Langsung ke konten utama

KABAR HARI INI

KABAR HARI INI

   Hari ini terbangun dengan kepala masih tertinggal di selimut.

   Tubuh seakan terbang menuju kantor.

   Tangan pun masih menikmati keyboard di ruang kerja.

   Jangan tanya kaki kemana, Ia masih berlari-lari pagi di Taman Kota.

   Yang tak bisa ku raba adalah hati, kemana ia sekarang. Setelah kutengok dirimu, tahulah kemana hatiku berada. Ia di sana. Terbelah menjadi serpihan belaka.

   Jangan tanya kenapa? Karena pikiran kini sedang berada di dalam buku tebal itu.

   Berpikir menyatukan lagi bagian tubuh yang telah pisah dan hancur.

   Sementara jiwa menghabiskan waktunya yang luang di masjid dekat rumah.

   Ironis bukan? Tapi, itulah PR hari ini. Besok? Maaf, aku tak akan jawab hari ini. Mungkin lain kali ketika semua jadi utuh kemudian.
.
   Hei, lihatlah kepala yang tertimbun oleh gundukan selimut. Ia kembali sadar kini.

   Siapapun yang terbangun dengan kepala tanpa badan pasti akan kaget.

   Begitu juga dengan kepala yang satu ini. Seribu satu pertanyaan melayang di sana. Sama seperti kamu yang bertanya-tanya. Tapi maaf sekali lagi saya tak bisa jawab. Mengapa badan itu tidak berada di atas ranjang.

   Kita biarkan kepala yang bingung. Serta mimpi yang tersisa di sana.

   Coba perhatikan tangan ini. Jari-jarinya yang besar menari lincah di atas keyboard. Dan di layar komputer terbaca hasil ketikan yang sungguh puitis.

   'Bunga itu adalah engkau
    Berwarna cerah memukau
    Mekar mewangi sepanjang hari
    Meneduhkan mata dan hati

    Aku serupa kumbang
    Kesana kemari terbang
    Demi setetes madu cinta
    Ku buai puja jadi amerta 

    Sayang sungguh disayang
    Dikau hanya lihat selayang
    Pada diri kian mendamba
    Pada dikau serupa stamba'

   Hahaha. Tangan itu juga melantunkan kegalauan yang sama. Cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Dasar penyair galau.

   Sementara itu kaki yang telah letih berlari. Kini 'ngos-ngosan,' mengatur ototnya yang berkejaran dengan keringat. Ternyata lari di Taman Kota itu membuat lelah otot kaki. Sedangkan lari dari kenyataan membuat lelah hati.

   Setidaknya itulah yang dirasakan si kaki lelah. Mungkinkah ia berpikir pulang setelah letih mendera? Entahlah, jangan pernah tanyakan itu padaku saat ini. Karena takkan ku jawab sekarang.
   
   Dan dirimu? Bagaimana kabar hari ini? Adakah aku di hatimu? Kurasa itu jelas. Tak perlu kau jawab dengan kepala tertunduk. Semua sudah terpampang di wajah. Kita hentikan drama ini sekarang juga.

   Sekarang tak perlu lagi dirimu berdusta. Seperti kemarin saat tangan ini menanyakan keadaan. Kau jawab, "maaf beb, lagi shopping sama mama."

   Lalu kutinggalkan saja pikiran berat dalam buku. Kaki dan kepala yang sedang santai kuajak serta. Menikmati indahnya Taman Kota.

   Tubuh ini terasa ringan. Ketika kedua kaki dan tangan berolah raga bebas. Dan saat itulah kedua mata ini menangkap dirimu.

   Hati menerka dirimu sedang berduaan dengan seseorang. Mata kita saling adu. Dan berlalu tanpa kata di depanku, masih dengan bergandengan tangan. Saat itulah hatiku menikam dirinya. Hingga tak berupa.

   Sejak itu segenap tubuh serasa pecah. Ingin melarikan diri entah kemana. Berharap semua ini hanya mimpi buruk seperti keinginan kepala.

   Tangan ini tak mau kemana-mana lagi kecuali di depan keyboard.

   Kaki tak pernah letih lari dari kenyataan hidup.

   Hati remuk tak berbentuk.

   Tubuh merasa frustasi di kantor yang sepi.

   Jiwa menunrut pada Tuhannya.

   Namun pikiran ini masih mencari alasan tuk kembali dalam tiap lembaran buku tebal itu.

   Sekarang kau masih menanyakan kabar hari ini? Sudahlah, aku baik-baik saja sampai kau bertanya tentang kabar pagi ini.

   Semula ingin melupakan saja. Dan pura-pura bodoh dengan segala hal yang telah terjadi.

   Namun kau datang dengan sebuah pertanyaan. Tapi, maaf kali ini aku tidak menjawabmu. Besok? Mungkin, jika ingin teman bicara.

   Tapi hari ini, maaf ingin sendiri saja!


Ibnu Nafisah
Kendari, 18 September 2015
Revisi > Kendari, 20 September 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebersihan Sebagian Dari Iman?

Hari lebaran telah tiba, semua bersuka cita menyambutnya. Ketika matahari belum benar-benar naik di langit ketika itu umat muslim memadati daerah yang telah ditentukan untuk melaksanakan shalat ied. Jalan-jalan lenggang, hanya dipadati pejalan kaki dan sesekali mobil dan motor pribadi. Saf-Saf dibuat ditempat tertentu, di sekitar mesjid, tanah lapang bahkan Jalan-jalan protokol yang dikhususkan sebagai tempat salat. Saf-Saf tersebut seketika saja merubah wajah jalan atau tanah lapang menjadi garis garis sejajar menghadap mimbar dadakan yang tiba-tiba berdiri secara ajaib sudah ada sejak malam atau subuh hari di hari yang fitri ini. Kaki-kaki penuh kebahagiaan pun berjalan menuju Saf-Saf yang bermimbar ajaib, mengisi deretan panjang yang telah disediakan. Ketika mentari mulai bersinar terang salat pun berlalu di akhiri khotbah dari para pengkhotbah yang entah berapa lembar kertas yang telah disediakan guna mengisi acara sesi terakhir dari salat ied tersebut. Dan matahari yang mula...

#15

Aku mendengar alunan lagu seruling bambu Suaranya merdupilu Ingatan akan kampung halaman serasa nyata Namun tak tergapai Sangat dekat ditelinga namun tak terasa Begitu bergetar didada namun hampa belaka Oo siapakah gerangan Dikau Yang bagai angin surgawi bermain dalam alunan jiwa Yang datang dan pergi menisik alunan indahnya Nadanada merdu itu kini bangkitkan cintaku Kadang resah tak beralasan Jua rindu yang tak terbendung Oo siapakah gerangan Dikau Kurasa Engkau pemilik Cinta dalam merdunya alunan lagu Memanggilku kembali ke rimba CintaNya Namun kita takkan bersama dalam dunia yang berbeda Karena aku hanyalah seruling bambu Yang kan selalu mencari dalam diriku alunan merdu cintaMu Dalam tiaptiap bait sabdaMu (#15, 09 April 2014)

#21

Dalam lelap tidurku, Engkau seharusnya mampu menidurkanku sepanjang hidupku, tapi itu tak Kau lakukan Dalam jalan ku berkendara, Kau mampu saja mencabut nyawaku, tapi itupun tak Kau lakukan Atau sebilah pisau tibatiba melayang menghujam jantungku Ataw bahkan sebuah peluru bersarang tepat di kepala yang selama ini mencariMu, namun semuanya tak Kau lakukan Mungkin belum waktunya, lalu kau beri aku k esempatan hidup buat menemukanMu di suatu tempat di labirin jiwaku Hingga suatu saat nanti, jika aku terpanggil kembali di sisiMu Aku kembali di rumpun bambuMu dengan lagu seruling indah yang biasa ku dengar entah dimana atau kapan aku tak tahu Mungkin saja saat kita masih bersama sebelum Kau tiupkan aku dalam seruling bambu yang tak berlubang ini. Inipun kutulis dalam lagu yang tak biasa Saat aku ingin menemukanMu Namun aku dipenuhi sayap keraguan tentang mereka yang meragukanMu Dalam keraguan itu kucoba menghentakkan dinding di antara kita agar mereka tak buta sertiku namun jug...