WHAT'S STOPPING YOU
Tidak ada yang ingin sebuah perpisahan terjadi. Apapun alasan perpisahan tersebut. Di awal sebuah hubungan seseorang akan merasakan keindahan dan nikmatnya sebuah cinta. Namun seiring waktu dan penyesuaian segalanya jadi berubah. Lalu akhirnya sebuah keputusan rumit harus segera diputuskan.
Tersebutlah seorang yang bernama Bambang Priyanto yang kini tengah berdiri di depan pagar sebuah rumah. Langkahnya terhenti sejenak. Ia ingin masuk ke dalam namun entah mengapa tubuhnya tiba-tiba melambat dan akhirnya hanya berada di depan pintu pagar.
Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit ...
Waktu pun berjalan, tapi tidak dengan bayangannya.
Entah apa yang sedang ia lihat di depan rumah itu hingga pikirannya menghentikan kedua kakinya. Usianya baru 35 tahun saat ia memutuskan menikah dengan janda beranak satu yang berprilaku selayaknya gadis belasan tahun.
Entah apa yang membuat Bambang tertarik dengan wanita yang telah beranak. Apakah rasa bosan atau frustasi dengan pengalamannya yang gelap pada beberapa gadis membuat ia putus asa? Atau memang mereka sudah ditakdirkan untuk bersatu.
Hal yang paling mungkin dari sebuah hubungan bisa terjadi selain cinta mungkin adalah masalah ekonomi.
Mungkin demikian juga dengan Bambang meski perjaka namun kehidupan ekonominya belum bisa membuat hidupnya mandiri. Ia hanyalah supir dari sebuah perusahaan kendaraan bermotor. Tugasnya tak lain hanya mengangkut motor dari dealer ke pelanggan. Gajinya tak seberapa. Hal itu memang sudah cukup buat dirinya sendiri. Namun tentu itu belum bisa mencukupi kehidupan untuk sebuah rumah tangga.
Mungkin dari dasar inilah ia meminang janda beranak satu yang juga tertarik kepadanya. Apalagi wanita itu memiliki pekerjaan tetap. Maka klop sudah segalanya. Seorang pemuda yang membutuhkan cinta tanpa repot memanjakan pasangannya dengan materi. Sedangkan yang lain membutuhkan cinta tanpa perlu repot berurusan dengan istri atau wanita lain. Karena memang pemuda itu masih perjaka tanpa status.
Pernikahan Bambang memang tak berjalan mulus. Di awal-awal hubungan status janda menjadi semacam penghalang bagi keluarga besar Bambang. Karena di sebagian masyarakat predikat janda suatu hal yang tabuh. Tapi tidak begitu di kalangan para pecinta hubungan gelap. Status janda akan membuat para hidung belang semakin bersemangat mengembangkan kisah cintanya. Mungkin hal inilah yang membuat predikat janda semakin minus di mata ibu-ibu rumah tangga.
Namun tak begitu dengan Bambang. Ia hanyalah pemuda biasa yang selalu berpikiran lurus. Meski pergaulannya luas sikapnya terhadap seorang wanita tetap sewajarnya. Tak pernah ada selentingan skandal dalam kehidupan asmaranya.
Ia seperti lelaki biasa meski tak sealim pemuda remaja masjid. Tapi Ia sesekali ke masjid di hari Jum'at dan sesekali meneguk khamar bersama kawan-kawan sepermainannya. Sesekali saum di bulan Ramadhan dan setelah tarawih masih sempat ngumpul untuk sesekali main kartu entah berjudi atau apalah namanya dengan memakai batu sebagai ganti uang.
Ia juga rajin dalam kegiatan sosial masyarakat seperti menguburkan jenazah, tahlilan (yang sebagian masyarakat masih dianggap sebagai kegiatan keagamaan). Membetulkan jalan umum, gotong royong membantu tetangga yang pindahan. Segala hal yang umum berlaku di masyarakat bisa dibilang ia ikuti tanpa pernah berpikir baik buruknya. Itulah sifat Bambang yang selalu berpikir terbuka. Segala hal dianggapnya baik-baik saja.
Pertemuan dengan wanita beranak satu itu sebenarnya cukup singkat. Hal inilah yang membuat keluarga Bambang agak merasa ada kejanggalan. Hanya melalui sambungan telepon tiba-tiba sudah menjadi hubungan yang serius. Entah siap yang menghubungi terlebih dahulu saat itu.
"Emmm .., dengan Ratih ya?"
"Ini ..? Bambang?
"Iya!"
"Tinggal di mana?"
"Emm .., dihatimu!"
"Hehe ..!"
Perbincangan yang cukup singkat dan garing. Tapi percayalah setelah itu bisa dibayangkan kelanjutannya. Mereka tak lagi garing dan percakapan bisa berjam-jam. Bagi mereka gadget diciptakan hanya untuk mempertemukan mereka.
Setelah perbincangan melalui udara dirasakan semakin dekat. Mereka berpikir ada baiknya kalau mereka tak lagi menggunakan gadget tapi bertemu secara langsung. Itu adalah hal yang sangat dinantikan.
Awalnya hanya mampir di teras rumah, tiba-tiba wanita itu sudah mondar-mandir di kamar tidur Bambang. Sekilas itu hal yang biasa di jaman sekarang. Hubungan antara lelaki dan wanita tanpa hubungan pernikahan akan dianggap hal yang lumrah. Seakan-akan orang sekitarnya menutup mata dan hanya tersenyum malu membicarakan hal tersebut.
Tapi untuk di lingkungan yang masih masih kuat agamanya tentu itu suatu perbuatan dosa. Tapi kita biarkan saja malaikat yang mencatat kelakuan nakal mereka agar dipertanggungjawabkan di akhirat nantinya.
Mari kita lihat kisah yang unik ini. Dari sisi lainnya.
Malam itu ...
"Bang, katakan engkau mencintaiku," sebuah suara di balik dinding.
"Aku sangat mencintaimu!"
"Tidak akan meninggalkan aku?"
"Aku takkan meninggalkanmu!"
"Janji?"
"Iya janji!"
"Aaaaah .., kamu bohoooong .., boohoooogggg ..!"
"Ssttsss ..! Diam .., Diam .., DIAAAMMM! AKU SERIUS!"
"Katakan sekali lagi bahwa kamu cinta aku!"
"Aku cinta kamu!"
"Hehehe ..."
"Praaanggg ...!!!"
"Ratih!"
"Dasar jahanam, pembohong!" Keluar KAU sekarang jugaaa!"
"Ini kamarku, harusnya kau yang keluar, sundaAALLL ..!!!"
"Aaaaggg ..!!!!"
"Buk!!! Buk!!! Buk!!!"
Beberapa menit kemudian nampak bayangan menjejak di atas tanah. Langkahnya payah. Di bawah lampu temaram terlihat sosok Bambang kesal sambil sejenak menatap bulan. Entah apa yang dipikirkannya. Tapi percayalah ia begitu gusar sekaligus pasrah.
Sebulan setelah kejadian malam itu akhirnya pernikahan terjadi dengan terpaksa. Bambang mau tak mau harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ratih telah berbadan dua dan Bambang diminta untuk menikahinya.
Awalnya Bambang ragu jika itu adalah hasil kerjaannya malam itu. Namun, Ratih tak henti-hentinya datang mengadukan kehamilannya kepada keluarga Bambang. Bambang terdesak bagai ayam dipojok halaman. Ia akhirnya pasrah.
Setahun kemudian anak mereka lahir. Kehidupan Bambang seperti sebagian pasangan lain, bukan bertambah bahagia malah bertambah memburuk.
Bambang merupakan seorang lelaki yang tak mudah takluk pada seorang wanita. Namun lihat setelah nikah. Segala waktunya hanya untuk istri dan anaknya. Mungkin ia sudah menemukan arti cinta sesungguhnya atau mungkin ia baru tahu bahwa cinta akhirnya butuh pengorbanan bukan hanya dengan kata-kata. Jadilah ia sebagai pelayan istri dan anaknya.
Setahun berumah tangga ia sudah lebih mengenal tabiat dari istrinya itu. Mungkin sejak awal nikah sudah ada peringatan dari hatinya untuk menolak. Tapi kini ia tak bisa bersikap egois. Nasi sudah jadi bubur. Ia sudah terlanjur tahu tabiat itu, namun ia juga terlanjur menandatangani kontrak di atas ranjang dengan Ratih.
Siang itu ketika Bambang sedang berada di rumah istrinya. Saat itu ia sedang libur untuk mengantar barang perusahaan.
"Sayang, setelah nyuci popok, aku ke rumah mama ya!?"
Bambang berhenti tepat di belakang istrinya yang sedang menyusui seorang bocah kecil. Sambil menunggu yang diajak bicara ia sesekali mengambil pakaian bayi yang menumpuk di lantai.
"Ada perlu apa kamu ke sana?"
"Mama butuh aku membetulkan sesuatu di rumah!"
"Oh, iya pergi aja!"
Setelah mendapat persetujuan sang nyonya rumah akhirnya Bambang ke belakang untuk menyuci. Tapi beberapa jam kemudian ...
"Sayang aku pergi ya"
Saat itu Bambang sudah bersiap hendak ke pintu.
"Prannngggg ...!"
Sebuah piring pecah di dapur dan suara bayi seketika meramaikan suasana.
"Kamu pergi sana sama mama kau yang miskin! Dasar laki-laki tak diuntung, sudah dikasih makan tidak tahu balas budi!"
Mata Bambang seketika bersinar terang. Dadanya menggelembung dan tangannya terkepal keras saat mendengar kalimat yang mungkin sudah biasa ia dengar. Tapi ketika nama mamanya disebut hatinya sudah tak bisa mentolerir keadaan. Namun menit berikutnya ia hanya mampu menghembuskan napas lalu mengusap dada sendiri.
Ia bukanlah lelaki yang biasa mengedepankan kekerasan. Jika seorang suami yang bertemperamen kasar mungkin istri seperti Ratih sudah jadi karung samsak. Tapi itulah Bambang Priyanto seorang yang selalu menghargai seorang wanita. Ia tahu hatinya terluka dengan perkataan kasar istrinya tapi ia memilih diam karena ia tahu bertengkar tak menyelesaikan masalah.
Dari awal ia sudah mengetahui bahwa ia telah berbuat kesalahan fatal dengan menikah dengan Ratih. Tapi karena kebodohannya akhirnya ia harus melakukan hal-hal yang tak perlu selama ini.
"Pergiii ..! Pergiii ..! Pergiii ..!"
"Dasar lelaki jahanam, semuanya sama saja!"
Mendengar istrinya histeris akhir Bambang meninggalkan rumah tanpa pamit lagi. Ia sudah berjanji akan bertemu orang tuanya. Sudah beberapa kali ia gagal bertemu dengan mamanya disebabkan oleh hal yang sama. Hari itu ia tak bisa menerima kata-kata istrinya itu.
Satu hari, dua hari, hingga satu pekan Bambang tetap tinggal di rumah orang tuanya. Tak ada yang membahas tentang Ratih di sana. Keluarga Bambang sebenarnya sudah mengerti keadaannya. Mereka iba sekaligus menertawakan kelucuan yang terjadi. Mereka tahu Bambang dikenal sebagai lelaki yang pantang di hina. Semua teman-temannya menghargainya. Sekelas pemabuk pun jika bertemu Bambang akan seketika sadar seperti baru bangun dari tidurnya.
Banyak preman yang menjadi teman baiknya meski ia sendiri bukan preman. Orang berpangkat sampai anak-anak sekolahan mengenal Bambang sebagai orang memiliki karisma. Namun disinilah letak kelucuannya. Dari sekian orang yang mengenal Bambang hanya istrinya yang tak pernah menghargai Bambang. Banyak kemungkinan penyebabnya utamanya Bambang tak memiliki banyak uang.
Hingga suatu waktu Ratih datang membawa koper berisi pakaian. Ia mencari suaminya yang sudah sepekan tak kembali ke rumahnya.
"Bambang aku cinta sama kamu!"
Kalimat itu seperti tagline seorang calon pejabat yang akan berorasi di telinga Bambang. Kalimat manis terasa hambar di dada. Apakah ini janji kampanye yang Ratih umbar? Entahlah.
"Bambang katakan kamu juga cinta padaku, ayo katakan sayang!"
Bambang hanya mampu mendengar tapi entah mengapa bibirnya tak jua mampu berucap. Ia hanya memandang Ratih dari balik jendela. Ia tak ingin keluar dan Ratih pun tak berniat masuk ke dalam rumah.
"Bambang apapun yang kamu minta aku akan berikan, tapi jangan pergi-pergi lagi."
Suara Ratih seperti sedang merayu seorang anak kecil dengan permen. Saat itulah Bambang masuk ke dalam kamarnya untuk tidur karena kecapaian jasmani saat bekerja. Sekaligus lelah rohani menghadapi istrinya sendiri.
Setelah beberapa menit Bambang tak menggubrisnya, Ratih akhirnya berteriak histeris seperti biasa. Lalu sebuah batu besar berhasil melubangi jendela yang beberapa menit lalu ada Bambang di dalamnya.
Tak ada yang keluar dari rumah.
Hening.
Ratih pun pulang kembali ke istana megahnya tanpa Bambang.
Hingga di suatu pagi. Pagi sekali, ketika embun masih membasahi udara. Sebuah taksi berhenti di depan rumah Bambang. Seseorang memakai penutup kepala seperti selendang, berwarna kelabu turun dari dalam taksi.
Beberapa menit kemudian sebuah botol plastik besar keluar dari tas yang ia bawa. Nampaknya seorang wanita. Berjalan beberapa kali bolak-balik di teras rumah dan kemudian menyiram begitu saja. Beberapa kali dipercikkan ke tembok rumah. Setelahnya ia pergi begitu saja. Kembali ke dalam taksi dan menghilang.
Kejadian itu akhirnya menguap seperti embun pagi terkena sinar mentari.
Di hari itulah ketika Bambang bangun dan akan ke kantor, tiba-tiba ia berbelok ke rumah yang pernah ia tinggali di dalamnya selama lebih dari setahun. Ketika kedua kakinya berada di depan pagar dan seketika terhenti.
Apa yang menghentikannya?
Apakah ia merindukan anaknya atau merindukan istrinya. Kepalanya berpikir, entah apa yang terlintas di sana.
Satu menit .., dua menit .., lima menit .., lima belas menit .., ia masih di sana entah apa yang ia rasakan hingga langkahnya terhenti di depan pagar.
Ia tahu hatinya mengijinkannya masuk ke dalam rumah itu. Tapi pikirannya menolak memberi izin. Akhirnya ia memilih untuk pergi ke kantor tanpa pernah berada di dalam rumah itu. Lagi.
Kendari, 01 Mei 2020
d4nosaurus
Komentar
Posting Komentar