CERITA TENGAH MALAM
Di umurku yang lebih dari seperempat abad meski belum seberapa tapi sudah cukup merasai namanya asam garam. Pahit manisnya kehidupan meski tak seberapa itu lebih dari cukup untuk sekadar merasai hidup.
Saat ini kedewasaan bukan dibuktikan hanya melalui banyaknya umur yang terukir di kulit tangan. Atau wajah yang keriput hasil dari lipatan waktu. Kedewasaan yang sepatutnya dilihat dari sikap dan tindakan dalam menghadapi hidup.
Juga bukan dari berapa anak yang kita punya atau seberapa gigihnya dalam bekerja. Sekali lagi itu bukan jaminan kedewasaan.
Tapi, tahu apa aku tentang kedewasaan, kita menjadi dewasa ketika waktu bersenggama dengan keadaan menghasilkan anak-anak keinsyafan dan kebijaksanaan. Aku masih jauh dari itu semua, namun dengan bergulirnya waktu di depan mataku kini kesadaran ke arah itu mulai nampak.
Di malam-malam seperti ini, aku tak lagi menjadi hewan liar seperti dahulu. Masa muda kadang jadi arah yang tak pasti, namun masa setelah masa muda adalah ujian menuju ke kedewasaan.
Kali ini aku di daulat untuk menjadi sang pencerita. Seperti malam kemarin dan kemarinnya lagi. Anakku, si buah hatiku yang masih teramat kecil di mataku masih perlu panduan untuk bisa mengerti hidup. Anakku menagih sebuah cerita yang tidak biasa. Tahu apa ia tentang cerita yang tidak biasa. Cerita Si Rubah dan Tudung Merah atau Maling Kundang pun itu saja terlalu membosankan baginya di umur menuju remaja. Ia sudah jenuh dengan dongeng-dongeng itu. Tapi juga terlalu enggan untuk bisa mengartikan makna cerita dari dongeng tersebut.
Mereka harus bisa melihat kenyataan di depan mata. Sehingga sebuah kesalahan bisa ambil buahnya sebagai pengalaman yang tak boleh berulang. Tapi toh mereka yang akhirnya memutuskan apa yang akan mereka perbuat dengan hidup ini.
Tapi tak apalah mungkin bukan cerita yang ia inginkan malam ini, tapi sebuah perhatian dari Ayahnya yang hanya ada jika malam telah menyelimuti langit kelam. Karena keringat yang harus aku peras dan tulang belulang yang mesti dibanting agar dapur tetap mengepul.
Anakku yang perempuan sudah menentukan jalannya_. Sedangkan anakku yang lelaki adalah seorang jagoan. Bercita-cita bisa terbang seperti Superman. Entah dari mana pula ia mendapat dengar tentang pahlawan super hero yang tak sopan itu. Inilah kesalahan yang harus diperbaiki diawal.
Mungkin inilah saatnya, kesalahan yang pernah kuperbuat harus segera ditebus. Hal itu bagai dendam kecil dan akut. Harusnya sejak awal ia telah kuperkenalkan dengan para sahabat nabi seperti Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq, Sayyidina Umar bin Khattab, Sayyidina Utsman bin Affan, Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Abu Ubaidah bin Jarrah, Sa'ad bin Abi Waqqash, Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa'id bin Zaid, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Maka mulailah aku menjadi pencerita yang diawal ceritanya selalu berawal dari, "pada suatu hari ..." Pada kalimat pembuka dan diakhiri dengan "tamat" di akhirnya.
Tapi kali ini biarkan aku bercerita tentang kisah lain yang mungkin belum pernah ia dengar. Atau bahkan harus ia tahu dan itu harus malam ini.
***
Pada suatu hari tersebutlah seorang pemuda, tentu saja ia bukan Malin Kundang yang tak mau mengakui ibu kandungnya dan bahkan Jaka Tingkir atau Jaka Sembung sang jagoan.
Pemuda tokoh kita ini berasal dari keluarga yang bisa dibilang sederhana jauh dari kemiskinan. Ibu-bapaknya pekerja kantoran yang ulet hingga mampu mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Mereka tidak kurang makan dan pakaian. Tapi sayangnya mereka kurang diperkenalkan dengan agamanya sejak dini.
Sang pemuda tumbuh sebagaimana anak-anak lainnya. Hingga suatu kali masa remaja menyapanya. Seperti yang aku katakan sejak awal masa muda adalah masa yang tak tentu arah. Terlalu banyak cita yang buram dan asa hampir-hampir tak jua kesampaian. Lingkungan yang tak mampu dijadikan lahan yang baik buat pertumbuhan benih. Karena beberapa tetumbuhan mungkin tak kuat akarnya.
Jadilah apa yang disebut orang sebagai sampah masyarakat. Kerjanya hanya ngumpul tak jelas di ujung lorong. Melingkar di dekker atau warung-warung remang. Bermain gitar hingga tengah malam. Mereka pulang saat jasad dan roh tak utuh lagi.
Sungguh benar hadis itu, "Akan datang pada umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutra, khamr (minuman keras) dan alat musik, dan sungguh akan menetap beberapa kaum di sisi gunung, dimana (para pengembala) akan datang kepada mereka dengan membawa gembalaannya, datang kepada mereka- yakni si fakir- untuk sebuah keperluan, lalu mereka berkata, Kembalilah kepada kami esok hari. Kemudian Allah menghancurkan mereka pada malam hari, menghancurkan gunung dan merubah sebagian mereka menjadi kera dan babi sampai hari Kiamat." (HR. Bukhari)
Hingga suatu ketika laporan demi laporan datang ke rumahnya yang damai bagai hujan deras (baca : banjir laporan). Berita baiknya pemuda itu pandai bergaul dan bersosialisasi, bukan anak remaja yang menutup diri dari dunia luar. Namun sisi buruknya ia tak lagi terkendali.
Apa yang tak dilakukannya? Mabuk, judi, narkoba, tauran, dan tentu saja akhirnya ia harus nikah di usia yang sangat muda. Pemuda itu belum lagi menyelesaikan sekolah menengah umum, ia harus menjadi kepala rumah tangga. Anak tetangga mengeluh bahwa berat badannya naik dan perutnya membuncit. Pemuda itulah yang harus bertanggung jawab atas segalanya.
Pernikahan yang sarat dengan sesal pun berlangsung. Tak ada lagi guna menangisi keadaan. Pemuda itu harus dewasa sekarang. Namun seperti yang kukatakan dewasa takkan tiba pada seseorang sampai ia sendiri yang menyadari kekeliruannya.
Anak pertama mereka lahir begitu pula anak kedua. Namun pernikahan yang sangat muda itu tak mampu bertahan lama. Bagai karang di tepi pantai akhirnya mengalah dengan gelombang.
Sebagai bekas pecandu narkoba tentu bukan hal yang mudah untuk berhenti sebagaimana berhenti berjudi. Selentingan terdengar ia lari bersama kekasih hatinya. Pemuda itu telah menjadi budak sang hawa nafsu yang tak mudah tunduk pada kata tidak. Maka larilah ia bagaikan kijang di Padang savana. Meninggalkan ilalang tempat anak istrinya berteduh. Ia pergi yang jauh hingga mata dan telinga tak mampu lagi menggapainya.
***
"Apakah ceritanya sampai di situ saja, Ayah?"
Sebuah tanya dari anakku tiba-tiba menyadarkan aku. Kupikir mimpi-mimpi telah lama menidurkannya. Nyatanya matanya nyalang meneropong langit-langit kamar.
"Tidak nak, ceritanya belum usai. Si kijang itu baru memulai sesuatu, ia belum berbuat apa-apa," kataku yang seakan menarik napas panjang.
***
Kita tinggalkan dulu tokoh kita yang tangguh. Biarkan sejenak kita lihat istri dan anaknya yang ia tinggalkan.
Sang istri dengan berjalannya waktu dan keadaan, ia menjelma menjadi sosok ibu. Namun sayangnya ia hanya mampu melahirkan anak-anaknya dan memberi makan secukupnya. Si ibu tidak mampu memasuki otak sang anak dan mengajaknya keluar dari kisah hitam yang dialami sang suami.
Anak itu, di saat sudah memakai celana putih biru, ia mulai belajar mengisap lem bersama kawanannya. Bergerombol di sudut lorong yang sepi, bagai kucing liar mengendus sekaleng mangsa.
Apakah itu merupakan jalan pintas untuk meraih kebahagiaan atau melarikan diri dari kenyataan hidup? Apakah alasan yang serupa ada di kepala mereka yang polos atau hanya sekadar iseng saja seperti keasyikan bermain layangan. Entahlah.
Sang ibu dengan hati yang terlanjur hancur kini harus berjuang seorang diri. Apa yang harus diperbuat olehnya. Memiliki anak tidak seperti memiliki sebuah boneka. Kita mudah saja mengatur sesuka hati. Anak-anaknya itu cerita lain, mereka merupakan boneka hidup yang memiliki alam pikirannya masing-masing.
Perjalanan hidup terus maju dan tak ingin kembali kebelakang. Anaknya itu kini akhirnya bisa juga memakai baju putih abu-abu. Seperti yang pernah terjadi kini terulang kembali. Seorang anak gadis, teman sekolahnya sebagai alasan terjerumusnya si anak ke kantor polisi. Sudah beberapa pekan si gadis tak pulang-pulang. Akhirnya mereka digrebek di sebuah kamar penginapan. Entah apa yang mereka lakukan di sana.
***
Aku berulang-ulang menarik napas. Ada sesak yang menekankan di dada. Pedih dan sedih tak terasa lagi perbedaannya.
"Ayah kenapa menangis?"
Kata anakku yang masih mendengarkan cerita yang tak biasa ini. Kini heran karena lelehan air mata kini menganak sungai di pipiku. Hangat rasanya.
"Ketahuilah nak, apa yang engkau tabur di masa lalu suatu ketika tidak mustahil akan jadi getah di kemudian hari!"
Anakku menatapku tak mengerti apa hubungannya antara air mata dengan kata-kataku barusan. Ia hanya melihat dan mendengar tapi tak cukup bisa mengerti kesedihan ini.
"Harusnya engkau dan kakakmu kuberitahu rahasia itu sejak awal," suaraku tercekat tak kuasa meratapi kenyataan pahit ini.
"Ini tentang kakak ya, Yah?"
"Lebih dari itu, ini tentang kita semua!"
"..."
"Ketahuilah nak, Ayah kini sedang menuai padi yang kemarin Ayah semai. Ayah telah berbuat dosa dan itu jangan terulang lagi kepada dirimu!"
"Kau dan kakakmu memiliki saudara lelaki dari ibu yang lain. Mereka kini telah menjadi tumbal dari dosa-dosa Ayah di masa muda dulu. Berjanjilah malam ini nak, engkau akan jadi anak yang taat beragama, agar kelak engkau tak akan lagi mengulangi kisah ini."
Anakku terdiam sendiri, mungkin ia kaget akan kabar yang tak biasa ini. Hingga berbicara pun tak kuasa. Mungkin juga marah. Tapi ia belum menyadarinya.
"Dan kini Ayah harus memanggil apa anak dari kakakmu itu kelak, jika besok ia melahirkan?" Gumamku pelan seakan tak ingin mendengar kalimat itu keluar dari bibirku sendiri.
Tak ada jawaban dari pertanyaan itu.
***
Lalu malam bergegas menelusuri gang demi gang untuk lari sembunyi dari pagi yang sebentar lagi tiba. Atau mungkin juga karena malu pada dunia.
***
Tapi sayangnya tak ada kata_
Tamat.
Kali ini.
Kendari, 23 April 2020
d4nosaurus
Komentar
Posting Komentar