Langsung ke konten utama

SI BACO SANG ABUNAWAS

SI BACO SANG ABUNAWAS
(Sebuah kisah dari Sulawesi)

   "Daeng kenapa cotomu yang kemarin lebih enak, daripada coto yang sekarang?" tanya Baco yang merasa aneh dengan rasa coto yang ia pesan.

   Sementara Daeng yang ditanya sedang sibuk mengurus pelanggan, sekenanya saja menjawab, "Baco, lain bagaimana? Nah, itu coto yang kemarin yang kau makan!"

   Seketika Baco muntah-muntah di atas meja.

   "Waduh, Daeng ini, jual coto basi-kah?" Baco bertanya jijik sambil menjulurkan lidahnya.

   "Nah, sembarangannya dah bilang ini anak satu," Daeng merasa tersinggung atas ulah Baco. "Itu coto, dagingnya ji yang sama kemarin. Tapi baru dibikin tadi pagi. Jadi jangan ko banyak alasan. Bayar cepat dan ko pergi," amarah Daeng semakin memuncak.

   Baco yang melihat Daeng sudah naik darah tidak kurang akal. Lantas si Baco mulai menjilat lagi, "Daeng, jangan dulu ko marah-marah, saya cuma tes ko saja. Katanya orang-orang, kalo Daeng marah semakin enak cotonya dan ternyata benar tawwa."

   Baco berkilah sambil menyendok kuah coto ke mulutnya. Dan ketika si Empunya coto melihat kelakuan si anak bandel itu, ia langsung kembali tenang dan tersenyum lagi.

   "Eh, anak s*ndal, bilang saja ko tidak punya uang, to? Jangan mi ko memuji, saya kasi gratis ji itu coto."

   "Terima kasih Daeng, ternyata benar kata orang, Daeng itu baik hati dan suka menolong, semoga cotomu laris Daeng"

   "Jangan mi ko banyak bicara, semakin ko bicara, saya lihat makin banyak kulit ketupat di mejamu," tegur Daeng sambil menunjuk tumpukan kulit ketupat.

   "Ini Daeng, lain-lain juga sifatnya, sudah kasi orang coto gratis, tapi biar ketupatnya masih ditegur ki."

   "Baco, itu ketupat memang gratis, selama cotonya ko bayar. Karena cotonya gratis jadi ketupatnya yang ko bayar."

   "Hahahahaha, Daeng kalo ko mau menolong jangan tanggung-tanggung, masa hanya ketupatnya saja yang ko kasi bayar, sementara yang lain gratis."

   Daeng akhirnya malas juga meladeni si Baco. Anak satu ini memang sifatnya sebelas-dua belas dengan Abunawas. Akhirnya Daeng mulai kambuh amarahnya. Dan berniat mengerjain si Baco.

   "Eh, Baco, k*rang ngajar, saya kasih gratis itu ketupat yang ko makan, tapi asal ko tahu, coto yang ko makan itu memang basi. Karena itu coto yang kemarin, biar ko tau rasa"

   "Uweeakkkk ...," seketika saja si Baco muntah lagi untuk yang kedua kalinya.

   "Hahahahaha ...," Daeng tertawa sepuasnya, "Saya bohongi ko Baco, itu mi terlalu banyak bicaramu tidak mau makan saja. Mana ada coto basi di sini. Hahahahaha ...,"

   Daeng tertawa lepas sementara si Baco cuma diam menatap isi perutnya yang terlanjur keluar.

   Dan akhirnya, si Baco tidak berani lagi berkomentar ketika makan coto di warungnya Daeng. Karena takut makan coto basi.

Catatan Kaki:
Ji, Mi, To, Ki : kata partikel yang biasa digunakan dalam percakapan lokal di Sulawesi, khususnya di Kendari dan Makassar. Tidak mengandung arti tertentu hanya sebagai kata tambahan dalam dialek setempat.
Ko : kau

Ibnu Nafisah
Kendari, 01 Oktober 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#15

Aku mendengar alunan lagu seruling bambu Suaranya merdupilu Ingatan akan kampung halaman serasa nyata Namun tak tergapai Sangat dekat ditelinga namun tak terasa Begitu bergetar didada namun hampa belaka Oo siapakah gerangan Dikau Yang bagai angin surgawi bermain dalam alunan jiwa Yang datang dan pergi menisik alunan indahnya Nadanada merdu itu kini bangkitkan cintaku Kadang resah tak beralasan Jua rindu yang tak terbendung Oo siapakah gerangan Dikau Kurasa Engkau pemilik Cinta dalam merdunya alunan lagu Memanggilku kembali ke rimba CintaNya Namun kita takkan bersama dalam dunia yang berbeda Karena aku hanyalah seruling bambu Yang kan selalu mencari dalam diriku alunan merdu cintaMu Dalam tiaptiap bait sabdaMu (#15, 09 April 2014)

#19

Jika Rumi mengatakan "Kita hanyalah seruling bambu yang bercerai dari rumpunNya" Maka aku berkata" aku hanyalah sebilah bambu yang tak berlubang" Yang tak berbunyi saat angin melaluinya Yang meski mendengar lagu namun tak mampu menari ke khadiratNya, walau itu nyanyian surgawi Tak mampu memainkan melodi indahNya, meski penciptaNya menulisnya dengan tinta emas Namun jika aku sebilah bambu yang ingin kembali ke rumpunNya, yah itulah aku meski kadang menari dan bernyanyi cuman dalam pikiran melalui selentingan gerakan sahaja agar bisa kembali kerumpun amalannNya. (#19, 17 April 2014)

Kebersihan Sebagian Dari Iman?

Hari lebaran telah tiba, semua bersuka cita menyambutnya. Ketika matahari belum benar-benar naik di langit ketika itu umat muslim memadati daerah yang telah ditentukan untuk melaksanakan shalat ied. Jalan-jalan lenggang, hanya dipadati pejalan kaki dan sesekali mobil dan motor pribadi. Saf-Saf dibuat ditempat tertentu, di sekitar mesjid, tanah lapang bahkan Jalan-jalan protokol yang dikhususkan sebagai tempat salat. Saf-Saf tersebut seketika saja merubah wajah jalan atau tanah lapang menjadi garis garis sejajar menghadap mimbar dadakan yang tiba-tiba berdiri secara ajaib sudah ada sejak malam atau subuh hari di hari yang fitri ini. Kaki-kaki penuh kebahagiaan pun berjalan menuju Saf-Saf yang bermimbar ajaib, mengisi deretan panjang yang telah disediakan. Ketika mentari mulai bersinar terang salat pun berlalu di akhiri khotbah dari para pengkhotbah yang entah berapa lembar kertas yang telah disediakan guna mengisi acara sesi terakhir dari salat ied tersebut. Dan matahari yang mula...