Langsung ke konten utama

BIADAB

BIADAB
Embun subuh perlahan turun di atas bumi Anawai. Kabut tipis mengendap perlahan. Permukaan rumput di depan teras dan beberapa helai daun Nusa Indah menjemput titik-titik air. Agak tergesa-gesa, pintu rumah bercat merah itu kuputar kuncinya dari dalam.
"Trekk .., trekk ...!"
Dua kali bunyi terdengar dengan cepat. Selanjutnya bunyi pintu tertutup agak keras di belakangku. Setelah berada di teras yang bertirai rotan, badanku yang hanya memiliki tinggi seratus enam puluh enam sentimeter dan berat enam puluh dua kilogram bergerak seperti orang di kejar setan.
Kepanikan seperti itu belakangan ini sering terjadi saat salat subuh telah tiba. Pekerjaanku yang membutuhkan lembur hingga tidur mendekati pagi kadang tidak jarang terjadi. Alhasil ketika adzan bergemuruh dari bawah tempat tidur, setelah sepuluh menit berlalu, tenaga dalam setiap inci urat sarafku baru mampu kembali normal. Saat itu tergopoh-gopoh membuka pintu kamar tidur depan menuju kamar tidur utama untuk sekadar mengambil air wudhu dan bersikat gigi. Memakai celana cingkrang seadanya, meraba-raba jubah dalam keremangan demi menyelamatkan mata dari silaunya lampu LED dengan kekuatan sinar 24 watt.
Setelah sampai di luar rumah, tubuh yang masih malas bergerak itu kembali membuka pintu bercat merah dan masuk ke dalam rumah. Mencari-cari anak kunci motor yang semalam entah kelayapan ke mana.
Perkiraan-perkiraan waktu pun seakan berlalu lalang di kepala. Dua puluh persen karena kemalasan bergerak, tiga puluh persen kesilauan dan untuk itu keremangan tetap dipertahankan. Empat puluh persen kepanikan karena iqamah sudah dimulai, lalu sepuluh persennya prediksi mungkin saja belum iqamah, karena jarak mesjid yang agak jauh, sehingga tidak terdengar.
Harusnya kejadian ini tidak terjadi. Karena seharusnya seorang mukmin yang baik akan mengetahui bahwa adab mengikuti salat berjamaah haruslah tidak terburu-buru. Terburu-buru bisa jadi salah satu 'was-was setan'. Setan akan terus berusaha mematahkan semangat seorang mukmin jika ia gagal menidurkannya sampai pagi tiba.
Okelah kali ini dan hari kemarin setan berhasil membuat was-was yang membuat jiwa tak karuan. Apakah aku masih dapat raka'at pertama, raka'at kedua atau malah salam terakhir. Segalanya tergantung kunci kecil motor yang nakal itu.
Tiba-tiba suara berat terdengar memecahkan kegaduhan di subuh buta itu, "sayang, coba cari di atas rak buku!" Itu suara Habibati, istriku, masih setengah sadar di atas pembaringan.
Kebiasaanku yang sering melupakan tempat meletakkan kunci motor membuatnya terkadang marah. Tapi kali ini mungkin rasa kantuknya atau mungkin tidak melaksanakan salat subuh (saat itu lagi datang bulan), rasa marahnya sempat terlupa. Benar kunci itu di sana, tak salah-salah jadi istri dari seorang pelupa. Kunci kecil itu bertengger manja tepat di atas buku "Muhammad Sang Yatim," yang beberapa hari masih terus kubaca dan belum juga selesai-selesai.
Anak kunci itu diam membeku di sana. Jika kunci itu seorang bayi, mungkin saja ia menangis sejadi-jadinya agar tubuhnya yang dingin dapat digendong dan dihangati segera.
Setelah berada di atas motor dengan mengucap, "bismillah," mesin kubunyikan melalui starter tangan. Suara motor memecah kesunyian BTN di Residen Anawai. Setelah motor digas secara otomatis udara beku menampar dada dan wajah. Sementara tangan kanan masih memegang stir, tangan yang lain menyilang di atas dada. Dalam keadaan demikianlah aku tiba di masjid yang jaraknya dari rumah sekitar tujuh ratus meter.
Alhamdulillah kali ini bukan aku saja yang terlambat. Ternyata sang muadzin pun agak lambat mengumandangkan iqamah. Itu berarti tepat setelah iqamah selesai berkumandang, motor yang kedinginan itupun tiba dengan selamat di halaman parkiran mesjid.
Rasa lega karena bisa salat berjamaah bercampur baur dengan ketenangan subuh yang syahdu. Hal ini membuat aku teringat akan keutamaan salat subuh yang pernah aku dengar di salah satu taklim yang pernah aku ikuti.
Salah satunya yaitu : "mengerjakan shalat shubuh dan ashar secara berjama’ah pada waktunya adalah diantara sebab masuk surga dan keselamatan dari api neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
من صلى البردين دخل الجنة
“Barangsiapa yang shalat di dua waktu yang dingin niscaya masuk surga” (Muttafaqun ‘alaihi)
Adapun yang dimaksud “dua waktu yang dingin” adalah shalat shubuh dan ashar."
Namun ketenangan itu tiba-tiba hilang ketika motor yang aku naiki berpapasan dengan beberapa orang yang entah darimana muncul. Seketika sepeda motor kupinggirkan dan menahan salah seorang diantaranya.
"Ada apa, kok pada terburu-buru, kalau mau ke masjid tak perlu buru-buru. Toh, salatnya sudah usai," kataku pada bapak itu. Sementara yang lain masih terus berjalan cepat atau bisa dibilang berlari tapi sambil mencari-cari. Jadi kadang lari, kadang berjalan. Seperti orang yang kehilangan jejak.
"Bukan Pak, kami lagi mencari pencuri. Sepertinya  di sini!" Balas bapak yang hanya memakai baju kaos dan sarung kotak-kotak merah itu. Sambil sesekali matanya mencari dalam keremangan.
Pandanganku secara spontan melirik ke tempat tangannya menunjuk. Namun hanya siluet pepohonan menghampar di sepanjang jalan. Lalu pandangan terarah ke bapak itu karena secara sepintas lalu ada yang aneh padanya. Setelah aku telusuri dari atas hingga bawah nampaklah keganjilan itu.
Bapak tersebut karena kepanikan dan kecemasannya, sarung berkotak-kotak merah yang ia gunakan digulung setinggi perut dan ditarik hingga setinggi selangkangan, hingga nyaris memperlihatkan hal yang tak pantas. Hingga tanda hitam di pahanya nampak jelas di sana. Jika bukan karena situasinya yang mengagetkan sudah pasti saat itu juga tawa kegelian membanjiri bibirku yang beku.
"Pencuri?" Tanyaku jadi penasaran. Karena sudah lama di daerah ini tak ada lagi korban pencurian jadi rasa penasaran seketika memenuhi dadaku yang beku.
"Iya pak, rumah di sebelah sana itu korbannya," ucap bapak itu sambil menunjuk tidak jelas arahnya.
"Kali ini pencurinya asli kurang ajar bin biadab!" Sambung bapak itu seakan darahnya mendidih mengingat kelakuan pencuri itu.
Kutajamkan pendengaranku agar suaranya yang terburu-buru karena luapan emosi dapat kutangkap, "Lah, memang apa yang hilang kok 'biadab'?" Kejarku pada bapak yang masih mengawasi daerah sekitarnya.
"Ini biadab!" Ia mengulangi dengan nada getir. "Selain melakukan aksi pencurian ternyata ia juga melakukan pencabulan sekaligus!" Tambah bapak itu seakan-akan ia sendiri yang telah dicabuli.
"Biadab betul orang itu," secara spontan kalimat itu keluar dari bibirku yang kini sedingin es batu.
"Apa yang terjadi sebenarnya pak?"
"Kata korbannya, sebelum lari ia sempat disentuh, digerayangi. Awalnya ia pikir ia dibangunkan oleh suaminya untuk salat subuh. Tapi, setelah beberapa detik berlalu ia merasa tangan itu sudah sampai di daerah pribadinya, mungkin agak sedikit memaksa mencoba memperkosa. Secara spontan ia teriak minta tolong." Ucap si bapak penuh amarah jijik pada nada bicaranya.
"Apa korban sempat melihat siapa pelakunya?"
"Nah itu dia, pencurinya memakai helm dan jaket hitam, setelah ada teriakan dari korban, pelaku langsung keluar rumah entah kemana."
"Semudah itu pencurinya keluar masuk rumah orang?"
"Iya, pencuri itu masuk dan keluar melalui pintu depan yang tak terkunci, sepertinya suaminya terburu-buru ke masjid dan lupa mengunci pintu rumahnya."
Mendengar kalimat tersebut membuat bulu kudukku berdiri. Bagaikan ada orang telah menyentil telingaku dan lari begitu saja. Tanpa memperdulikan bapak itu, seketika saja kutancap gas sepeda motorku yang butut. Suaranya menggelegar di sepanjang jalan yang tak bertuan itu.
Di depan rumah dengan pohon Nusa Indah dan tirai rotan di depannya kuparkirkan sepeda motor itu dengan posisi asal. Dari balik rumah berpintu merah itu aku mendengar suara tangis. Alunannya sungguh menyayat. Bunyi suaranya bernada rendah dan tak ingin berhenti. Semakin lama semakin terasa sesak di dada. Hatiku didera sesal yang berulang, semakin dalam suara itu semakin sesak dada ini.
Ketika kubuka pintu, kuusahan agar bunyinya tak terdengar. Namun aku salah, suaranya ternyata membuat beberapa pasang mata seketika mendarat di wajahku. Kupandangi mata itu satu persatu mencari jawaban atas pertanyaan yang kususun dari luar rumah tadi.
Tak bisa kuutarakan apa yang ada di kepala. Mata Habibati, istriku sama merahnya dengan ibu Jamilah tetangga sebelah. Mata mereka basah oleh air mata. Sebuah gelas setengah isi duduk manis di atas meja, seakan ialah penonton satu-satunya yang mampu menguasai diri atas kejadian itu.
"Apa yang terjadi?"
Akhirnya suaraku yang sedari tadi beku kini mencair bagai anak sungai ketika hujan mulai turun.
"Seseorang telah mencuri dan ..," kalimat terputus itu milik istriku. Seakan tak sanggup melanjutkan kata berikutnya karena suaranya hilang ditelan genangan air mata dan suaranya sendiri yang minta untuk dilenyapkan dari buka bumi. Kecuali tangis yang kini mulai terdengar lagi.
"Dan?" Sambungku yang penasaran.
"Dan dia, ..." Ketika akan melanjutkan kata itu, sekali lagi terputus dan tangis pecah di ruangan yang hanya seluas tiga kali empat meter persegi itu.
Aku tak sanggup bertanya lagi. Namun rasa penasaran yang meluap-luap di dada akhirnya kuberanikan diri untuk sekali ini untuk bertanya kepada istriku.
"Dan ia mencabulimu sayang?"
Mendengar pertanyaan itu Ibu Jamilah seakan tersengat lebah. Tangisannya seperti ombak yang timbul tenggelam. Melihat lirikan mata istriku yang tertuju kepadanya tahulah siapa korban itu.
"Apa yang dicuri?"
"Belum tahu apa yang hilang," ucap Habibati, istriku, "karena sejak ia teriak minta tolong, hingga suaminya yang melapor ke Polsek belum kembali, ia takut kembali ke rumahnya."
"Apa ada ciri-ciri tertentu dari pelakunya?" Tanyaku pada Ibu Jamilah namun yang ditanya hanya diam membisu dan menghapus air matanya.
Melihat gelagatnya yang terdiam dan enggan untuk berbicara akhirnya kubergegas untuk melangkah ke kamar. Namun, langkahku terhenti dan jantung berdetak cepak ketika ia berkata pelan.
"Ia memakai helm dan jaket hitam," ucap Ibu Jamilah dalam kesedihan, "dan juga sarung kotak-kotak merah, ada tanda hitam di paha kirinya!"
"Biadab!" Ucapku memecah ruangan tersebut.
Sekali lagi pintu merah itu terbanting keras di belakangku. Aku berlari bagai kesetanan, mencari seseorang di tempat yang tak tentu.
KDI, 11 September 2019

Komentar