijak
Agar sadar diri kita bukan apa-apa dibawah terik tatapanNya
Kita hanyalah inai-inai bertebaran
Menunggu kiamat hari ini dengan kaki dan tangan yang berpijak pada bumi seraya beribadah pada Dia Yang Maha Tinggi
Bergegas, berkemas, semangatlah karena hari yang kita nanti kini telah tiba.
Aku mendengar alunan lagu seruling bambu Suaranya merdupilu Ingatan akan kampung halaman serasa nyata Namun tak tergapai Sangat dekat ditelinga namun tak terasa Begitu bergetar didada namun hampa belaka Oo siapakah gerangan Dikau Yang bagai angin surgawi bermain dalam alunan jiwa Yang datang dan pergi menisik alunan indahnya Nadanada merdu itu kini bangkitkan cintaku Kadang resah tak beralasan Jua rindu yang tak terbendung Oo siapakah gerangan Dikau Kurasa Engkau pemilik Cinta dalam merdunya alunan lagu Memanggilku kembali ke rimba CintaNya Namun kita takkan bersama dalam dunia yang berbeda Karena aku hanyalah seruling bambu Yang kan selalu mencari dalam diriku alunan merdu cintaMu Dalam tiaptiap bait sabdaMu (#15, 09 April 2014)
Komentar
Posting Komentar