Langsung ke konten utama

AKU CINTA SAMA KAMU

"Aku cinta sama kamu!"

Kalimat itu terlontar begitu saja dari bibir mungil dengan wajah bulat serta pipi sebesar bakpao. Matanya yang kecil semakin sipit karena bibirnya tersenyum manis sehingga gigi susunya yang seputih gading nampak berkilau.

Tak ada beban pada kalimat itu. Bagai angin yang merambah udara menembus ruang-ruang. Kata-kata itu sering terdengar dan bahkan sangat biasa bagi remaja saat ini. Namun ini agak lucu dan canggung jika kalimat tersebut dilontarkan oleh anak sekitar lima tahunan.

Apa yang ia pikirkan tentang 'cinta'? Apakah arti cinta sama dengan arti cinta yang dimaksud dengan arti pada umumnya di kamus-kamus besar bahasa Indonesian? Atau cinta yang sama pada muda-mudi yang sedang kasmaran? Atau arti cinta itu hanya sekadar semanis gulali?

"Aku cinta sama kamu!"

"Hahaha ..."

Kata gadis kecil berwajah oriental dan berambut pedek sedagu juga poni lucu di atas kening. Masih dengan sifat kekanak-kanakan yang tak dibuat-buat.

"Aku tidak cinta sama kamu!"

"Hahaha ..."

Pemuda yang kaget mendapat pernyataan dari anak kecil nan lugu itu spontan ketawa dan menjawab geli. Mereka tertawa bersama seakan itu adalah hal yang paling lucu di dunia.

"Aku cinta sama kamu!"

"Hahaha .., hahaha ..."

Karena itu adalah hal lucu dan mengasyikkan pernyataan itu kembali terulang untuk kedua kalinya. Kali ini dengan suara tertawa lebih membahana dari sebelumnya.

Remaja yang masih menahan geli itupun masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Tapi ia  masih bertanya penasaran, "mengapa kamu cinta sama aku?"

Anak manis itu terus tertawa terbahak-bahak sambil berusaha agar kedua matanya tak tertutup sempurna.

"Karna aku pingin dinikahin sama kamu!" Ucap gadis kecil itu. Sangat polos namun sangat kontras dengan usianya yang masih sangat kecil.

"Hahaha .., hahaha ..."

"Hahaha .., hahaha ..."

Remaja tanggung yang juga baru belajar mengenal cinta itu semakin terpingkal-pingkal mendengar jawaban diluar dugaannya.

Cinta?

Nikah?

Kira-kira ia masih berusia  tujuh belas tahun. 'Cinta-cinta monyet' baru saja ia rasakan. Kini tiba-tiba, kata-kata cinta keluar dari mulut seorang anak yang baru lepas menetek dari dada ibunya. Bahkan, usianya berada jauh dari usianya, kini sudah mengatakan kata-kata cinta kepadanya. Seakan-akan itu hal yang biasa bagi bocah yang masih terlampau kanak-kanak.

Apalagi kata 'nikah'. Apa yang terjadi dengan dunianya jaman sekarang? Apa yang salah dalam hal ini. Otaknya tak cukup mampu mengerti dalam sekejap kejadian itu. Ia hanya tahu itu lucu dan itu di luar kebiasaan anak-anak pada umumnya.

Alhasil mereka tertawa seakan anak kecil itu melakukan standup komedi di depan penonton yang berjibun. Lalu klimaks kelucuan sungguh memecahkan seisi gedung. Sungguh ia tak akan melupakan kejadian itu. Mungkin seumur hidupnya.

***

Video itu berasal dari kirimkan WA (What'sApp) di smartphone. Dengan sengaja atau memang jahil, video itu telah mengusik kegelian tertentu di jiwa seseorang, kemudian ia mengirim video tersebut ke smartphoneku. Mungkin setelah ia mengirimkannya ia kembali menonton berulang-ulang adegan dalam video itu. Lalu tertawa terbahak-bahak.

Untuk lucu-lucuan video itu juaranya. Karena aku juga menontonnya secara berulang-ulang dan juga tertawa terbahak-bahak. Satu kata, 'geli'. Tapi untuk edukasi, ini suatu penurunan kepribadian. Hal itu merupakan pembunuhan karakter anak sejak usia dini. Namun siapa yang akan disalahkan. Orang tua? Sudah pasti. Lingkungan? bisa jadi. Kemajuan teknologi? Apalagi. Sebagian pendapat menyatakan kemajuan teknologi beberapa negara termasuk Indonesia tidak dibarengi oleh laju kemajuan mental dan pembentukan karakter. Sehingga banyak penyimpangan di masyarakat  didasari oleh kelengahan pemakai aplikasi di media sosial diera teknologi ini.

Apalagi aku sebagai seorang bapak yang mempunyai anak, tentu hal ini menjadi kecemasan tersendiri.

Setelah melihat video tersebut aku langsung teringat kepada anak gadisku di rumah. Umurnya baru empat bulanan. Wajahnya yang bulat dan juga pipinya mirip bakpao panas serta mata kecil yang agak sipit. Membuat bibir tersenyum sekaligus hati sedih. Semoga itu tidak seperti yang ada di kepalaku.

Tiba-tiba kerinduan memuncak terngiang senyum polos tanpa gigi di wajah Najiyah, anakku. Ingin sekali sekejap mata menghilang dan berada di rumah. Membaui aromanya yang khas, campuran minyak telon dan minyak wangi bayi yang sering ia pakai. Atau suaranya yang kadang tidak jelas berkata-kata apa. Atau bahkan meneriakkan sesuatu karena mungkin rasa nyaman setelah mandi dengan pakaian yang bersih.

Beberapa menit kemudian rumah BTN yang menjadi tempat bernaung kami sekeluarga pun terlihat. Setelah memasuki gerbang Residen Anawai, lorong kedua, lalu belok ke kiri. Rumah bernomor Blok C / 4, berpintu merah tanpa pagar nampak berdiri kokoh.

Secepat kilat aku langsung menghilang di balik pintu merah itu. Cuaca panas di bulan September ternyata tidak berpengaruh pada suhu di dalam rumah. Rasa sejuk seketika memelukku erat, namun itu tak cukup buatku mencari kenyamanan lebih dari itu.

An Najiyah sedang terbaring sambil memandang langit-langit kamar. Sesekali manik matanya bergerak ke samping memperhatikan jendela bertirai kuning. Di luar sana ada sebagian tangkai kelor bergoyang ditiup angin.

Ketika aku masuk ke kamar itu pandangannya langsung teralihkan. Sebuah senyuman yang telah lama dirindukan kini mekar di wajah berpipi bakpao. Kedua tangan dan kakinya bergerak aktif seakan mengenal siapa yang datang kepadanya. Kali ini suara ceracau tidak jelasnya kembali mengudara. Mungkin saking senangnya iapun berkata-kata. Tapi sayang sekali arti kalimatnya tak dapat diterjemahkan.

Akupun mendekat menjangkau tubuhnya yang mungil. Namun sebelum jemari tangan menyentuhnya, badanku langsung melompat ke belakang hampir terjatuh karena kaget.

Tiba-tiba Najiyah bisa berbicara seperti orang dewasa yang dimengerti maksud dan arti kata-katanya. Itu satu hal lain, tapi yang membuat saya terkejut ia mengatakan, "aku cinta sama kamu!"

Awalnya aku merasa tertipu oleh pendengaran yang sekejap. Namun kalimat itu terulang, "aku cinta sama kamu!"

"Hahaha ..."

"Aku cinta sama kamu!"

"Hahaha ..."

"Aku tidak cinta sama kamu!"

"Hahaha ..."

"Aku cinta sama kamu!"

"Memangnya kenapa kamu cinta sama aku?"

"Hahaha ..."

"Karena aku pingin dinikahin kamu!"

"Hahaha .., hahaha ..."

Jantungku seakan melompat keluar dari tempatnya. Tapi karena ada suara lain yang ikut bersuara dan itu sangat familiar, aku pastikan itu bukan dari Najiyah. Setelah beberapa kali menarik selimut dan sarung disekitar tubuh Najiyah baru nampak smartphone milik Habibati, istriku. Benda canggih itu rupanya tak sengaja tertekan oleh gerakan Najiyah yang aktif. Secara tak sengaja video yang sama kembali terputar secara otomatis.

Rupanya rasa ketakutan itu mengikuti sampai ke rumah. Hingga merasa phobia pada video yang lucu menyeramkan itu.

"Aku cinta sama kamu!"

Tiba-tiba sebuah suara berbisik pada telingaku yang mungil. Seketika kaki lemas dan tubuh tak bisa berdiri tegak. Kali ini benar-benar tak sadarkan diri.
Pingsan.

Kendari, 09 September 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#15

Aku mendengar alunan lagu seruling bambu Suaranya merdupilu Ingatan akan kampung halaman serasa nyata Namun tak tergapai Sangat dekat ditelinga namun tak terasa Begitu bergetar didada namun hampa belaka Oo siapakah gerangan Dikau Yang bagai angin surgawi bermain dalam alunan jiwa Yang datang dan pergi menisik alunan indahnya Nadanada merdu itu kini bangkitkan cintaku Kadang resah tak beralasan Jua rindu yang tak terbendung Oo siapakah gerangan Dikau Kurasa Engkau pemilik Cinta dalam merdunya alunan lagu Memanggilku kembali ke rimba CintaNya Namun kita takkan bersama dalam dunia yang berbeda Karena aku hanyalah seruling bambu Yang kan selalu mencari dalam diriku alunan merdu cintaMu Dalam tiaptiap bait sabdaMu (#15, 09 April 2014)

#19

Jika Rumi mengatakan "Kita hanyalah seruling bambu yang bercerai dari rumpunNya" Maka aku berkata" aku hanyalah sebilah bambu yang tak berlubang" Yang tak berbunyi saat angin melaluinya Yang meski mendengar lagu namun tak mampu menari ke khadiratNya, walau itu nyanyian surgawi Tak mampu memainkan melodi indahNya, meski penciptaNya menulisnya dengan tinta emas Namun jika aku sebilah bambu yang ingin kembali ke rumpunNya, yah itulah aku meski kadang menari dan bernyanyi cuman dalam pikiran melalui selentingan gerakan sahaja agar bisa kembali kerumpun amalannNya. (#19, 17 April 2014)

Kebersihan Sebagian Dari Iman?

Hari lebaran telah tiba, semua bersuka cita menyambutnya. Ketika matahari belum benar-benar naik di langit ketika itu umat muslim memadati daerah yang telah ditentukan untuk melaksanakan shalat ied. Jalan-jalan lenggang, hanya dipadati pejalan kaki dan sesekali mobil dan motor pribadi. Saf-Saf dibuat ditempat tertentu, di sekitar mesjid, tanah lapang bahkan Jalan-jalan protokol yang dikhususkan sebagai tempat salat. Saf-Saf tersebut seketika saja merubah wajah jalan atau tanah lapang menjadi garis garis sejajar menghadap mimbar dadakan yang tiba-tiba berdiri secara ajaib sudah ada sejak malam atau subuh hari di hari yang fitri ini. Kaki-kaki penuh kebahagiaan pun berjalan menuju Saf-Saf yang bermimbar ajaib, mengisi deretan panjang yang telah disediakan. Ketika mentari mulai bersinar terang salat pun berlalu di akhiri khotbah dari para pengkhotbah yang entah berapa lembar kertas yang telah disediakan guna mengisi acara sesi terakhir dari salat ied tersebut. Dan matahari yang mula...