LELAKI BERKAKI BUNTUNG
Motorku menderu di jalan beraspal. Pagi yang cerah di hari Jumat sungguh indah. Jalan bypass di Kendari Barat nampak elok bagai ekor ular yang panjang. Ular itu mengelilingi teluk kebanggaan kota. Di sinilah tempat keramaian berpusat ketika senja hari telah rebah ke Barat. Segala macam penjual ada di sana. Mereka mendirikan lapak, tenda, gerobak atau menebar terpal dan bahkan sekadar tersenyum manis di bawah lampu remang-remang.
Ketika pagi hiruk-pikuk malam bagai embun yang menguap. Tak ada bangunan lapak yang berdiri yang ada hanya teluk. Air yang tenang dengan warna kecokelatan jika hujan tiba. Tapi kali ini sungguh biru dan tenang karena matahari tercurah begitu hangatnya beberapa hari ini.
Meski jalan ini terbagi dua ruas dengan dibatasi lampu dan taman kecil selebar satu meter untuk rumpun bunga. Lalu beberapa hotel berdiri perkasa menatap genangan air laut di depannya namun kendaraan bermotor sangat jarang. Terlebih lagi di hari sepagi ini. Hanya beberapa kendaraan yang berjalan seperti balapan tapi tak cukup cepat jika diperhatikan. Mereka menikmati udara pagi dengan memanjakan bola mata di sisi teluk.
Beberapa pengendara sepeda berjalan lambat namun dengan pasti melewati gerobak pencari sampah.
Dari sinilah ceritanya kita akan mulai. Di hadapan teluk yang indah saat pagi hari, namun begitu malam ia layaknya cermin di rumah yang reot namun penuh cahaya lilin dari balik dinding gamacanya.
Dadaku masih merasakan pukulan telak pada hulunya. Keangkuhan yang kadang datang dan pergi bersama aliran darahku. Entah kenapa kejadian itu begitu membekas. Masih terasa dibeberapa tahun kemudian.
Pagi itu seperti yang terjadi di awal cerita. Motor, pagi, teluk dan sebagainya-sebagainya berjalan dalam damai. Untuk orang yang sombong dan jumawah seperti aku melihat dan merasakan nikmat yang begitu megah seakan-akan sudah jadi orang yang kaya sedunia. Tiba-tiba sikap memberi di hari itu muncul. Sifat malaikat itu tinggal di hati yang sombong. Mencari mangsa untuk diberikan sedekah yang sudah dari tadi saat melewati rumah makanan Padang disempatkan membeli sebungkus nasi. Dasar sial sepagi ini tiada seorang pun yang ada. Hanya pengendara sepeda dan sebuah gerobak yang berjalan perlahan.
Sepeda itu sudah lima meter jauhnya di depan gerobak. Sedangkan aku dan gerobak itu tinggal beberapa meter di depanku. Kupelankan motor dan menepi pada gerobak yang ternyata lelaki pencari sampah. Satu kakinya telah hilang. Namun satu kaki yang masih utuh itu dengan perlahan mengayuh roda di belakang gerobak.
Sungguh pemandangan yang mengharukan. Dalam hati inilah orang yang beruntung di pagi di hari Jumat ini. Laki-laki ini mungkin saja belum sarapan dari rumahnya. Pagi-pagi buta telah mengetuk pintu langit demi mencukupi perut anak istrinya di rumah. Meniti setapak demi setapak jalan beraspal mencari botol dan sisa-sisa gegap-gempita semalam tadi.
Sementara orang-orang yang semalam sedang asyik menyembunyikan kenikmatan dalam mimpi hingga pagi ini. Lelaki tersebut telah lebih dulu berkokok di atas atap rumahnya yang reot.
Mungkin saja istrinya masih terlelap di ranjang kayu berlapis selimut lusuh. Terlalu lelah untuk bangun sepagi itu karena lapak jualan jagung bakarnya baru tutup di atas larut malam. Jikalau pun ada anak gadisnya, dengan sukarela akan membantu sang ibu mengipas bara api, atau membalik-balikkan jagung bakarnya.
Seribu kemungkinan dapat saja terjadi pada keluarga miskin itu. Sang suami mungkin saja tak mampu melarang istri dan anak gadisnya bekerja keras sebagaimana ia bekerja. Lelaki itu tahu pekerjaannya sebagai pencari barang bekas tak bisa membantu banyak di dapur. Asap harus mengepul. Perut lapar harus diisi setiap hari. Tak ada kata bermalas-malasan.
Pemuda iseng kemungkinan saja berpura-pura membeli jagung bakar yang hangat di malam yang dingin itu. Demi melihat seorang gadis manis yang sedang asyik mengipasi bara. Percikan api bagaikan kunang-kunang terbang di bola mata sang gadis. Matanya bersinar-sinar diterpa hangatnya kayu yang kadang terbakar.
"Jagung bakarnya, mas!" Sapa gadis itu lugu. Apalagi yang ia tawarkan kalau bukan jagung bakar. Ia masih empat belas tahun kala itu. Dadanya baru saja muncul namun kehidupan malam sudah membuatnya tampak dewasa dari usianya.
Pemuda-pemuda yang berkonvoi malam itu mencium aroma jagung bakar yang terbawa angin laut. Sungguh itu adalah makanan yang sungguh nikmat.
"Ya, boleh, pasti jagungnya manis!"
Mereka tertawa, entah apa yang mereka tertawakan. Tapi si gadis hanya tersenyum karena mereka adalah pelanggannya.
Aku tak mau memikirkan kemungkinan-kemungkinan lainnya. Semua bisa saja terjadi. Malam, angin teluk, jagung bakar, seorang gadis, anak muda. Sudah kukatakan beribu kemungkinan bisa saja terjadi dalam semalam. Tapi aku tak yakin akan kemungkinan lainnya.
Aku lebih tertarik pada lelaki berkaki buntung ini. Ia begitu nyata di depan mata. Membuatku terpaku karena haru. Dalam keadaan sedemikian masih semangat mencari nafkah meski demikian mengayuh dengan satu kaki.
Lalu hingga suatu ketika anaknya hilang entah kemana. Istrinya yang sedih akhir tak lagi menjual jagung. Maka datanglah malam yang naas di malam gerimis di pinggir teluk yang mulai sepi. Si lelaki itu mencari sang anak gadis sepanjang teluk. Tapi hasilnya nihil. Segerombolan anak muda berkonvoi dengan otak yang telah dipenuhi alkohol. Motor-motor itu tak tentu arahnya dan ...
Itu mungkin saja terjadi beberapa tahun lalu hingga kakinya hanya satu tersisa. Kemungkinan lain pun mungkin saja terjadi. Tapi aku tak bisa memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain itu.
Aku tak mengenal lelaki itu tetapi niat untuk memberi sungguh meluap kepadanya. Kupinggirkan motor di dekatnya dan ia melambatkan gerakannya karena melihatku berhenti.
"..."
Tak ada kata yang dapat keluar ketika menatap wajahnya. Ia begitu garang dengan brewok dan kumis tebal. Aku balas senyumannya jika yang dimaksudkan wajah gahar itu adalah senyuman.
"Maaf pak, ini ada ...," sambil mengambil bungkusan nasi di bawah stir motor, "nasi!" Kataku melengkapi kalimat yang sempat terputus.
Lelaki itu semakin sangar jika ia diam. Perlahan ia menggelengkan lehernya. Kemudian mulai mengayuh pedal dengan kaki yang kuat.
Kesembonganku perlahan terlepas dari dasarnya. Semula aku berpikir ia akan mengambil dan berucap terima kasih yang amat sangat. Tapi lihatlah lahar panas dari kejumawahanku akhirnya tergelincir ke lerengnya.
'Tidak', kataku dalam hati, 'ini tidak benar, ini sebuah kesalahan!'
Aku kembali mendekati gerobak mencoba sekali lagi.
"Tapi, maaf pak, ini hanya sedekah nasi, sengaja aku beli buat bapak!" Kataku agak memaksa
Ia berhenti dan sekali lagi menatap ke bola mataku, "Saya sudah makan!"
Kalimatnya singkat tapi cukup membuat kesombongan itu hancur di atas aspal. Ia menolak dan aku tak suka ditolak. Tapi aku juga tak bisa memaksanya. Bukankah ia berhak menolak atau menerima. Sama seperti aku yang berhak memberi atau tidak memberi.
Dengan perasaan yang sedih bukan karena ditolak tapi karena sedih ternyata lelaki buntung itu lebih punya harga diri dibandingkan diriku. Aku semula merasa sombong dengan kelebihan dan memandang remeh orang kecil. Namun ia memiliki sesuatu yang paling dibanggakannya. Sikap yang tak mau diremehkan karena ia memiliki harga diri. Ia lelaki mandiri. Seorang lelaki yang merdeka bagi dirinya sendiri dan dunianya.
Atau mungkin ia menduga aku bagian dari pemuda yang berkonvoi di malam yang gerimis itu.
Apapun kemungkinannya, ada rasa yang membentur di relung hatiku.
Kendari, 20 April 2020
d4nosaurus
Komentar
Posting Komentar