Langsung ke konten utama

Tragedi Abadi

Istriistri kita hari ini adalah perawan suci Mariyam saat Hawa tersesat diantara pohon terlarang yang Adam lewati, mereka jatuh dipelukan kita sejak awal kehidupan hingga mati bersama di atas ranjang pengantin.
Mereka terbangun dalam pelukan Tuhan dan suamisuami mereka memberikan jejak kehidupan pada tiap lembar ayatayat cinta di jiwa anakanak mereka kelak. Lalu tertidur kembali dalam buaian fana kehidupan berhari berminggu hingga berbulanbulan mereka tersadar, saat dunia membutuhkan ciuman buat anakanak yang mereka kandung.
Istriistri kita hari ini adalah ibu bumi dari ribuan pohon yang kita tanami, jutaan ikan di lautan yang kita jaring, milyaran burung yang kita terbangkan dan trilyunan gunung yang kita ledakan di hadapannya tanpa kita sadari.
Tanpa kita sadari pula kita telah mengulang tragedi dunia "kelahiran-kehidupan-kematian" yang abadi dimana cikalbakal Adam mulai berterbangan menghinggapi kelopakkelopak Hawa di taman cinta surgawi dunia. Dia-Hawa kan jadi perawanperawan suci Mariyam yang nantinya kan kau sunting saat dunia menceritakan ulang tragedi abadi sepanjang masa, sepanjang zaman, sepanjang Tuhan masih mempercayai Tragedi yang Ia ciptakan di atas bumi ini.
(Tragedi Abadi, 15 Maret 2014)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

msh yg dl

dan tibalah dpersimpangan antara rindu terkoyak jua mati rasa pdmu bila lampu menghijau pastikan tergilas waktu hilang nyawa djalanmu slamatkan aku dlm arus tak pasti apakah kembalikan waktu atw terhapus dlm sejarah (masih yg dulu, 16 feb 2012)

Kita dan (*)

Kini kita bersantai di bawah biduk bintang Senyummu menunjuk ke langit Sedang aku bersandar di batu beku Anganmu menerawang hingga batas cakrawala Aku masih merabaraba sandaran batu Telunjukmu menarinari di bintang terang Dan aku lagilagi mengeluh sandaran batu ini "Aku ingin terbang ke bintang" katamu saat itu "......" Aku terperanjat segores luka membujur di punggung Akupun heran sampai kini kita masih sj bersantai di bawah biduk bintang Dengan cahaya bintang di matamu serta keluhan malam yang takkan pernah pudar. (Kita dan *, 2 Maret 2014)

Hut brimob

Adakah brimob dhatimu? Saat sgala tugas terhampar-membentang Adakah brimob dhatimu? Saat sgala cacian brurai-bercecer Adakah brimob dhatimu? Dikala darah dan keringat adalah taruhannya Masih adakah brimob dihatimu? Jika nyawa hanyalah hal kecil buat bumi pertiwi Adakah brimob dhatimu? Adakah brimob dhatimu? Adakah brimob dhatimu? YAA SLALU ADA...!!! (Dzikril Hakiim, HUT BRIMOB KE-67, 14 Nov 2012)