Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2015

RENCANA YANG SEMPURNA

RENCANA YANG SEMPURNA "Katakan sayang, kau masih mencintaiku," ucap David di malam itu.    Clara hanya diam dan membeku, suara David terdengar seperti hantu. Gaun merah hadiah dari David, membalut tubuhnya yang seksi. Semakin membuat dirinya menonjol di antara bagian ruang yang remang.    Malam ini adalah malam peringatan satu tahun kebersamaan Clara dan David. Sekaligus malam yang tak terlupakan buat Clara.    Makan malam itu pun belum sepenuhnya tuntas. Sebotol champagne masih setengah isi di atas meja. Dan lilin berbentuk trisula masih berdiri anggun di tengah-tengah menu makan malam- sepiring steak dan potongan besar kalkun panggang.    "Clara sayang," David berbicara seakan berbisik, "apapun yang telah terjadi malam ini, aku...," sedikit menahan pedih di dada, "tetap, mencintai, mu."    Kalimat ini tetap membuat Clara bungkam. Nafasnya seakan desahan yang bergema di ruang yang senyap. Ada ketakutan dan rasa puas di sana. ...

KABAR HARI INI

KABAR HARI INI    Hari ini terbangun dengan kepala masih tertinggal di selimut.    Tubuh seakan terbang menuju kantor.    Tangan pun masih menikmati keyboard di ruang kerja.    Jangan tanya kaki kemana, Ia masih berlari-lari pagi di Taman Kota.    Yang tak bisa ku raba adalah hati, kemana ia sekarang. Setelah kutengok dirimu, tahulah kemana hatiku berada. Ia di sana. Terbelah menjadi serpihan belaka.    Jangan tanya kenapa? Karena pikiran kini sedang berada di dalam buku tebal itu.    Berpikir menyatukan lagi bagian tubuh yang telah pisah dan hancur.    Sementara jiwa menghabiskan waktunya yang luang di masjid dekat rumah.    Ironis bukan? Tapi, itulah PR hari ini. Besok? Maaf, aku tak akan jawab hari ini. Mungkin lain kali ketika semua jadi utuh kemudian. .    Hei, lihatlah kepala yang tertimbun oleh gundukan selimut. Ia kembali sadar kini.    Siapapun yang terbangu...

CINTA SEMU ALINA

Revisi ****** CINTA SEMU ALINA    "Kamu ... kamu ... dan kamuuuuu ...!"    Sebuah suara melintasi rel kereta api. Dan ...    Braaaakkk!!! Suara yang menyusul akibat gilasan kereta api terdengar sangat menyayat.    "Tidaaaaaaakkkkkk!!!" teriak Alina seketika.                                  ***    Tiga kata itu membuat Alina terkejut, seakan jiwanya meloncat keluar ruang dadanya. Tidak ada kata yang cukup mengungkapkan apa yang sedang terjadi. Atau menggambarkan perasaan yang sedang berkecamuk di sana.    Tubuhnya seakan mati rasa. Berdiri mematung mencerna kejadian demi kejadian yang telah terjadi dengan kenyataan di hadapannya. Belum bisa menangkap kenyataan yang seketika bagai film ber...

RIVAL YANG TAK SEIMBANG

RIVAL YANG TAK SEIMBANG    "Liat dia," Cindy menunjuk diriku dengan ujung hidungnya yang mancung, "apakah dia pantas menjadi rival kita?"    Jana hanya menoleh sambil tersenyum menghina. Lalu buru-buru tak peduli dengan memalingkan wajahnya yang putih bah porselen.    Keduanya kemudian berlalu di depanku dengan anggun. Mereka seumpama putri raja jaman dulu. Hidup bergelimang kebahagiaan dengan para centhi dan batur di sekelilingnya.    Cindy, si gadis manis berambut sebahu. Keturunan arab-padang yang selalu memukau siapa saja. Ke manapun jadi pusat perhatian para kaum adam. Sedangkan Jana, seorang dara Menado berkolaborasi dengan darah biru priyayi Yogya. Gadis putih yang berparas ayu.    Sedangkan aku, tak perlu kujelaskan riwayat singkat diri. Apa dan mengapa hingga mereka berdua sangat tidak senang padaku. Ya, aku bukan siapa-siapa, tidak menarik, tidak cantik, dan sebagainya dan sebagainya. Namun, mereka masih menganggap aku 'ri...

SI BACO SANG ABUNAWAS

SI BACO SANG ABUNAWAS (Sebuah kisah dari Sulawesi)    "Daeng kenapa cotomu yang kemarin lebih enak, daripada coto yang sekarang?" tanya Baco yang merasa aneh dengan rasa coto yang ia pesan.    Sementara Daeng yang ditanya sedang sibuk mengurus pelanggan, sekenanya saja menjawab, "Baco, lain bagaimana? Nah, itu coto yang kemarin yang kau makan!"    Seketika Baco muntah-muntah di atas meja.    "Waduh, Daeng ini, jual coto basi-kah?" Baco bertanya jijik sambil menjulurkan lidahnya.    "Nah, sembarangannya dah bilang ini anak satu," Daeng merasa tersinggung atas ulah Baco. "Itu coto, dagingnya ji yang sama kemarin. Tapi baru dibikin tadi pagi. Jadi jangan ko banyak alasan. Bayar cepat dan ko pergi," amarah Daeng semakin memuncak.    Baco yang melihat Daeng sudah naik darah tidak kurang akal. Lantas si Baco mulai menjilat lagi, "Daeng, jangan dulu ko marah-marah, saya cuma tes ko saja. Katanya orang-orang, kalo Daeng marah se...

WIRO INGIN MENJADI SANDAL

WIRO INGIN MENJADI SANDAL (Mengulik kisah lain dari kehidupan Wiro) "Maaa ..., Maaa ..., Wiro ingin jadi sandal!," teriak Wiro pada suatu malam yang hening.    Suaranya membangunkan mama yang sedang tidur. Terbangun kaget, gelagapan, turun dari tempat tidur dan berlari ke kamar sang anak. Wiro mengigau sudah tiga malam berturut-turut. Dan kali ini membuat mama penasaran.    Kalimat 'ingin jadi sandal' itu membuat mama bingung. Dan setiap bangun di pagi hari mama selalu ingin memuaskan rasa penasarannya dengan bertanya pada sang anak, namun tetap saja bingung.    "Wiro sayang, kamu mimpi apa lagi semalam?" tanya mama pagi harinya.    Anak kesayangan satu-satunya itupun hanya balas memandang wajah mama. Diam.    "Wiro, semalam ngigau lagi ' kan?" mama masih berusaha bertanya, namun yang ditanya hanya bengong.    "Loh, kok ditanya Mama hanya diam. Ayo, anak Mama tidak boleh nakal. Kalo Wiro ditanya harus jawab ya?" dengan ...