Kisah Cintaku di KPPN
Perkenalkan nama saya Dano, dari satker Brimob Kendari. Sudah tahukan kantor Brimob? jaraknya bisa menghabiskan waktu 30 menit ke KPPN kalau pakai kendaraan bermotor, itu dijam-jam kerja (sibuk), ditambah lampu merah mulai meramaikan jalan bypass, pas lampu hijau semua pengendara seakan menjadi peserta road race, tak ada yang mau dibelakang, asli jadi pembalap liar. Tapi, perjalanan dari Brimob ke KPPN bisa jadi satu jam jika pakai angkutan umum dari Baruga ke Tipulu, Kemaraya (tidak percaya? Ya tidak apa-apa). Karena jarangnya angkutan umum yang melewati Brimob, itupun kecuali kendaraan umum yang tinggal di daerah Konda dan sekitarnya. Bisa dibayangkan daerah itu seperti antara perbatasan Papua dan Papua Nugini asli sepi buat angkutan umum.(wow lebay).
Pulang pergi dari dan ke KPPN sudah menjadi makanan sehari-hari yang paling cukup menaikkan adrenalin. Coba saja dibayangkan pagi sampai siang hari SPM yang akan dibawa ke KPPN dikerjakan dengan penuh tantangan. Tantangannya itu dari keributan dan kekacauan anggota yang ingin berurusan dengan bagian keuangan, tentu ini suatu hal yang membuat operator SPM harus ekstra sabar. Jika bisa dibilang sabar tingkat malaikat, SPM belum jadi sudah harus menjelaskan panjang lebar tentang hal lain mengenai keuangan. Kadang-kadang, cuma sekadar bertanya ke mana perginya pak anu atau mas anu, tanya gajinya kok gini, atau sekadar bilang, "Masih muda aja kerjanya berat amat, negara sudah ada yang ngatur, presiden sudah terpilih, para menteri sudah aman diposisi masing-masing, Kapolda dan Kapolres sudah nyaman dikursinya, ngapain pikirin itu semua!", lalu pergi cengengesan. Mau marah tapi benar, mau ketawa tapi tidak lucu, akhirnya 'ngelus' dada, kadang niat baik penuh cobaan, niat buruk kok mengasikkan (hehe). Tapi itu bukan halangan paling juga jatuhnya ya itu, cukup membuat konsentrasi sekejap lenyap, dan SPM hilang dari peredaran. (Salah klik, SPM terhapus kembali ke awal lagi, huf!)
Ketika SPM sudah jadi, tantangan berikutnya yang cukup membuat kepala kembali berkerut saat SPM akan ditandatangani oleh PPK, karena berhubung yang memegang jabatan tersebut adalah Dansat Brimob jadi berkasnya harus disodorkan ke meja beliau. Sementara jam sudah menunjukkan 11.30, untung-untung bapak itu ada kalau tidak ada ya ditinggal di dalam kantornya. Oke, katakanlah bapak itu ada dan SPM ditandatangani dengan sukses tapi jam tetap berjalan sementara adzan di masjid Brimob sudah memanggil bagi jiwa-jiwa yang kelaparan (cie..). Berhubung buat SPM membuat jiwa kelaparan maka pergilah kaki ini ke rumah-Nya. Setelahnya perut si operator yang kelaparan, syukur-syukur ada makan gratis di meja piket bisa 'dijapre' kalau tidak ada berarti makanan yang aslinya gratis dan sesuai leher pribadi, ya, makan di rumah apa lagi kalau bukan makanan buatan istri. Eits, tapi sebelumnya tandatangan PPSPM harus ada dan karena ini jam makan siang pasti pejabatnya sudah berada di rumahnya menunggu sang operator kesayangannya datang bertandang seperti hari-hari biasanya.
Waktu pun berlalu, jam 13.30 minimal sudah tiba di rumahku istanaku, basa-basi sambil makan makanan yang dihidangkan sudah sampai di jam 14.30, dan ini adalah jam rawan bagi petugas SPM seperti saya. Masih ingatkan jarak dari Brimob ke KPPN memakan waktu 30 menit, tapi dari rumah ke KPPN sekitar 25 menit ditambah lampu merah dan para pengendara yang kelaparan di jalan liar. Jadi waktu tetap 30 menit ke KPPN. Sepeda motor yang tak ingin disebut butut juga tak mau dinyatakan baru melaju di atas aspal panas.
Sebenarnya hal yang memacu adrenalin itu dibagian ini, karena 14.30 dengan jarak tempuh 30 menit pas tiba di KPPN bisa jadi jam 15.00. nah, disinilah puncaknya apakah operator masih sempat mendapat antrian atau tidak. Kadang sempat karena petugas front office sibuk dengan satker lain hingga lupa mengambil mouse antrian tapi kadang juga gigit jari, nomor antrian sudah tutup.
Dag-dig-dug jantung sang operator tidak berhenti sampai di situ, karena hal kedua yang membuat ia getar-getir kayak gitar dijambak oleh penyanyi lampu merah adalah saat-saat SPM diperiksa oleh petugas KPPN. Bagi yang pernah kuliah dan selesai sampai sarjana mungkin mengerti perasaan ini. Saat itu seperti diperiksa oleh dosen pembimbing saat mengajukan skripsi yang akan dikoreksi. Mengerjakan skripsi semalaman sampai pagi belum tidur, ketika diperiksa sang dosen dengan santainya mencoret-coret seperti anak TK belajar gambar. Alhasil sang mahasiswa mengelus dada mencari referensi atau sekadar membetulkan typo ditulisannya yang sudah jadi sampah dalam sekejap.
Rasa itulah yang ada kala petugas KPPN mendapati kesalahan di depan mata sang operator. Ia tersenyum manis tapi sesungguhnya sang operator lagi mengelus dada. Itu berarti SPM ditolak sebelum masuk ke ruangan pemeriksaan dalam di KPPN. (Maaf penonton ternyata kesalahan bukan pada TV anda tapi pada SPM yang Anda bawa.)
Lalu hari itu berakhir dengan lelah yang tak terbayarkan dan esoknya sang operator akan mengulangi lagi kegiatan serupa hingga ia jadi sarjana di KPPN.
Ya, sarjana tanpa gelar dan setumpuk keluh kesah yang tak berarti. Selamat berjuang operator SPM. Merdeka!
Teras rumah, 16 Agustus 2019
Kardano MR Satker Brimob (646765)
(Ditulis pada 23.08 WITA sesaat detik-detik kemerdekaan akan dirayakan bagi mereka yang alay, karena hari perayaan seharusnya pada keesokan harinya, hehe)
Lah, sudah habis...? segitu aja? Terus kisah cintanya?
Mungkin nanti, hehe, bye!
Komentar
Posting Komentar