Langsung ke konten utama

Puisiku

Busung lapar
bertelanjang dada
dipungut pula nasi satu-satu
tak dihirau perut buncit
atau tulang kriput
disela tangis pilu
disebut pula
‘Mama........!’
Lamomea, 2008



Malulo
hei mari buat lingkaran
tanding bulatnya bulan
bernyanyi dan menari
‘iyamo pedoko......iyamo tekura.......’
langkahkan kaki lalu berputar
eratkan tangan lalu nada langkah
hei mari tambah lingkaran
agar bulan iri malam ini
keluarkan semangat-gairah
‘iyamo pedoko......iyamo tekura.......’
jangan lepas-lemas jemari
hei mari bersama
malam ini
Lamomea 2008



Perjalanan
pohon-pohon, rumah-rumah, tiang-tiang listrik
berlalu bersama debu
kendari, kolaka, makassar
kemana lagi arah kaki berpijak
di mana lagi hati berpaut
menembus jalan panjang ini
Lamomea 2008

Demo BBM
terpal segi-tiga
adalah rumah kami
spanduk bentang-panjang
adalah tuntutan siang ini
taman kota
adalah wilayah kreasi
buka mata, telinga
fahami kami
meniti di antara air mata darah

Suatu Siang Di Simpang Wua-Wua
begitu lampu menyalah
“merah !”
begitu matahari berulah
“gerah !”
4 simpang beriak
“gaduh !”
2 mata teriak
“waduh !”
wajah-wajah kota
wajah-wajah derita
di atas aspal tandus
hanya asap terhembus
Lamomea 2008

Demo BBM
terpal segi-tiga adalah rumah kami
spanduk bentang-panjang adalah tuntutan siang ini
taman kota adalah wilayah kreasi
buka mata, telinga fahami kami
antara air mata darah kami meniti
(lamomea, 2008) (dgubah 12 jan 2012)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

msh yg dl

dan tibalah dpersimpangan antara rindu terkoyak jua mati rasa pdmu bila lampu menghijau pastikan tergilas waktu hilang nyawa djalanmu slamatkan aku dlm arus tak pasti apakah kembalikan waktu atw terhapus dlm sejarah (masih yg dulu, 16 feb 2012)

Kita dan (*)

Kini kita bersantai di bawah biduk bintang Senyummu menunjuk ke langit Sedang aku bersandar di batu beku Anganmu menerawang hingga batas cakrawala Aku masih merabaraba sandaran batu Telunjukmu menarinari di bintang terang Dan aku lagilagi mengeluh sandaran batu ini "Aku ingin terbang ke bintang" katamu saat itu "......" Aku terperanjat segores luka membujur di punggung Akupun heran sampai kini kita masih sj bersantai di bawah biduk bintang Dengan cahaya bintang di matamu serta keluhan malam yang takkan pernah pudar. (Kita dan *, 2 Maret 2014)

Hut brimob

Adakah brimob dhatimu? Saat sgala tugas terhampar-membentang Adakah brimob dhatimu? Saat sgala cacian brurai-bercecer Adakah brimob dhatimu? Dikala darah dan keringat adalah taruhannya Masih adakah brimob dihatimu? Jika nyawa hanyalah hal kecil buat bumi pertiwi Adakah brimob dhatimu? Adakah brimob dhatimu? Adakah brimob dhatimu? YAA SLALU ADA...!!! (Dzikril Hakiim, HUT BRIMOB KE-67, 14 Nov 2012)