Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2020

WHAT'S STOPPING YOU

WHAT'S STOPPING YOU Tidak ada yang ingin sebuah perpisahan terjadi. Apapun alasan perpisahan tersebut. Di awal sebuah hubungan seseorang akan merasakan keindahan dan nikmatnya sebuah cinta. Namun seiring waktu dan penyesuaian segalanya jadi berubah. Lalu akhirnya sebuah keputusan rumit harus segera diputuskan. Tersebutlah seorang yang bernama Bambang Priyanto yang kini tengah berdiri di depan pagar sebuah rumah. Langkahnya terhenti sejenak. Ia ingin masuk ke dalam namun entah mengapa tubuhnya tiba-tiba melambat dan akhirnya hanya berada di depan pintu pagar. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit ... Waktu pun berjalan, tapi tidak dengan bayangannya. Entah apa yang sedang ia lihat di depan rumah itu hingga pikirannya menghentikan kedua kakinya. Usianya baru 35 tahun saat ia memutuskan menikah dengan janda beranak satu yang berprilaku selayaknya gadis belasan tahun. Entah apa yang membuat Bambang tertarik dengan wanita yang telah beranak. Apakah rasa bosan atau frustasi d...

NASIOPA

NASIOPA Kenangan itu seperti hantu yang datang di otak manusia. Tak nampak secara kasat mata namun akan melukai secara halus orang yang terserang olehnya. Kita bisa bilang, "tak apa-apa," nyatanya hantu itu melewati ruang-ruang waktu dari hidup seseorang. Hingga suatu saat dilipatan waktu yang tak tentu ia memberikan pukulan terakhirnya. Seseorang akan bersuka cita, berduka atau bahkan terluka olehnya.  Begitulah yang dialami seorang lelaki sepertiku, waktu telah membuat diriku jatuh bangun untuk merasakan perih, duka, cinta dan haru-biru di satu waktu yang sama.  Di usiaku yang tak muda lagi nampaklah aku, seorang lelaki meneteskan air mata saat sedang makan siang di dapur rumahku yang tak seberapa megah. Hanya meja pendek dan beralaskan karpet merah bermotif garis dan kotak. Tak ada yang istimewa memang untuk seorang wanita ketika menangis. Karena itulah sifat alamiahnya. Namun akan berbeda dengan seorang lelaki seperti diriku. Menangis berarti itu suatu hal yang luar biasa...

PAK TUA

PAK TUA Hari tua memang sesuatu yang sungguh misteri. Kita tahu dan bisa prediksi kapan waktu itu tiba. Tapi yang tidak kita ketahui  akan bagaimana hari tua itu menyentuh seseorang. Sama misterinya dengan pertanyaan akankah hari tua itu menyapa di saat waktunya tiba? Sebab seorang yang berumur muda belum tentu merasakan hari tuanya. Itu sama menyedihkan jika hari tua telah tiba namun digunakan untuk sesuatu yang sia-sia. Ada seorang Tua yang kadang bagai hantu melewati hari-harinya seorang diri. Hidup sepi sendiri. Tak banyak yang tahu mengapa hidupnya jadi sebatang kara. Bagai pohon tua tak berdaun. Hanya menunggu angin kencang ia akan roboh ke tanah. Tubuhnya yang keriput dan rambutnya yang memutih. Ia berjalan dari rumahnya ke masjid. Ia tidak hendak ke masjid untuk salat , ia hanya menumpang mandi di kamar mandi masjid. Aku tahu karena beberapa kali berpapasan dengannya ketika pulang dari bekerja. Pagi ini pun aku berpapasan dengan pak tua itu. Sebuah handuk tersampir di punda...

CERITA TENGAH MALAM

CERITA TENGAH MALAM Di umurku yang lebih dari seperempat abad meski belum seberapa tapi sudah cukup merasai namanya asam garam. Pahit manisnya kehidupan meski tak seberapa itu lebih dari cukup untuk sekadar merasai hidup. Saat ini kedewasaan bukan dibuktikan hanya melalui banyaknya umur yang terukir di kulit tangan. Atau wajah yang keriput hasil dari lipatan waktu. Kedewasaan yang sepatutnya dilihat dari sikap dan tindakan dalam menghadapi hidup. Juga bukan dari berapa anak yang kita punya atau seberapa gigihnya dalam bekerja. Sekali lagi itu bukan jaminan kedewasaan. Tapi, tahu apa aku tentang kedewasaan, kita menjadi dewasa ketika waktu bersenggama dengan keadaan menghasilkan anak-anak keinsyafan dan kebijaksanaan. Aku masih jauh dari itu semua, namun dengan bergulirnya waktu di depan mataku kini kesadaran ke arah itu mulai nampak. Di malam-malam seperti ini, aku tak lagi menjadi hewan liar seperti dahulu. Masa muda kadang jadi arah yang tak pasti, namun masa setelah masa muda...

LELAKI BERKAKI BUNTUNG

LELAKI BERKAKI BUNTUNG  Motorku menderu di jalan beraspal. Pagi yang cerah di hari Jumat sungguh indah. Jalan bypass di Kendari Barat nampak elok bagai ekor ular yang panjang. Ular itu mengelilingi teluk kebanggaan kota. Di sinilah tempat keramaian berpusat ketika senja hari telah rebah ke Barat. Segala macam penjual ada di sana. Mereka mendirikan lapak, tenda, gerobak atau menebar terpal dan bahkan sekadar tersenyum manis di bawah lampu remang-remang.  Ketika pagi hiruk-pikuk malam bagai embun yang menguap. Tak ada bangunan lapak yang berdiri yang ada hanya teluk. Air yang tenang dengan warna kecokelatan jika hujan tiba. Tapi kali ini sungguh biru dan tenang karena matahari tercurah begitu hangatnya beberapa hari ini. Meski jalan ini terbagi dua ruas dengan dibatasi lampu dan taman kecil selebar satu meter untuk rumpun bunga. Lalu beberapa hotel berdiri perkasa menatap genangan air laut di depannya namun kendaraan bermotor sangat jarang. Terlebih lagi di hari sepagi ini. Hany...

KISAH CINTAKU DI KPPN II

Kisah Cintaku di KPPN (Bag. II : mungkin disini akan dibahas hal di atas. Hehe.) Petugas KPPN pada dasarnya ramah dan baik hati bahkan bisa jadi teman curhat yang mengasyikkan sekaligus baik untuk pendamping hidup eh, pendamping dalam pekerjaan. Membantu satker yang terlampau galau karena aplikasi hilang atau memang buta aplikasi. Jika anda bermasalah dalam pekerjaan datanglah di KPPN segala masalah akan teratasi tanpa masalah. Seharusnya begitu, tapi terkadang masalah jadi rumit jika datang 'apesnya'. Ketika kontrak sudah terlambat dan terjadi kesalahan ketika itu pula aplikasi rewel dan lupa 'membackup' data. Sudah pasti satker tersebut akan super duper sibuk. Hal itu pernah saya alami ketika rumah kami kecurian, segala hape dan laptop hilang tanpa pernah kembali. Sialnya laptop itu adalah laptop kantor yang berisi semua aplikasi. Aplikasi lain tidak masalah, sekali install bisa kembali, tapi aplikasi SAS harus memakai backup data dan 'backuppun' di flashdi...

KISAH CINTAKU DI KPPN

Kisah Cintaku di KPPN Perkenalkan nama saya Dano, dari satker Brimob Kendari. Sudah tahukan kantor Brimob? jaraknya bisa menghabiskan waktu 30 menit ke KPPN kalau pakai kendaraan bermotor, itu dijam-jam kerja (sibuk), ditambah lampu merah mulai meramaikan jalan bypass, pas lampu hijau semua pengendara seakan menjadi peserta road race, tak ada yang mau dibelakang, asli jadi pembalap liar. Tapi, perjalanan dari Brimob ke KPPN bisa jadi satu jam jika pakai angkutan umum dari Baruga ke Tipulu, Kemaraya (tidak percaya? Ya tidak apa-apa). Karena jarangnya angkutan umum yang melewati Brimob, itupun kecuali kendaraan umum yang tinggal di daerah Konda dan sekitarnya. Bisa dibayangkan daerah itu seperti antara perbatasan Papua dan Papua Nugini asli sepi buat angkutan umum.(wow lebay). Pulang pergi dari dan ke KPPN sudah menjadi makanan sehari-hari yang paling cukup menaikkan adrenalin. Coba saja dibayangkan pagi sampai siang hari SPM yang akan dibawa ke KPPN dikerjakan dengan penuh tantangan. ...

SEBUAH DOA

SEBUAH DOA Rumah dengan pintu bercat merah itu kelihatan lengang. Angin meniup diantara helai daun Nusa Indah dan Bidara lalu menggoyangkan tirai rotan. Tak ada suara dari dalam. Hanya bunyi kucing mengeong di atas atap rumah. Sepi. Namun jika dilihat lebih jauh ke dalam, melalui jendela bergorden kuning berbentuk kupu-kupu, nampaklah seorang wanita sedang bersusah hati. Wajahnya tertekuk tanpa senyuman. Senyuman yang biasa mewarnai bingkai bibirnya kini hilang tanpa jejak. Matanya manik bening hitam kecoklatan. Bagai kaca yang akan memantulkan gambar apa saja yang ada dihadapannya. Rambut hitam panjang sepunggung tergerai tak beraturan di sekitar wajahnya. Dari Wajah yang cemberut itulah hati yang susah terpancar. Ia adalah wanita yang baik juga patuh pada suaminya. Sikap sabar dan diamnya mungkin berasal dari orang tuanya yang memiliki buyut yang hampir sama sikapnya. Banyak yang bilang ia adalah wanita yang beruntung. Mungkin banyak orang melihat kehidupannya tanpa kekurangan at...

AKU CINTA SAMA KAMU

"Aku cinta sama kamu!" Kalimat itu terlontar begitu saja dari bibir mungil dengan wajah bulat serta pipi sebesar bakpao. Matanya yang kecil semakin sipit karena bibirnya tersenyum manis sehingga gigi susunya yang seputih gading nampak berkilau. Tak ada beban pada kalimat itu. Bagai angin yang merambah udara menembus ruang-ruang. Kata-kata itu sering terdengar dan bahkan sangat biasa bagi remaja saat ini. Namun ini agak lucu dan canggung jika kalimat tersebut dilontarkan oleh anak sekitar lima tahunan. Apa yang ia pikirkan tentang 'cinta'? Apakah arti cinta sama dengan arti cinta yang dimaksud dengan arti pada umumnya di kamus-kamus besar bahasa Indonesian? Atau cinta yang sama pada muda-mudi yang sedang kasmaran? Atau arti cinta itu hanya sekadar semanis gulali? "Aku cinta sama kamu!" "Hahaha ..." Kata gadis kecil berwajah oriental dan berambut pedek sedagu juga poni lucu di atas kening. Masih dengan sifat kekanak-kanakan yang tak dibuat-buat...

AN NAJIYAH

AN NAJIYAH Menjadi bapak baru merupakan suatu pengalaman yang sangat menyenangkan. Tapi tidak semua orang dapat merasakan sensasi tersebut. Bagi mereka yang beruntung hari-harinya akan terasa cepat. Sejam dua jam di kantor, beberapa saat kemudian sudah berada di rumah dengan berbagai alasan. Alih-alih bekerja, nyatanya sudah berada dalam pelukan sang anak, bercanda, berbicara secadel-cadelnya, atau bercakap-cakap tak tentu seperti orang mendadak gila. Hal itu sering terjadi pada setiap bapak baru bahkan ini terjadi pada Hubbiy, satu dari banyak lelaki yang telah merasakannya. Hubbiy yang baru setahun ini menikah dengan seorang perawan desa, Habibati, begitulah ia memanggil istri tersayangnya. Kini ia sudah diberi harta yang sangat besar oleh Tuhan penciptanya. Seorang anak yang Masya Allah sungguh menggemaskan. Seperti pagi ini baru satu jam masuk kantor, beberapa saat kemudian sepeda motor yang dikendarai hubbiy melaju di atas aspal dengan rute kantor - anawai, tujuan rumah. Namun ...

BIADAB

BIADAB Embun subuh perlahan turun di atas bumi Anawai. Kabut tipis mengendap perlahan. Permukaan rumput di depan teras dan beberapa helai daun Nusa Indah menjemput titik-titik air. Agak tergesa-gesa, pintu rumah bercat merah itu kuputar kuncinya dari dalam. "Trekk .., trekk ...!" Dua kali bunyi terdengar dengan cepat. Selanjutnya bunyi pintu tertutup agak keras di belakangku. Setelah berada di teras yang bertirai rotan, badanku yang hanya memiliki tinggi seratus enam puluh enam sentimeter dan berat enam puluh dua kilogram bergerak seperti orang di kejar setan. Kepanikan seperti itu belakangan ini sering terjadi saat salat subuh telah tiba. Pekerjaanku yang membutuhkan lembur hingga tidur mendekati pagi kadang tidak jarang terjadi. Alhasil ketika adzan bergemuruh dari bawah tempat tidur, setelah sepuluh menit berlalu, tenaga dalam setiap inci urat sarafku baru mampu kembali normal. Saat itu tergopoh-gopoh membuka pintu kamar tidur depan menuju kamar tidur utama untuk...