Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2014

Ku terjatuh

Air jatuh dari langitMu Tidak sekali Namun berkubik banyaknya Selokan seakan ta' kuasa Pepohonan pun menggigil Akupun telah jatuh dihatimu Tuk' pertama kali Namun inilah akhirnya Jiwaku bergelora Hasratpun mendidih Karna terbakar dipelukmu (Ku terjatuh, 20 Maret 2014)

cinta abadi

cinta jgn dkejar.. jk mendekat tak perlu gentar.. cinta yang pergi bagai angin.. jk hilang tak perlu meradang cinta ada krn cinta itu sendiri cinta akan sll ad dhati jk cinta sedia berpaling pd sang pencipta... itulah arti cinta yg abadi....

Lamomea

Pohon trambesi tidur pulas diantara angin mlm cabang-cabangnya kaku mati dsana hanya sinar merkuri berpijar tenang sementara kodok rawa tertawa dlm gelap aku tau bukan yg terakhir hidup mlm ini krn suara sepi bertiup senyap kali ini (Lamomea, 12 Maret 2011)

mmmm

aku tak ingin katakan" I L U" cukup kau tau lalui genggam hangat tanganku ataw dekapan rapat tubuhku saat bibir kita memujanya aku tak ingin mengatakannya sebelum gombal rasanya sedikit lebay ucapmu cukup... cukup nafas kita saling memburu (mmmm, 12 jan 2012)

buat sso

setelah mengenalmu aq buta... tuli dan juga bodoh tuk' katakan cinta pd yg laen namun kau jd buta tuli dan juga bodoh hingga berpaling ke yg laen (buat ssorang yg buta, tuli dan jg bodo, 13 jan 2012)

msh yg dl

dan tibalah dpersimpangan antara rindu terkoyak jua mati rasa pdmu bila lampu menghijau pastikan tergilas waktu hilang nyawa djalanmu slamatkan aku dlm arus tak pasti apakah kembalikan waktu atw terhapus dlm sejarah (masih yg dulu, 16 feb 2012)

Ratukane

Dialah perawan puing belaka Menari di jalan sepi Sekali hari merenung Sibakkan rambutnya kusut Kriput kain menjuntai Tak risaukan Sehari lelah menyibukan Sehabis memerah kringat Di beranda lalu lunglai tapaki jalan Hari ini kemana tapak menuju Sesekali ujung gerbang Menunggu kemana debu berontak Tidak! Ia ikuti suara derap kaki Atw panggilpanggilan Membenarkan letak aer Sekadar kayu perapian tetangga lama Sedang sesuap nasi uang secukupnya Lalu kemana kaki melangka Ke rimba yang hilang Mencoba mencari tempat yang bisa disebut rumah Dialah perawan puing belaka Menari di jalan sepi Meniti jalan kemarin Mengukur hari riang berlari Yah! Di sana, kupikir melihat Namun sekelebat saja Dan tak terdengar lagi. (Ratukane, 05 Maret 2014)

di ujung sepi

sepikurasa bukan krn kita berjarak sepikurasa Nyepi mengarak sepikurasa berbotolbotol arak sepikurasa bukan krn demo marak sepikurasa duniaku katarak (diujung sepi, 23 Maret 2012)

Mati di hatimu

Mgk aku kan mati Tp tdk skr Tdk dsini Mgk aku kan pergi tdk saat ini Jg nanti Saat aku menemu Kala itulah Aku rela Dtikam ribuan kali Oleh cintamu (Dzikril Hakiim, mati dhatimu, 25 agt 2012)

Buat ade

Tak perlu katakan sesuatu padaku, katakanlah pd Tuhanmu Betapa Dya pencipta yg sangat pandai membuat hasil karya semanis dan seindah dirimu (Dzikril Hakiim, to Ade Anawai, Agt 2012)

bila saja

Bila sj maut maw berpaut Membunuh waktu gila ini Saat ini jua tak bersua Melambai senyummu kin landai Ap krn umur mematikan daya pikir kreatif kita Atw krn mind set jadul mmbuat nalar impotend Bila sj maut maw berpaut Membunuh waktu gila ini Kan kurangkai peti bangkai Brisi tengkorak norak Gar wawasan cinta kita tak hanya berkutat dlm katakata romantis sinis Dan akhirnya bmuara dikedurjanaan hidup pekerjaan kesombongan kesibukan harian menjemukkan belaka Bila sj maut maw berpaut Kan kubunuh waktu gila ini!! (Dzikril Hakiim, 08 nov 2012)

Hut brimob

Adakah brimob dhatimu? Saat sgala tugas terhampar-membentang Adakah brimob dhatimu? Saat sgala cacian brurai-bercecer Adakah brimob dhatimu? Dikala darah dan keringat adalah taruhannya Masih adakah brimob dihatimu? Jika nyawa hanyalah hal kecil buat bumi pertiwi Adakah brimob dhatimu? Adakah brimob dhatimu? Adakah brimob dhatimu? YAA SLALU ADA...!!! (Dzikril Hakiim, HUT BRIMOB KE-67, 14 Nov 2012)

Buah Bibir

Sepagi ini senyummu lacur Ronanya merah mengucur dbibirmu betinaku Slintas trpampang kaku Noda merah dbibir jalang Buatku sdikit mabok kpayang Lupa pd kerja mperkosa hariku Dmn kesibukan ngemis tiap wkt Meminta sgala hidup yg kupunya Bahkan nyawa pun enggan bersisa Ttplah menyangkal karna keperawanan pagi tkoyak lemas Trsaput sungging bibir gemas Buatku mati rasa Sketika lelah tak berasa (Dzikril Hakiim,buah bibir,4 des 2012

di bawah (*) diatas pasir

Di Lara cintaku terpaut Sayangku terhampar di laut Dbelai angin buih pasir berdesir Berbisik daun rumput pesisir Demi bintang pd gelap malam Demi ombak pantai membelam Berdekap batang kelapa Merangkul pegunungan menyapa Oh Cakrawala yg melintang di anak pepohonan Meniup gugusan awan akanan Lalu runtuhkan jejeran rasi gemintang Hanya nikmat membahana merintang (Dzikril Hakiim,dbawa bintang datas pasir 08 des 2012)

Pahlawan Muda

Nyawamu kini hilang gelora Trkulai lemas dkalora Namamu kan lenyap menguap Bersama darah meluap Tp serentak kami menghentak Menderu menyeru menyentak Jasadmu skali kan remuk Dtumpas peluru dhempas tanah Nafasmu pun padam sesak raib mengejang maut Namun kami pantang gentar 1000 tunas muda trlatih Maju kedepan brgetar Briak brderap mengganti Ini darahkringat Tenggelam dnusantara Kan jd lava semangat Bagi wira membara (Dzikril Hakiim,Pahlawan Muda, 21 des 2012)

aku bisa

Hari ini kan kuucapkan Semangat gelora kan kutancapkan Tak ada kata sedih Juga dukaluka meletih Mari kemari mendekat kita merekat Bersama bertekad Berjuang melawan menantang Sgala aral membentang Jgn perna nyerah meretas Meski kringat lemah menipis Bahkan darah merah terhempas Kita terjang merejah Jgn kasih napas mengalah bahkan buat diri mengeluh Dan lidah yg keluh Sematkan! Dengungkan! "Aku Bisa" "Juga Berbisa" (Dzikril Hakiim,AkuBisa, 01 Jan 2013)

Pemuda dan malam

Malam bagai pemuda dlm remang Bintang citacitanya Bulan mimpimimpinya Skali bersinar tinggi skali Saat redup awanpun tenggelam Matanya kelam bagai elang Senyumnya trpancar nyalang Berjalan tanpa takut Menentang sapa saja Skali sikuk patah terbelah Tawa sindirannya Nyanyi cemoohnya Pada mereka Pada sapa saja anggapnya remeh Dan tak dewasa Pemuda dan malam Spasang roda hidup (Dzikril Hakiim, Pemuda&malam, 1 jan 2012

Cinta dimana dirimu

Pejuang yg mati atas nama cinta Adalah dya yg berperang untuk hidup sentosa Kelana yg hidup djalan cinta Adalah dya yg menabur kasih dsekitarnya Sedangkan aku hanyalah darah cipratan saat kaw membela cinta Juga kringat saat lelahmu berbagi rasa Dmn dirimu yg merasakan cinta Apakah kw debu yg brterbangan dmedan perang Atw angin meniup jubah sang musafir (Dzikril Hakim, cinta dmn dirimu, 11 jan 2013)

Hanya Binatang Jalang

Bila waktuku telah pudar Biarkan ku brsandar Pd pundak Batu berundak Krn cakar tumpul Taring brtalu dengkul Swarakupun parau Tak mampu bkicau Bila hari itu tiba Biarkan ku bernafas Tak perlu rasa iba Rasa bersala pun tumpas Dekam dekap amara Racun ramu di dada (Dzikril Hakiim, "Hanya Binatang Jalang", 18 jan 2013)

tersalip hidup.sungguh

Kali ini ingin lebih sunggu Pingin merasai kringatdarah Mengecapi arti brnanadarah Mnyalipi sabar memahat hidup.Bukan krn lelah brmanismalasmanja Atw segan mratapi cinta hina Hanya pingin perang Dmedan.bersedadu ribuan Cuma aku dan diri (Dzikril Hakiim,trsalip hidup.sunggu, 14 des 2012)

Jadi egois

Spagi ini fikirku Berlari pd khayalmu Menginginbutuhkan Merasaharapkan Dan bila mgk, Mgk dan bila Menenggelampasrahkan Skaligus mencairhancurkan Hingga saat ini kuputuskan saja MenguasaiMerajaimu Saja Dgn sgala kepayahankegilaan Yg sdh menguratmendarahdaging Dalam lintasan Gejolakgelagak Fikiran Ataw kita uapdidihkan smua ini Biar teruraimencercah stelah itu baru tersadar Bhw ini tak mudahsukar Krn kita berdiriberlari Hindarijauhi rasa yg tlah jadi egois pd mulaawalnya (Dzikril Hakim,Jadi Egois, 17 maret 2013)

Bendera yang terkoyak

Darahku mengalir di darahmu Nafasku seirama nafasmu Kau katakan merah aku juga sama Kau katakan putih akupun mengiyakan Kita berdiri di tanah yg sama Merdeka di tahun yang sama Tp mengapa kita masih mengambil lebih dr negeri ini Seakan negara lumbung padi yg digrogoti tikus2 liar Dmn jiwa patriotisme, cinta negara, rela mati demi NKRI? Ah, sudahlah, mengerut dahi itupun tdk penting skr... Krn tikus2 itu telah merobek2 bendera merah-putih yg trsimpan dalam almari Dan meski robek, bendera itu tetap berkibar di langit biru disetiap tgl 17 agustus... Akhirnya dgn segala kenyataan yg ada,, Kami hanya bisa mgucapkan, "Dirgahayu NKRI ke-68" (Bendera yg terkoyak,16 agustus 2013,DN)

ngantuk

Ngantuk hantam biji mata Tenggelam Terbenam Seakan menutup Sekali menutup Aku hilang Tak sadar Lama.... Ingin terulang lagi Hilang akal Hilang sadar Dan waktu berdetak (07 okt 2013, ngantuk)

Bedebah

Ciihhh! Matari sj msh hangat mengapa pula dunia mw berakhir Hapus sesak terakhir ddadamu krn dunia tdk peduli benang kusut yg melilit dotakmu Bedebah! Kau anak mentari lahir dr debu angkasa Sapa pula jd duri dpelupuk mata jika bukan si rangga menjangan jantan Tidur beralas rumput liar semetara langit atapnya Rimba mana pula yang kan mencampakkan dikau Ciihhh! Matari sj msh hangat mengapa pula dunia mw berakhir... (23 okt 2013, bedebah)

Seusai hujan redah

Kala sore berjalan sendiri seusai hujan Wajahmu menggenang djalan berlubang Lembab masih sempat tercium di udara Karna beberapa merpati mengepakan namamu Tetes terakhir yang jatuh ke tanah dari daun kelapa buatku ingat katakatamu "Setelah hujan redah, smua kan berubah" "Aku pergi takkan lama, tapi cukup membuatmu mengerti" "Kamu mencintaiku atw tdk, kan jelas setelah hujan redah" (26 Oktober 2013, seusai hujan redah)

Kerinduan

Dan bila malam berjalan sendiri tanpa bulan menemaninya, maka sinar perak kerinduan begitu menggebu. Langit gelap berselimut awan putih semakin memanjangkan malam dalam kesendirian. Dan bila malam berlari menemui remang di sepanjang jalan, bayang-bayang resah merebah di sudut kegelapan. Angin bertiup hangat malam ini, sementara tak tau ujung malam ini berakhir. (26 Oktober 2013, Kerinduan)

Rumahku

Rumahku Tak ada swara Tak ada amarah Tak ada teriakan Tak ada makian Tak ada makanan Tak ada minuman Tiada aku Tiada kamu Tiada... Tiada siapasiapa Rumahku Hanya udara bersiar (06 Nov 2013,Rumahku)

di bawa (*)

Ad bintang bersinar di sana Di langit kelam Yang kita pandang bersama Dlm slimut malam Pun bintang besar di sini Di hatiku Yang kugenggam kini Bersamamu Yang takkan kita lepas Hingga nnti terbang bebas (08 jan 2013, di bawah *)

di atas ngantuk

Cahaya lampu tak mudah Menidurkan Aku yang kini terbelalak Di atas malam Bersama gerimis Siaran TV Apa mesti kuledakkan sj Ngantuk menggantung Lalu kita sama terjaga Atw diam-diam Nyelinap kamar Tiarap dsana Nunggu pagi (10 Jan 2013, di atas ngantuk)

Sebuah Kecupan, Sayang

Pagi ini kutinggalkan kau Dgn kecupan Darahmu msh tertidur pulas Saat ku pergi Semalam kau Terlelap kelelahan Rambutmu terurai sekilas Saat ku kembali Ku tahu aku dimimpimu Memeluk bayangku Juga rinduku Karna tanganmu Enggan melepasku Dari pelukan pagi (11 Jan 2013, Sebuah Kecupan, Sayang!)

Kata yg sll kt ucapkan

Pagi ini Dirimu sibuk di dapur Entah apa yg terjadi Tp baunya bercampur Antara bawang Juga sayang. Siang ini Dirimu sibuk di kantor Tinggalkan sebuah kecupan Sebelum berlalu Kau katakan: "Aku mencintaimu" Bukan dari bibir ranummu Tapi dari caramu bertindak Kau katakan itu setiap saat Setiap berbuat sesuatu buatku. Aku tau itu. Karena kupun mengatakannya Lewat napas yang ku hembuskan. Meski aku tertidur. Lelap disisimu. (21 jan 2014, kata yg sll kt ucapkan)

Saat Nanti Kembali

Sayang,, Saat nnti kembali Didekapku Bawakan aku 'senyum manis' Yang selalu kau sembunyikan Di balik lelahmu Juga 'kecupan manja' Yang selalu kau selundupkan saat beranjak pergi Dan jika engkau melupakannya Biarkan aku membawakannya buatmu Saat kembali dipelukmu. (21 jan 2014, saat nanti kembali)

Titik Terendah

Aku berada dititik Terendah kota kendari Dari tepian Ku lemparkan pandang Sejauhjauhnya Hingga memecah ombak Di dermaga Asinnya kuhirup Buihnya berlompatan Angin penuhi udara Air penuhi daratan Di ujung barat Sebongkah bara merah Menggantung Di antara kapallabuh Serta anaklautan Serasa aku adalah buih Yg kini bermain antara Gelombang dan siutan Nikmati titik trendah Hidupku Nikmati titik terendah kotaku (23 jan 2014, titik terendah)

Malam Pertempuran

Malam ini kita hanya saling memandang. Sedang Ir. Soekarno mengikatkan cakanti yana utama dgn hati-hati. Kotak TV pun hanya Tukul melolong lucu. Dan kau si nyamuk kecil berhentilah terbahak di bajuku yg hitam. Karena malam ini, gelap dan dingin menginginkan pertempuran. Kita liat ; Apakah mataku yang kalah dan malam akhirnya menang ataw Apakah telingaku yg kalah dan dingin bersiul gembira. Entahla h, jangkrikpun hanya triak histeris dari balik palem di bawah tiang bendera Dan buku mutasi inipun tak sabar diinjak oleh ujung pulpen. (Tiba-tiba bel berdentang 12x) Kini..waktunya dimulai! Kamu tentukan pemenangnya, saat embun pertama jatuh pada rumput di pagi berkabut Saat itu bendera kemenangan terpancang erat di tiang tertinggi Mako sat Brimob Polda Sultra. (Malam Pertempuran, 27 Februari 2014)

Renungan Pagi

Pagi ini aku terbangun Ketergesahan meringkuk di sisiku Jamjam berlari pagi Tiap detik membawaku di jalanjalan sibuk hariku Tikungan keraguan serta persimpangan kekecewaan Hingga aku tiba pada sebuah titik kesadaran Hidupku hanya sebentar Nafasku perlu dicharge Otok, daging serta tulangku perlu formalin agar tetap utuh Tiap detik adalah hal berharga tuk dihargai .... Saat ini kulewati bundaran ketidakpastian namun tugu emas itu membuatku tersenyum Begitu pula jalan sempit menuju kantor Semakin dekat ke tempat kerja buatku semakin tersenyum Bukan karna aku pasra dan semakin lemah Tapi hari ini mgk hari terakhir hidupku Jadi mengapa harus bersedih Nikmatilah tiket terakhir hidupmu dengan sebaikbaiknya meski itu hanya senyum sahaja. (Renungan Pagi,28 Februari 2014)

Perjalanan Kata

Mungkin kita takan pernah tau Angin apa yang menerbangkan mimpimimpi kita Serta kata apa yang menyertai Slamat datang bahagia atau selamat jalan rindu Karna dunia kita adalah udara kata terhirup lalu menguap Bumi terpijakpun hanya setumpuk alasan agar kita tetap optimis Saat smua datang dan pergi Membawa kabar berita Kita tetap berdiri menyambut ataw skadar mengantarkan doa perpisahan Kita hanya m enaikkan dagu dan biarkan warnai sepi dgn senyuman Saat kuliat lambain pamit dan tawamu saat tiba nanti Kau kan katakan "aku pasti merindukanmu" Ini hanya sebatas kata Kata imajiner, sebatas angan, harapan, doa juga cinta. Dan akhirnya kita hanya bisa merasakan sebuah perjalanan kata. Sebuah perjalanan sebatas katakata saja. (Perjalanan Kata, 28 Februari 2014)

Kita dan (*)

Kini kita bersantai di bawah biduk bintang Senyummu menunjuk ke langit Sedang aku bersandar di batu beku Anganmu menerawang hingga batas cakrawala Aku masih merabaraba sandaran batu Telunjukmu menarinari di bintang terang Dan aku lagilagi mengeluh sandaran batu ini "Aku ingin terbang ke bintang" katamu saat itu "......" Aku terperanjat segores luka membujur di punggung Akupun heran sampai kini kita masih sj bersantai di bawah biduk bintang Dengan cahaya bintang di matamu serta keluhan malam yang takkan pernah pudar. (Kita dan *, 2 Maret 2014)

Sebelum Ku Terlelap

Sebelum kuterlelap di atas bantal merah ini Kupanjatkan doa padaMu: Bawahlah jiwa yang gamang ini dalam belai kasihMu Rebahkan tubuh resah ini di pangkuanMu Nyanyikanlah kidung syahdu pelipur lara Hingga nanti selimut kabut cintaMu membangunkan raga ini dengan ciuman embun pagi Dan hangatnya bibir sang mentari mengumpulkan setiap tenaga dalam setiap aliran darah di urat nadi Disaat itu kan terjadi ambillah kesadaran ini Tubuh ini serta jiwa lemah ini Biarkan ku meringkuk dibelaiMu Sebagaimana bayi pulas dipangkuan sang bunda. Amin. (Sebelum ku terlelap, 2 Maret 2014)

Sehelai Daun

Masih malam yang sama kemarin Hanya saja skr lebih bisa nerima Luka di dada dan hati kini jelma dedaun kering Biarkan saja daun itu terobangambing oleh resah Krn sebentar hujan bulan Maret menumbuhkan pucuk di pohon hati Tinggalkan legamnya warna daunkan merayap di lipatan tanah Kau diam saja menatap tanpa peduli Sementara pucukpucuk mulai mereksmi Kau hanya diam menatap cokelatnya tanah Hingga na nti pucuk berkembang lalu menguning terpapah matahari Harihari berlalu.... Apakah kau masih menatap sementara sehelai daun kan jatuh menimpanya Bukan karna angin tapi matahari kemarau yang tak mudah kau tantang karna silaunya (Sehelai daun, 3 Maret 2014)

Hujan di Rumah Kita

Terbangun saat waktu tak lagi disebut malam Mendung menggulung di langit jendela Meski terjaga dalam tidur tapi selalu ada deretan air menggantung Di sana di langit rumah kita Dan sebentar lagi gerimis dan angin mulai bertamu di teras Kau seduhkan secangkir teh hangat tanpa gula Lalu hujan deras pun menjambangi lubanglubang atap kita, hingga merayap di lantai putih Aku hanya diam mengepel tawa mereka Secangkir teh panas kini melayang di lantai, kali ini tanpa gula tanpa senyum Lalu kita hanya berdiam diri menikmati hujan yang selalu mampir di selasela rumah Mencoba menikmati secangkir teh panas tanpa gula tanpa senyum tanpa katakata.... (Hujan di rumah kita, 04 Maret 2014)

Darah Penyesalan

Kali ini aku salah Kemarin dan kemarinnyapun aku salah Kesalahan bagai bilah bambu yang terlempar di ujung lidah dan kembali menembus tulang dada Ketidakmampuanku menafsirkan detik demi detik viktorinox dipikiranku kini jadi bumerang yg siap membuka segala mata pisau lipat itu Aku tersungkur menghantam kenyataan-kesalahan ini dgn dada menohok serta kepala terseret di jalan berdebu Seketika aku berada diceruk bumi terhimpit sesak penyesalan Mata panah yg telah terlanjur kuluncurkan tibatiba berbelok arah menembusi kepala kanan ke kiri Hingga tatapan mata kosong dgn segala darah dosa muncrat dari berbagai lubang Debu dan darah menyatu-menggumpal di mulut yang kini tak lagi bernyawa akan alasanalasan subyektif Tersisa hanya kekosongan-kehampaan belaka. (Darah Penyesalan, 04 Maret 2014)

Daun Kering

Ketika aku hanya sehelai daun kering Semilir angin meniupku di udara Setumpuk tanah lembab menungguku Meninabobokan aku yg lelah merantau Jangan sebut namaku Ataw memanggil,,, Biarkan bumi memeluk Menarik masuk ke dalam Hingga cacing memamah helai demi helai Jangan pernah memanggilku Biarkan kali ini kunyatu dgn tanah Buatnya basah dan gembur Hingga esok tumbuh kecambah kecil Yang kan kau sebut bunga kesadaran (Sehelai Daun, 04 Maret 2014)

Orang yang terlupakan

Aku tak ingin jd org yang terlupakan Hidup-menarik nafas-mati Meski tak cintai aku lagi Meski tak terlihat lagi Meski hilang telan bumi Aku tak ingin jd org yang terlupakan Untuk itu tanpa kau sadari, telah kutancapkan mata pena di hatimu Perlahan ku gores kata perkata kalimat perkalimat Hingga sebait puisi penuhi pikiranmu Tentang aku yang kau acuhkan Sifatku yg tercurigai Bahkan tindakanku yg melenceng sepersekian derajat dari senyummu Aku tak ingin jd org yang terlupakan Hidup-menarik nafas-mati Lalu kau berlalu membelai udara Tanpa pandangan sedikitpun (Orang yg terlupakan, 04 Maret 2014)

Ratukane

Dialah perawan puing belaka Menari di jalan sepi Sekali hari merenung Sibakkan rambutnya kusut Kriput kain menjuntai Tak risaukan Sehari lelah menyibukan Sehabis memerah kringat Di beranda lalu lunglai tapaki jalan Hari ini kemana tapak menuju Sesekali ujung gerbang Menunggu kemana debu berontak Tidak! Ia ikuti suara derap kaki Atw panggilpanggilan Membenarkan letak aer Sekadar kayu perapian tetangga lama Sedang sesuap nasi uang secukupnya Lalu kemana kaki melangka Ke rimba yang hilang Mencoba mencari tempat yang bisa disebut rumah Dialah perawan puing belaka Menari di jalan sepi Meniti jalan kemarin Mengukur hari riang berlari Yah! Di sana, kupikir melihat Namun sekelebat saja Dan tak terdengar lagi. (Ratukane, 05 Maret 2014)

Balik Kerudung

Adaapa di balik kerudung Kain menjuntai Ujungnya menari Terbawa sepoi Mengapa pula senandung Hiasi indah merantai Mapar akhlak menjari Lalu godai Ku Tatap bayang Mu Hilang terbang (Balik Kerudung, 08 Maret 2014)

Si Putri Tidur

Lelah terkulai Serasa ingin mengulur waktu Lebih lama Malam telah mengambil pagi Lebih dari semestinya Meniupkan angin nyenyak Melantunkan kenyamanan Hingga tersadar Inilah siang belantara Dgn mataharinya Menegur dgn hangat "Sampai kapan kamu terbuai dalam mimpi malam, wahai pahlawan kesiangan",jerit siang "Tak tahukah kamu panggung telah berubah, penonton telah pulang, dan kamu masih sj memerankan tokoh 'Si Putri Tidur menunggu Pangeran'" "Bangun dan liat aku, kita berada dalam drama lain dalam sisi dunia yang berbeda, hanya kamu,aku dan kehangatan", senyum tipisnya sekilas di sudut mata menyalahnyalah Seketika tersadar... Kelelahan masih tertidur pulas Lalu menarik selimut Layaknya malam Panggung disetting ulang Dan Si Putri Tidur kembali berakting Kali ini tanpa penonton tanpa pangeran Memcoba membangunkan lagi (Si Putri Tidur(Bt ponakanku YS dan AF, 08 Maret 2014)

Teratai Muda

Ad apa dgnmu Air matamu berlinang darah Wajahmu pucat Ragamu tergolek lemas Saat kusentu bibirmu beku Ada apa dgnmu Tugasmu belum lagi rampung Huruhara masih brlansung Keributan blum lg thenti Tp engkau kaku meletih Ada apa dgnmu Lelahkah engkau Menghadapi semua ini Jgn lemah wahai pahlawan kecilku Ragamu mgk terkulai Namun jiwamu abadi Langkahmu mgk terhenti Tp tdk semangatmu Jeritanmu mgk melemah Namun sejarahmu kan menggema Kau tdk lagi kemanamana tp kau sll ad dmanamana Selama teratai muda berjuang Melaksanakan tugas dgaris terdepan (01 oktober 2013, terAtai muda #buat Briptu Marto Fernandus Hutagalung)

Puisiku

Busung lapar bertelanjang dada dipungut pula nasi satu-satu tak dihirau perut buncit atau tulang kriput disela tangis pilu disebut pula ‘Mama........!’ Lamomea, 2008 Malulo hei mari buat lingkaran tanding bulatnya bulan bernyanyi dan menari ‘iyamo pedoko......iyamo tekura.......’ langkahkan kaki lalu berputar eratkan tangan lalu nada langkah hei mari tambah lingkaran agar bulan iri malam ini keluarkan semangat-gairah ‘iyamo pedoko......iyamo tekura.......’ jangan lepas-lemas jemari hei mari bersama malam ini Lamomea 2008 Perjalanan pohon-pohon, rumah-rumah, tiang-tiang listrik berlalu bersama debu kendari, kolaka, makassar kemana lagi arah kaki berpijak di mana lagi hati berpaut menembus jalan panjang ini Lamomea 2008 Demo BBM terpal segi-tiga adalah rumah kami spanduk bentang-panjang adalah tuntutan siang ini taman kota adalah wilayah kreasi buka mata, telinga fahami kami meniti di antara air mata darah Suatu Siang Di Simpang Wua-Wua...

Sesuatu yang hilang

Kemana perginya Terkejar teras Hujan deras Memburu kamar Seprai hambar Kemana saja Udara beredar Hilang mengedar Malam berlari Siang mengingkari Dimana perginya Tersisa rasa Kini mengembara Tanpa arah Hilang menyerah (Sesuatu yang hilang, 07 Maret 2014)

Malam Pekat

Malam Pekat imsonia paksakan ini membuat dunia jungkir balik bangunan tua, palem, ban nampak memerah serta soekarno nampak cuek di dinding ku yakin kopi basi pun tak sepekat malam ini ada gerah melapisi angan dan khayal sebuah ngorok bergerigi serta kerlipan lampu pertamina apakah mrk mencoba membunu + menipuku? Sdg hunkytalky berebut tempat dtelinga karna firman-ttp yg trindah terus mengalun begitu juga angin bertiup lirih jgn coba menyelamatkanku, cukup mlm ini  ( 04 April 2011)

Mukadimah

Kita terbangun pada halaman  pertama kamasutra Meringkuk dalam aliran darah Seirama kejaran nadi Aliran sungai darahku darahmu berdesir Menjengkaumu hingga ke laut Samudera tanpa batas Timbul tenggelam Mati terkubur bersamamu Lalu karam dipuingpuing rasa Kita masih saja mati Dalam satu peti batu Seakan kita menyatu Dan tanah membumikan kita (Mukadimah, 12 Maret 2014)

Tragedi Abadi

Istriistri kita hari ini adalah perawan suci Mariyam saat Hawa tersesat diantara pohon terlarang yang Adam lewati, mereka jatuh dipelukan kita sejak awal kehidupan hingga mati bersama di atas ranjang pengantin. Mereka terbangun dalam pelukan Tuhan dan suamisuami mereka memberikan jejak kehidupan pada tiap lembar ayatayat cinta di jiwa anakanak mereka kelak. Lalu tertidur kembali dalam buaian fana kehidupan berhari berminggu hingga berbulanbulan mereka tersadar, saat dunia membutuhkan ciuman buat anakanak yang mereka kandung. Istriistri kita hari ini adalah ibu bumi dari ribuan pohon yang kita tanami, jutaan ikan di lautan yang kita jaring, milyaran burung yang kita terbangkan dan trilyunan gunung yang kita ledakan di hadapannya tanpa kita sadari. Tanpa kita sadari pula kita telah mengulang tragedi dunia "kelahiran-kehidupan-kematian" yang abadi dimana cikalbakal Adam mulai berterbangan menghinggapi kelopakkelopak Hawa di taman cinta surgawi dunia. Dia-Hawa...

Pahlawan Muda

Nyawamu kini hilang gelora Terkulai lemas di kalora Namamu kan lenyap menguap Bersama darah meluap Tapi serentak kami menghentak Menderu menyeru menyentak Jasadmu skali kan remuk Ditumpas peluru dihempas tanah Nafasmu padam sesak Raib mengejang maut Namun kami pantang gentar 1000 tunas muda terlatih Maju ke depan brgetar Beriak berderap mengganti Ini darah keringat Tenggelam di nusantara Kan jadi lava semangat Bagi wira membara (Pahlawan Muda, 21 des 2012)

Si Bibir Merah

Dari bibir merah mengepul asap Sementara jarijemari lincah bermain batang rokok Serasa angan membumbung bagai asap yang kini menyebar Dengan manja kedua pahanya disilangkan Mungkin menghalau mata lelaki yang liar D'eyeko lentik menghiasi kelopak matanya yang sembab Ada kisah sedih melanda pandangan mata kosong itu Seperti pandangan TKW yang tertipu Wajah pucat makeup tebal bagai lukisan cat air y ang belum kering Sebatang rokok penenang penyelimut jiwa Membungkusnya dlm pakaian ketat Kedua bola mata memerah, ada sungai kecil disudutnya Lahar maskara pun menggelinding Si bibir merah hanya berkatakata di udara Selebihnya kabut asap menghapus dukaluka di malam hening itu. (Si Bibir Merah, 10 Maret 2014)