Langsung ke konten utama

Hujan di Rumah Kita

Terbangun saat waktu tak lagi disebut malam
Mendung menggulung di langit jendela
Meski terjaga dalam tidur tapi selalu ada deretan air menggantung
Di sana di langit rumah kita
Dan sebentar lagi gerimis dan angin mulai bertamu di teras
Kau seduhkan secangkir teh hangat tanpa gula
Lalu hujan deras pun menjambangi lubanglubang atap kita, hingga merayap di lantai putih
Aku hanya diam mengepel tawa mereka
Secangkir teh panas kini melayang di lantai, kali ini tanpa gula tanpa senyum
Lalu kita hanya berdiam diri menikmati hujan yang selalu mampir di selasela rumah
Mencoba menikmati secangkir teh panas tanpa gula tanpa senyum tanpa katakata....
(Hujan di rumah kita, 04 Maret 2014)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

msh yg dl

dan tibalah dpersimpangan antara rindu terkoyak jua mati rasa pdmu bila lampu menghijau pastikan tergilas waktu hilang nyawa djalanmu slamatkan aku dlm arus tak pasti apakah kembalikan waktu atw terhapus dlm sejarah (masih yg dulu, 16 feb 2012)

Kita dan (*)

Kini kita bersantai di bawah biduk bintang Senyummu menunjuk ke langit Sedang aku bersandar di batu beku Anganmu menerawang hingga batas cakrawala Aku masih merabaraba sandaran batu Telunjukmu menarinari di bintang terang Dan aku lagilagi mengeluh sandaran batu ini "Aku ingin terbang ke bintang" katamu saat itu "......" Aku terperanjat segores luka membujur di punggung Akupun heran sampai kini kita masih sj bersantai di bawah biduk bintang Dengan cahaya bintang di matamu serta keluhan malam yang takkan pernah pudar. (Kita dan *, 2 Maret 2014)

Hut brimob

Adakah brimob dhatimu? Saat sgala tugas terhampar-membentang Adakah brimob dhatimu? Saat sgala cacian brurai-bercecer Adakah brimob dhatimu? Dikala darah dan keringat adalah taruhannya Masih adakah brimob dihatimu? Jika nyawa hanyalah hal kecil buat bumi pertiwi Adakah brimob dhatimu? Adakah brimob dhatimu? Adakah brimob dhatimu? YAA SLALU ADA...!!! (Dzikril Hakiim, HUT BRIMOB KE-67, 14 Nov 2012)