Langsung ke konten utama

RIVAL YANG TAK SEIMBANG

RIVAL YANG TAK SEIMBANG

   "Liat dia," Cindy menunjuk diriku dengan ujung hidungnya yang mancung, "apakah dia pantas menjadi rival kita?"

   Jana hanya menoleh sambil tersenyum menghina. Lalu buru-buru tak peduli dengan memalingkan wajahnya yang putih bah porselen.

   Keduanya kemudian berlalu di depanku dengan anggun. Mereka seumpama putri raja jaman dulu. Hidup bergelimang kebahagiaan dengan para centhi dan batur di sekelilingnya.

   Cindy, si gadis manis berambut sebahu. Keturunan arab-padang yang selalu memukau siapa saja. Ke manapun jadi pusat perhatian para kaum adam. Sedangkan Jana, seorang dara Menado berkolaborasi dengan darah biru priyayi Yogya. Gadis putih yang berparas ayu.

   Sedangkan aku, tak perlu kujelaskan riwayat singkat diri. Apa dan mengapa hingga mereka berdua sangat tidak senang padaku. Ya, aku bukan siapa-siapa, tidak menarik, tidak cantik, dan sebagainya dan sebagainya. Namun, mereka masih menganggap aku 'rival' yang tak tertandingi. Buktinya mereka tetap bersikap 'jutek' setiap melihatku. Mau tahu kenapa, tidak sekarang, sebentar lagi kau akan tahu sebabnya.

   "Kok melamun?" tanya mas Bara dengan logat jawanya yang kalem, "mereka lagi?" sambungnya seakan mengenal kemana arah pikiranku.

   "Mmmm ..., enggak kok, mau tau aja," berusaha menutupi perasaanku saat itu. Namun, itu tidak berhasil pada mas Bara, seakan hidungku yang pesek akan memanjang setiap kali aku melakukannya dan dia mengenalku.

   "Hahaha ..., tak berusaha untuk membuatmu terus berbohong Yayiku, ketahuilah mereka tak sebanding dengan dirimu."

   Kata-kata Bara yang barusan kudengar sebagai alunan musik dari tengah hutan yang damai. Sejuk dan membawa damai cintaku semakin membumi.

   Kami pasangan yang tak bisa dibilang sempurna. Mas Bara dengan wajah Korea namun berasa raja-raja Solo yang sopan dan kalem. Sedangkan aku, tak mungkin pula kujelaskan di sini. Ketidakseimbangan ini. Yang jelas kami sangat beda dalam segala hal,  namun, satu dalam cinta.

   Secara malu-malu kubenarkan hijab yang tertiup angin, sebagai rasa salah tingkah atas ungkapan kejujurannya padaku.

   Dan ia hanya tersenyum mengerti situasi yang telah terjadi di antara kami.

  Bara adalah kakak kelas yang sampai kini masih menyimpan sejuta rasa padaku. Entah mengapa. Tak pernah aku tanyakan.

   Bisa dikatakan, ia bintang kelas. Dan selayaknya 'super star,' semua kaum hawa selalu dibuatnya terpesona.

   Apa sih yang kurang dari seorang Bara. Orangnya cerdas, aktif dalam Osis, juara kelas, rendah hati dan pandai bergaul. Gagah? Itu mah, bonus. Yang jelas seisi sekolah kenal sama dia. Tidak terkecuali ya, mereka itu, Cindy dan Jana.

   "Mereka memang cantik," kata Bara kemudian, "Tapi, kecantikan itu hanya sebatas kulit, tidak seperti dirimu Yayi, cantikmu terpendam dalam jiwa yang sederhana."

   "Ahh, ayolah, jangan memuji seperti itu, ini tidak adil bagi mereka," kataku menepis sekali lagi, "Bukankah dengan begitu Mas Bara telah menyia-nyiakan kebesaran Tuhan?"

   "Kebesaran Tuhan? Apa maksud Yayi?" wajah serius mas Bara memancar ke wajahku

   "Tuhan telah menciptakan mereka dengan keindahan, tapi Mas Bara, tidak pernah sedetik pun melihatnya."

   Kalimat ini membuat mas Bara merubah raut wajah mencari penjelasan.

   "Iya 'kan? Sama saja menyia-nyiakan," aku lanjutkan kalimat itu, "Dengan mendekati aku, situasi ini semakin tidak menyenangkan saja."

   "Hahaha," ia tertawa memperlihatkan giginya yang tersusun rapi.

   "Ihh, Mas Bara kok malah ketawa, tidak lucu kali,"

   "Dulunya memang saya tertarik pada kecantikan mereka. Namun ketika bertemu Yayi. Rasa ini berubah."

   "Maksudnya?" kejarku

   "Ternyata kecantikan itu bukan hanya yang terlihat tapi juga yang tak nampak."

   "Contohnya saja Yayi, meski sudah 'dijutekin' dan dicuekin, tetap saja bersikap manis pada mereka."

   "Iya, itu karena mereka juga menyukai Mas Bara. Dan aku ? Mereka merasa aku bukan orang yang tepat buat Mas Bara," penjelasanku kali ini tetap membuat mas Bara tersenyum

   "Tau tidak sikap rendah hati dan sederhana inilah yang membuatku semakin mencintaimu, Yayi."

   Aku tidak bisa berkata-kata lagi mendengar kalimat ini. Kupikir mas Bara telah membawaku terbang ke angkasa. Serta rasa malu membuat pipi ini merah merona.

   Dan mulai saat itu, aku berusaha melupakan sikap mereka dengan tetap menebar senyum . Karena seperti kalian ketahui Tuhan maha adil. Meski aku tak secantik ciptaan-Nya yang lain, tapi aku dibiarkan-Nya tetap berusaha mempercantik diri dari hati, kata dan perbuatan.

   Jadi, aku tak perlu lagi menjelaskan mengapa dan apa yang telah terjadi antara dua putri yang cantik itu dan aku yang kurang cantik ini. Karena mas Bara cukup paham akan semua itu.

Catatan Kaki:
Centhi : PRT wanita
Batur : PRT pria
Yayi : Adinda

Ibnu Nafisah
Kendari, 01 Oktober 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebersihan Sebagian Dari Iman?

Hari lebaran telah tiba, semua bersuka cita menyambutnya. Ketika matahari belum benar-benar naik di langit ketika itu umat muslim memadati daerah yang telah ditentukan untuk melaksanakan shalat ied. Jalan-jalan lenggang, hanya dipadati pejalan kaki dan sesekali mobil dan motor pribadi. Saf-Saf dibuat ditempat tertentu, di sekitar mesjid, tanah lapang bahkan Jalan-jalan protokol yang dikhususkan sebagai tempat salat. Saf-Saf tersebut seketika saja merubah wajah jalan atau tanah lapang menjadi garis garis sejajar menghadap mimbar dadakan yang tiba-tiba berdiri secara ajaib sudah ada sejak malam atau subuh hari di hari yang fitri ini. Kaki-kaki penuh kebahagiaan pun berjalan menuju Saf-Saf yang bermimbar ajaib, mengisi deretan panjang yang telah disediakan. Ketika mentari mulai bersinar terang salat pun berlalu di akhiri khotbah dari para pengkhotbah yang entah berapa lembar kertas yang telah disediakan guna mengisi acara sesi terakhir dari salat ied tersebut. Dan matahari yang mula...

#15

Aku mendengar alunan lagu seruling bambu Suaranya merdupilu Ingatan akan kampung halaman serasa nyata Namun tak tergapai Sangat dekat ditelinga namun tak terasa Begitu bergetar didada namun hampa belaka Oo siapakah gerangan Dikau Yang bagai angin surgawi bermain dalam alunan jiwa Yang datang dan pergi menisik alunan indahnya Nadanada merdu itu kini bangkitkan cintaku Kadang resah tak beralasan Jua rindu yang tak terbendung Oo siapakah gerangan Dikau Kurasa Engkau pemilik Cinta dalam merdunya alunan lagu Memanggilku kembali ke rimba CintaNya Namun kita takkan bersama dalam dunia yang berbeda Karena aku hanyalah seruling bambu Yang kan selalu mencari dalam diriku alunan merdu cintaMu Dalam tiaptiap bait sabdaMu (#15, 09 April 2014)

#21

Dalam lelap tidurku, Engkau seharusnya mampu menidurkanku sepanjang hidupku, tapi itu tak Kau lakukan Dalam jalan ku berkendara, Kau mampu saja mencabut nyawaku, tapi itupun tak Kau lakukan Atau sebilah pisau tibatiba melayang menghujam jantungku Ataw bahkan sebuah peluru bersarang tepat di kepala yang selama ini mencariMu, namun semuanya tak Kau lakukan Mungkin belum waktunya, lalu kau beri aku k esempatan hidup buat menemukanMu di suatu tempat di labirin jiwaku Hingga suatu saat nanti, jika aku terpanggil kembali di sisiMu Aku kembali di rumpun bambuMu dengan lagu seruling indah yang biasa ku dengar entah dimana atau kapan aku tak tahu Mungkin saja saat kita masih bersama sebelum Kau tiupkan aku dalam seruling bambu yang tak berlubang ini. Inipun kutulis dalam lagu yang tak biasa Saat aku ingin menemukanMu Namun aku dipenuhi sayap keraguan tentang mereka yang meragukanMu Dalam keraguan itu kucoba menghentakkan dinding di antara kita agar mereka tak buta sertiku namun jug...