Langsung ke konten utama

WIRO INGIN MENJADI SANDAL

WIRO INGIN MENJADI SANDAL
(Mengulik kisah lain dari kehidupan Wiro)

"Maaa ..., Maaa ..., Wiro ingin jadi sandal!," teriak Wiro pada suatu malam yang hening.

   Suaranya membangunkan mama yang sedang tidur. Terbangun kaget, gelagapan, turun dari tempat tidur dan berlari ke kamar sang anak. Wiro mengigau sudah tiga malam berturut-turut. Dan kali ini membuat mama penasaran.

   Kalimat 'ingin jadi sandal' itu membuat mama bingung. Dan setiap bangun di pagi hari mama selalu ingin memuaskan rasa penasarannya dengan bertanya pada sang anak, namun tetap saja bingung.

   "Wiro sayang, kamu mimpi apa lagi semalam?" tanya mama pagi harinya.

   Anak kesayangan satu-satunya itupun hanya balas memandang wajah mama. Diam.

   "Wiro, semalam ngigau lagi ' kan?" mama masih berusaha bertanya, namun yang ditanya hanya bengong.

   "Loh, kok ditanya Mama hanya diam. Ayo, anak Mama tidak boleh nakal. Kalo Wiro ditanya harus jawab ya?" dengan sabar mama membujuk sang buah hati yang kini sudah genap enam tahun itu.

   Sambil bisik di telinga mamanya ia berkata lirih, "semalam Wiro mimpi di kejar Oom itu," kata Wiro sambil nunjuk langit-langit kamarnya.

   Mama yang ingin tahu langsung menengok ke arah yang ditunjuk. Langit-langit kamar itu tak ada apa-apa, hanya seberkas sarang laba-laba. Selebihnya bohlam yang menggantung kaku.

   Seketika buluk kuduk mama berdiri. Suasana mistis penuhi kamar yang berukuran 3x4 meter. Dengan jendela rendah dan daun pintu yang kadang kala tertutup sendiri. Semua itu menambah rasa takut mama.

   Rasa takut dan penasaran membuat mama tambah cemas setiap saat. Ketika malam tiba di udara yang semati sepi. Rasa kantuk tak jua datang menggoda. Mama terbawa suasana mencekam. Sedangkan di siang hari saat si anak ke sekolah dan suaminya ke kantor, rumah itu semakin angker saja. Pikir mama membayangkan malam-malam selanjutnya.

   Dan saat mengantar Wira ke sekolahnya, yang terletak di ujung kompleks. Mama bertanya pada sang anak, "kalo sudah besar, Wiro, mau jadi apa?"

   "Wiro, mmmm ..., pingin jadi sandal!" ucap Wiro tanpa basa-basi.

   "Hah? Jadi 'sandal'? mama mencoba membenarkan apa yang baru saja ia dengar dan apa yang Wiro ucapkan barusan.

   "Sandal?

   "Iya ma, sandal!" ujar Wiro sungguh-sungguh

   Bundanya yang sejak kemarin bingung kini tambah bingung lagi. Segala pertanyaan melintas di kepalanya.

   Apakah anak ini mengerti apa yang baru saja dia katakan, atau ada kata lain yang ia maksudkan? Atau anak ini sudah mulai berhalusinasi? Mengingat kejadian langit-langit kamar yang sempat Wiro tunjuk itu.

   Atau mungkin saja anak ini salah satu anak 'indigo', yang sepengetahuan mama, orang seperti ini selalu saja memiliki indera keenam. Mama tambah bingung dibuatnya.

   Setibanya di sekolah, mama tidak langsung pulang ke rumah seperti biasanya. Rasa takut pada rumah dan bingung pada anaknya semata wayang membuat mama kerasan di halaman sekolah.

   Sedangkan Wiro dengan riang gembira masuk kelas untuk memulai paginya yang ceria.

   Tanpa mama sadari, mata mama yang sedang bingung itu jatuh pada baliho yang maha besar di halaman depan kantor kepala sekolah.

   'MENJADIKAN ANAK-ANAK BANGSA SEBAGAI PENERUS YANG DAPAT DIANDALKAN, BAIK DUNIA MAUPUN AKHIRAT'

   "Kalimat itu cukup bagus," batin mama berucap, sekadar setuju pada motto sekolah itu.

   Namun sebelum sempat berpaling, mama sudah kembali meneliti kalimat itu kemudian, "..., anak-anak yang dapat diandalkan ...," seperti mendapat ilham, mama mengulang-ngulang kalimat itu hingga hafal di luar kepala.

   "Yah, diandalkan ..., andal ..., sandal?" mama mengotak-atik pikirannya sendiri.

   "Hahahahaha," tertawa sendiri atas penemuan yang tak terduga ini.

   Mama menduga kata inilah yang dimaksudkan anaknya. Karena si mama kenal betul dengan Wiro. Kadang anaknya yang satu itu biasa menyebut suatu kata yang memiliki kemiripan pengucapan. Seperti kata 'buku' dan 'kuku,' kadang penggunaan bisa saling bertukar. Dengan pikiran inilah mama buru-buru berjalan ke arah kelas Wiro.

   Di depan kelas mama mengintip dari balik pintu. Dan seorang guru sedang menjelaskan di depan kelas.

   "Anak-anak, siapa yang sudah mengerti apa yang dimaksud dengan kalimat, 'dapat diandalkan dunia dan akhirat?' ayo coba tunjuk tangan!" suara pak guru membahana di dalam ruangan.

   "Saya Pak Guru!" seperti biasa seluruh anak-anak berteriak gaduh. Termasuk Wiro yang sangat aktif di dalam kelas.

   "Iya pintar, turun tangan semua. Diandalkan berarti dapat dipercaya. Oleh siapa? Iya benar, oleh siapa saja. Semua orang tanpa terkecuali. Jika kita jujur, tidak suka berbohong itulah ciri-ciri anak yang dapat diandalkan."

   "Sedangkan dunia adalah tempat kita sekarang ini. Tempat semua makhluk hidup. Tempat kita belajar, sekolah, bermain dan sebagainya."

   "Dan akhirat adalah tempat di mana kita akan kembali. Jika saatnya kita dipanggil oleh Tuhan Yang Maha Esa, untuk mempertanggungjawabkan segala sesuatunya di dunia." jelas pak guru

   "Ayo sekarang siapa yang ingin menjadi anak-anak yang dapat diandalkan dunia dan akhirat?" tanya sang pahlawan tanpa tanda jasa itu pada seisi ruangan.

   "Saya Pak Guru!" seketika ruangan kembali gaduh oleh teriakan anak-anak.

   "Iya, satu-satu. Nah, Wiro, bagaimana dengan kamu?"

   "Iya Pak Buru, saya ingin jadi sandal saja!" teriak Wiro lantang.

   "Hahahahaha," seluruh kelas kini tambah gaduh mendengar ucapan Wiro yang sekenanya. Tidak terkecuali bapak guru dan mama yang sudah cukup mengenal cara bicaranya yang unik.

   Sejak saat itu mama tidak lagi merasa bingung ataupun resah jika Wiro mengigau lagi. Dan menyebut-nyebut kata 'sandal'. Karena menurut mama, anak-anak memang terkadang biasa memimpikan kejadian yang telah dialaminya.

   Sedangkan Si Oom yang ditunjuk Wiro di langit-langit kamar, mama jadikan sebuah misteri saja. Cukup Wiro dan mama yang tahu. Dan membiarkan Wiro dengan dunia uniknya ini tanpa ada intervensi dari pihak lain termasuk mama sendiri.

Ibnu Nafisah
Kendari, 02 Oktober 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#15

Aku mendengar alunan lagu seruling bambu Suaranya merdupilu Ingatan akan kampung halaman serasa nyata Namun tak tergapai Sangat dekat ditelinga namun tak terasa Begitu bergetar didada namun hampa belaka Oo siapakah gerangan Dikau Yang bagai angin surgawi bermain dalam alunan jiwa Yang datang dan pergi menisik alunan indahnya Nadanada merdu itu kini bangkitkan cintaku Kadang resah tak beralasan Jua rindu yang tak terbendung Oo siapakah gerangan Dikau Kurasa Engkau pemilik Cinta dalam merdunya alunan lagu Memanggilku kembali ke rimba CintaNya Namun kita takkan bersama dalam dunia yang berbeda Karena aku hanyalah seruling bambu Yang kan selalu mencari dalam diriku alunan merdu cintaMu Dalam tiaptiap bait sabdaMu (#15, 09 April 2014)

#19

Jika Rumi mengatakan "Kita hanyalah seruling bambu yang bercerai dari rumpunNya" Maka aku berkata" aku hanyalah sebilah bambu yang tak berlubang" Yang tak berbunyi saat angin melaluinya Yang meski mendengar lagu namun tak mampu menari ke khadiratNya, walau itu nyanyian surgawi Tak mampu memainkan melodi indahNya, meski penciptaNya menulisnya dengan tinta emas Namun jika aku sebilah bambu yang ingin kembali ke rumpunNya, yah itulah aku meski kadang menari dan bernyanyi cuman dalam pikiran melalui selentingan gerakan sahaja agar bisa kembali kerumpun amalannNya. (#19, 17 April 2014)

Kebersihan Sebagian Dari Iman?

Hari lebaran telah tiba, semua bersuka cita menyambutnya. Ketika matahari belum benar-benar naik di langit ketika itu umat muslim memadati daerah yang telah ditentukan untuk melaksanakan shalat ied. Jalan-jalan lenggang, hanya dipadati pejalan kaki dan sesekali mobil dan motor pribadi. Saf-Saf dibuat ditempat tertentu, di sekitar mesjid, tanah lapang bahkan Jalan-jalan protokol yang dikhususkan sebagai tempat salat. Saf-Saf tersebut seketika saja merubah wajah jalan atau tanah lapang menjadi garis garis sejajar menghadap mimbar dadakan yang tiba-tiba berdiri secara ajaib sudah ada sejak malam atau subuh hari di hari yang fitri ini. Kaki-kaki penuh kebahagiaan pun berjalan menuju Saf-Saf yang bermimbar ajaib, mengisi deretan panjang yang telah disediakan. Ketika mentari mulai bersinar terang salat pun berlalu di akhiri khotbah dari para pengkhotbah yang entah berapa lembar kertas yang telah disediakan guna mengisi acara sesi terakhir dari salat ied tersebut. Dan matahari yang mula...