Langsung ke konten utama

AN NAJIYAH

AN NAJIYAH

Menjadi bapak baru merupakan suatu pengalaman yang sangat menyenangkan. Tapi tidak semua orang dapat merasakan sensasi tersebut. Bagi mereka yang beruntung hari-harinya akan terasa cepat. Sejam dua jam di kantor, beberapa saat kemudian sudah berada di rumah dengan berbagai alasan. Alih-alih bekerja, nyatanya sudah berada dalam pelukan sang anak, bercanda, berbicara secadel-cadelnya, atau bercakap-cakap tak tentu seperti orang mendadak gila. Hal itu sering terjadi pada setiap bapak baru bahkan ini terjadi pada Hubbiy, satu dari banyak lelaki yang telah merasakannya. Hubbiy yang baru setahun ini menikah dengan seorang perawan desa, Habibati, begitulah ia memanggil istri tersayangnya. Kini ia sudah diberi harta yang sangat besar oleh Tuhan penciptanya. Seorang anak yang Masya Allah sungguh menggemaskan.

Seperti pagi ini baru satu jam masuk kantor, beberapa saat kemudian sepeda motor yang dikendarai hubbiy melaju di atas aspal dengan rute kantor - anawai, tujuan rumah. Namun alih-alih pulang ke rumah sepeda motor yang tak ingin disebut butut itu berbelok ke sebelah kanan pada jalur dua jalan itu. Sasarannya adalah warung berisi dengan beras. Beras-beras yang telah dikemas dalam karung-karung lima kilo atau sepuluh kiloan dijejerkan di depan warung. Sehingga lelaki dengan sepeda motor itupun dengan mudah melihat apa yang dicarinya. Dalam sekejap iapun larut dalam karung-karung tersebut. Mungkin saja ia memilih beras seperti ketika memilih baju. Mencari yang cocok dengan isi kantong bukan mencari yang termahal.

"Sayang beras buat besok habis, jadi ini nasi yang tersisa tak ada lagi," ucap sang istri, pada suaminya. Sambil membaringkan anak semata wayangnya di atas alas tidur bulu sewarna langit cerah itu, setelahnya melahap makanan di sebuah piring bersama sang suami.

Sementara kedua suami - istri yang sedang makan malam di rumah  BTN mereka yang tak ingin disebut kecil tapi memaksa untuk disebut kebesaran buat mereka bertiga. Untuk menjaga rasa luas di lokasi BTN bertipe 6x6 meter itu mereka berupaya untuk meniadakan kursi dan perabot yang tidak penting. Sehingga malam itu mereka hanya makan beralaskan lantai sambil memandangi anak mereka yang masih bayi.

Begitulah demi mengingat ucapan sang istri semalam akhirnya bapak baru itu pun bergegas memasuki warung sembako. Setelah memperoleh apa yang diinginkan ia langsung pulang.

Akan tetapi untuk kedua kalinya motor yang enggan mengaku tua juga tak muda-muda amat itu kini berhenti pada warung dekat rumahnya. Bapak muda itu lagi-lagi teringat sesuatu pagi itu ketika akan ke kantor.

"Hubbiy, kalau pulang sebentar jangan lupa belikan kapas buat Najiyah, kapas popoknya sudah habis," pesan sang istri kala itu.

Sang suami yang sudah berada di punggung motor hanya menggerakkan lehernya. Helm yang ia pakai itupun bergoyang, tanda mengiyakan perkataan sang istri. Lalu kini ia di warung Maya, mampir untuk hal itu.

"Waduh, ternyata ada juga beras di sini," katanya pada penjaga warung, Maya. Bapak baru itu agak kaget karena tak menyangka di warung sekecil itu ada juga beras yang ia butuhkan.

"Kalau tahu begini, belinya di sini aja," ketusnya, sementara Maya, sang pemilik warung hanya tersenyum biasa.

"Tolong dong kapasnya," ucap hubbiy pada Maya.

"Siapa nama anaknya aku lupa?" Tanya Maya, sembari memberikan kapas yang diinginkan pembelinya itu.

"Najiyah."

"Berapa bulan?"

"Tanggal empat September besok sudah empat bulan!"

"Wah, tidak terasa, sebentar lagi pasti sudah belajar jalan."

"Iya."

Setelah membayar dan mengakhiri basa-basi tersebut akhirnya bapak baru yang tak ingin dibilang tua juga tak ingin disebut kekanak-kanakan itu langsung pulang. Di kepalanya yang ramai oleh tawa anak manis seakan membuat hatinya berbunga-bunga. Senyum yang mengembang di atas bibir tak hentinya mekar. Ada rasa nikmat yang tak ada sebelumnya. Mereka yang melihat seorang lelaki tersenyum begitu hebat pasti akan heran dan itu hanya dapat dirasakan oleh mereka yang bergelar "bapak baru".

Ketika sepeda motor sudah terparkir dengan manisnya di depan rumah. Karung dan kantung kapas itupun langsung dipindahkan ke dalam rumah. Kecepatan dan kelincahan itu mungkin hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki kepentingan khusus. Misalnya rumahnya kebakaran, tanpa sadar seseorang bisa mengangkat lemari seorang diri. Tapi di waktu biasa lemari itu tak akan bisa bergerak jika tanpa dibantu oleh beberapa orang dewasa. Atau mungkin seseorang yang ingin buang air. Karena kebelet ke belakang maka apapun ia lewati tempat susah sekalipun tanpa sadar ia telah mengeluarkan kekuatan tersembunyi di dalam dirinya.

Lalu demi apakah bapak itu mengangkat kantung sepuluh kiloan tanpa ada kendala yang berarti? Pastilah otaknya telah bekerja secara otomatis. Kerinduan akan anaknya telah menyalakan saklar tersembunyi itu. Sehingga dengan sekali melangkah ia telah masuk ke tengah-tengah rumah BTN nya itu tanpa kendala.

"Mana Najiyah?"

Kalimat tanya itu begitu saja mengambang di udara ketika wajah sang istri sudah kelihatan di dapur.

"Ada tuh, lagi tidur di kamar!" Ucap sang istri agak cuek karena lagi sibuk dengan masakan yang membuat perut teriak minta diisi. Namun kerinduan yang sangat besar pada rasa lapar tidak dirasakan lagi.

Hubbiy menengok ke kamar depan yang tadi ia lewati ketika sedang membawa karung beras tadi. Tapi kamar itu hanya ada kasur dan tak ada apa-apa di sana.

"Mana?" Tanyanya lagi. Ia hanya melihat sarung merah bergaris horizontal, sarung Buton yang biasa dipakai untuk selimut anaknya.

"Ada di situ!"

"Mana?"

Pertanyaan kedua kali ini membuat seluruh partikel dalam urat sarafnya menegang, di kamar tempat biasa Najiyah tidur memang tak ada siapa-siapa. Kamar itu kosong. Matanya langsung berpaling ke kasur biru langit di luar kamar yang terletak di ruang tamu tanpa kursi. Jika pagi hari dikala sang istri sibuk di dapur anak mereka yang menggemaskan itupun diletakkan di sana. Apakah anak itu tidur atau sedang santai berbicara sendiri sambil menatap gambar bunga sakura buatan Ayahandanya. Tapi nyatanya itu bukan bunga sakura, cet merah di atas langit-langit itu hanya cetakan tangan sang Ayahanda yang menyerupai bunga sakura.

"Najiyah di mana?"

"Ada di situ kok!"

Kalimat itu semakin membuat ia lemas ketika sang istri memberi jawaban yang sama.

Jantungnya tiba-tiba jatuh entah ke mana. Rasa kehilangan segera memenuhi dadanya yang pengap. Anak semata wayangnya, 'hilang'.

"Najiyah hilang!"

Tanpa diduga suaranya keluar keruh membahasakan isi hatinya yang kini kehilangan. Anak sekecil itu tak mungkin berjalan keluar sewaktu ibundanya di dapur. Umurnya baru empat bulan. Pasti ada yang datang dan mengambilnya, batinnya.

Diperiksanya setiap kain atau bantal yang biasa Najiyah pakai. Tetap hasilnya nihil. Ujung kaki serasa beku. Ada denyutan diperut yang membuat ingin mual, tapi tak kunjung muntah. Kegelisahan seketika merambah sekujur tubuh. Ia tidak ada di mana-mana.

"Najiyah di mana?"

Pertanyaan ini terulang lagi ketika Hubbiy masuk ke dapur dan mendapati sang istri, Habibati dengan wajah serius mengatakan, "Ia ada di kamar itu," sambil menunjuk kamar yang berada di tengah ruangan. Tentu saja hal itu tidak terpikirkan oleh Hubbiy tentang kamar kedua itu. Di kamar itu ada sebuah kamar mandi, sebuah lemari dan sebuah tempat tidur berukuran untuk dua atau tiga orang. Namun karena tak memiliki jendela kamar itu agak pengap jika harus menidurkan bayi di dalamnya.

Mendengar kalimat itu lelaki tersebut seakan mendapat angin segar. Segera menghambur ke kamar yang dimaksud. Setelah sampai di depan pintu hatinya kembali risau. Tak ada bayi di sana. Di atas tempat tidur hanya ada sperei dan bantal yang tertata rapi. Bahkan bekas seseorang ditidur di atasnya pun tak ada. Kamar itu kosong sebagaimana kamar yang pertama.

Ditengoknya kolong tempat tidur, mungkin saja anak itu jatuh di sana dan tak terdengar jeritannya saat ia terjatuh. Tapi hasilnya tetap nihil. Sungguh kamar itu kosong.

Kemarahannya tiba-tiba saja memuncak tak terkendali. Wajahnya memerah, dahi berkerut dan berkeringat. Istri macam apa yang telah membohongi suaminya sedemikian rupa. Apakah wajar mencandai suami dengan kebohongan ini?

Ini tidak bisa dibiarkan. Kaki-kakinya yang besar segera memutar arah keluar kamar. Batinnya terluka dan merasa kehilangan.

Sebelum Hubbiy melangkah ke dapur sebuah suara datang dari luar rumah. Persis di depan pintu masuk.

"Assalamu'alaikum!"

Suaranya yang halus cukup membuat seisi rumah berpaling. Hubbiy tak percaya yang ia lihat sekarang. Kepalanya seakan terbentur tembok karena rasa sakit yang tiba-tiba, dalam sakitnya ia masih mengingat-ingat wajah itu.

Sebentuk wajah dengan balutan kain panjang menutupi tubuhnya yang tinggi. Wanita itupun berdiri tersenyum, dari wajahnya terpancar kecantikan alami. Masih menunggu jawaban dari salam yang masih mengambang di udara.

Hubbiy hampir tak percaya atas apa yang dilihatnya atau memang ia sudah pikun. Ia pangling dalam detik itu.

"Najiyah?"

Hanya itu kata yang keluar, lalu Hubbiy tak bisa mengekspresikan hatinya. Ia mematung di tempatnya.

Kendari, 06 September 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#15

Aku mendengar alunan lagu seruling bambu Suaranya merdupilu Ingatan akan kampung halaman serasa nyata Namun tak tergapai Sangat dekat ditelinga namun tak terasa Begitu bergetar didada namun hampa belaka Oo siapakah gerangan Dikau Yang bagai angin surgawi bermain dalam alunan jiwa Yang datang dan pergi menisik alunan indahnya Nadanada merdu itu kini bangkitkan cintaku Kadang resah tak beralasan Jua rindu yang tak terbendung Oo siapakah gerangan Dikau Kurasa Engkau pemilik Cinta dalam merdunya alunan lagu Memanggilku kembali ke rimba CintaNya Namun kita takkan bersama dalam dunia yang berbeda Karena aku hanyalah seruling bambu Yang kan selalu mencari dalam diriku alunan merdu cintaMu Dalam tiaptiap bait sabdaMu (#15, 09 April 2014)

#19

Jika Rumi mengatakan "Kita hanyalah seruling bambu yang bercerai dari rumpunNya" Maka aku berkata" aku hanyalah sebilah bambu yang tak berlubang" Yang tak berbunyi saat angin melaluinya Yang meski mendengar lagu namun tak mampu menari ke khadiratNya, walau itu nyanyian surgawi Tak mampu memainkan melodi indahNya, meski penciptaNya menulisnya dengan tinta emas Namun jika aku sebilah bambu yang ingin kembali ke rumpunNya, yah itulah aku meski kadang menari dan bernyanyi cuman dalam pikiran melalui selentingan gerakan sahaja agar bisa kembali kerumpun amalannNya. (#19, 17 April 2014)

Kebersihan Sebagian Dari Iman?

Hari lebaran telah tiba, semua bersuka cita menyambutnya. Ketika matahari belum benar-benar naik di langit ketika itu umat muslim memadati daerah yang telah ditentukan untuk melaksanakan shalat ied. Jalan-jalan lenggang, hanya dipadati pejalan kaki dan sesekali mobil dan motor pribadi. Saf-Saf dibuat ditempat tertentu, di sekitar mesjid, tanah lapang bahkan Jalan-jalan protokol yang dikhususkan sebagai tempat salat. Saf-Saf tersebut seketika saja merubah wajah jalan atau tanah lapang menjadi garis garis sejajar menghadap mimbar dadakan yang tiba-tiba berdiri secara ajaib sudah ada sejak malam atau subuh hari di hari yang fitri ini. Kaki-kaki penuh kebahagiaan pun berjalan menuju Saf-Saf yang bermimbar ajaib, mengisi deretan panjang yang telah disediakan. Ketika mentari mulai bersinar terang salat pun berlalu di akhiri khotbah dari para pengkhotbah yang entah berapa lembar kertas yang telah disediakan guna mengisi acara sesi terakhir dari salat ied tersebut. Dan matahari yang mula...