Kali ini aku salah
Kemarin dan kemarinnyapun aku salah
Kesalahan bagai bilah bambu yang terlempar di ujung lidah dan kembali menembus tulang dada
Ketidakmampuanku menafsirkan detik demi detik viktorinox dipikiranku kini jadi bumerang yg siap membuka segala mata pisau lipat itu
Aku tersungkur menghantam kenyataan-kesalahan ini dgn dada menohok serta kepala terseret di jalan berdebu
Seketika aku berada diceruk bumi terhimpit sesak penyesalan
Mata panah yg telah terlanjur kuluncurkan tibatiba berbelok arah menembusi kepala kanan ke kiri
Hingga tatapan mata kosong dgn segala darah dosa muncrat dari berbagai lubang
Debu dan darah menyatu-menggumpal di mulut yang kini tak lagi bernyawa akan alasanalasan subyektif
Tersisa hanya kekosongan-kehampaan belaka.
(Darah Penyesalan, 04 Maret 2014)
Kemarin dan kemarinnyapun aku salah
Kesalahan bagai bilah bambu yang terlempar di ujung lidah dan kembali menembus tulang dada
Ketidakmampuanku menafsirkan detik demi detik viktorinox dipikiranku kini jadi bumerang yg siap membuka segala mata pisau lipat itu
Aku tersungkur menghantam kenyataan-kesalahan ini dgn dada menohok serta kepala terseret di jalan berdebu
Seketika aku berada diceruk bumi terhimpit sesak penyesalan
Mata panah yg telah terlanjur kuluncurkan tibatiba berbelok arah menembusi kepala kanan ke kiri
Hingga tatapan mata kosong dgn segala darah dosa muncrat dari berbagai lubang
Debu dan darah menyatu-menggumpal di mulut yang kini tak lagi bernyawa akan alasanalasan subyektif
Tersisa hanya kekosongan-kehampaan belaka.
(Darah Penyesalan, 04 Maret 2014)
Komentar
Posting Komentar