SEBUAH DOA
Rumah dengan pintu bercat merah itu kelihatan lengang. Angin meniup diantara helai daun Nusa Indah dan Bidara lalu menggoyangkan tirai rotan. Tak ada suara dari dalam. Hanya bunyi kucing mengeong di atas atap rumah. Sepi.
Namun jika dilihat lebih jauh ke dalam, melalui jendela bergorden kuning berbentuk kupu-kupu, nampaklah seorang wanita sedang bersusah hati. Wajahnya tertekuk tanpa senyuman. Senyuman yang biasa mewarnai bingkai bibirnya kini hilang tanpa jejak.
Matanya manik bening hitam kecoklatan. Bagai kaca yang akan memantulkan gambar apa saja yang ada dihadapannya. Rambut hitam panjang sepunggung tergerai tak beraturan di sekitar wajahnya. Dari Wajah yang cemberut itulah hati yang susah terpancar. Ia adalah wanita yang baik juga patuh pada suaminya. Sikap sabar dan diamnya mungkin berasal dari orang tuanya yang memiliki buyut yang hampir sama sikapnya.
Banyak yang bilang ia adalah wanita yang beruntung. Mungkin banyak orang melihat kehidupannya tanpa kekurangan atau masalah. Namun, mereka salah. Sikap sabar dan ikhlas menjadikan ia seorang yang spesial.
Seperti hari ini hatinya resah. Tanggal sudah memasuki penghujung bulan. Hari ini tepat 31 Agustus 2019. Besok sudah tanggal 1 September 2019 dan itu berarti gaji baru akan ia terima tepat ditanggal satu. Sebagai ibu rumah tangga situasi ini memang sungguh dilema sekaligus dramatis. Di saat bahan makanan telah habis dan uang belanja tak ada lagi, kini ia harus berpikir keras untuk memenuhi kebutuhan makan keluarganya.
Ia telah mencari-cari dalam dompet, dalam lipatan baju yang biasa ia menyimpan beberapa lembar uang lima ribuan atau sepuluh ribuan. Tapi lembaran itu tetap tak nampak wujudnya meski selembar pun di sana.
Segala kotak dan lemari sudah lelah ia periksa. Bahkan kantong-kantong baju dan celana sang suami yang kadang terselip beberapa lembar, kini tidak nampak seperti biasanya.
Wanita ini bukanlah wanita yang bersikap boros. Semua uang yang ia keluarkan telah melalui pemikiran yang tepat dan terukur. Hanya saja bulan ini pengeluaran itu terjadi karena qadarullah (sudah menjadi kehendak Allah Subhana wa taala) maka ada saja pengeluaran yang tak terduga. Misalnya saja anaknya yang masih balita itu lebih sering menggunakan popok lebih dari bulan sebelumnya. Atau sekadar membayar biaya dokter dan sebagainya. Sehingga pengeluaran berlebih pun tak disadarinya.
Ia juga bukan wanita yang mudah meminta-minta. Mengecilkan wajahnya di depan orang lain demi nafsu duniawi. Tak pernah dalam hatinya untuk mengutang meski harus kelaparan. Ia tidak dididik demikian. Meski ia besar dari keluarga yang sederhana, tapi pantang baginya untuk menengadahkan tangan pada orang lain.
Tapi nyatanya hari ini Allah Subhana wa taala sedang mengujinya. Jarum pendek telah menunjuk ke angka sebelas dan jarum panjang berada di angka enam, tiga puluh menit lagi waktunya untuk menyiapkan makan siang.
Sang suami yang sedang berada di kantor pasti akan tiba di rumah sekitar jam dua belas siang lewat tiga puluh menit. Saat itu adalah waktu makan siang setelah sang suami melaksanakan salat Dzuhur terlebih dahulu.
Ia telah beberapa kali melirik ke pohon Kelor di depan rumah. Namun daun-daun di tangkainya sudah lenyap sejak dua hari yang lalu. Beras dan ikan pun telah habis semalam. Apa yang harus ia perbuat? Apakah dengan mengatakan bahwa makanan telah habis saat suaminya datang dengan penuh harap untuk makan siang adalah hal yang baik? Tidak. Ia tidak akan mengatakan hal yang sejahat itu. Ia tidak tega.
Air matanya perlahan jatuh di atas baju daster birunya. Semakin dicegah air mata itu semakin deras mengalir. Ia tahu suaminya telah cukup bekerja keras dan gajinya pun cukup untuk mereka bertiga selama sebulan, dengan anak semata wayangnya. Tapi toh, bulan ini keadaannya menjadi begini.
Tiba-tiba ia bangkit dari duduknya yang penuh kesedihan. Ia memang bukan wanita yang lemah. Ia tahu itu. Kesedihan itu cuma sekadar rasa instrospeksi dirinya, agar dikemudian hari ini tidak terjadi lagi. Dihapusnya air mata kesedihan. Kemudian bergegas ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian tubuh putih itu sudah hanyut dalam siraman air. Setelah mandi dan berwudhu ia segera melaksanakan salat dhuhur untuk meminta dan mengeluh kepada sang pencipta. Kepada siapa lagi kita mengeluh selain padanya. Bukankah Tuhan maha tahu apa yang terbaik bagi hambanya?
Selesai salat dan berdandan menggunakan pakaian yang terbaik ia melihat wajahnya di depan cermin. Ada senyuman di sana. Rasa segar membuatnya bersemangat.
Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba.
"Assalamu'alaikum," suara sang suami terdengar dari luar.
"Waalaikum salam," jawabnya tenang.
Dihampirinya pintu bercat merah itu. Ketika dibuka terlihatlah wajah lelah di luar sana. Meski senyuman itu nampak hangat namun terasa lemas ketika ia mencium punggung tangan suaminya.
"Sayang, Najiyah lagi tidur?" Sambil berusaha melirik ke pintu kamar saat ia telah masuk ke rumah.
"Iya, ada di dalam," balasnya singkat.
Di atas ranjang yang sepi dan sunyi itu seorang bayi tertidur nyenyak. Wajahnya nampak tenang sedikit tersenyum. Mungkin setelah kenyang anak itu mengantuk dan tertidur lama sekali.
Diciuminya anak itu dengan sepenuh hati. Tiba-tiba dikeluarkannya sebuah kantong kresek dari dalam tasnya.
"Ini makan siang dulu," sambil mengarahkan plastik putih itu ke istrinya.
"Masya Allah, hubbiy, Allah maha pemurah, doa Habibati telah dijabah-Nya. Ayo Hubbiy kita makan bersama," ucapnya dengan hati yang lega.
"Tidak sayang, Hubbiy lagi berpuasa Senin-Kamis. Habibati saja yang makan duluan. Hubbiy harus ke kantor ada pekerjaan yang harus diselesaikan." Balas suaminya yang meski lesu namun tetap terlihat tersenyum.
Senyuman itupun dibalas oleh istrinya yang kini tak lagi risau. Sang istri tak lagi gelisah. Doanya telah didengarkan oleh pencipta-Nya
Setelah berpamitan ke luar rumah tanpa sepengetahuan si istri lelaki itu mengencangkan ikat pinggangnya. Lalu berdoa semoga besok hari Ahad, gaji tak lagi terlambat, jika tidak satu lubang diikat pinggangnya akan kembali mundur. Lagi.
KDI, 14 September 2019
Komentar
Posting Komentar