Istriistri kita hari ini adalah perawan suci Mariyam saat Hawa tersesat
diantara pohon terlarang yang Adam lewati, mereka jatuh dipelukan kita
sejak awal kehidupan hingga mati bersama di atas ranjang pengantin.
Mereka terbangun dalam pelukan Tuhan dan suamisuami mereka memberikan jejak kehidupan pada tiap lembar ayatayat cinta di jiwa anakanak mereka kelak. Lalu tertidur kembali dalam buaian fana kehidupan berhari berminggu hingga berbulanbulan mereka tersadar, saat dunia membutuhkan ciuman buat anakanak yang mereka kandung.
Istriistri kita hari ini adalah ibu bumi dari ribuan pohon yang kita tanami, jutaan ikan di lautan yang kita jaring, milyaran burung yang kita terbangkan dan trilyunan gunung yang kita ledakan di hadapannya tanpa kita sadari.
Tanpa kita sadari pula kita telah mengulang tragedi dunia "kelahiran-kehidupan-kematian" yang abadi dimana cikalbakal Adam mulai berterbangan menghinggapi kelopakkelopak Hawa di taman cinta surgawi dunia. Dia-Hawa kan jadi perawanperawan suci Mariyam yang nantinya kan kau sunting saat dunia menceritakan ulang tragedi abadi sepanjang masa, sepanjang zaman, sepanjang Tuhan masih mempercayai Tragedi yang Ia ciptakan di atas bumi ini.
(Tragedi Abadi, 15 Maret 2014)
Mereka terbangun dalam pelukan Tuhan dan suamisuami mereka memberikan jejak kehidupan pada tiap lembar ayatayat cinta di jiwa anakanak mereka kelak. Lalu tertidur kembali dalam buaian fana kehidupan berhari berminggu hingga berbulanbulan mereka tersadar, saat dunia membutuhkan ciuman buat anakanak yang mereka kandung.
Istriistri kita hari ini adalah ibu bumi dari ribuan pohon yang kita tanami, jutaan ikan di lautan yang kita jaring, milyaran burung yang kita terbangkan dan trilyunan gunung yang kita ledakan di hadapannya tanpa kita sadari.
Tanpa kita sadari pula kita telah mengulang tragedi dunia "kelahiran-kehidupan-kematian" yang abadi dimana cikalbakal Adam mulai berterbangan menghinggapi kelopakkelopak Hawa di taman cinta surgawi dunia. Dia-Hawa kan jadi perawanperawan suci Mariyam yang nantinya kan kau sunting saat dunia menceritakan ulang tragedi abadi sepanjang masa, sepanjang zaman, sepanjang Tuhan masih mempercayai Tragedi yang Ia ciptakan di atas bumi ini.
(Tragedi Abadi, 15 Maret 2014)

Komentar
Posting Komentar