Langsung ke konten utama

Sehelai Daun

Masih malam yang sama kemarin
Hanya saja skr lebih bisa nerima
Luka di dada dan hati kini jelma dedaun kering
Biarkan saja daun itu terobangambing oleh resah
Krn sebentar hujan bulan Maret menumbuhkan pucuk di pohon hati
Tinggalkan legamnya warna daunkan merayap di lipatan tanah
Kau diam saja menatap tanpa peduli
Sementara pucukpucuk mulai mereksmi
Kau hanya diam menatap cokelatnya tanah
Hingga nanti pucuk berkembang lalu menguning terpapah matahari
Harihari berlalu....
Apakah kau masih menatap sementara sehelai daun kan jatuh menimpanya
Bukan karna angin tapi matahari kemarau yang tak mudah kau tantang karna silaunya
(Sehelai daun, 3 Maret 2014)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

msh yg dl

dan tibalah dpersimpangan antara rindu terkoyak jua mati rasa pdmu bila lampu menghijau pastikan tergilas waktu hilang nyawa djalanmu slamatkan aku dlm arus tak pasti apakah kembalikan waktu atw terhapus dlm sejarah (masih yg dulu, 16 feb 2012)

Kita dan (*)

Kini kita bersantai di bawah biduk bintang Senyummu menunjuk ke langit Sedang aku bersandar di batu beku Anganmu menerawang hingga batas cakrawala Aku masih merabaraba sandaran batu Telunjukmu menarinari di bintang terang Dan aku lagilagi mengeluh sandaran batu ini "Aku ingin terbang ke bintang" katamu saat itu "......" Aku terperanjat segores luka membujur di punggung Akupun heran sampai kini kita masih sj bersantai di bawah biduk bintang Dengan cahaya bintang di matamu serta keluhan malam yang takkan pernah pudar. (Kita dan *, 2 Maret 2014)

Hut brimob

Adakah brimob dhatimu? Saat sgala tugas terhampar-membentang Adakah brimob dhatimu? Saat sgala cacian brurai-bercecer Adakah brimob dhatimu? Dikala darah dan keringat adalah taruhannya Masih adakah brimob dihatimu? Jika nyawa hanyalah hal kecil buat bumi pertiwi Adakah brimob dhatimu? Adakah brimob dhatimu? Adakah brimob dhatimu? YAA SLALU ADA...!!! (Dzikril Hakiim, HUT BRIMOB KE-67, 14 Nov 2012)