Dialah perawan puing belaka
Menari di jalan sepi
Sekali hari merenung
Sibakkan rambutnya kusut
Kriput kain menjuntai
Tak risaukan
Sehari lelah menyibukan
Sehabis memerah kringat
Di beranda lalu lunglai tapaki jalan
Hari ini kemana tapak menuju
Sesekali ujung gerbang
Menunggu kemana debu berontak
Tidak!
Ia ikuti suara derap kaki
Atw panggilpanggilan
Membenarkan letak aer
Sekadar kayu perapian tetangga lama
Sedang sesuap nasi uang secukupnya
Lalu kemana kaki melangka
Ke rimba yang hilang
Mencoba mencari tempat yang bisa disebut rumah
Dialah perawan puing belaka
Menari di jalan sepi
Meniti jalan kemarin
Mengukur hari riang berlari
Yah!
Di sana, kupikir melihat
Namun sekelebat saja
Dan tak terdengar lagi.
(Ratukane, 05 Maret 2014)
Menari di jalan sepi
Sekali hari merenung
Sibakkan rambutnya kusut
Kriput kain menjuntai
Tak risaukan
Sehari lelah menyibukan
Sehabis memerah kringat
Di beranda lalu lunglai tapaki jalan
Hari ini kemana tapak menuju
Sesekali ujung gerbang
Menunggu kemana debu berontak
Tidak!
Ia ikuti suara derap kaki
Atw panggilpanggilan
Membenarkan letak aer
Sekadar kayu perapian tetangga lama
Sedang sesuap nasi uang secukupnya
Lalu kemana kaki melangka
Ke rimba yang hilang
Mencoba mencari tempat yang bisa disebut rumah
Dialah perawan puing belaka
Menari di jalan sepi
Meniti jalan kemarin
Mengukur hari riang berlari
Yah!
Di sana, kupikir melihat
Namun sekelebat saja
Dan tak terdengar lagi.
(Ratukane, 05 Maret 2014)
Komentar
Posting Komentar