Langsung ke konten utama

CINTA SEMU ALINA

Revisi
******
CINTA SEMU ALINA

   "Kamu ... kamu ... dan kamuuuuu ...!"

   Sebuah suara melintasi rel kereta api. Dan ...

   Braaaakkk!!! Suara yang menyusul akibat gilasan kereta api terdengar sangat menyayat.

   "Tidaaaaaaakkkkkk!!!" teriak Alina seketika.

                                 ***

   Tiga kata itu membuat Alina terkejut, seakan jiwanya meloncat keluar ruang dadanya. Tidak ada kata yang cukup mengungkapkan apa yang sedang terjadi. Atau menggambarkan perasaan yang sedang berkecamuk di sana.

   Tubuhnya seakan mati rasa. Berdiri mematung mencerna kejadian demi kejadian yang telah terjadi dengan kenyataan di hadapannya. Belum bisa menangkap kenyataan yang seketika bagai film berdurasi lima menit.

   Seperti mengharapkan hujan di musim kemarau. Seketika itu pun gerimis dan air datang membasahi kerudungnya yang hangat. Dan tiba-tiba semua terhenti karena seseorang mematikan kran di depan halaman rumahnya. Saking inginnya bermain air di musim panas, selang air tanaman pun tidak luput dari kenakalan gadis cilik masa itu. Masa saat ia masih belum mengenal kata cinta. Seperti itu pula Alina merasa bahagia, namun sekejap sirna, punah berganti nestapa.

   Cinta sebelumnya hanya seumpama kecupan selamat malam dari ayahnya. Atau pelukan hangat sang Ibu yang setiap pagi membuatkan sarapan istimewa. Roti bakar ala Chef rumahan.

   Atau sebagaimana tangannya yang mungil dengan lincah memetik bunga-bunga di taman. Saat mereka sekeluarga berekreasi di halaman depan rumahnya yang rindang. Di bawah pohon Akasia tua. Cinta hanya sebatas itu. Tidak lebih dan tidak terasa seperti sekarang. Ketika ia berteriak, "Tidaaaakkk!!!"

   Cinta ini begitu nyata, dewasa, liar dan menggairahkan. Bagai burung terbang lepas menemukan langit cerah sebagai ruangnya.

   Lelaki yang ia kenal itu sangat ramah. Sama seperti ketika pertama kali bertemu. Saat itu kejadiannya pun sangat singkat. Hiasan bunga-bunga pada kerudung Alina tanpa sengaja terkait pada tas ransel milik seorang pemuda yang belum pernah ia temui sebelumnya, di sebuah toko pakaian muslim.

   Ia--pemuda gagah penuh misteri--setidaknya itu bayangan Alina, dengan sopan dan sigap membenarkan kerudung jingganya. Dengan refleks tangan Alina juga mengambil sisi lainnya. Lalu dua pasang mata itu bertemu. Cukup lama untuk menyimpannya jadi memori yang menyenangkan.

   "Maaf mbak, ini salah saya," kata pemuda misterius itu sambil memperbaiki renda kerudung Alina.

   "Iya mas, ini tidak sengaja, kok," balas Alina setengah menahan gejolak yang seketika hadir di antara mereka.

   "Raka." Tangannya terulur.

   Sebuah senyum manis membalas tangan itu. "Alina."

   "Mmmmm ..., Mbak cari kerudung, ya?" kata Raka basa-basi, sambil menarik lengannya yang sempat terjulur meraih udara beku.

   "Iya," Alina merasa serba salah, sambil berpura-pura melihat kain yang berwarna-warni di lemari kaca.

   "Warna biru langit bagus," sambil menarik sehelai kerudung, "ini buat kamu," Raka menyodorkan pada Alina dan yang ditegur malah makin salah tingkah.

   "Tapi, Mas Raka," suara Alina terdengar kaget, "ini kerudung buat ibu saya," akhirnya kalimat itu jadi utuh juga.

   "Ndak, pa-pa kok, itu buat kamu dan yang ini buat ibumu." Raka meraih satu helai lagi.  "Anggap saja sebagai tanda maaf Mbak Alina."

   Alina terdiam, kaget bercampur kagum menilai pemuda yang penuh simpati tersebut. Sejak kejadian itulah Alina seakan memiliki banyak alasan agar bisa bertemu kembali dengan Raka. Namun sayang, selama bersama mereka saling malu-malu untuk memulai sesuatu yang sebenarnya telah terjadi.

   Hingga suatu siang yang panas, langit cerah dan matahari bersinar tiada henti menjadi saksi peristiwa yang sama sekali di luar dugaan Alina.

   Saat itu Alina bertemu Raka di tempat biasa Alina meneliti rel kereta api. Tugas akhir kuliah yang mengharuskan ia bergelut dengan papan-papan rel yang berdesing, bergemuruh saat kereta melaluinya.

   "Alinaaaa ...!" Raka mengibarkan tangannya, yang terpanggil hanya balas menengok meneliti datangnya suara itu.

   "Hei, mas Raka!" Dalam hati Alina ingin mengucapkan kata 'Aku mencintaimu', tapi rasa malu membuatnya semakin tak keruan.

   "Sudah lama di sini?"

   "Belum lama kok, baru dua jam!" Sedikit senyum menggoda di sana.

   "Hahaha ... itu sih sudah lama, maaf tadi ngantar teman ke stasiun, jadi agak molor, ndak pa-pa, 'kan?"

   "Mau jawaban jujur atau bo'ong?" todong Alina tiba-tiba.

   "Bo'ong dulu deh, hehe ...."

   "Aku marah karena lama menunggu," balas Alina sambil berjalan menuju Raka.

   Pemuda itu tergelak sesaat, lalu bertanya, "Terus yang jujur?"

   "Aku mencintaimu!" Kalimat ini begitu saja lepas bagai anak panah dari bibir manis Alina.

   Alina kaget dengan kata-katanya sendiri, sementara langkah Raka terhenti. Mereka saling pandang menenangkan guruh di hati masing-masing. Raka bergeming, mencoba mencerna, apakah ini halusinasinya saja atau sebuah ungkapan cinta. Ia ingin Alina mengulanginya sekali lagi. Tapi ia ragu. Lalu semua menjadi jelas saat Alina balik bertanya pada Raka.

   "Siapa yang ada di hatimu?"

   "Siapa orang kaucintai?"

   "Siapakah dia?"

   Pertanyaan itu keluar begitu saja saat Raka belum berhasil menyamakan apa yang terdengar dan apa yang ia rasakan. Di saat Raka belum sempat berkata-kata, Alina sudah menyadari kesalahannya. Pantaskah seorang wanita mempertanyakan hal sesensitif itu? Hal yang bahkan sangat tabu baginya.

   Sementara Raka hanya terdiam, hatinya menjawab, "Tentu saja kamu, Alina."

   Tapi tetap saja terasa lucu. Pantaskah seorang lelaki disudutkan seperti itu? Raka masih membutuhkan waktu untuk mengatakan yang sesungguhnya. Tapi sebelum semua itu terjadi, Alina sudah lari menyeberangi rel kereta api sekadar meninggalkan Raka dan semua ketololan yang baru saja terjadi.

   Namun seketika pula rentetan pertanyaan itu serta-merta membuat Alina merasa bersalah. Untuk itukah Raka mengejarnya hingga nekat melintasi rel kereta? Bahkan tanpa memerhatikan kereta api yang sedang akan melintas di antara mereka? Lalu meneriakkan kata-kata yang selalu Alina rindukan tapi tak kunjung terdengar hingga saat ini. Kata itu berulang-ulang berdengung di kepalanya.

   "Kamu ... kamu ... dan kamuuuuu ...!"

   Tak ada kata cinta di dalamnya, tapi sungguh itu kata yang dibutuhkan Alina.Sebuah pengakuan. Perasaan yang selama ini dipendam namun tak lagi bisa Alina bendung, kini justru menjadi bumerang, menghantam di ujung matanya yang sekarang berkaca-kaca. Lambat dan lirih jadi sendang yang mengalirkan sungai di kedua pipinya.

   Badannya kaku, beku, menatap sang tercinta yang kini tak bernyawa diempas kereta api yang datang bergemuruh.

Ibnu Nafisah
Kendari, 19 September 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#15

Aku mendengar alunan lagu seruling bambu Suaranya merdupilu Ingatan akan kampung halaman serasa nyata Namun tak tergapai Sangat dekat ditelinga namun tak terasa Begitu bergetar didada namun hampa belaka Oo siapakah gerangan Dikau Yang bagai angin surgawi bermain dalam alunan jiwa Yang datang dan pergi menisik alunan indahnya Nadanada merdu itu kini bangkitkan cintaku Kadang resah tak beralasan Jua rindu yang tak terbendung Oo siapakah gerangan Dikau Kurasa Engkau pemilik Cinta dalam merdunya alunan lagu Memanggilku kembali ke rimba CintaNya Namun kita takkan bersama dalam dunia yang berbeda Karena aku hanyalah seruling bambu Yang kan selalu mencari dalam diriku alunan merdu cintaMu Dalam tiaptiap bait sabdaMu (#15, 09 April 2014)

#19

Jika Rumi mengatakan "Kita hanyalah seruling bambu yang bercerai dari rumpunNya" Maka aku berkata" aku hanyalah sebilah bambu yang tak berlubang" Yang tak berbunyi saat angin melaluinya Yang meski mendengar lagu namun tak mampu menari ke khadiratNya, walau itu nyanyian surgawi Tak mampu memainkan melodi indahNya, meski penciptaNya menulisnya dengan tinta emas Namun jika aku sebilah bambu yang ingin kembali ke rumpunNya, yah itulah aku meski kadang menari dan bernyanyi cuman dalam pikiran melalui selentingan gerakan sahaja agar bisa kembali kerumpun amalannNya. (#19, 17 April 2014)

Kebersihan Sebagian Dari Iman?

Hari lebaran telah tiba, semua bersuka cita menyambutnya. Ketika matahari belum benar-benar naik di langit ketika itu umat muslim memadati daerah yang telah ditentukan untuk melaksanakan shalat ied. Jalan-jalan lenggang, hanya dipadati pejalan kaki dan sesekali mobil dan motor pribadi. Saf-Saf dibuat ditempat tertentu, di sekitar mesjid, tanah lapang bahkan Jalan-jalan protokol yang dikhususkan sebagai tempat salat. Saf-Saf tersebut seketika saja merubah wajah jalan atau tanah lapang menjadi garis garis sejajar menghadap mimbar dadakan yang tiba-tiba berdiri secara ajaib sudah ada sejak malam atau subuh hari di hari yang fitri ini. Kaki-kaki penuh kebahagiaan pun berjalan menuju Saf-Saf yang bermimbar ajaib, mengisi deretan panjang yang telah disediakan. Ketika mentari mulai bersinar terang salat pun berlalu di akhiri khotbah dari para pengkhotbah yang entah berapa lembar kertas yang telah disediakan guna mengisi acara sesi terakhir dari salat ied tersebut. Dan matahari yang mula...