Langsung ke konten utama

RENCANA YANG SEMPURNA

RENCANA YANG SEMPURNA

"Katakan sayang, kau masih mencintaiku," ucap David di malam itu.

   Clara hanya diam dan membeku, suara David terdengar seperti hantu. Gaun merah hadiah dari David, membalut tubuhnya yang seksi. Semakin membuat dirinya menonjol di antara bagian ruang yang remang.

   Malam ini adalah malam peringatan satu tahun kebersamaan Clara dan David. Sekaligus malam yang tak terlupakan buat Clara.

   Makan malam itu pun belum sepenuhnya tuntas. Sebotol champagne masih setengah isi di atas meja. Dan lilin berbentuk trisula masih berdiri anggun di tengah-tengah menu makan malam- sepiring steak dan potongan besar kalkun panggang.

   "Clara sayang," David berbicara seakan berbisik, "apapun yang telah terjadi malam ini, aku...," sedikit menahan pedih di dada, "tetap, mencintai, mu."

   Kalimat ini tetap membuat Clara bungkam. Nafasnya seakan desahan yang bergema di ruang yang senyap. Ada ketakutan dan rasa puas di sana.

   Clara masih sedih sekaligus bingung. David yang ia cintai sekaligus ia benci mengucapkan kata cinta seperti satu tahun yang lalu. Masih romantis dan hangat seperti saat itu.

   Sesaat kerinduan melandanya, menghanguskan kebencian yang sempat timbul. Namun, inilah malam yang telah dinantikannya. Sebuah rencana manis telah ia persiapkan sejak tahun lalu.

   "Kau berkata cinta? Sementara Ayahku, kau kenal siapa dia. Seorang pensiunan tua yang telah berhenti dari pekerjaan kotornya. Kau telah membunuhnya."

   "Aku juga mencintaimu, tapi aku lebih mencintai Ayahku," akhirnya pengakuan Clara keluar juga dengan lancar.

   "Hahaha..., bandot tua itu, uhukk...," sedikit batuk karena tawa yang dipaksakan David membuat dadanya semakin nyeri.
  
   "Dia sungguh beruntung. Ternyata, ternyata punya, anak yang berbakti," suara David semakin lemah di ruangan yang cukup besar itu.

   "Akhirnya kau mengaku juga David, sayang," kata Clara seakan tak percaya atas pengakuan kekasihnya itu.

   "Mmmmm...," suara nafas yang berat semakin menekan dada kiri David, racun dari tanaman The Suicide Tree itu membuat otot jantungnya kejang.

   "Asal kau tahu..., Ayahmu masih, ehh, hidup..., Clara," kali ini suara David hampir hilang.

   Nafas David semakin sesak dan memucat di sekitar wajahnya yang memudar, "Ia hidup...," kata ini membuat Clara semakin ketakutan.

   Seperti tak percaya apa yang baru saja terdengar oleh Clara. Wajah yang berbibir merah itu semakin menegaskan warna pucat yang tiba-tiba hinggap di sana.

   "Katakan kau bohong, kau mempermainkan aku 'kan?" tanya Clara, namun David hanya tersenyum dalam perjuangan dengan kematiannya.

   "Aku, aku tahu..., kaulah anaknya. Tau dari semula. Anak itu yang kucin..., tai," semakin sulit kalimat itu terucapkan oleh David.

   "Ku..., telah membe..., baskannya," kalimat yang nyaris tak terdengar oleh Clara, dan merupakan kalimat terakhir yang takkan pernah ia lupakan nantinya.

   Racun itu bekerja dengan cepat dan maksimal. Menyerang jantung David, lalu membuat napas terhenti perlahan. Membuat wajah David serupa batu pualam, beku dan kaku. Ini semua sesuai rencana. David mati dengan mudahnya, tanpa perlawanan.

   Clara dengan cekatan memeriksa denyut nadi di tangan David. Menggoyangkan wajah kaku itu sekuat-kuatnya, namun sudah terlambat. David telah mati.

   "Tidaaak...!" Clara berteriak histeris. Kini hanya sesal mengalir di pipinya yang putih seiring suaranya yang bergema di seluruh ruangan.

   Mayat pria yang kaku itu. Pria yang sengaja dipacarinya itu telah mati di tangannya. Melalui racun Cerberin yang ia masukkan ke gelas champagne milik David. Sungguh luar biasa rencana yang telah disusun dengan rapi, kini berhasil dengan sempurnah. Namun, hanya satu kekurangan Clara. Ia telah membunuh kekasih yang telah menyelamatkan ayahnya.

Ibnu Nafisah
Kendari, 17 September 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebersihan Sebagian Dari Iman?

Hari lebaran telah tiba, semua bersuka cita menyambutnya. Ketika matahari belum benar-benar naik di langit ketika itu umat muslim memadati daerah yang telah ditentukan untuk melaksanakan shalat ied. Jalan-jalan lenggang, hanya dipadati pejalan kaki dan sesekali mobil dan motor pribadi. Saf-Saf dibuat ditempat tertentu, di sekitar mesjid, tanah lapang bahkan Jalan-jalan protokol yang dikhususkan sebagai tempat salat. Saf-Saf tersebut seketika saja merubah wajah jalan atau tanah lapang menjadi garis garis sejajar menghadap mimbar dadakan yang tiba-tiba berdiri secara ajaib sudah ada sejak malam atau subuh hari di hari yang fitri ini. Kaki-kaki penuh kebahagiaan pun berjalan menuju Saf-Saf yang bermimbar ajaib, mengisi deretan panjang yang telah disediakan. Ketika mentari mulai bersinar terang salat pun berlalu di akhiri khotbah dari para pengkhotbah yang entah berapa lembar kertas yang telah disediakan guna mengisi acara sesi terakhir dari salat ied tersebut. Dan matahari yang mula...

#15

Aku mendengar alunan lagu seruling bambu Suaranya merdupilu Ingatan akan kampung halaman serasa nyata Namun tak tergapai Sangat dekat ditelinga namun tak terasa Begitu bergetar didada namun hampa belaka Oo siapakah gerangan Dikau Yang bagai angin surgawi bermain dalam alunan jiwa Yang datang dan pergi menisik alunan indahnya Nadanada merdu itu kini bangkitkan cintaku Kadang resah tak beralasan Jua rindu yang tak terbendung Oo siapakah gerangan Dikau Kurasa Engkau pemilik Cinta dalam merdunya alunan lagu Memanggilku kembali ke rimba CintaNya Namun kita takkan bersama dalam dunia yang berbeda Karena aku hanyalah seruling bambu Yang kan selalu mencari dalam diriku alunan merdu cintaMu Dalam tiaptiap bait sabdaMu (#15, 09 April 2014)

#21

Dalam lelap tidurku, Engkau seharusnya mampu menidurkanku sepanjang hidupku, tapi itu tak Kau lakukan Dalam jalan ku berkendara, Kau mampu saja mencabut nyawaku, tapi itupun tak Kau lakukan Atau sebilah pisau tibatiba melayang menghujam jantungku Ataw bahkan sebuah peluru bersarang tepat di kepala yang selama ini mencariMu, namun semuanya tak Kau lakukan Mungkin belum waktunya, lalu kau beri aku k esempatan hidup buat menemukanMu di suatu tempat di labirin jiwaku Hingga suatu saat nanti, jika aku terpanggil kembali di sisiMu Aku kembali di rumpun bambuMu dengan lagu seruling indah yang biasa ku dengar entah dimana atau kapan aku tak tahu Mungkin saja saat kita masih bersama sebelum Kau tiupkan aku dalam seruling bambu yang tak berlubang ini. Inipun kutulis dalam lagu yang tak biasa Saat aku ingin menemukanMu Namun aku dipenuhi sayap keraguan tentang mereka yang meragukanMu Dalam keraguan itu kucoba menghentakkan dinding di antara kita agar mereka tak buta sertiku namun jug...